Jakarta, CNN Indonesia -- Warga Kampung Banar, Desa Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tak punya pilihan selain tetap bertahan hidup di bantaran Sungai Cidurian. Ancaman banjir bandang mengintai mereka.
Jumri (50) menatap getir area rumahnya yang tersapu banjir bandang pada Senin (6/9). Ruangan dapur serta kamar mandi yang sebelumnya kerap digunakan oleh keluarganya kini habis tak tersisa.
"Di sini dulu dapur, di sini kamar mandi," katanya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (7/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menuturkan, bencana yang terjadi sehari sebelumnya itu berawal dari hujan pada sore hari. Alih-alih segera mereda, curah hujan di daerahnya justru kian meningkat dan terus berlanjut hingga malam.
Akibatnya, banjir bandang yang menggerus area pinggiran Sungai Cidurian tidak terelakkan. Jumri segera memboyong keluarganya mengungsi ke rumah-rumah tetangga terdekat.
"Masih di RT04/RW09, cuma tidak terletak di pinggir sungai seperti kami," tuturnya.
Meski hujan sudah berhenti dan banjir bandang sudah surut pada malam harinya, dia masih belum bisa kembali ke rumah. Jumri masih dihantui was-was akan banjir bandang susulan.
"Bukan takut airnya aja, takut longsor juga. Mending air mah kelihatan, kalau longsor kan enggak tahu," jelasnya.
Baru pada siang keesokan harinya, ia berani kembali mengecek rumah. Itu pun hanya untuk sekadar bersih-bersih, sebelum keluarganya kembali ke rumah.
Ia bercerita, bukan kali ini saja keluarganya berhadapan dengan banjir bandang. Awal 2020, Jumri sempat mengalami kejadian serupa.
Bahkan kala itu menurutnya tingkat banjir bandang jauh lebih parah. Tak tanggung-tanggung setidaknya ada lima rumah dan satu masjid yang hanyut tak tersisa. Termasuk rumah milik orang tuanya yang dulu berada persis di belakang rumahnya.
"Tahun lalu itu lebih tinggi dan lebih parah kerusakannya," terangnya.
Kendati demikian, Jumri bukannya tidak kapok tetap bertahan di bantaran Sungai Cidurian. Hanya saja ia merasa tidak ada pilihan lain.
"Masalahnya kami mau ngungsi ke mana, enggak ada tempat untuk kami pindah," diakuinya.
Ia lelah dengan sikap pemerintah daerah yang seakan menutup mata pada apa yang terjadi di kampungnya. Jumri mengatakan bahkan bantuan dari peristiwa banjir bandang awal tahun kemarin tak kunjung datang.
"Kami hanya diminta kartu keluarga saja, tapi tidak pernah ada apa-apa. Bahkan uang untuk perbaikan saja enggak pernah sampai," keluhnya.
Padahal kata Jumri, masyarakat terdampak lainnya seperti mereka yang berada di desa Harkatjaya sudah mendapatkan bantuan dari pemerintah.
"Ini kenapa, padahal kan Bupatinya sama juga. Kenapa kami masih belum juga," ujarnya.
Jumri tidak sendiri, Atang (51) juga merasakan nasib yang sama. Atang sudah lama ingin pindah dari rumah yang ia tinggali saat ini.
Ia merasa rumahnya sudah tidak layak huni. Sayangnya kesempatan itu tak pernah datang menghampirinya.
"Saya juga pengen gitu aman, karena ini sudah enggak layak huni," tuturnya dalam kesempatan yang sama.
Hujan Datang, Bencana Menghantui
Sejumlah rumah dan jembatan rusak akibat luapan sungai Cidurian, Selasa (7/9/2021). (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Atang merasa tidak bisa lagi memandang hujan di daerahnya sebagai peristiwa alam biasa. Selalu ada kekhawatiran akan terjadinya banjir besar yang menghantui keluarganya.
"Ngerinya kalau lagi ada hujan kayak gini. Emang sih enggak tiap hari, tapi kan, tetap aja bikin takut," jelasnya gelisah.
Ia menambahkan, setidaknya empat kali dalam sebulan dirinya harus mengungsi kepada tetangga terdekat untuk menghindari ancaman tersebut.
Frekuensi keluarganya mengungsi bahkan bisa meningkat drastis ketika memasuki musim penghujan di akhir tahun.
"Karena pas bulan-bulan itu (Desember-Januari) hujannya bisa hampir setiap hari," ungkapnya.
Kini baik Jumri maupun Atang, tidak bisa berbuat banyak selain tetap bertahan hidup di pinggiran Sungai Cidurian.
Sambil menunggu mana yang lebih dahulu datang kepada mereka: banjir yang kerap menyapa atau bantuan pemerintah yang tak kunjung tiba.
Prioritaskan Saluran Air
Pascabecana banjir bandang, masyarakat Kampung Nangela, Desa Nanggung, memperbaiki saluran air yang terputus.
Amin (40) salah seorang tokoh masyarakat setempat mengatakan perbaikan darurat itu untuk menghubungkan saluran air dari desanya dengan Kampung Urug, Desa Sukajaya.
Dia mengatakan banjir bandang menyebabkan saluran air dan listrik di kedua desa terputus. Berbarengan dengan runtuhnya jembatan utama penghubung antara Desa Nanggung dan Sukajaya.
"Saat ini prioritasnya untuk perbaikan saluran air bersih dulu. Karena untuk kebutuhan minum dan mandi warga Kampung Urug," jelasnya.
Amin menjelaskan, satu-satunya akses air bersih untuk Kampung Urug saat ini hanya berasal dari sumber mata air dari kampungnya.
"Kalau untuk listrik alhamdulillah saat ini sudah kembali menyala di kedua desa. Karena sudah diperbaiki tadi siang oleh PLN," tuturnya.
"Sementara kalau untuk perbaikan jembatan masih belum bisa dilakukan secara mandiri. Jadi untuk saat ini masih terpaksa memutar," imbuhnya.
Kendati demikian, dirinya mengatakan, tidak ada korban jiwa ataupun rumah yang terdampak banjir bandang di kedua desa ini. Begitu pula dengan kandang ternak warga di pinggir sunggai.
Banjir bandang yang menerjang empat kecamatan di Kabupaten Bogor menyebabkan sedikitnya 32 kepala keluarga (KK) atau 37 warga lainnya dan 50 santri terdampak.