FSGI Minta PAUD, TK dan SD Tak Gelar Belajar Tatap Muka

CNN Indonesia | Minggu, 26/09/2021 13:23 WIB
Siswa PAUD, TK hingga SD dinilai sulit mematuhi protokol kesehatan, sehingga rentan tertular virus corona Covid-19. Siswa TK dinilai sulit mematuhi protokol kesehatan sehingga rentan tertular virus corona (ANTARA FOTO/FB Anggoro)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Heru Purnomo meminta pemerintah tidak menggelar Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di jenjang PAUD, TK, serta SD. Menurutnya, potensi penularan Covid-19 terbilang tinggi di kalangan usia anak-anak.

Heru mengatakan bahwa peserta didik sulit mengatur perilaku agar disiplin pada protokol kesehatan, sehingga kemungkinan penularan Covid-19 semakin besar.

"FSGI mendorong pemerintah daerah untuk tidak menggelar PTM saat ini di jenjang PAUD, TK, serta SD kelas 1-3 karena rentan penularan, mengingat anak-anak tersebut belum divaksin Covid-19 dan perilakunya sulit dikontrol," kata Heru dalam keterangan tertulis, Minggu (25/9).


Selain itu, FSGI juga menyinggung perihal PTM pada jenjang PAUD, TK, dan SD tapi tidak membuka PTM pada perguruan tinggi. Padahal, menurut Heru, mahasiswa umumnya sudah mendapatkan vaksin Covid-19 dan lebih bisa mengikuti protokol kesehatan saat PTM dilangsungkan.

Berbeda dengan anak di jenjang PAUD, TK, dan SD, yang cenderung masih belum bisa disiplin pada protokol kesehatan dan belum mendapatkan vaksin Covid-19.

"FSGI bingung dengan kebijakan pemerintah membuka sekolah PAUD dan SD, tetapi tidak membuka perguruan tinggi, padahal mahasiswa umumnya sudah divaksin dan perilakunya lebih terkontrol," kata dia.

FSGI juga mendorong pemerintah melakukan percepatan dan pemerataan distribusi vaksinasi anak usia 12-17 tahun terutama di luar Jawa-Bali dan daerah pedesaan. Hal itu diperlukan untuk melindungi peserta didik jenjang SMP-SMA yang akan mengikuti PTM.

"FSGI mendorong percepatan dan pemerataan distribusi vaksinasi anak usia 12-17 tahun karena masih rendahnya capaian vaksinasi Covid-19 di wilayah luar Jawa dan wilayah-wilayah pedesaan," tutur Heru.

Sebelumnya gaduh kabar 1.296 sekolah menjadi klaster Covid-19 diduga imbas PTM terbatas. Direktur Jenderal PAUD dan Pendidikan Dasar Menengah Kemendikbudristek, Jumeri, menjelaskan klaster tersebut merupakan jumlah akumulasi temuan kasus positif di sekolah selama 18 bulan terakhir.

Meski ditemukan klaster sekolah, Kemendikbudristek tetap bakal melanjutkan kegiatan PTM terbatas. Mendikbudristek Nadiem Makarim mengatakan bakal terus memonitor kegiatan PTM di sekolah dan menutup PTM sementara jika ditemukan kasus positif.

(mln/bmw/bmw)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK