SUARA ARUS BAWAH

Kalut Perantau Tak Bisa Mudik: Gimana Lagi Sudah Kayak Gini

CNN Indonesia | Sabtu, 08/05/2021 10:22 WIB
Banyak perantau bertahan di Jakarta lantaran terkendala larangan mudik Lebaran 2021. Mereka cemas tak bisa berjumpa orang tua. Personel kepolisian terpaksa menurunkan penumpang travel gelap saat terjaring penyekatan pemudik di pintu keluar tol Pejagan-Pemalang, Adiwerna, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Kamis (6/5/2021). (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ribuan orang tercatat telah meninggalkan Jakarta sejak beberapa hari sebelum masa larangan mudik berlaku pada 6-17 Mei 2021.

Meski demikian, tidak sedikit perantau dari berbagai daerah masih bertahan di Jakarta, baik karena larangan mudik maupun faktor ekonomi akibat pandemi.

Aris (38) seorang penjual sate Padang yang mangkal di depan Universitas Nasional, Pasar Minggu, Jakarta Selatan asal Pariaman, Padang, Sumatra Barat salah satunya.


Ia tidak bisa mudik Lebaran tahun ini. Sejak dihantam pandemi, pendapatannya dari berjualan sate padang turun hingga 50 persen.

"Pertama ada cegatan, kedua keadaan ekonomi kan," Aris saat ditemui di lapaknya, Kamis (6/5) malam.

Aris (38) perantau asal Padang Pariaman, Suamatera Barat tidak bisa mudik karena ada larangan pemerintah dan kesulitan ekonomi. Ia khawatir tak bisa bertemu ibunya lagi yang sudah tua, Kamis (6/5).Aris (38) perantau asal Padang Pariaman, Suamatera Barat tidak bisa mudik. (CNN Indonesia/Syakirun Niam)

Aris terpaksa kembali menahan diri untuk mudik. Penghasilannya saat ini hanya cukup untuk menghidupi anak dan istrinya di Jakarta.

Padahal, di kampung halaman, ibu Aris semakin berumur sementara ayahnya telah meninggal. Ia cemas tidak bisa kembali menemui ibunya.

"Ya, takut [tidak bisa bertemu ibu lagi]. Habis gimana lagi sudah kayak gini, kan," kata Aris.

Sarni Sukmawati (34) seorang perantau asal Indramayu, Jawa Barat yang bekerja di salah satu kios laundry di Jalan Salihara, Pasar Minggu bimbang dengan rencana mudik.

Sarni memang mengikuti aturan pemerintah untuk tidak mudik selama masa larangan diberlakukan. Meski demikian, ia berniat mudik ke kampungnya saat masa larangan itu selesai.

Sarni Sukmawati (34), pemerja di tempat laundry bimbang dengan rencananya melakukan mudik, Kamis (6/5). Ia khawatir tidak bisa bertemu kakek dan neneknya yang sudah tua lagi. Namun, ia takur pulang membawa virus.Sarni Sukmawati (34), pekerja di tempat laundry bimbang akan mudik. (CNN Indonesia/Syakirun Niam)

Di satu sisi, Sarni ingin berkumpul dengan keluarganya. Terutama menemui kakek dan neneknya. Ia khawatir tidak bisa bertemu mereka lagi karena usia yang sudah tua. Sementara belum bisa dipastikan kapan pandemi akan berakhir.

"Tapi, kan kalau kita pulang lebih khawatir [membawa virus] juga. Soalnya di sana sudah pada tua," kata Sarni bimbang.

Sementara itu, Sugeng (37) pedagang buah asal Boyolali, Jawa Tengah yang sehari-hari menjual buah di Jalan Pejaten Raya, Pasar Minggu memiliki ketakutan yang berbeda karena dua tahun berturut-turut tidak mudik.

Ia khawatir ketidakhadiran dalam momen bersama keluarga di kampung menjadi biasa.

Orang-orang di rumah tidak lagi merasa keberatan ketika beberapa anggota keluarganya tidak bisa bersua.

"Yang saya khawatirkan gitu, sudah biasa enggak ada. Padahal pada diri kita sendiri kan pengen banget ngumpul," kata Sugeng dengan emosional.

Padahal, Sugeng menganggap momen Lebaran di keluarganya spesial dan unik.

Sugeng (37) yang dua tabub berturut-turt tidak bisa mudik ke Boyolali khawatir ketidakhadiran di momen lebaran menjadi hal biasa di keluarganya, Kamis (6/5).Sugeng (37) dua tahun berturut-turut tidak bisa mudik ke Boyolali. (CNN Indonesia/Syakirun Niam)

Banyak anggota keluarganya menganut agama yang berbeda-beda. Sugeng menyebutkan, saudara ibunya menganut agama Katolik sementara kakek dan neneknya menganut agama Budha. Sementara, keponakannya menganut agama Protestan.

Namun, saat Idul Fitri tiba, mereka semua tetap berkumpul di Boyolali, Jateng dan merayakan momen Lebaran bersama.

Menurut Sugeng, hal ini juga terjadi di kampungnya yang hampir seluruh warganya menganut agama Budha.

"Yang ada vihara sama gereja. Musala di kampung satu pun kagak ada, tapi kalau Lebaran rame pada pulang semua," kata Sugeng mengenang.

Mudik dengan Cara Tak Biasa

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK