SUARA ARUS BAWAH

Harlah Pancasila, Antara Seremonial dan Jurang Ketimpangan

CNN Indonesia | Selasa, 01/06/2021 13:15 WIB
Perlu tidaknya hari lahir Pancasila diperingati bisa diperdebatkan, karena belum terimplementasi dengan baik. Contohnya ketimpangan yang merajalela. Masih banyak yang menganggap Pancasila belum diterapkan secara menyeluruh karena begitu banyak ketimpangan di aspek hukum dan kesejahteraan sosial (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila yang merupakan dasar negara Republik Indonesia. Kini, tanggal 1 Juni juga sudah menjadi hari libur nasional oleh Presiden Joko Widodo.

Pancasila diketahui oleh masyarakat Indonesia di seluruh lapisan sejak lama. Akan tetapi, tak sedikit kalangan yang menganggap Pancasila belum diterapkan secara menyeluruh.

Dengan kata lain, Pancasila belum benar-benar menjadi pedoman atau landasan dalam kehidupan bernegara. Masih ada hal ganjil yang dirasakan masyarakat dan tak sesuai dengan kehendak Pancasila.


Ali, Cleaning service di Jakarta SelatanPegawai cleaning service di kawasan Jakarta Selatan, Ali, merasa Pancasila belum benar-benar diterapkan karena hukum masih belum adil untuk semua lapisan masyarakat Indonesia. (CNN Indonesia/Yulia Adhiningsih)

Seorang petugas kebersihan Ali mengatakan salah satu fenomena yang terlihat di masyarakat adalah hukum yang belum benar-benar adil. Menurutnya, itu salah satu contoh Pancasila belum benar-benar nyata diterapkan.

"Kalau soal hukum tajam ke bawah tumpul ke atas," ucap Ali kepada CNNIndonesia.com, Kamis (26/5).

Hal lain yang disorot Ali yaitu soal kesejahteraan. Ali menganggap taraf ekonomi masyarakat Indonesia juga masih belum merata.

Padahal menurutnya, Pancasila berkehendak semua lapisan masyarakat Indonesia sejahtera seperti tertuang dalam sila kelima, yakni Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Menurut Ali, penerapan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tergantung dari sosok pemimpin pemerintahan.

"Misalnya harus ada pemimpin yang benar-benar memimpin Pancasila-nya sekarang," ucap dia.

Latifah salah satu karyawan Agensi Periklanan di Jakarta Selatan
Latifah, salah satu karyawan Agensi Periklanan di Jakarta Selatan, merasa hari lahir Pancasila tak perlu diperingati. Dia lebih menggarisbawahi bagaimana agar Pancasila benar-benar bisa dirasakan seluruh lapisan masyarakat terlebih dahulu (CNN Indonesia/YuliaAdhiningsih)

Ada pula yang menganggap peringatan Hari Lahir Pancasila menjadi tidak penting jika nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tak diterapkan atau tidak dirasakan oleh seluruh lapisan warga negara.

Salah satu yang beranggapan demikian adalah Latifah, karyawan di agensi periklanan di Jakata Selatan. Menurutnya, lebih penting bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila secara menyeluruh.

"Menurut gue enggak terlalu penting banget [peringatan Hari Lahir Pancasila]. Semua peringatan bagi gue enggak penting sih," ucap Latifah kepada CNNIndonesia.com, Kamis (27/5).

Menurutnya, Pancasila hanya akan menjadi gagasan usang saja jika tidak diterapkan. Menurutnya, untuk apa diperingati jika masih banyak keadilan dan kesejahteraan yang tidak merata.

"Bukan sesuatu yang harus diingat saja. Terus didalami, dipelajari, baru dijalanin. Lebih ke kenapa melakukan keharusan dalam menjalani butir-butir Pancasila," imbuhnya.

Muhammad Rizki, Pegawai Swasta di SCBD, Jakarta Selatan Muhammad Rizki, Pegawai Swasta di SCBD, Jakarta Selatan menganggap hari lahir Pancasila patut diperingati agar semua warga negara Indonesia yang berasal dari berbagai suku, agama dan bahasa ingat akan pentingnya persatuan. (CNN Indonesia/Yulia Adhiningsih)

Salah satu pegawai swasta di DKI Jakarta, Muhammad Rizki punya pendapat berbeda. Dia tetap merasa penting untuk memperingati Hari Lahir Pancasila. Peringatan Pancasila penting karena Indonesia merupakan negara majemuk.

Dengan memperingati Pancasila, maka masyarakat Indonesia yang terdiri dari beragam suku bangsa dan agama serta bahasa akan selalu ingat pentingnya persatuan.

"Di Indonesia ini majemuk. Pancasila ini merangkul semua perbedaan itu, makanya dibentuk dasar negara," ucap Ali kepada CNNIndonesia.com, Kamis (27/5).

Mengenai kesejahteraan, Ali mengamini masih begitu banyak ketimpangan. Terutama di daerah-daerah terpencil di Indonesia bagian timur.

Fariska Cinta Priandini, Mahasiswa Universitas Indonesia. Mahasiswa Universitas Indonesia, Fariska Cinta Priandini, menganggap hari lahir Pancasila patut diperingati setiap tahun. Tetapi, implementasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya juga harus diterapkan hingga dirasakan oleh seluruh masyarakat berbagai lapisan. (CNN Indonesia/YuliaAdhiningsih)

Mahasiswi Universitas Indonesia Fariska Cinta (19) mengatakan hal senada. Menurutnya, hari lahir Pancasila tetap harus diperingati meski memang saat ini masih banyak ketimpangan di berbagai aspek yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

"Keadilannya belum merata. Masih ada diskriminasi sosial, stereotip, infrastruktur timpang antara ibukota dengan daerah-daerah," katanya.

Di samping memperdebatkan penting tidaknya hari lahir Pancasila diperingati, perlu pula disorot bahwa masih ada warga negara yang mengetahui peringatan yang jatuh setiap 1 Juni itu.

Dia adalah Sumardi, seorang pedagang di daerah Jakarta Selatan. Sumardi tidak tahu selama ini hari lahir Pancasila diperingati setiap 1 Juni. Dia hanya tahu Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945.

"Aduh saya enggak ingat. Pancasila ya pokoknya '45 aja kemerdekaan. Ingatnya kemerdekaan '45," ucap Sumardi kepada CNNIndonesia.com, Kamis (27/5).

Sumardi Pedagang asal Depok, Jawa Barat Sumardi, Pedagang asal Depok, Jawa Barat mengaku selama ini tidak tahu hari lahir Pancasila diperingati setiap 1 Juni. Dia hanya tahu tentang Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. (CNN Indonesia/Yulia Adhiningsih)

Pancasila diperingati setiap 1 Juni lantaran pada hari itu tahun 1945 silam, Sukarno memberikan pidato di rapat BPUPKI. Kala itu, dia menyampaikan usulan soal dasar negara Indonesia jika sudah merdeka.

Bukan hanya tidak tahu hari lahir Pancasila, Sumardi pun lebih memilih agama untuk menjadi pedoman hidupnya hari-hari. Dia acuh tak acuh dengan nilai-nilai atau sila dalam Pancasila.

"Kalau dibilang penting ya penting. kalau saya kan Islam. kalau Pancasila itu kan baru, kalau Islam kan udah berabad-abad," ujarnya.

(yla/bmw/bmw)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK