Jejak Berdarah Gembong Teroris Poso Ali Kalora

CNN Indonesia | Minggu, 19/09/2021 15:25 WIB
Sebelum tewas ditembus timah panas aparat, Ali Kalora menebar serangkaian teror yang mengakibatkan sejumlah aparat dan warga sipiil tewas. Wajah Ali Kalora dan sejumlah tokoh MIT Poso disebar oleh polisi. Ali Kalora telah lama jadi buron aparat. (ANTARAFOTO/BASRI MARZUKI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pimpinan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso, Sulawesi Tengah, Ali Ahmad alias Ali Kalora tewas dalam kontak tembak yang terjadi Desa Astina Kecamatan Torue Kabupaten Parigi Moutong pada Sabtu (18/9) pukul 18.00 WITA.

Selain Ali Kalora, DPO teroris atas nama Ikrima alias Jaka Ramadhan alias Rama juga tewas dalam baku tembak tersebut.

Ali Kalora diketahui menjadi pimpinan MIT setelah Santoso alias Abu Warda tewas ditembak oleh Satuan Tugas Operasi Tinombala pada 18 Juli 2016. Sejak saat itu, kepemimpinan MIT beralih.


Ali Kalora bukan nama baru di jaringan teroris MIT. Ia bergabung di MIT sejak 2012. Sejak itu, ia telah digadang-gadang bersama Basri akan menjadi penerus Santoso.

Lahir dan lama tinggal di Poso membuat Ali Kalora dipercaya menjadi penunjuk arah dan jalan di hutan kampung halamannya. Ia juga disebut memiliki kemampuan gerilya dan bertahan hidup (survival).

Sejak bergabung dengan MIT, Ali Kalora tercatat turut terlibat dalam serangkaian aksi teror.

Pada 25 Mei 2011, ia bersama beberapa anggota MIT melakukan penyerangan dan penembakan ke anggota polisi di Jalan Eni Saenal. Akibatnya dua aparat kepolisian meninggal.

Lalu, pada 26 Agustus 2012, kembali terlibat aksi penembakan terhadap seorang warga bernama Noldy Ambulando di Desa Sepe, Poso. Korban pun tewas setelah diberondong peluru Ali Kalora.

Berlanjut pada 29 September 2012, Ali Kalora terlibat dalam aksi peledakan bom di Desa Korowou, Kabupaten Morowali. Kemudian pada 10 Oktober 2012, ia kembali terlibat dalam aksi peledakan bom di Kelurahan Kawua.

Selanjutnya, pada 16 Oktober 2012, Ali Kalora melakukan serangkaian pembunuhan terhadap dua anggota Polres Poso yakni Briptu Andi Sappa dan Brigadir Sudirman di Susun Tamanjeka, Kabupaten Poso.

Ali Kalora pun tercatat ikut dalam peledakan bom di Desa Pantangolemba, Kabupaten Poso. Termasuk, aksi penyerangan di Mapolsek Poso Pesisir Utara.

Tak berhenti, Ali Kalora bersama kelompoknya melakukan penculikan pada 9 Desember 2014 silam terhadap warga atas nama Obet Sabola dan pamannya Yunus Penini di Desa Sedoa, Kabupaten Poso.

Selain menculik, Ali Kalora juga pernah sempat melakukan penyanderaan sekaligus pembunuhan pada 27 Desember 2014. Kala itu, dua warga Desa Tamandue, Kabupaten Poso meninggal.

Pada 2015, aksi teror Ali Kalora mulai berubah. Kali ini, ia mulai melancarkan aksi membunuh dan memutilasi tubuh korban.

Ali Kalora pada September 2015 melakukan aksi mutilasi terhadap tiga warga di Kabupaten Parigi Moutong.

Aksi serupa juga dilakukan Ali Kalora terhadap warga Desa Salubanga, Parigi Moutong bernama Ronal Batua alias Anang.

Bahkan, saat itu ia tak segan menembak polisi yang sedang mengevakuasi jasad warga di Desa Salubanga. Akibatnya, dua polisi mengalami luka tembak namun berhasil diselamatkan.

Pada November 2020, Ali kembali melancarkan aksinya dan mengakibatkan empat warga Sigi tewas.

Berdasarkan data kepolisian, Ali Kalora dan kelompoknya juga membakar tujuh rumah penduduk ketika melancarkan aksi teror. Akibatnya, terdapat pengungsi sebanyak 49 kepala keluarga di Balai Desa Lembantongoa, Sigi.

Kini, Satgas Madago Raya masih memburu empat DPO teroris yang masih tersisa. Yakni Askar Alias Jaid Alias Pak Guru, Nae Alias Galuh Alias Muklas, Suhardin Alias Hasan Pranata dan Ahmad Gazali Alias Ahmad Panjang.

"Diharapkan kepada sisa DPO teroris Poso untuk segera menyerahkan diri sebelum dilakukan tindakan tegas terukur apabila bertemu dilapangan," kata Kapolda Sulteng Irjen Rudy Sufahriadi kepada wartawan, Minggu (19/9).

(dis/wis)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK