Debat Multitafsir Aturan Nadiem soal Kekerasan Seksual di Kampus

CNN Indonesia
Rabu, 10 Nov 2021 06:47 WIB
Permendibud mencegah dan menangani kekerasan seksual di lingkungan kampus menjadi polemik, karena ada pihak yang menggapnya jadi ajang legalisasi seks bebas. Ilustrasi. Permendibud mencegah dan menangani kekerasan seksual di lingkungan kampus menjadi polemik, karena ada pihak yang menggapnya jadi ajang legalisasi seks bebas. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Langkah Mendikbudristek Nadiem Makarim menerbitkan peraturan untuk mencegah dan menanggulangi tindak kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi malah berujung polemik.

Sejumlah pihak menilai Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021 yang baru seumur jagung itu justru menyediakan ruang legalisasi zina atau seks bebas di lingkungan kampus.

Salah satunya PP Muhammadiyah yang menyoroti pasal 5 dalam Permedikbudristek tersebut bisa dimaknai legalisasi terhadap perbuatan asusila dan seks bebas berbasis persetujuan (consent).


"Hal ini berimplikasi selama tidak ada pemaksaan, penyimpangan tersebut menjadi benar dan dibenarkan, meskipun dilakukan di luar pernikahan yang sah," kata Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan PP Muhammadiyah, Lincolin Arsyad, Senin (8/11).

Kritik juga datang dari kelompok masyarakat yang mengatasnamakan diri mereka Majelis Ormas Islam (MOI). MOI berpandangan bahwa Permendikbud 30/2021 mengadopsi draf lama dari RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) yang dinilai telah melegalisasi zina yang bersembunyi di belakang kata 'tidak ada pemaksaan' meskipun di luar hubungan pernikahan.

Tapi, ada pula elemen masyarakat yang justru mendukung Permendikbudristek keluaran Nadiem itu. Koalisi Masyarakat Sipil Anti Kekerasan Seksual (KOMPAKS) menolak pandangan yang menyebut Permendikbudristek soal Kekerasan Seksual di kampus sebagai bentuk legalisasi seks bebas atau zina di lingkungan pendidikan tinggi.

Salah satu perwakilan KOMPAKS, Naila Rizqi Zakiah menilai penolakan sejumlah elemen masyarakat terhadap Permendikbudristek itu terjadi karena ketidakpahaman dalam melihat dan menilai isu kekerasan seksual.

Menurut Naila, dalih kelompok yang menolak aturan tersebut juga terlalu klise. Pandangan mereka tak berubah sejak menolak aturan kekerasan seksual yang diatur dalam draf RUU PKS sejak 2017 silam. Padahal, katanya, aturan itu sama sekali tak mencantumkan klausul legalisasi zina. Permendikbud 30/2021 hanya mengatur secara ketat bentuk kekerasan seksual.

Infografis Ragam Laku Pelecehan Seksual

Dua Kata Kunci Kekerasan Seksual

KOMPAKS menilai mereka yang menolak itu gagal memahami dua kata kunci kekerasan seksual dalam Permendikbudristek: Relasi kuasa dan konsensual. Kegagalan memahami dua kata kunci itu, kata dia, merupakan kesalahan fatal karena justru mereka adalah fakta fundamental dalam membongkar kasus kekerasan seksual.

Dua elemen tersebut, kata Naila, membantu para pihak memahami kondisi korban dalam kasus kekerasan seksual, di mana pada umumnya yang terdampak tak bisa memberi persetujuan karena relasi kuasa yang timpang.

"Dua elemen ini membantu kita memahami kondisi korban, bahwa korban tidak dalam keadaan bisa memberikan persetujuan secara penuh atau menolak permintaan/ajakan seksual," kata Naila kepada CNNIndonesia.com, Selasa (9/11).

Selain itu, Naila memaparkan, dua kata kunci--relasi kuasa dan konsen--juga merupakan upaya untuk melindungi korban dari upaya victim blaming atau menyalahkan korban. Pasalnya, kasus tersebut kata Naila kerap terjadi pada korban kekerasan seksual.

Oleh karena itu, dia khawatir jika konsensual dan relasi kuasa itu dihapus dalam Permendikbud Nomor 30/2021, korban juga akan menjadi pelaku karena tuduhan zina atau bahkan pencemaran nama baik.

"Banyak kasus perkosaan dan kekerasan seksual di mana pelaku mengklaim, ini dilakukan suka sama suka atau tidak ada pemaksaan/kekerasan," kata Naila.

Halaman selanjutnya penjelasan Dikti hingga Komnas Perempuan

Menjelaskan Makna Konsensual

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER