Larangan Mudik dan Kisah Getir Penjaja Uang Baru di Terminal

CNN Indonesia | Kamis, 06/05/2021 06:06 WIB
Para penjaja uang baru yang tiap tahun cari rejeki di terminal sedih mengumpat karena pandemi telah membuat rusak mata pencaharian tambahannya. Penjual uang pecahan di Terminal Kampung Rambutan mengeluh sepi, Kamis (29/4). (CNN Indonesia/Syakirun Niam)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perempuan paruh baya melambaikan segepok uang di tepi trotoar jalan masuk Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, akhir pekan kemarin. Ia duduk di bangku plastik kecil yang ia bawa dari rumah.

Linda, namanya, berjualan segepok uang baru dengan nada tak stabil. Meninggi karena tak digubris, terkadang merendah karena lelah. Dia mengaku masih berpuasa.

Perempuan usia 45 tahun itu berprofesi menjajakan pecahan uang baru sejak 1997 di dalam Terminal Kampung Rambutan. Banyak pemudik di terminal, kata dia, yang pulang ke kampung ingin membawa pecahan uang baru. Namun situasi berubah sejak pandemi.


"Karena pandemi semuanya hancur," keluh perantau asal Medan ini saat berbincang dengan CNNIndonesia.com.

Linda mengaku di saat situasi normal, konsumen yang menukarkan uang ke Linda bisa mencapai 50 orang dalam sehari. Satu orang, kata dia, minimal menukarkan pecahan Rp500 ribu. Tahun ini ia tak dapat bahkan setengahnya.

Linda menyediakan pecahan 2 ribuan, 5 ribuan, dan 10 ribuan. Ia mematok tarif Rp10 ribu dari setiap pecahan senilai Rp100 ribu. Rp10 ribu jadi uang lelah sekaligus cuannya.

Linda mengaku tahu pemerintah melarang masyarakat mudik. Dia juga sudah tahu Kampung Rambutan akan ditutup untuk penyedia armada bus mudik. Tapi Linda mengaku tetap nekat.

Linda masih bisa tabah dan bersabar. Berbeda dengan penjasa tukar uang lainnya di Kampung Rambutan. Empat penjaja tak berkenan membagikan keluh kesahnya penukaran uang di tengah himpitan pandemi.

"Kalo lagi rame saya mau diwawanacara," kata salah seorang penjaja uang receh.

"Jangan, Bang, lagi sepi," tolak penjaja lainnya dengan muka kesal.

Akhir pekan itu ruang tunggu bus AKAP di Terminal Kampung Rambutan memang tampak sepi. Dibanding penumpang, jumlah pedagang dan agen trayek bus terlihat lebih banyak.

Kembali ke Linda, ternyata ia memiliki rencana. Saat terminal Kampung Rambutan ditutup pemerintah pada masa larangan mudik, ia akan menjajakan uang pecahannya di terminal-terminal bayangan.

"Mana tahu ada yang terbuka, beroperasi. Takutnya kan penumpang ke situ, ya, kita samperin ke sono. Jadi cari lahan baru lagi," bebernya.

Linda mengaku pokoknya ingin untung, minimal balik modal. Dia mengaku untuk mendapatkan pecahan uang, dia merogoh uang sakunya. Sebab, meskipun menukarkan uang pecahan di bank tidak dipungut biaya, pihak bank membatasi jumlah uang uang ditukar paling banyak Rp 3.700.000 per harinya. Untuk menyiasati itu, ia akan meminta orang lain menukar uang di bank. Linda lantas membayar orang tersebut.

"Jadi kita kasih fee-nya, apa sih, uang buat beli rokok beli, makan mereka lah," tutur Linda.

Selain itu, menjajakan uang di luar area terminal ia akui juga berisiko. Beberapa kawan Linda pernah dijambret.

Berjualan di luar, artinya sudah tidak berada di bawah tanggung jawab petugas keamanan dan Dinas Perhubungan yang berjaga di area terminal.

Hal itu membuat Linda menjadi waswas, kendati ia telah melakoni profesi ini lebih dari 20 tahun. Untuk berjaga-jaga, saat menjajakan uang receh di luar terminal, ia mengajak suaminya.

"Kalo di sini kan emang sudah risiko kita. Tanggung risiko masing-masing kan," ujarnya.

(iam/ain)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK