Jubir Satgas Ungkap Kondisi Penularan Covid di Papua Barat

CNN Indonesia | Minggu, 01/08/2021 07:32 WIB
Juru Bicara Satgas Covid-19 Papua Barat membeberkan kondisi penularan Covid-19 di wilayah tersebut, termasuk tantangan dalam vaksinasi. uru Bicara Satgas Covid-19 Papua Barat, dr. Arnold Tiniap. (CNN Indonesia/ Hendrik)
Manokwari, CNN Indonesia --

Berdasarkan epidemiologi, kondisi Covid-19 di Papua Barat berada pada status mendatar dengan temuan kasus rata rata di atas 100.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Papua Barat mengatakan peningkatan jumlah kesembuhan di Papua Barat tidak bisa menjadi kesimpulan bahwa pandemi Covid-19 di Papua Barat menurun.

"Kesembuhan itu perlu kita syukuri, tapi jangan berpuas diri karena kesembuhan yang meningkat tidak bisa disimpulkan bahwa status kita menurun. Acuan posisi kita ada pada menanjak, mendatar atau menurun, adalah laporan kasus," ujar Arnold kepada CNNIndonesia.com, Manokwari, Sabtu (31/7)


Misalnya, kata Arnold, dalam dua minggu dengan jumlah pemeriksaan sampel yang sama dan kasus yang dilaporkan konstan selama dua pekan terakhir berarti bisa disimpulkan bahwa Papua Barat berada pada posisi stabil atau mendatar.

"Kalau dalam dua minggu dari hasil 100 pemeriksaan turun terus, maka posisi itu menurun, sebaliknya menanjak jika hasilnya meningkat. Tapi untuk di Papua Barat, kita saat ini berada pada posisi mendatar tapi di angka 100," ujar Arnold yang juga dikenal sebagai Direktur RSU Papua Barat tersebut.

Ia mengatakan beberapa ahli menyatakan status Covid-19 di Indonesia bisa dinilai pada Agustus mendatang, begitu pun untuk Papua Barat. Sebab, ada kebijakan pemerintah yang menetapkan pemberlakuan pembatasan maupun zonasi wilayah, yang kenyataanya, pergerakan manusia masih terjadi.

"Dalam waktu 1 bulan ke depan ini kalau kasus di Indonesia menurun, dengan jumlah pemeriksaan yang sama, maka kita bisa simpulkan bahwa kita sudah melewati pandemi ini, termasuk di Papua Barat," ungkap Arnold.

Tantangan Vaksinasi di Papua Barat

Dalam kesempatan tersebut, Arnold juga mengungkapkan tantangan untuk menyukseskan program vaksinasi Covid-19 secara nasional di wilayah Papua Barat. Ia mengatakan penerapan protokol kesehatan 3M serta vaksinasi harus disadari masyarakat Papua Barat sebagai senjata utama melawan pandemi global ini.

Masyarakat kata Arnold, juga perlu mencatat bahwa, 16 pasien yang telah meninggal sepanjang tahun ini khusus yang dirawat di RSU Papua Barat secara keseluruhan belum di vaksin.

"Januari sampai akhir Mei pasien kita yang meninggal hanya 2 orang. Juni sampai Juli 10 orang. Kemarin 3 meninggal di tambah 1 terakhir jadi total 16 yang meninggal. Semua pasien meninggal itu belum menerima vaksin," ungkapnya.

Arnold menerangkan sebagian orang asli Papua (OAP) masih menolak divaksin, karena menganggap itu bertentangan dengan budaya dan juga keyakinan mereka. Belum lagi, sambungnya, beredarnya kabar-kabar hoaks terkait vaksinasi di luar sana.

Kondisi ini kata Arnold, bukan kenyataan yang tidak bisa dirubah. Bagi dia, dibutuhkan edukasi untuk meyakinkan itu. Pasalnya, masyarakat menurutnya bisa saja menghubungkan suatu hal karena ketidaktahuan lalu menimbulkan respon yang berlebihan dan menarik diri dari suatu hal yang baru.

"Jika kita hubungkan dengan suntik menyuntik, kita kan selama ini disuntik. Sakit malaria minta disuntik, waktu diinfus kita disuntik. Bahkan infus jarumnya lebih besar. Jadi Disuntik dan divaksin sama saja," ungkapnya.

Arnold menjelaskan untuk vaksinasi di wilayah Papua Barat memiliki target total sasaran 777.229 jiwa atau 70 persen dari 1.3 juta penduduk. Data terakhir menunjukkan capaian Vaksinasi Papua Barat baru sekira 20 persen.

Berdasarkan data terakhir, cakupan Vaksinasi di Papua Barat sudah 20.5 persen untuk dosis pertama dan 8,8 persen untuk dosis kedua. Di Papua Barat, Manokwari tertinggi dengan capaian 36.8 persen untuk dosis pertama dan 15,6 persen untuk dosis ke dua. Sedangkan terendah ada di Kabupaten Pegaf yang baru mencapai 0,3 persen untuk dosis pertama dan 0,2 persen untuk dosis ke dua.

"Kota Sorong masih 17 persen, kabupaten lain masih rata rata 10-20 persen. Jadi, target 70 persen, kita prediksi bisa tercapai dalam waktu 2 atau 3 bulan ke depan. Itu pun jika vaksinasi gencar dilakukan, logistik tersedia dan masyarakat bersedia divaksin," kata Arnold.

(hen/kid)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK