Pria yang Dituduh Perkosa 3 Anak di Luwu Timur Buka Suara

CNN Indonesia
Senin, 11 Oct 2021 17:16 WIB
Pria berinisial S yang diduga memperkosa tiga orang anaknya di Luwu Timur, Sulsel buka suara karena keluarganya stres akan kasusnya yang viral. Ilustrasi pemerkosaan di Luwu Timur. (Istockphoto/iweta0077)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pria berinisial S yang diduga memperkosa tiga anaknya di Luwu Timur, Sulawesi Selatan membantah semua tuduhan yang dilayangkan kepadanya. S mengklaim tuduhan pemerkosaan terhadap ketiga anak kandungnya yang sudah viral itu merupakan fitnah dari R, mantan istrinya.

"Itu bisa saya katakan ya dibuat-buat bagaimana menjatuhkan saya. Mungkin masih ada sisa-sisa dendam yang lalu," kata S kepada wartawan, Senin (11/10).

S dan R yang sama-sama merupakan PNS sebelumnya memang telah bercerai. S sendiri pada 2020 lalu telah menikah lagi. Kasus dugaan pemerkosaan ini dilaporkan R pada akhir 2019 lalu.


S mengatakan, keluarganya, terutama istrinya sekarang mengalami stres berat akibat tuduhan pemerkosaan ini. Dia sendiri berharap nama baiknya bisa dipulihkan.

"Ini kan proses hukum sudah berjalan. Hanya pihak keluarga saya yang stres berat, istri. kalau saya siap menghadapinya, sabar menghadapinya walaupun ya tetap dalam kondisi ini, stres atau apa tapi nggak begitu ini, dibanding keluarga saya, keluarga baru," tutur S.

S mengaku siap mengikuti seluruh prosedur jika saja polisi memutuskan kembali membuka kasus yang sudah di-SP3 pada 2020 ini. Karena itu, S telah menunjuk kuasa hukum dalam menghadapi persoalan ini.

Agus Melas, kuasa hukum S, menyebut kliennya sejak awal kasus ini dilaporkan selalu kooperatif hingga kemudian Polres Luwu Timur menyatakan kasus ini di-SP3 karena tidak cukup bukti. Kalau memang kasus ini dibuka kembali, kliennya bakal kooperatif.

Terkait tuduhan pemerkosaan ini, Agus menyebut sejak awal kliennya juga bingung apa masalahnya. Namun, menurutnya kliennya menduga-duga ini terkait dengan perceraian kliennya dengan R, mantan istrinya itu.

"Awalnya dia bingung ini masalah apa. Tapi begitu di breakdown ke belakang, oh mungkin menurut Pak S ini ada unsur sakit hati yang sifatnya terlalu privat dalam hubungan rumah tangga mereka kemarin," sambungnya.

"Proses perceraiannya Pak S dengan si ibu ini, itu juga prosesnya tidak begitu. Pokoknya ceritanya nggak bagus lah. Terlalu private. Proses perceraiannya itu ada tuduhan selingkuh lah, namun tidak dapat dibuktikan juga. Mungkin saja Pak S menganggap mantan istrinya ini cemburu dengan keadaan Pak S sekarang," tambahnya.

Agus menambahkan, saat itu ketiga anak ini dalam penguasaan R. Karena itu, dia menyebut bisa saja ketiga anak tersebut diajari atau diarahkan membuat pengakuan-pengakuan.

Sebelumnya, Ketua Divisi Perempuan Anak dan Disabilitas LBH Makassar Resky Pratiwi menyatakan, sejak awal ada banyak kejanggalan dalam penanganan kasus yang di-SP3 pada awal 2020 ini.

Menurut Resky, setelah kasus ini dilaporkan ke Polres Luwu Timur pada 9 Oktober 2019, ibu kandung korban dan korban tidak didampingi pendamping hukum saat dilakukan berita acara pemeriksaan (BAP) untuk penyelidikan.

Resky juga menyebut ada luka lecet atau tanda-tanda kekerasan pada dubur/anus ketiga anak-anak yang diduga menjadi korban, berbeda dengan pernyataan polisi yang menyatakan hasil visum ketiga anak ini baik di Puskesmas Malili maupun di RS Bhayangkara Makassar, tidak ada mengalami luka di dubur dan vagina.

Resky menegaskan, LBH Makassar sebagai pendamping pelapor juga sudah memberikan kepada polisi sejumlah foto dan video terkait luka di alat vital korban yang diduga akibat pemerkosaan.

Selain itu, lanjut Resky, ada hasil laporan psikolog anak yang menerangkan bahwa anak-anak yang menjadi korban bercerita soal kejadian kekerasan seksual yang dialami. Dalam laporan itu disebutkan bahwa pelaku kekerasan seksual lebih dari 1 orang. Hasil laporan psikolog ini juga telah diserahkan ke Polda Sulsel.

LBH Makassar juga menegaskan, hasil asesmen P2TP2A Luwu Timur yang menjadi salah satu dasar polisi menghentikan kasus ini tidak bisa dijadikan dasar. Belakangan LBH Makassar juga mengecam sikap polisi yang membebankan korban untuk memberikan bukti baru.

Polri, baik Polres Luwu Timur, Polda Sulsel maupun Mabes Polri sejak awal menyatakan bahwa penyelidikan kasus yang dilaporkan pada akhir 2019 ini sudah sesuai prosedur. Tidak ada cukup bukti hingga akhirnya kasus ini di-SP3.

Namun demikian, Polri kemudian merespons desakan publik agar kasus ini dibuka kembali. Bareskrim Polri turun tangan dan menerjunkan tim ke Luwu Timur.

Baca berita lengkapnya di sini.

(dal/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER