PDIP Sebut Tolak Ukur Pemimpin Bukan Cuma dari Survei

CNN Indonesia
Sabtu, 23 Oct 2021 12:31 WIB
PDIP mengklaim mencari pemimpin nasional dengan tanggung jawab lebih dari 270 juta rakyat Indonesia harus dipersiapkan dengan matang. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. (ANTARA/RENO ESNIR)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto menilai masih terlalu dini berbicara nama pasangan capres dan cawapres yang akan diusung pada di Pilpres 2024.

Hal tersebut disampaikan oleh Hasto menanggapi mencuatnya elektabilitas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di sejumlah survei terbaru. Nama Ganjar bahkan baru-baru ini mampu bersanding dengan Calon Capres potensial lainnya seperti Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.

"Untuk berbicara tentang pemimpin nasional dengan tanggung jawab lebih dari 270 juta rakyat Indonesia, semua harus dipersiapkan dengan matang. Melalui proses kaderisasi kepemimpinan, itulah yang sedang dilakukan PDIP," ujarnya kepada wartawan di kantor DPP PDIP Perjuangan, Jakarta Pusat, Sabtu (23/10)


Hasto mengatakan, Komisi Pemilihan Umum sendiri masih belum mengambil keputusan terkait kapan Pemilu 2024 akan diselenggarakan berserta tahapan-tahapannya. Oleh sebab itu, Hasto menilai masih terlalu dini untuk berbicara nama capres dan cawapres yang akan didorong pada pesta demokrasi mendatang.

Kendati demikian, dirinya mengaku tidak mempermasalahkan hasil survei tersebut yang memunculkan nama salah satu kader partai. Dia menilai hal itu merupakan bentuk penilaian dari rakyat terhadap para calon-calon pemimpin bangsa.

Hanya saja, Hasto mengatakan, tolak ukur seorang pemimpin bagi bangsa dan negara tidak ditentukan melalui survei semata. Tetapi juga berdasarkan kapasitas dan visi ke depan dalam membangun negeri.

"Tolak ukur seorang pemimpin bagi bangsa dan negara tidak semata-mata ditentukan oleh survei. Kita mencari bukan pemimpin yang hanya menyenangkan semua pihak, tapi pemimpin yang punya tanggung jawab bagi masa depan bangsa dan negara," tuturnya.

Di sisi lain, dirinya juga menyinggung era kepemimpinan sebelum Presiden Jokowi yang hanya mengandalkan elektabilitas dan popularitas semata tetapi tidak mampu memberikan hasil yang terbaik bagi Indonesia.

"Kalau kita lihat Pak SBY dulu surveinya juga tinggi tapi keputusan politiknya bagaimana? Ini menjadi pendidikan politik bagi kita. Kita mencari sosok pemimpin yang berani mengambil tanggung jawab, berani mengambil keputusan meski pahit," tutur Hasto.

Ia menambahkan, akan ada banyak pekerjaan rumah yang harus dituntaskan oleh capres mendatang. Karenanya, ia menilai diperlukan pertimbangan yang matang dan sosok yang bisa menjawab seluruh tantangan tersebut.

"Tantangan-tantangan internasional, ketegangan di Laut China Selatan, krisis di Timor Tengah yang belum selesai, dan beban dari kebijakan fiskal kita terhadap hutang akibat pandemi ini," ujarnya.

"Itu menjadi tanggung jawab bagi pemimpin yang akan datang, jadi pemimpin itu harus dipersiapkan dengan sebaik baiknya," tegas dia.

(tfq/ain)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER