21 Warga Ditangkap Aparat Buntut Sengketa Tanah di Golo Mori

CNN Indonesia
Senin, 06 Sep 2021 10:55 WIB
Golo Mori adalah salah satu kawasan di NTT yang rencananya menjadi lokasi pembangunan besar-besaran untuk persiapan pertemuan KTT G-20 pada 2023. Aparat kepolisian menangkap 21 warga terkait sengketa tanah di Desa Golo Mori, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) karena alasan untuk mencegah konflik lebih meluas. Foto: ANTARA/Ho-Humas Polres Manggarai Barat
Jakarta, CNN Indonesia --

Aparat kepolisian menangkap 21 warga terkait sengketa tanah di Desa Golo Mori, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) karena alasan untuk mencegah konflik lebih meluas.

Kawasan Golo Mori adalah salah satu kawasan yang rencananya dikembangkan menjadi lokasi pembangunan besar-besaran untuk persiapan pertemuan KTT G-20 pada 2023 mendatang.

Kepala Polres Manggarai Barat, AKBP Bambang Wibowo, menyatakan penangkapan 21 warga itu dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya konflik akibat masalah tanah di daerah itu.


Sebanyak 21 warga itu ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian.

"Ya pada saat itu kita tangkap 21 warga itu untuk mencegah jatuhnya korban jiwa yang bisa saja memicu konflik lebih luas. Apalagi yang ditangkap itu, dua kubu yang mayoritas berbeda agama," katanya, di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, Senin.

Dia mengaku telah menerima informasi soal banyak desakan kepada pimpinan Polda NTT bahkan ke Kapolri untuk memutasi dia keluar dari Labuan Bajo karena menangkap 21 warga di desa itu. Padahal warga mengaku hanya melakukan aktivitas pembersihan lahan yang disengketakan di daerah itu pada 2 Juli 2021 lalu.

Wibowo menyatakan, bentrokan antarkelompok masyarakat yang berujung korban jiwa berulang kali terjadi di Manggarai NTT dan hal itu membahayakan kamtibmas di daerah itu.

Apalagi, kata dia, Manggarai Barat dikenal dengan daerah kawasan wisata. Sehingga menurutnya konflik-konflik berkaitan dengan masalah tanah apalagi konflik mayoritas masyarakat beda agama akan sangat cepat menyebar dengan isu yang bisa saja dimain-mainkan.

"Karena itu saya tidak ingin kejadian itu terulang kembali di daerah wisata ini," ujar dia.

Polisi menangkap 21 warga terkait kasus sengketa tanah di Desa Golo Mori pada 21 Juli lalu.

Dalam sengketa tanah itu, kata Wibowo, tiga orang warga Golo Mori Manggarai Barat membawa masuk 18 orang dari luar daerah yaitu dari Desa Popo dan Kampung Dipong Manggarai. Jarak antara dua daerah tersebut dengan Golo Mori sekitar 6-7 jam perjalanan darat menggunakan kendaraan roda empat.

Tiga warga Golo Mori dan 18 warga dari Manggarai kemudian ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka. Tiga warga Golo Mori diduga sebagai aktor intelektual dan 18 warga Manggarai terbukti membawa senjata tajam dan menduduki lahan sengketa.

Kedatangan 18 orang dari Desa Popo dan Kampung Dipong Manggarai, kata Wibowo, dikhawatirkan memunculkan bentrokan dengan warga Golo Mori.

Sejumlah perwakilan kelompok masyarakat sipil peduli Pulau Komodo telah menyurati organisasi pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan dunia di bawah PBB atau UNESCO turun tangan mengkaji rencana pemerintah yang akan melakukan pemugaran situs warisan dunia Pulau Komodo, NTT.

Dalam surat itu di antaranya disebutkan bahwa di Golo Mori, sebuah pulau di Timur Taman, pemerintah berencana membangun kawasan ekonomi khusus (KEK) di atas lahan seluas 300 hektar. Wilayah itu direncanakan menjadi tuan rumah pertemuan negara-negara G-20 dan Asian Summit 2021.

Sebagai bagian dari proyek tersebut, dua pulau kecil dari kawasan Taman Nasional Komodo, yakni Pulau Muang dan Bero akan disatukan dan kehilangan statusnya sebagai bagian Taman Nasional Komodo.

(Antara/gil)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER