BMKG Prediksi Musim Hujan Lebih Lebat dari Biasanya

CNN Indonesia
Jumat, 27 Agu 2021 12:05 WIB
BMKG memprediksi curah hujan di atas normal di sejumlah wilayah mulai Jawa hingga Sulawesi mulai September mendatang. Kendaraan melintas di jalan tol Jagorawi saat hujan deras mengguyur kawasan tersebut, Jakarta, Minggu, 20 September 2020. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)

BMKG mewaspadai curah hujan di atas normal di sejumlah wilayah mulai Jawa hingga Sulawesi mulai September mendatang.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menerangkan, secara umum sifat hujan selama Musim Hujan 2021/2022 diprakirakan normal atau sama dengan rerata klimatologisnya pada 244 ZOM (71,4 persen). Kemudian sejumlah 88 ZOM (25,7 persen) akan mengalami kondisi musim hujan atas normal (lebih basah dari biasanya), dan 10 ZOM (2,9 persen) akan mengalami musim hujan bawah normal.

"Nah ini yang harus hati-hati, yang di atas normal itu, sebanyak 26 persen zona musim, itu lebih basah dari biasanya," kata Dwi dalam paparannya, Kamis.

BMKG, kata Dwi, memperkirakan potensi bencana hidrometeorologi akibat curah hujan datang lebih dini mulai September. Bencana hidrometeorologi adalah bencana yang diakibatkan oleh aktivitas cuaca seperti siklus hidrologi, curah hujan, temperatur, angin dan kelembapan.

Bentuk hidrometeorologi antara lain berupa kekeringan, banjir, badai, kebakaran hutan, longsor, angin puyuh, gelombang dingin, hingga gelombang panas.

Adapun, Dwi merinci beberapa wilayah yang akan mengalami bencana hidrometeorologi akibat curah hujan tinggi yakni, sebagian Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau bagian Selatan, Jawa, Bali, Nusa tenggara, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur bagian Barat hingga Selatan.

Lalu ada Sulawesi, Maluku Utara bagian Barat, Pulau Seram bagian Selatan, dan Papua bagian Selatan.

Oleh sebab itu, ia mememinta pemerindah daerah di wilayah tersebut mulai memikirkan langkah mitigasi lebih dini. Terutama wilayah yang lebih rawan banjir, longsor, atau tanah bergerak.

"Untuk itu BMKG mengimbau pemda setempat dan masyarakat di wilayah yang kami sampaikan tadi, perlu mewaspadai mengantisipasi dan melakukan aksi mitigasi lebih awal guna menghindari dan mengurangi risiko bencana," kata Dwikorita.

La Nina di Akhir 2021

Dalam kesempatan sama, Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Dodo Gunawan mengatakan saat ini El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) sama-sama dalam keadaan netral. Keduanya adalah faktor iklim penting yang mempengaruhi terhadap variabilitas curah hujan di Indonesia, terutama pada skala waktu inter-annual.

Namun, berdasarkan pemantauan parameter anomali iklim global oleh BMKG dan institusi-institusi internasional lainnya, terdapat indikasi/peluang bahwa ENSO Netral akan berkembang menjadi La Nina pada akhir tahun 2021. Sementara itu, Indian Ocean Dipole Mode (IOD) Netral diprediksi bertahan setidaknya hingga Januari 2022.

Lebih lanjut, Dodo meminta masyarakat untuk lebih mewaspadai kejadian cuaca ekstrem seperti hujan es, hujan lebat disertai kilat dan petir, dan angin puting beliung jelang masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. Tidak hanya bencana, perubahan cuaca yang tidak menentu bisa membuat imunitas seseorang melemah sehingga menjadi rentan terkena penyakit.

"Terlebih situasi Indonesia saat ini belum lepas sepenuhnya dari pandemi Covid-19. Waspada bencana hidrometeorologi dan jaga kesehatan selalu," imbuhnya.

Dodo juga mengatakan bahwa periode musim hujan dapat dimanfaatkan masyarakat untuk menambah luas tanam, melakukan panen air hujan, dan mengisi waduk/danau yang berguna untuk periode musim kemarau tahun depan.

(thr/kid)

[Gambas:Video CNN]
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER