Jalan Hidup Sunan Kalijaga: Berandal Tobat yang Menjadi Wali

CNN Indonesia | Kamis, 22/04/2021 09:32 WIB
Ketika sunan-sunan sebelumnya menempuh masa muda di pesantren, Raden Sahid/Sunan Kalijaga justru dari lingkungan berandal: berjudi, meminum arak, dan mencuri. Ilustrasi Sunan Kalijaga. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dari sekian wali songo, Sunan Kalijaga merupakan sosok yang paling banyak diceritakan. Ia merupakan wali termasyhur dengan bidang garapan yang sangat luas. Cerita Sunan Kalijaga mengisi kisah legendaris di berbagai tempat di Jawa.

Agus Sunyoto dalam bukunya Atlas Walisongo (2017) menyebut Sunan Kalijaga memiliki nama asli Raden Sahid. Ia merupakan anak dari Bupati atau Tumenggung Tuban Arya Wilatikta. Raden Sahid juga dikenal memiliki banyak nama antara lain, Lokajaya, Syaikh Melaya, Raden Abdurrahman, hingga Ki Dalang Sida Brangti. Setiap nama itu memiliki akar cerita masing-masing.

Riwayat hidup Sunan Kalijaga diwarnai kenakalan masa muda yang tidak lazim. Jika Sunan-sunan sebelumnya menempuh masa muda di pesantren, Raden Sahid ini justru berjudi, meminum arak, dan mencuri.


Buah perilakunya itu, keluarga Raden Sahid menanggung malu. Raden Sahid kemudian diusir dari rumah. Kisah ini termuat dalam Serat Walisana dalam Asmaradana pupuh XIX. Kenakalan Raden Sahid semakin menjadi-jadi. Raden Sahid kemudian menjadi perampok. Bahkan, ia tidak segan untuk membunuh orang. Raden Sahid lalu mendapat sebutan Lokajaya.

Raden Sahid baru sadar ketika suatu hari merampok seorang laki-laki tua yang ternyata Sunan Bonang. Dikisahkan, saat itu Sunan Bonang mampu mengubah buah aren menjadi emas. Raden Sahid kemudian bertaubat dan berusaha menjadi manusia yang mulia.

Susilarini dalam Mengenal Sembilan Wali (2018) menyebutkan, tindakan itu Raden Sahid lakukan karena ia merasa tidak bisa menerima ketimpangan di Tuban. Para petani dan rakyat jelata lainnya tercekik karena kemarau panjang. Namun, pemerintah kadipaten Tuban justru menarik pajak dari mereka.

Raden Sahid kemudian mencuri harta hasil pungutan pajak itu dan membagikannya kepada rakyat jelata. Tindakan itu ia lakukan hingga bertemu dengan Sunan Bonang yang mampu mengubah buah aren menjadi emas. Sunan Bonang memahami niat baik Raden Sahid. Namun, perbuatan Raden Sahid tak ubahnya seperti membersihkan pakaian dengan air kencing.

Dua dosen Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Siti Maziyah dan Rabith Jihan Amaruli dalam Walisanga: Asal, Wilayah dan Budaya Dakwahnya di Jawa (2020) menyebut Sunan Kalijaga menyebarkan ajaran Islam melalui medium seni budaya secara halus.

Hal ini membuat ajaran Islam yang disampaikan bisa diterima masyarakat dengan baik. Menurut mereka, Sunan Kalijaga mampu memodifikasi lakon wayang dalam cerita Mahabharata dan Rahwana menjadi bernuansa Islam. 

Sunan Kalijaga juga disebut suka menyamar, menampilkan diri sebagai orang biasa yang tidak menonjol. Bahkan, ia menunjukkan perilaku yang seolah-olah merupakan perbuatan maksiat. Sementara itu, dalam Babad Cerbon disebutkan bahwa Sunan Kalijaga menjadi dalang yang berkeliling ke berbagai tempat. Ia berkeliling dari wilayah Pajajaran hingga Majapahit. 

Guru Besar Ilmu Sejarah Kebudayaan Islam UIN Sunan Gunung Djati Sulasman mengatakan Sunan Kalijaga mengadakan pagelaran wayang di masjid. Orang yang hendak menonton diminta membaca syahadat sebagai tiket masuk. Kemudian, ketika gelaran wayang berlangsung disisipkan ajaran-ajaran Islam dengan penyampaian yang mengesankan.

Setelah itu, kata Sulasman, masyarakat mengamalkan ajaran-ajaran yang disampaikan Sunan Kalijaga.

"Masyarakat tidak terasa diislamkan dengan kalimat syahadat, kemudian diberikan pemaknaan wayang," kata Sulasman kepada CNNIndonesia.com, akhir pekan lalu.

(iam/ain)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK