BPIP soal Santri Tutup Telinga: Jangan Buru-buru Menghakimi

CNN Indonesia | Rabu, 15/09/2021 19:40 WIB
Sekretaris Kepala BPIP Achmad Uzair Fauzan mengatakan karena isu radikalisme yang ditonjolkan, pesan soal kesehatan publik di pesantren justru terabaikan. Foto ilustrasi. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) meminta seluruh pihak tidak cepat melabeli ustaz dan para santri yang menutup telinga saat mendengar musik sebagai kelompok radikal.

Sekretaris Kepala BPIP Achmad Uzair Fauzan mengatakan belum tentu para santri menutup telinga karena menganggap musik haram. Menurutnya, bisa saja para santri terganggu dengan audio yang terlalu keras.

"Kita jangan tergesa-gesa memberikan judgement, tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Kita masyarakat bermedia, ketika media di-share, sering kali lepas konteksnya," kata Uzair saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (15/9).


Uzair berpendapat poin penting dari video tersebut adalah upaya pesantren memfasilitasi santri melakukan vaksinasi. Ia menilai isu soal radikalisme justru mengalihkan pesan utama tersebut.

Dia berpendapat kegiatan pesantren memfasilitasi vaksinasi meruntuhkan argumen soal radikalisme. Menurut Uzair, vaksinasi dilakukan oleh orang-orang yang peduli kesehatan diri dan lingkungannya.

"Kalau orang radikal, dia enggak mungkin berpikir soal kesehatan publik," tuturnya.

Sebelumnya, perhatian media sosial tertuju pada video santri menutup telinga saat mendengar musik di lokasi vaksinasi Covid-19. Sebagian warganet membahas aksi tutup telinga sebagai paham radikalisme.

Pesan tersebut tak hanya disampaikan oleh warganet biasa. Staf Khusus Presiden Diaz Hendropriyono mengunggah video itu di akun Instagramnya disertai kritik.

"Kasian, dari kecil sudah diberikan pendidikan yang salah. There's nothing wrong to have a bit of fun !!" kata Diaz lewat akun Instagram @diaz.hendropriyono, Selasa (14/9).

Putri Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Yenny Wahid, juga meminta orang-orang tak seenaknya memberi stempel atau cap radikal kepada para santri yang menutup telinga saat mendengar musik.

Menurut Yenny, aksi para santri itu bukanlah indikator yang menunjukkan mereka terpapar radikalisme.

"Jadi kalau anak-anak ini oleh gurunya diprioritaskan untuk fokus pada penghafalan Alquran dan diminta untuk tidak mendengar musik, itu bukanlah indikator bahwa mereka radikal," kata Yenny dalam akun Instagram resmi miliknya @Yennywahid.

(dhf/sur)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK