Kelas Pekerja Sikapi Partai Buruh: Takut Manis di Awal
CNN Indonesia
Jumat, 08 Okt 2021 08:50 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Gabungan massa buruh saat melakukan aksi unjuk rasa di Jakarta. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sebelas elemen serikat buruh resmi mendeklarasikan pendirian Partai Buruh pada pada 4-5 Oktober di Hotel Grand Cempaka, Jakarta. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal secara resmi terpilih menjadi Ketua Umum Partai Buruh 2021-2026.
Iqbal mengklaim partai ini akan memperjuangkan hak-hak buruh. Ia mengklaim Partai Buruh bukan hanya didukung oleh kelas pekerja, namun juga telah mendapat dukungan dari elemen masyarakat sipil lain, seperti petani, nelayan, guru honorer, hingga organisasi gerakan perempuan.
Meski begitu, sejumlah buruh yang ditemui CNNIndonesia.com masih menyimpan kekhawatiran atas pendirian partai itu. Beberapa di antara mereka bahkan mengaku partai buruh belum, bahkan ada pula yang menjawab tidak dibutuhkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Riski (24) misalnya, buruh pabrik otomotif di kawasan Pulogadung itu menyebut belum adanya urgensi pendirian partai buruh. Ia menilai, partai buruh akan sama seperti partai-partai lain yang mengobral janji di awal.
"Perlu enggak perlu sih itu. Masih belum butuh sih. Saya takutnya omongan di awalnya yang manis. Enggak tau nanti faktanya gimana," kata Riski kepada CNNIndonesia.com, Rabu (6/10) siang.
Riski bahkan tidak tahu jika ada deklarasi partai buruh. Ia pun juga tidak mengenal nama Said Iqbal.
"Enggak tau ada deklarasi [partai buruh]," ucapnya.
Riski yang menjadi pekerja di Pulogadung khawatir kelahiran Partai Buruh nantinya hanya manis di awalnya saja. (CNN Indonesia/Yulia Adiningsih)
Senada dengan Riski, buruh pabrik interior mobil di Bekasi, Abdul Wahab juga merasa acuh tak acuh atas kehadiran partai yang mengatasnamakan kelas pekerja seperti dirinya. Ia khawatir, pendirian partai itu hanya akan menguntungkan segelintir pihak.
Di satu sisi, Riski lebih percaya kepda serikat yang memang berkomitmen memperjuangkan hak-hak kaum buruh. Saat ini, Abdul juga tergabung sebagai anggota Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) di bawah pimpinan Nining Elitos.
"Sekarang kebanyakan, partai aja banyak yang ngomongnya manis-manis. Gitu kan. Manis-manis, kalau udah jadi ya enggak tau. Kadang gitu loh. Saya serikat mandiri aja," kata Abdul kepada CNNIndonesia.com, Rabu (6/10).
Abdul Wahab yang menjadi pekerja di Bekasi mengaku sejauh ini masih lebih percaya serikat yang memperjuangkan nasib buruh. (CNN Indonesia/Yulia Adiningsih)
Ada yang skeptis terhadap kelahiran partai buruh, ada pula yang menunggu gebrakan apa yang akan dikeluarkan partai mengatasnamakan kelas pekerja tersebut.
Mereka yang menunggu berharap Partai Buruh memang akan memperjuangkan hak-hak kelas pekerja, terutama terkait omnibus law Undang-Undang Cipta Kerja (Ciptaker) yang dinilai tak berpihak pada buruh.
Pendapat buruh tentang itu ada di halaman selanjutnya.
Salah satu buruh yang tergabung dalam Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (FBTPI), Budianto punya pandangan berbeda dengan Abdul dan Riski mengenai hadirnya Partai Buruh. Menurutnya kehadiran partai buruh penting bagi kelas pekerja seperti dirinya.
Ia berharap dengan adanya partai itu bisa memperjuangkan hak-hak buruh seperti dirinya. Sebab, menurutnya, buruh rentan untuk diabaikan hak-haknya. Meskipun ia juga mengakui kekhawatiran tetap ada.
"Kalau menurut saya sih ya dibutuhkan dan perlu banget. Karena kami sebagai buruh saat ini, apalagi dalam saat-saat ini dengan UU Cilaka ini yang tahu-tahu sudah disahkan dan dampaknya luar biasa bagi kami buruh khususnya," kata dia.
"Kita tidak muluk-muluk ya. Kalau sampai partai buruh lolos, minimalnya bisa mengubah undang-undang yang berpihak kepada buruh, rakyat miskin kota, nelayan, petani," imbuhnya.
Budianto berharap kelahiran Partai Buruh bisa memperjuangkan hak kelas pekerja di parlemen dalam pembuatan undang-undang. (CNN Indonesia/Yulia Adiningsih
Buruh pabrik otomotif di bilangan Jakarta Timur, Noven juga menaruh banyak harapan terhadap Partai Buruh. Ia berharap dengan kehadiran partai itu bisa membantu menyelesaikan masalah-masalah yang dialami kelas pekerja seperti dirinya.
Permasalahan yang dialaminya itu, kata Noven, seperti pemberian gaji yang sering telat sampai kekhawatiran dipecat secara sepihak. Selain itu, ia juga berharap, partai buruh bisa mencegah dan mencabut kebijakan-kebijakan yang merugikan para buruh.
Jika Partai Buruh itu bisa meyakinkan dirinya dan berkomitmen terhadap kesejahteraan kelas pekerja, ia mengaku tak segan untuk mencoblos mereka saat pemilu.
"Tergantung mereka. Kalau ada Partai Buruh, yang nolak omnibus law bisa semakin banyak. Enggak masalah," kata dia.
Meski begitu, ia juga tetap was-was terhadap komitmen Partai Buruh yang baru dideklarasikan itu. "Kalau partai- partai emang banyak janji janji ya. Tapi jangan sampai kayak gitu deh," ucapnya.
Noven berharap Partai Buruh benar-benar memperjuangkan kelas pekerja, termasuk melawan omnibus law yang menyengsarakan buruh. (CNN Indonesia/Yulia Adiningsih)
Sebelas elemen serikat buruh resmi mendeklarasikan pendirian Partai Buruh pada pada 4-5 Oktober di Hotel Grand Cempaka, Jakarta. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal secara resmi terpilih menjadi Ketua Umum Partai Buruh 2021-2026.
Iqbal mengklaim partai ini akan memperjuangkan hak-hak buruh. Ia mengklaim Partai Buruh bukan hanya didukung oleh kelas pekerja, namun juga telah mendapat dukungan dari elemen masyarakat sipil lain, seperti petani, nelayan, guru honorer, hingga organisasi gerakan perempuan.
Meski begitu, sejumlah buruh yang ditemui CNNIndonesia.com masih menyimpan kekhawatiran atas pendirian partai itu. Beberapa di antara mereka bahkan mengaku partai buruh belum, bahkan ada pula yang menjawab tidak dibutuhkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Riski (24) misalnya, buruh pabrik otomotif di kawasan Pulogadung itu menyebut belum adanya urgensi pendirian partai buruh. Ia menilai, partai buruh akan sama seperti partai-partai lain yang mengobral janji di awal.
"Perlu enggak perlu sih itu. Masih belum butuh sih. Saya takutnya omongan di awalnya yang manis. Enggak tau nanti faktanya gimana," kata Riski kepada CNNIndonesia.com, Rabu (6/10) siang.
Riski bahkan tidak tahu jika ada deklarasi partai buruh. Ia pun juga tidak mengenal nama Said Iqbal.
"Enggak tau ada deklarasi [partai buruh]," ucapnya.
Riski yang menjadi pekerja di Pulogadung khawatir kelahiran Partai Buruh nantinya hanya manis di awalnya saja. (CNN Indonesia/Yulia Adiningsih)
Senada dengan Riski, buruh pabrik interior mobil di Bekasi, Abdul Wahab juga merasa acuh tak acuh atas kehadiran partai yang mengatasnamakan kelas pekerja seperti dirinya. Ia khawatir, pendirian partai itu hanya akan menguntungkan segelintir pihak.
Di satu sisi, Riski lebih percaya kepda serikat yang memang berkomitmen memperjuangkan hak-hak kaum buruh. Saat ini, Abdul juga tergabung sebagai anggota Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) di bawah pimpinan Nining Elitos.
"Sekarang kebanyakan, partai aja banyak yang ngomongnya manis-manis. Gitu kan. Manis-manis, kalau udah jadi ya enggak tau. Kadang gitu loh. Saya serikat mandiri aja," kata Abdul kepada CNNIndonesia.com, Rabu (6/10).
Abdul Wahab yang menjadi pekerja di Bekasi mengaku sejauh ini masih lebih percaya serikat yang memperjuangkan nasib buruh. (CNN Indonesia/Yulia Adiningsih)
Ada yang skeptis terhadap kelahiran partai buruh, ada pula yang menunggu gebrakan apa yang akan dikeluarkan partai mengatasnamakan kelas pekerja tersebut.
Mereka yang menunggu berharap Partai Buruh memang akan memperjuangkan hak-hak kelas pekerja, terutama terkait omnibus law Undang-Undang Cipta Kerja (Ciptaker) yang dinilai tak berpihak pada buruh.
Pendapat buruh tentang itu ada di halaman selanjutnya.
Menunggu Gebrakan Partai Buruh Bukan Sekedar Omong
Ilustrasi. Gabungan massa buruh saat melakukan aksi unjuk rasa di Jakarta. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Salah satu buruh yang tergabung dalam Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (FBTPI), Budianto punya pandangan berbeda dengan Abdul dan Riski mengenai hadirnya Partai Buruh. Menurutnya kehadiran partai buruh penting bagi kelas pekerja seperti dirinya.
Ia berharap dengan adanya partai itu bisa memperjuangkan hak-hak buruh seperti dirinya. Sebab, menurutnya, buruh rentan untuk diabaikan hak-haknya. Meskipun ia juga mengakui kekhawatiran tetap ada.
"Kalau menurut saya sih ya dibutuhkan dan perlu banget. Karena kami sebagai buruh saat ini, apalagi dalam saat-saat ini dengan UU Cilaka ini yang tahu-tahu sudah disahkan dan dampaknya luar biasa bagi kami buruh khususnya," kata dia.
"Kita tidak muluk-muluk ya. Kalau sampai partai buruh lolos, minimalnya bisa mengubah undang-undang yang berpihak kepada buruh, rakyat miskin kota, nelayan, petani," imbuhnya.
Budianto berharap kelahiran Partai Buruh bisa memperjuangkan hak kelas pekerja di parlemen dalam pembuatan undang-undang. (CNN Indonesia/Yulia Adiningsih
Buruh pabrik otomotif di bilangan Jakarta Timur, Noven juga menaruh banyak harapan terhadap Partai Buruh. Ia berharap dengan kehadiran partai itu bisa membantu menyelesaikan masalah-masalah yang dialami kelas pekerja seperti dirinya.
Permasalahan yang dialaminya itu, kata Noven, seperti pemberian gaji yang sering telat sampai kekhawatiran dipecat secara sepihak. Selain itu, ia juga berharap, partai buruh bisa mencegah dan mencabut kebijakan-kebijakan yang merugikan para buruh.
Jika Partai Buruh itu bisa meyakinkan dirinya dan berkomitmen terhadap kesejahteraan kelas pekerja, ia mengaku tak segan untuk mencoblos mereka saat pemilu.
"Tergantung mereka. Kalau ada Partai Buruh, yang nolak omnibus law bisa semakin banyak. Enggak masalah," kata dia.
Meski begitu, ia juga tetap was-was terhadap komitmen Partai Buruh yang baru dideklarasikan itu. "Kalau partai- partai emang banyak janji janji ya. Tapi jangan sampai kayak gitu deh," ucapnya.
Noven berharap Partai Buruh benar-benar memperjuangkan kelas pekerja, termasuk melawan omnibus law yang menyengsarakan buruh. (CNN Indonesia/Yulia Adiningsih)