Wakil Ketua MPR: Teror Rata-rata Terjadi 2 Kali Tiap Bulan

CNN Indonesia | Kamis, 29/04/2021 09:38 WIB
Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah mengatakan dalam 20 tahun terakhir tercatat 533 kasus terorisme di Indonesia, sehingga rata-rata terjadi dua kali tiap bulan. Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah mengatakan dalam 20 tahun terakhir tercatat 533 kasus terorisme di Indonesia, maka rata-rata dua kali setiap bulan. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah mengatakan aksi terorisme di Indonesia rata-rata terjadi dua kali setiap bulan. Menurutnya, rata-rata itu diperoleh dari jumlah kasus terorisme yang tercatat sebanyak 533 dalam 20 tahun terakhir.

"Maraknya aksi radikalisme dan bom bunuh diri, itu terlihat jelas dalam kurun 2000-2020. Selama itu tercatat 553 serangan teror di wilayah NKRI. Artinya, rata-rata setiap bulan terjadi dua kali aksi teror dalam dua puluh tahun terakhir," kata Basarah seperti dikutip dari situs resmi MPR, Rabu (28/4).

Dia menjelaskan, mayoritas pelaku aksi terorisme di Indonesia masih berusia muda. Mereka antara lain pelaku bom bunuh diri di hotel Ritz-Carlton pada 2009 yaitu Nana Ikhwan Maulana (20 tahun), pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott pada 2009 yakni Dani Dwi Permana (18 tahun), penyerang pos lalu lintas Cikokol-Tangerang pada 2016 yaitu Sultan Ajiansyah (22 tahun), pelaku bom bunuh diri di Polrestabes Medan pada 2019 yakni Rabbial Muslim Nasution (24 tahun), pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar yaitu Lukman (26 tahun), serta pelaku teror di Mabes Polri pada 2021.


Ia pun menyampaikan radikalisme dan bom bunuh diri yang melibatkan generasi milenial kerap mewarnai aksi terorisme di Indonesia pascapembubaran Badan Pembina Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7) dan hilangnya materi Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) dari kalangan pelajar, mahasiswa dan aparatur negara. Sejak BP7 dibubarkan, menurutnya, tidak ada lagi lembaga yang berkewajiban menyosialisasikan dasar dan ideologi negara.

"Sejak P4 ditiadakan, tidak ada lagi pelajaran mengenai dasar dan ideologi negara kepada pelajar, mahasiswa dan aparatur negara," ujarnya.

Ketua DPP PDIP itu menyatakan hal ini mengakibatkan generasi milenial mencari-cari ideologi dan dasar negara yang dipakai di negara lain, meski belum tentu sesuai dengan Indonesia. Menurutnya, kondisi ini semakin rumit karena generasi muda lebih percaya kepada media sosial, dibandingkan media massa.

"Terbukti tingkat kepercayaan masyarakat kepada medsos mencapai 20,3 persen. Angka ini lebih besar daripada kepercayaan masyarakat terhadap informasi yang dikeluarkan secara resmi oleh website lembaga pemerintah hanya 15,3 persen," katanya.

Basarah pun mengutip pernyataan mantan pelaku bom Bali, Ali Imron dalam sebuah diskusi di Jakarta, beberapa waktu lalu. Ali Imron hanya membutuhkan waktu dua jam untuk mengubah seseorang menjadi teroris. Namun, menyadarkan teroris membutuhkan waktu yang sangat lama.

"Inilah salah satu alasan mengapa banyak generasi milenial terpapar radikalisme," kata Basarah.

(mts/pmg)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK