Kala Nelayan Manokwari Melaut Disambut Permukiman Terbakar
CNN Indonesia
Sabtu, 02 Okt 2021 07:42 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Puing-puing sisa kebakaran di perkampungan Nelayan, Manokwari, Papua Barat. (CNN Indonesia/ Hendrik)
Manokwari, CNN Indonesia --
Kebakaran hebat melanda kawasan permukiman padat penduduk di kompleks Borobudur, Kelurahan Padarni, Distrik Manokwari, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Kamis (30/9) siang. Setidaknya ratusan rumah yang dihuni sekitar 800 KK pada 3 RT dan 2 RW di pesisir Teluk Sawaibu itu rata dilahap Si Jago Merah.
Permukiman itu sendiri diketahui pula dikenal sebagai perkampungan nelayan, salah satunya keluarga Suharida.
Suharida menceritakan saat kebakaran terjadi, suaminya dan banyak nelayan lain yang tinggal di sana sedang melaut mencari ikan dengan jarak sekitar 40-70 mil dari bibir pantai. Alhasil, sambungnya, para nelayan itu tak tahu saat permukiman mereka telah rata dilalap api.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka pergi mancing Kamis dini hari, dan siangnya terjadi kebakaran. Mereka belum tahu kalau ada musibah kebakaran ini. Sudah kita telepon tapi HP-nya tidak aktif," ujar Suharida di tenda pengungsian, Manokwari, Jumat (1/10).
Biasanya, sambung Suharida, sekali melaut itu suaminya bisa pergi selama tiga hari. Sehingga, sambungnya, kemungkinan suaminya tiba pada Sabtu (2/10).
"[Saat kebakaran terjadi] api tiba tiba mendekat, kita hanya evakuasi barang seadanya ke atas perahu dan menjauh dari api karena panik. Suami dan anak mantu masih di lokasi mancing," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Perikanan Tangkap dan Budidaya pada Dinas Perhubungan dan Kelautan Kabupaten Manokwari, Dedi Ariana menyebut, dari 800 an kepala keluarga yang menjadi korban kebakaran, ada sekira 450 Kepala Keluarga yang bermata pencaharian sebagai nelayan.
Mereka terbagi menjadi empat kelompok nelayan. Sebagian dari mereka ada yang melaut di jarak 40 - 70 Mil
"Di jarak seperti itu tidak ada jaringan telekomunikasi. Mereka pergi subuh, pagi hari tiba di lokasi mancing. Lalu memancing selama dua hari dan kemudian pulang," tuturnya.
Asap dari permukiman nelayan yang terbakar di Manokwari, Kamis, 30 September 2021. (CNNIndonesia/Hendrik)
Pengungsian dan Tenda Darurat
Pascakebakaran, Pemerintah Kabupaten Manokwari menyiapkan langkah proteksi dini dan lanjutan terhadap ribuan korban yang kehilangan tempat tinggalnya di Borobudur tersebut.
Bupati Manokwari, Hermus Indou mengatakan, pemerintah telah menyiapkan satu gedung untuk digunakan para pengungsi. Gedung itu diperioritaskan kepada kaum wanita, balita, anak anak dan lansia.
"Namanya Gedung Wanita. Sudah kita siapkan untuk para pengungsi dan sebagian sudah dievakuasi ke sana. Kita siapkan untuk kaum prioritas, sedangkan untuk Pria kita dirikan tenda darurat tidak jauh dari lokasi kebakaran agar mereka tetap menjaga perahu mereka," ujar Hermus saat meninjau lokasi kebakaran, Jumat.
Untuk jangka menengah, pemerintah kata Hermus tengah mencari lokasi untuk didirikan Hunian Sementara (Huntara). Bupati memastikan, warga borobudur tak akan pindah dari pesisir Teluk Sawaibu sebagaimana yang diinginkan warga. Huntara itu akan menjadi tempat sementara warga agar aktifitas memancing bisa tetap dilaksanakan.
"Tempat ini akan kita tata, agar rumah apung warga ini lebih teratur dan mudah dijangkau dalam hal evakuasi. Kita juga akan membangun kembali mesjid apung dengan desain yang bagus agar menjadi ikon di Manokwari. Setidaknya wajah pemukiman ini ke depan bisa menjadi daya tarik wisata," ungkapnya.
Buka halaman berikutnya untuk tahu dampak-dampak kebakaran itu pada Manokwari
Kepala Bidang Perikanan Tangkap dan Budidaya pada Dinas Perhubungan dan Kelautan Kabupaten Manokwari, Dedi Ariana menyebut, dari 800 an kepala keluarga yang menjadi korban kebakaran, ada sekira 450 Kepala Keluarga yang bermata pencaharian sebagai nelayan.
"Itu belum termasuk, yang hanya menjual ikan, pengasapan ikan dan usaha lain," ungkapnya, di sela-sela pendataan nelayan di dekat lokasi kebakaran, Jumat siang.
La Imran, salah satu nelayan mengatakan dirinya tak bisa menyelamatkan alat pencari nafkahnya karena belum sempat dievakuasi saat api membakar seisi rumah. Dia pun berharap ada bantuan alat pancing yang bisa bisa digunakan untuk kembali mengais rejeki di laut.
"Selain tempat berteduh, kita memerlukan alat pancing untuk kembali melaut agar bisa menafkahi keluarga," katanya.
Di tempat terpisah, aksi kemanusiaan Pray for Borobudur dilakukan sejumlah pihak. Para penggalang bantuan kemanusiaan itu mengumpulkan dana hingga pakaian layak pakai bagi korban kebakaran kampung nelayan di Borobudur itu.
Salah satunya dilakukan sekelompok wartawan setempat yang menggalang dana di ruas jalan utama Manokwari guna dibawa ke tempat pengungsian korban kebakaran permukiman nelayan di Borobudur itu.
"Ini merupakan bentuk duka perhatian kami terhadap bencana kebakaran borobudur yang terjadi kemarin siang. mereka sangat membutuhkan uluran tangan seluruh warga," ujar salah seorang relawan.
Harga Ikan
Sementara itu, Dedi menyatakan pihaknya dalam beberapa hari ke depan harga ikan akan melambung pascakebakaran permukiman tersebut. ebab, warga kompleks borobudur didominasi nelayan. Di Manokwari, sumber ikan juga kata dia, didroping dari kabupaten tetangga, namun jumlahnya tidak banyak.
Selain didominasi nelayan, pemukiman borobudur juga banyak penjual es batu yang menjadi komponen terpenting nelayan saat melaut.
"Stok es batu juga akan menipis. Mungkin beberapa hari kedepan, harga ikan akan sedikit naik, karena belum semua nelayan bisa melaut. Kita upayakan mereka bisa kembali melaut agar harga ikan tetap stabil," katanya.
Kebakaran hebat melanda kawasan permukiman padat penduduk di kompleks Borobudur, Kelurahan Padarni, Distrik Manokwari, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Kamis (30/9) siang. Setidaknya ratusan rumah yang dihuni sekitar 800 KK pada 3 RT dan 2 RW di pesisir Teluk Sawaibu itu rata dilahap Si Jago Merah.
Permukiman itu sendiri diketahui pula dikenal sebagai perkampungan nelayan, salah satunya keluarga Suharida.
Suharida menceritakan saat kebakaran terjadi, suaminya dan banyak nelayan lain yang tinggal di sana sedang melaut mencari ikan dengan jarak sekitar 40-70 mil dari bibir pantai. Alhasil, sambungnya, para nelayan itu tak tahu saat permukiman mereka telah rata dilalap api.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka pergi mancing Kamis dini hari, dan siangnya terjadi kebakaran. Mereka belum tahu kalau ada musibah kebakaran ini. Sudah kita telepon tapi HP-nya tidak aktif," ujar Suharida di tenda pengungsian, Manokwari, Jumat (1/10).
Biasanya, sambung Suharida, sekali melaut itu suaminya bisa pergi selama tiga hari. Sehingga, sambungnya, kemungkinan suaminya tiba pada Sabtu (2/10).
"[Saat kebakaran terjadi] api tiba tiba mendekat, kita hanya evakuasi barang seadanya ke atas perahu dan menjauh dari api karena panik. Suami dan anak mantu masih di lokasi mancing," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Perikanan Tangkap dan Budidaya pada Dinas Perhubungan dan Kelautan Kabupaten Manokwari, Dedi Ariana menyebut, dari 800 an kepala keluarga yang menjadi korban kebakaran, ada sekira 450 Kepala Keluarga yang bermata pencaharian sebagai nelayan.
Mereka terbagi menjadi empat kelompok nelayan. Sebagian dari mereka ada yang melaut di jarak 40 - 70 Mil
"Di jarak seperti itu tidak ada jaringan telekomunikasi. Mereka pergi subuh, pagi hari tiba di lokasi mancing. Lalu memancing selama dua hari dan kemudian pulang," tuturnya.
Asap dari permukiman nelayan yang terbakar di Manokwari, Kamis, 30 September 2021. (CNNIndonesia/Hendrik)
Pengungsian dan Tenda Darurat
Pascakebakaran, Pemerintah Kabupaten Manokwari menyiapkan langkah proteksi dini dan lanjutan terhadap ribuan korban yang kehilangan tempat tinggalnya di Borobudur tersebut.
Bupati Manokwari, Hermus Indou mengatakan, pemerintah telah menyiapkan satu gedung untuk digunakan para pengungsi. Gedung itu diperioritaskan kepada kaum wanita, balita, anak anak dan lansia.
"Namanya Gedung Wanita. Sudah kita siapkan untuk para pengungsi dan sebagian sudah dievakuasi ke sana. Kita siapkan untuk kaum prioritas, sedangkan untuk Pria kita dirikan tenda darurat tidak jauh dari lokasi kebakaran agar mereka tetap menjaga perahu mereka," ujar Hermus saat meninjau lokasi kebakaran, Jumat.
Untuk jangka menengah, pemerintah kata Hermus tengah mencari lokasi untuk didirikan Hunian Sementara (Huntara). Bupati memastikan, warga borobudur tak akan pindah dari pesisir Teluk Sawaibu sebagaimana yang diinginkan warga. Huntara itu akan menjadi tempat sementara warga agar aktifitas memancing bisa tetap dilaksanakan.
"Tempat ini akan kita tata, agar rumah apung warga ini lebih teratur dan mudah dijangkau dalam hal evakuasi. Kita juga akan membangun kembali mesjid apung dengan desain yang bagus agar menjadi ikon di Manokwari. Setidaknya wajah pemukiman ini ke depan bisa menjadi daya tarik wisata," ungkapnya.
Buka halaman berikutnya untuk tahu dampak-dampak kebakaran itu pada Manokwari
Dampak pada Harga Ikan dan Bantuan Sesama
(Sejumlah perempuan dan anak-anak di tenda pengungsian pascapermukiman mereka terbakar, Manokwari, Papua Barat. CNN Indonesia/ Hendrik)
Kepala Bidang Perikanan Tangkap dan Budidaya pada Dinas Perhubungan dan Kelautan Kabupaten Manokwari, Dedi Ariana menyebut, dari 800 an kepala keluarga yang menjadi korban kebakaran, ada sekira 450 Kepala Keluarga yang bermata pencaharian sebagai nelayan.
"Itu belum termasuk, yang hanya menjual ikan, pengasapan ikan dan usaha lain," ungkapnya, di sela-sela pendataan nelayan di dekat lokasi kebakaran, Jumat siang.
La Imran, salah satu nelayan mengatakan dirinya tak bisa menyelamatkan alat pencari nafkahnya karena belum sempat dievakuasi saat api membakar seisi rumah. Dia pun berharap ada bantuan alat pancing yang bisa bisa digunakan untuk kembali mengais rejeki di laut.
"Selain tempat berteduh, kita memerlukan alat pancing untuk kembali melaut agar bisa menafkahi keluarga," katanya.
Di tempat terpisah, aksi kemanusiaan Pray for Borobudur dilakukan sejumlah pihak. Para penggalang bantuan kemanusiaan itu mengumpulkan dana hingga pakaian layak pakai bagi korban kebakaran kampung nelayan di Borobudur itu.
Salah satunya dilakukan sekelompok wartawan setempat yang menggalang dana di ruas jalan utama Manokwari guna dibawa ke tempat pengungsian korban kebakaran permukiman nelayan di Borobudur itu.
"Ini merupakan bentuk duka perhatian kami terhadap bencana kebakaran borobudur yang terjadi kemarin siang. mereka sangat membutuhkan uluran tangan seluruh warga," ujar salah seorang relawan.
Harga Ikan
Sementara itu, Dedi menyatakan pihaknya dalam beberapa hari ke depan harga ikan akan melambung pascakebakaran permukiman tersebut. ebab, warga kompleks borobudur didominasi nelayan. Di Manokwari, sumber ikan juga kata dia, didroping dari kabupaten tetangga, namun jumlahnya tidak banyak.
Selain didominasi nelayan, pemukiman borobudur juga banyak penjual es batu yang menjadi komponen terpenting nelayan saat melaut.
"Stok es batu juga akan menipis. Mungkin beberapa hari kedepan, harga ikan akan sedikit naik, karena belum semua nelayan bisa melaut. Kita upayakan mereka bisa kembali melaut agar harga ikan tetap stabil," katanya.