Coretan mural dengan pesan hapus korupsi terbentang di sebuah tembok, Larangan, Tangerang, Banten, Jumat (20/8/2021). (ANTARA FOTO/MUHAMMAD IQBAL)
Jakarta, CNN Indonesia --
Peristiwa penghapusan muralatau coretan di dinding bernada kritik di berbagai tempat ramai terjadi beberapa waktu terakhir. Aksi penghapusan mural kritiktersebut gencar dilakukan baik aparat daerah maupun polisi di masing-masing wilayah.
Kemunculan mural ini dinilai berkaitan karena kondisi masyarakat di masa pandemi Covid-19 saat ini. Beberapa mural, membawa narasi beraitan dengan perasaan warga yang mengkritik situasi penanganan pandemi.
Hingga Selasa (24/8), fenomena mencoret dinding dengan mural hingga grafiti masih meluas di berbagai wilayah meski kerap dihapus. Terakhir, di Solo muncul mural bertuliskan 'Negaraku Minus Nurani' dan 'Orang Miskin dilarang Sakit' di kawasan Stabelan, Kecamatan Banjarsari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jauh sebelum itu, deretan mural yang dihapus sudah mencuat sejak akhir Juli 2021 lalu. Misalnya, muncul mural bertuliskan 'Tuhan, Aku Lapar' di kawasan Tigakarsa, Kabupaten Tangerang. Coretan itu menjadi viral dan langsung dihapus aparat.
Kemunculan mural terus berlanjut dan melebar ke berbagai tempat baik di dalam ataupun luar Pulau Jawa.
Salah satu yang fenomenal ialah gambar orang mirip Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) yang bagian mata ditutupi stiker tulisan '404: Not Found'. Istilah itu lazim dalam dunia siber, menandakan laman yang dituju dak bisa diakses atau tidak ada sama sekali.
Sebelumnya, di tembok salah satu rumah kosong pinggir jalan di kawasan Pasuruan, Jawa Timur, juga tergambar mural bergambar kartun yang dibubuhi dengan tulisan 'Dipaksa Sehat di Negeri yang Sakit'. Lukisan itu hanya bertahan beberapa hari.
Diduga, gambar telah ada pada sekitar tanggal 25 Juli. Kemudian, menjadi viral dan langsung dihapus oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) pada 10 Agustus.
Gambar lain bertuliskan 'Wabah Sesungguhnya adalah Kelaparan' juga muncul di kawasan Ciledug, Tangerang. Penghapusan itu diklaim oleh petugas Kecamatan Ciledug atas permintaa warga.
"Pas 17 Agustus kami abis apel ada info warga, 'Pak ada tulisan ini nih di pintu masuk lahan yang saya urus, tolong dong dihapus', warga bilang gitu ya kami hapus," kata Camat Ciledug, Syarifuddin saat dihubungi Rabu (18/8).
Gencarnya aksi penghapusan narasi itu mendapat kritik dari sejumlah pihak. Amnesty International Indonesia menilai bahwa upaya aparat itu mengancam kebebasan berekspresi dan berpendapat.
Warga, tidak dapat berpendapat kritis lantaran selalu dihapus oleh otoritas pemerintahan. Padahal, kata dia, kebebasan berpendapat itu dilindungi oleh hukum HAM Internasional dan konstitusi Indonesia.
"Tindakan kepolisian dan aparat negara lainnya yang berlebihan, termasuk mencari pembuatnya jelas mengancam hak atas kebebasan berekspresi dan berpendapat" kata Deputi Direktur AII, Wirya Adiwena kepada wartawan.
Lebih lanjut soal lomba mural dibungkam ada di halaman selanjutnya.
Penghapusan mural secara masif itu nyatanya tak membuat sejumlah pihak melunak. Gerakan Gejayan Memanggil menggelar lomba dan mengundang agar seluruh seniman di Indonesia agar berpartisipasi dalam kegiatan bertajuk 'Lomba Mural Dibungkam'.
Karya yang kemudian dihapus aparat, nantinya akan mendapat nilai lebih bagi penilaian juri.
Lomba akan berlangsung selama sepekan hingga akhir Agustus 2021. Pengumunan itu, terbuka bagi publik dan dapat diakses melalui akun Instagram @gejayanmemanggil.
"Konsepnya, menggambar adalah kebudayaan setiap anak. Pemberangusan adalah kekeliruan penguasa atau orang dewasa. Coret-coretan di tembok adalah cara-cara kebebasan bersuara terbatas dan sekarang coretan itu pun dibatasi," kata Humas Gejayan Memanggil yang minta namanya disamarkan sebagai Mimin Muralis, Selasa (24/8).
Lomba itu dapat diikuti dengan menggunggah foto karya ke instagram pribadi dan menandai akun @gejayanmemanggil. Setelah itu, peserta dapat mengkonfirmasi pendaftaran via direct message menggunakan kode 'Lomba Dibungkam'.
Karya yang dibuat harus menggambarkan semangat perlawanan, diapresiasi rakyat dan tidak mengandung unsur SARA.
Gerakan ini, merupakan bagian untuk menghidupkan semangat revolusi dan menyikapi tindakan pemerintah yang dinilainya terlalu responsif terhadap coretan-coretan dinding.
Padahal, mural itu bermuatan kritis dan lazim digunakan oleh negara-negara Eropa dan bekas jajahannya.
"Di Indonesia sebalknya, mural dianggap kriminal. Sementara baliho sampah visual dianggap representasi suara rakyat," ucapnya.
Peristiwa penghapusan muralatau coretan di dinding bernada kritik di berbagai tempat ramai terjadi beberapa waktu terakhir. Aksi penghapusan mural kritiktersebut gencar dilakukan baik aparat daerah maupun polisi di masing-masing wilayah.
Kemunculan mural ini dinilai berkaitan karena kondisi masyarakat di masa pandemi Covid-19 saat ini. Beberapa mural, membawa narasi beraitan dengan perasaan warga yang mengkritik situasi penanganan pandemi.
Hingga Selasa (24/8), fenomena mencoret dinding dengan mural hingga grafiti masih meluas di berbagai wilayah meski kerap dihapus. Terakhir, di Solo muncul mural bertuliskan 'Negaraku Minus Nurani' dan 'Orang Miskin dilarang Sakit' di kawasan Stabelan, Kecamatan Banjarsari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jauh sebelum itu, deretan mural yang dihapus sudah mencuat sejak akhir Juli 2021 lalu. Misalnya, muncul mural bertuliskan 'Tuhan, Aku Lapar' di kawasan Tigakarsa, Kabupaten Tangerang. Coretan itu menjadi viral dan langsung dihapus aparat.
Kemunculan mural terus berlanjut dan melebar ke berbagai tempat baik di dalam ataupun luar Pulau Jawa.
Salah satu yang fenomenal ialah gambar orang mirip Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) yang bagian mata ditutupi stiker tulisan '404: Not Found'. Istilah itu lazim dalam dunia siber, menandakan laman yang dituju dak bisa diakses atau tidak ada sama sekali.
Sebelumnya, di tembok salah satu rumah kosong pinggir jalan di kawasan Pasuruan, Jawa Timur, juga tergambar mural bergambar kartun yang dibubuhi dengan tulisan 'Dipaksa Sehat di Negeri yang Sakit'. Lukisan itu hanya bertahan beberapa hari.
Diduga, gambar telah ada pada sekitar tanggal 25 Juli. Kemudian, menjadi viral dan langsung dihapus oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) pada 10 Agustus.
Gambar lain bertuliskan 'Wabah Sesungguhnya adalah Kelaparan' juga muncul di kawasan Ciledug, Tangerang. Penghapusan itu diklaim oleh petugas Kecamatan Ciledug atas permintaa warga.
"Pas 17 Agustus kami abis apel ada info warga, 'Pak ada tulisan ini nih di pintu masuk lahan yang saya urus, tolong dong dihapus', warga bilang gitu ya kami hapus," kata Camat Ciledug, Syarifuddin saat dihubungi Rabu (18/8).
Gencarnya aksi penghapusan narasi itu mendapat kritik dari sejumlah pihak. Amnesty International Indonesia menilai bahwa upaya aparat itu mengancam kebebasan berekspresi dan berpendapat.
Warga, tidak dapat berpendapat kritis lantaran selalu dihapus oleh otoritas pemerintahan. Padahal, kata dia, kebebasan berpendapat itu dilindungi oleh hukum HAM Internasional dan konstitusi Indonesia.
"Tindakan kepolisian dan aparat negara lainnya yang berlebihan, termasuk mencari pembuatnya jelas mengancam hak atas kebebasan berekspresi dan berpendapat" kata Deputi Direktur AII, Wirya Adiwena kepada wartawan.
Lebih lanjut soal lomba mural dibungkam ada di halaman selanjutnya.
Lomba Mural Dibungkam Sindir Sikap Negara
Salah satu coretan di dinding di kota Solo sebelum dihapus aparat. (CNN Indonesia/ Rosyid)
Penghapusan mural secara masif itu nyatanya tak membuat sejumlah pihak melunak. Gerakan Gejayan Memanggil menggelar lomba dan mengundang agar seluruh seniman di Indonesia agar berpartisipasi dalam kegiatan bertajuk 'Lomba Mural Dibungkam'.
Karya yang kemudian dihapus aparat, nantinya akan mendapat nilai lebih bagi penilaian juri.
Lomba akan berlangsung selama sepekan hingga akhir Agustus 2021. Pengumunan itu, terbuka bagi publik dan dapat diakses melalui akun Instagram @gejayanmemanggil.
"Konsepnya, menggambar adalah kebudayaan setiap anak. Pemberangusan adalah kekeliruan penguasa atau orang dewasa. Coret-coretan di tembok adalah cara-cara kebebasan bersuara terbatas dan sekarang coretan itu pun dibatasi," kata Humas Gejayan Memanggil yang minta namanya disamarkan sebagai Mimin Muralis, Selasa (24/8).
Lomba itu dapat diikuti dengan menggunggah foto karya ke instagram pribadi dan menandai akun @gejayanmemanggil. Setelah itu, peserta dapat mengkonfirmasi pendaftaran via direct message menggunakan kode 'Lomba Dibungkam'.
Karya yang dibuat harus menggambarkan semangat perlawanan, diapresiasi rakyat dan tidak mengandung unsur SARA.
Gerakan ini, merupakan bagian untuk menghidupkan semangat revolusi dan menyikapi tindakan pemerintah yang dinilainya terlalu responsif terhadap coretan-coretan dinding.
Padahal, mural itu bermuatan kritis dan lazim digunakan oleh negara-negara Eropa dan bekas jajahannya.
"Di Indonesia sebalknya, mural dianggap kriminal. Sementara baliho sampah visual dianggap representasi suara rakyat," ucapnya.