Dirjen Multilateral Ungkap Kesiapan Indonesia Hadapi G20 2022

Kemenlu, CNN Indonesia | Rabu, 13/10/2021 21:25 WIB
Dirjen Kerja Sama Multilateral Febrian Ruddyard menyatakan berbagai persiapan telah dilakukan merespons penunjukan Presidensi Indonesia pada G20 tahun depan. Dirjen Kerja Sama Multilateral Febrian Ruddyard menyatakan berbagai persiapan telah dilakukan merespons penunjukan Presidensi Indonesia pada G20 tahun depan. (Foto: Kemenlu RI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Febrian Alphyanto Ruddyard menyatakan berbagai persiapan telah dilakukan merespons penunjukan Presidensi Indonesia pada G20 tahun depan.

Salah satunya, peluncuran Road to G20 2022 oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi bersama lima menteri lain pada 14 September lalu. Hal itu kemudian diikuti dengan perkenalan logo G20 Indonesia.

Febrian mengatakan, Indonesia mengusung visi agar Presidensi G20 membawa manfaat konkret dan strategis dalam semangat untuk bersama pulih dari pandemi.


"Oleh karena itu, Presidensi G20 Indonesia mengangkat tema Recover Together, Recover Stronger, di mana inklusivitas menjadi kunci. Nantinya semangat ini juga kita wujudkan di tingkat nasional, agar dampak G20 terasa hingga lapisan grassroots," ungkap Febrian.

Tak lupa, pada ajang yang sama, Febrian memastikan Indonesia akan tetap memperjuangkan kepentingan nasional, sambil tetap memperhatikan negara-negara berkembang lainnya.

Sebelumnya, Febrian menyebut turut menghadiri Sidang Majelis Umum (SMU) Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) ke-76 pada akhir September lalu. Menurutnya, topik yang dibahas dalam sidang masih seputar upaya mendorong solidaritas global, guna mengatasi ketimpangan penanganan pandemi, serta berbagai upaya pemulihan.

Dia memaparkan, ada sejumlah isu yang didorong Indonesia dalam momentum SMU PBB, antara lain komunitas internasional yang dinilai perlu memberi harapan bahwa pandemi dapat ditangani dengan cepat, adil, dan merata; serta perlunya pengendalian pandemi dan kerja sama internasional sebagai prasyarat untuk memulihkan ekonomi global pasca pandemi.

Hal lain yang juga disinggung adalah tentang komitmen untuk ketahanan iklim, pembangunan rendah karbon, dan teknologi hijau. Kemudian, juga soal komitmen menjaga perdamaian dunia, serta penjaminan hak-hak perempuan dan kelompok minoritas, misalnya di Afghanistan, Palestina, dan Myanmar; serta rencana keketuaan Indonesia pada G20.

"Rangkaian SMU PBB cukup padat. Dalam waktu hampir 2 minggu, Indonesia menghadiri 37 pertemuan dan termasuk partisipasi Presiden RI secara pre-recorded pada Sesi Debat Umum dan Global Covid-19 Summit," kata Febrian.

Diplomasi Multilateral Isu Vaksin dan Kesehatan

Pada awal 2021, Menlu Retno diumumkan terpilih sebagai co-chair Covax Advance Market Commitment (AMC) Engagement Group (EG). Febrian menjelaskan, meski menghadapi banyak tantangan, pemerintah Indonesia tetap berupaya mempercepat pengadaan vaksin melalui mekanisme multilateral, khususnya Covax Facility.

Saat ini, kata Febrian, pemerintah telah mengamankan lebih dari 39 juta dosis vaksin, baik AstraZeneca, Sinovac, Moderna, hingga Pfizer. Total stok vaksin yang dimiliki Indonesia adalah sekitar 276 juta dosis.

"Indonesia juga terus memperkuat respon terhadap pandemi dan isu kesehatan di masa mendatang dalam berbagai forum multilateral, seperti Foreign Policy and Global Health (FPGH) dan pertemuan World Health Assembly," ujar Febrian.

(rea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK