Jemaah Tareqat Syattariyah Sumbar Idul Adha Hari Ini

CNN Indonesia | Kamis, 22/07/2021 11:56 WIB
Tarekat Syattariyah di Sumbar merayakan Idul Adha dua hari lebih lama dari ketetapan pemerintah. Jemaah tareqat Syattariyah memdomani taqwim sebagai penentu awal bulan hijriyah. (Foto: CNN Indonesia/Sonya)
Padang Pariaman, CNN Indonesia --

Jemaah Tarekat Syattariyah di Kabupaten Padang Pariaman, dan beberapa daerah lainnya di Sumatera Barat (Sumbar), merayakan Idul Adha 1442 Hijriah pada Kamis (22/7), atau dua hari lebih lama dari ketetapan pemerintah.

Salah seorang Ulama Syattariyah, Tuanku Ahmad Yusuf, mengatakan sejak dulu Tarekat Syattariyah menentukan jatuhnya 10 Zulhijah alias Idul Adha berdasarkan bilangan takwim khamsiah.

"Memang ada perbedaan cara hitung jatuhnya 10 Zulhijah dengan ketetapan dari pusat. Kita menghitungnya dari awal bulan Muharram tahun ini," kata Tuanku Ahmad Yusuf kepada CNNIndonesia.com, di Kecamatan Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman, Kamis (22/7).


Ahmad Yusuf menjelaskan bahwa taqwim ini didapat berdasarkan huruf masing-masing bulan dan tahun. Jumlah dari kedua huruf tersebut menjadi penentu awalnya 1 Ramadhan, 1 Syawal, dan 10 Zulhijah.

"Perbedaan ini, tidak hanya kerap terjadi pada perayaan Idul Adha saja, namun juga saat penentuan awal Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri," jelasnya.

Tuanku Abdul Yusuf mengatakan Hari Raya Kurban tahun 2021 ini cukup unik karena jaraknya dua hari lebih lama.

"Memang ada perbedaan dengan pemerintah dan Muhammadiyah, namun setahu saya biasanya jaraknya hanya satu hari saja, tapi tentu ini tak jadi soal," sebut Abdul Yusuf.

Menanggapi perbedaan tersebut, Abdul Yusuf mengatakan agama islam tidak memiliki peraturan yang baku dan terikat dalam penentuan hari raya. Oleh sebab itu, Jemaah Sattariyah memiliki pedomannya sendiri.

"Sebaiknya perbedaan ini jangan menjadi celah untuk saling menghina, terutama antar sesama agama islam," kata Tuanku Abdul Yusuf.

Dalam perayaan Idul Adha ini, jemaah menggelar salat Idul Adha secara berjamaah, yang kemudian berlanjut dengan pemotongan hewan kurban yang dilakukan di masjid atau musala masing-masing.

"Untuk kurban, kita juga memperoleh lima ekor sapi dan satu ekor kambing dari Ikatan Perantau Kampung Koto Jakarta yang akan disembelih secara bersama-sama dengan hewan kurban lainnya," jelasnya.

Salah seorang jemaah Syattariyah di Ulakan Tapakis, Nasrul, mengatakan ia dan keluarganya mengikuti ajaran itu secara turun-temurun. Hingga saat ini, ia masih meyakini ajaran tersebut karena tidak ada perbedaan dengan ajaran islam secara umum.

"Kami sekeluarga mengikuti ajaran Tarekat Syattariyah, walau memulai puasa Ramadan dan Idul Adha berbeda dengan masyarakat pada umumnya, namun tujuannya tetaplah sama," katanya.

Selain di Agam dan Padang Pariaman, jemaah Syattariyah juga tersebar di sejumlah daerah di Sumbar, seperti di Kabupaten Pesisir Selatan, Sijunjung, Batusangkar, Solok dan kota Padang.

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar dan pemerintah setempat mengizinkan masyarakat melaksanakan salat Idul Adha di masjid dan musala dengan catatan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

"Kegiatan agama merupakan salah satu ikhtiar umat Muslim dalam menghadapi pandemi," kata Ketua MUI Sumbar Buya Gusrizal Gazahar.

(nya/arh)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK