Puluhan Warga Jogja Kena Covid, Sempat Pijat-Kerokan Bareng

CNN Indonesia | Senin, 10/05/2021 19:02 WIB
Sebagian besar warga yang positif terinfeksi virus corona masih memiliki hubungan keluarga besar meski berbeda tempat tinggal. Ilustrasi petugas medis khusus penanganan virus corona (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)
Yogyakarta, CNN Indonesia --

Puluhan warga di wilayah RT 56 di RW 12 Kelurahan Wirobrajan, Kecamatan Wirobrajan, Kota Yogyakarta positif terinfeksi virus corona (Covid-19). Belum diketahui pasti penyebab puluhan warga satu kampung tersebut terinfeksi Covid-19.

Ada sejumlah dugaan. Salah satunya yakin pijat dan kerokan satu sama lain hingga tertular virus corona. Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi menuturkan Gugus Tugas Covid-19 masih mendalami sumber penularan hingga membuat 10 orang dinyatakan positif.

"Pelaksanaan protokol kesehatan yang tidak maksimal di wilayah itu. Bahkan sempat ada acara buka bersama keluarga besar. Ada juga persoalan kepadatan rumah pemukiman kawasan tersebut," kata Heroe dalam keterangannya, Senin (9/5).


"Bahkan ada yang sempat pijat, atau kerokan satu sama lain karena mereka keluarga besar atau trah," sambungnya.

Heroe mengatakan, rentetan kasus terdeteksi seiring adanya seorang wanita kategori lanjut usia di kawasan tersebut yang mengalami sakit pada 13 April 2021. Hingga kemudian dinyatakan positif terinfeksi Covid-19 usai dibawa ke rumah sakit lalu meninggal dunia.

Penelusuran kontak lantas dilakukan. Hasilnya, keluarga inti, meliputi anak dan suami lansia tersebut turut terinfeksi Covid-19. Tetangga yang masih saudara dari pasien pertama beserta keluarganya juga positif Covid-19.

"Kebetulan anaknya perawat dari rumah sakit di luar kota dan akhirnya beberapa anggota lainnya juga positif," jelas Heroe.

"Begitu juga beberapa anggota keluarga depan rumah ibu yang meninggal, juga kedapatan Covid-19. Bahkan oleh keluarga besar, rumahnya sempat digunakan buka bersama oleh keluarga besarnya," lanjutnya.

Heroe mengatakan wilayah RT 56 di RW 12 Wirobrajan merupakan kawasan padat penduduk. Sebagian besar penghuninya pun masih satu keluarga besar, sehingga jarak antar rumah tak terlalu berjauhan.

Melihat fakta-fakta di lapangan, Heroe menganggap masih sangat sulit menentukan sumber penularan awal.

"Di awal-awal Ramadhan keluarga besar itu melakukan buka bersama. Tetapi apakah si ibu (pasien meninggal) itu waktu sudah sakit apa belum, tidak konfirmasi," ungkapnya.

Hingga Senin siang (10/5), tercatat ada sepuluh orang yang dinyatakan positif via tes polymerase chain reaction (PCR). Sembilan dirawat di rumah sakit dan satu orang menjalani isolasi mandiri.

Kemudian masih ada 20 orang lagi yang dinyatakan positif tes antigen. Mereka sudah menjalani tes PCR dan masih menanti hasilnya.

"Dari semua kasus tersebut, sampai saat ini ada empat rumah yang positif PCR, dan sebelas rumah positif antigen. Tetapi sekali lagi rumah warga tersebut sangat berdekatan," tegas Heroe.

Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta pun hari ini sudah memfasilitasi tes antigen untuk 50 orang yang diduga menjalin kontak. Meski begitu, baru 39 orang warga yang berpartisipasi.

"Ini masih kita upayakan agar semua bisa menjalani tes antigen," kata Heroe.

Lebih jauh, mobilitas di kampung tersebut dibatasi lewat karantina wilayah. Sejumlah kegiatan di luar rumah dilarang guna menekan laju penularan.

"Kegiatan ibadah Ramadan di kampung itu juga tidak boleh di masjid, tetapi di rumah masing-masing. Termasuk untuk shalat Id mendatang," tutup Heroe.

(kum/bm/bmw)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK