Ahli: Kematian Tinggi karena 3T Lambat, Isoman Tak Terpantau

CNN Indonesia | Rabu, 28/07/2021 14:14 WIB
Epidemiolog menilai tingginya angka kematian terkait Covid-19 disebabkan lemahnya testing, telusur dan tindak lanjut (3T) oleh pemerintah. Warga berdoa di makam keluarganya usai pemakaman dengan protokol COVID-19 di TPU Rorotan, Cilincing, Jakarta, Minggu (4/7/2021). (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Epidemiolog dari Universitas Griffith Dicky Budiman mengatakan tingginya angka kematian terkait Covid-19 di Indonesia disebabkan dari lemahnya testing, telusur dan tindak lanjut (3T) oleh pemerintah.

Itu sebabnya, kata Dicky, kematian di Indonesia tetap tinggi meskipun tingkat keterisian rumah sakit atau bed occupancy rate (BOR) berangsur menurun.

"Yang jadi masalah sekarang dan klasik adalah masih minimnya strategi 3T kita. Dan ini yang berkontribusi pada angka kematian yang tinggi. Kematian itu adalah produk kronis. Produk dari keterlambatan, terlambat dideteksi, terlambat ditemukan, terlambat dirujuk, terlambat ditangani," ucap Dicky kepada CNNIndonesia.com, Rabu (28/7).


Dicky menyebut tingginya angka kematian itu juga disebabkan oleh banyaknya pasien Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri tanpa terpantau. Ia menilai, pemerintah seharusnya lebih aktif dalam pemantauan pasien Covid-19 yang melakukan isoman.

Menurutnya, banyak warga yang enggan ke rumah sakit karena berbagai faktor, salah satunya karena kultur. Alternatifnya, kata Dicky, pemerintah harus jemput bola agar mengetahui tingkat keparahan warga yang isoman.

"Orang Indonesia itu bukan dikit-dikit ke rumah sakit, selain masalah finansial juga masalah perilaku, masalah kebiasaan orang Indonesia kalau sakit tidak ke rumah sakit. Apalagi dalam situasi saat ini, stigma ya. Jadi enggak begitu melihatnya kalau Indonesia," ucap dia.

"Harus melakukan 3T, visitasi, sehingga pas isoman ada analisa risiko awal ini layak tidak atau berisiko atau tidak," imbuhnya.

Hal itu, kata Dicky, harus segera dilaksanakan oleh pemerintah. Jika tidak, ia memprediksi angka kematian akan terus naik, terutama kematian saat isoman dan tidak terdeteksi.

"Pada gilirannya nanti di puncak pertengahan Agustus, puncak kematian ya, itu akan didominasi oleh kasus-kasus kematian di masyarakat yang tidak banyak terdeteksi," ucap dia.

Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Adib Khumaidi menyebutkan beberapa daerah yang mengalami penurunan tingkat keterisian rumah sakit antara lain, Kudus, Pati, Rembang, dan Semarang, Jakarta, Tangerang, dan Bekasi.

"Semarang bahkan disebutkan BOR-nya yang kemarin sempat 92 [persen], sekarang 66 persen. Jakarta BOR-nya memang 76 persen, dengan ICU yang turun 85 persen BOR-nya," kata Adib dalam konferensi pers yang digelar secara virtual, Selasa (27/7).

Di saat bersamaan, angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia justru tinggi. Berdasarkan data Satuan Tugas (Satgas) covid-19, sebanyak 2.069 orang meninggal pada Selasa (27/7). Berdasarkan data Worldometer, Indonesia menempati peringkat teratas, terpaut jauh dari posisi kedua yang dihuni Brasil dengan 1.320 dan Rusia dengan 779 kasus.

Sementara itu, jumlah testing juga masih terbilang rendah. Kementerian Kesehatan akan meningkatkan capaian tes Covid-19 hingga 400 ribu per hari. Namun, jumlah tes di Indonesia masih jauh di bawah target tersebut, paling tidak selama tiga hari terakhir.

Pada Selasa (27/7) jumlah tes menggunakan PCR, TCM dan dan antigen mencapai 180.202 orang. Sehari sebelumnya, Senin (26/7) mencapai 121.266 orang dan pada Minggu (25/7) mencapai 124.139 orang.

Infografis Kematian Covid-19 Melonjak saat PPKM DaruratInfografis Kematian Covid-19 Melonjak saat PPKM Darurat. (CNN Indonesia/Asfahan Yahsyi)
(yla/pmg)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK