Seorang warga melihat spanduk peringatan di bangunan yang terendam banjir di Jalan Lintas Melawi di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Selasa (16/11/2021) (ANTARA FOTO/JESSICA HELENA WUYSANG)
Jakarta, CNN Indonesia --
Banjir yang menerjang Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat tak kunjung surut. Sudah hampir satu bulan terhitung sejak Kamis pagi (21/10) itu merendam puluhan ribu rumah warga.
Beberapa orang dinyatakan meninggal imbas banjir itu, yang salah satunya karena tersengat aliran listrik. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelontorkan Rp500 juta untuk bantuan warga terdampak. Kementerian Sosial (Kemensos) dan Gubernur Kalbar Sutarmidji juga turut memberikan bantuan.
Belakangan, Sutarmidji pun menyatakan telah melepas 5.000 paket sembako dari Presdien RI Joko Widodo (Jokowi) di Kabupaten Sintang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya menyampaikan terimakasih kepada pak Presiden yang telah memberikan bantuan khusus untuk masyarakat yang menjadi korban banjir di Sintang sebanyak 5 ribu paket. Tetapi saya juga sudah sampaikan ke Presiden, banjir ini bukan hanya di Sintang, tetapi Kapuas Hulu, Sekadau, Sanggau, dan Melawi," kata Sutarmidji, di Pontianak, Kamis (18/11) seperti dikutip dari Antara.
Dirinya berharap, setelah Sintang, ada lagi bantuan untuk kabupaten lain, sehingga setelah itu bantuan dari masyarakat yang dikoordinasikan Pemprov Kalbar bisa didistribusikan ke daerah lainnya. Pada hari itu, sambungnya, Pemprov Kalbar pun sudah mengirim bantuan untuk dapur umum ke Kapuas Hulu, ke Sanggau, Sekadau dan Melawi.
Bantuan datang setelah setidaknya hampir sebulan banjir di kawasan DAS Kapuas itu tak surut signifikan. Namun banyak warga Sintang mengaku tak merasakan bantuan tersebut. Mereka masih banyak yang mengeluhkan sulitnya makan, minum dan memenuhi kebutuhan primer lainnya.
Ina, salah satu warga Danau Sentarum, Kapuas Hulu merasakan kesulitan itu. Ia merasa terombang ambing selama banjir menerjang daerah rumahnya dan dia terpaksa harus mengungsi. Bantuan yang ia terima pun alakadarnya. Tak banyak yang ia dapat.
"Hampir 2 bulan kami mengalami kesulitan mencari uang, air bersih dan yang lain, barang barang banyak hancur mau pergi sana sini susah kami hanya mendapat kan bantuan beras, mie dari relawan-relawan," kata Ina kepada CNNIndonesia.com, Kamis (18/11).
Sebagai ibu, Ina mengaku pusing lantaran masih harus membayar kuliah anaknya. Sebab, untuk makan saja urusannya belum tuntas tapi tagihan jalan terus.
"Mana ndak bisa bekerja, mana mau bayar biaya anak kuliah, belum lagi bayar kredit yang lain," ujarnya.
Bagaimana caranya jangan sampai [banjir] terulang.Novita, warga Sintang
Kepusingan itu tercampur dengan permasalahan lain yang juga masih disebabkan banjir, yaitu kesehatan. Ina mengatakan sudah beberapa hari terakhir anaknya mengalami sakit-sakitan.
Tentu, ia menganggap masalah kesehatan dan keselamatan penting. Apalagi, ia pernah menyaksikan tetangganya tersetrum aliran listrik dan meninggal dunia.
"Kami benar benar merasa sedih sekarang anak sakit sakit kena muntah. Semoga kesulitan kami ini cepat berlalu seperti sedia kala, tapi masih bersyukur diberi keselamatan, ada juga di gang kami yang meninggal kena setrum listrik," ujarnya.
Ia berharap pemerintah lebih perhatian lagi terhadap orang terdampak. Ia juga ingin bantuan itu sampai kepada dirinya.
"Kan yang kena juga banyak. Sebenarnya kami benar membutuh kan uluran bantuan," ujarnya.
Ina, warga Sintang, menceritakan salah satu tetangga di pemukimannya ada yang tewas karena tersengat listrik saat banjir. (Dok. Arsip Pribadi)
Warga Sintang lainnya, Novita juga merasakan hal serupa. Namun, ia merasa tertolong karena dapat mengungsi di rumah saudaranya.
"Alhamdulillah, karena sekarang ngungsinya di rumah saudara juga. Jadi masih aman untuk segala fasilitas atau konsumsinya," kata Novita kepada CNNIndonesia.com, Kamis (18/11).
Meski begitu, Novita tetap saja merasa malu jika harus mengungsi di rumah saudaranya terus. Ia berharap banjir segera surut agar ia bisa kembali mencari nafkah.
Jika tak banjir, mungkin Novita masih bisa menggelar dagangannya di pinggiran jalan dan bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Namun, banjir tak kunjung surut.
"Macam saya kan jualan di kaki lama. Kan jualan makanan. Ya sekarang enggak ada penghasilan sama sekali, enggak ada pemasukannya. Cuman mengharap dari orang saja," kata Novita.
"Kalau bantuan [pemerintah], saya terus terang enggak dapat. Cuma dari kawan kawan dekat saja yang datang ke sini nganterin. Enggak semuanya sih yang kena musibah dapat," imbuhnya.
Banjir Sintang selama hampir sebulan terakhir berpengaruh pada pendapatan keluarga Novitayang sehari-hari sebelumnya berjualan makanan. (Dok. Arsip Pribadi)
Novita pun berharap, banjir panjang seperti sekarang tak berulang di masa mendatang. Pasalnya, ia dan juga warga lainnya tak ingin mengulang kesedihan yang sama.
"Harapannya jangan sampai ada banjir kayak gini lagi. Udah ampun lah minta ampun jangan sampe terulang lagi kayak gini. Bagaimana caranya jangan sampai [banjir] terulang. Sedih saya benar benar sedih kayak gini," tuturnya.
Buka halaman selanjutnya untuk tahu pendapat warga Sintang terhadap perhatian pemerintah.
Warga Sintang yang lain, Antonius merasa mati gaya meskipun dia sudah terbiasa dengan banjir. Tapi, kali ini berbeda. Ia merasa, banjir saat ini adalah terlama selama dia tinggal di Sintang.
"Setiap tahun di musim penghujan memang di Sintang banjir, terutama di pemukiman sekitar sungai Melawi dan sungai Kapuas. Itu pun banjirnya hanya sebentar sekitar 2 - 3 hari air sudah surut dan kembali normal," kata Antonius kepada CNNIndonesia.com, Kamis (18/11).
"Banjir saat ini merupakan banjir terparah menurut saya karena lama sekali surutnya. Ini sudah memasuki pekan ke-4, dan hampir 1 bulan," tambahnya.
Ia setuju dengan pendapat para akademisi yang menyebut banjir di Sintang disebabkan deforestasi yang berdampak pada wilayah di daerah aliran sungai (DAS) Kapuas itu. Sebab, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa perusahaan sawit ada di sekitar rumahnya.
"Sebelum saya menetap di Sintang, saya pernah di Serawai dan di Menukung (kecamatan di Hulu sungai Melawi). Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri proses alih fungsi lahan banyak terjadi di sana yang dilakukan oleh perusahaan kelapa sawit," jelasnya.
Warga Sintang, Antonius, mengaku tanpa perbaikan dari pemerintah maka penderitaan akan dirasakan rakyat seandainya banjir terus melanda wilayah Sintang saban tahunnya. (Dok. Arsip Pribadi)
Pria yang berprofesi sebagai dosen itu menilai, pemerintah harus segera ambil tindakan. Ia merasa tak kuat jika banjir seperti sekarang terus melanda Sintang setiap tahun.
"Kerusakan lingkungan adalah masalah yang harus dipikirkan segera oleh pemerintah daerah dan semua pihak yang peduli. Siapa pun pemimpin kami yang memegang kebijakan publik, saya mohon dengan sangat untuk 'prolingkungan' artinya jangan mudah memberikan ijin perusahaan beroperasi," tutupnya.
Sehari sebelumnya, Rabu (17/11), kepada CNNIndonesia.com Direktur Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalbar, Nicodemus Ale mengatakan banjir yang terjadi di Kabupaten Sintang saat ini merupakan yang terbesar selama 40 tahun terakhir.
"Di Sintang itu adalah banjir terbesar dalam 30 hingga 40 tahun terakhir," kata Nico.
Nico mengungkapkan, ada dua indikator sehingga pihaknya menyebut banjir saat ini terbesar dalam kurun waktu 40 tahun terakhir. Beberapa indikatornya yaitu cakupan wilayah yang terdampak dan lama bencana hidrometeorologi berlangsung.
Ia menyebut, banjir di Sintang telah merendam 12 kecamatan di Sintang yaitu, Kecamatan Kayan Hulu, Kayan Hilir, Binjai Hulu, Kecamatan Sintang, Kecamatan Sepauk, Tempunak, Ketungau Hilir, Dedai, Serawai, Ambalau, Kecamatan Sei Tebelian dan Kecamatan Kelam Permai.
Selain itu, secara durasi, banjir di Sintang berlangsung selama hampir satu bulan terhitung sejak Kamis pagi (21/10).
Menurut pihaknya banjir berkepanjangan di Sintang ini dipicu oleh dua faktor yaitu cuaca dan berkurangnya resapan air imbas deforestasi. Ia tak memungkiri, bahwa saat ini Indonesia sedang memasuki masa La Nina. Curah hujan di Sintang sendiri cukup tinggi, belum masuk kategori ekstrem namun intens.
Meski begitu, kata Nico, intensitas hujan yang tinggi tidak akan menyebabkan banjir parah seperti sekarang ini jika resapan airnya berfungsi.
Nico berkata, dari 14,7 juta hektare lahan daratan Kalbar, sekitar 12 juta hektare lahan digunakan untuk industri. Padahal, jika mengacu pada ketentuan yang telah ditetapkan, dari jumlah lahan daratan itu, lahan yang boleh digunakan untuk industri sebesar 6,4 juta hektar.
"Nah 6,4 yang aktivitas produksi investasi itu sekarang sudah overload dengan total investasi itu sekitar 12 juta hektar itu sudah diplotkan menjadi industri," kata dia.
"Artinya 100 persen lebih terjadi kesalahan, oke perencanannya benar, tapi dalam implementasi perencanaan itu enggak benar. Itu udah melenceng jauh, udah 100 persen lebih," imbuhnya.
Banjir yang menerjang Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat tak kunjung surut. Sudah hampir satu bulan terhitung sejak Kamis pagi (21/10) itu merendam puluhan ribu rumah warga.
Beberapa orang dinyatakan meninggal imbas banjir itu, yang salah satunya karena tersengat aliran listrik. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelontorkan Rp500 juta untuk bantuan warga terdampak. Kementerian Sosial (Kemensos) dan Gubernur Kalbar Sutarmidji juga turut memberikan bantuan.
Belakangan, Sutarmidji pun menyatakan telah melepas 5.000 paket sembako dari Presdien RI Joko Widodo (Jokowi) di Kabupaten Sintang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya menyampaikan terimakasih kepada pak Presiden yang telah memberikan bantuan khusus untuk masyarakat yang menjadi korban banjir di Sintang sebanyak 5 ribu paket. Tetapi saya juga sudah sampaikan ke Presiden, banjir ini bukan hanya di Sintang, tetapi Kapuas Hulu, Sekadau, Sanggau, dan Melawi," kata Sutarmidji, di Pontianak, Kamis (18/11) seperti dikutip dari Antara.
Dirinya berharap, setelah Sintang, ada lagi bantuan untuk kabupaten lain, sehingga setelah itu bantuan dari masyarakat yang dikoordinasikan Pemprov Kalbar bisa didistribusikan ke daerah lainnya. Pada hari itu, sambungnya, Pemprov Kalbar pun sudah mengirim bantuan untuk dapur umum ke Kapuas Hulu, ke Sanggau, Sekadau dan Melawi.
Bantuan datang setelah setidaknya hampir sebulan banjir di kawasan DAS Kapuas itu tak surut signifikan. Namun banyak warga Sintang mengaku tak merasakan bantuan tersebut. Mereka masih banyak yang mengeluhkan sulitnya makan, minum dan memenuhi kebutuhan primer lainnya.
Ina, salah satu warga Danau Sentarum, Kapuas Hulu merasakan kesulitan itu. Ia merasa terombang ambing selama banjir menerjang daerah rumahnya dan dia terpaksa harus mengungsi. Bantuan yang ia terima pun alakadarnya. Tak banyak yang ia dapat.
"Hampir 2 bulan kami mengalami kesulitan mencari uang, air bersih dan yang lain, barang barang banyak hancur mau pergi sana sini susah kami hanya mendapat kan bantuan beras, mie dari relawan-relawan," kata Ina kepada CNNIndonesia.com, Kamis (18/11).
Sebagai ibu, Ina mengaku pusing lantaran masih harus membayar kuliah anaknya. Sebab, untuk makan saja urusannya belum tuntas tapi tagihan jalan terus.
"Mana ndak bisa bekerja, mana mau bayar biaya anak kuliah, belum lagi bayar kredit yang lain," ujarnya.
Bagaimana caranya jangan sampai [banjir] terulang.Novita, warga Sintang
Kepusingan itu tercampur dengan permasalahan lain yang juga masih disebabkan banjir, yaitu kesehatan. Ina mengatakan sudah beberapa hari terakhir anaknya mengalami sakit-sakitan.
Tentu, ia menganggap masalah kesehatan dan keselamatan penting. Apalagi, ia pernah menyaksikan tetangganya tersetrum aliran listrik dan meninggal dunia.
"Kami benar benar merasa sedih sekarang anak sakit sakit kena muntah. Semoga kesulitan kami ini cepat berlalu seperti sedia kala, tapi masih bersyukur diberi keselamatan, ada juga di gang kami yang meninggal kena setrum listrik," ujarnya.
Ia berharap pemerintah lebih perhatian lagi terhadap orang terdampak. Ia juga ingin bantuan itu sampai kepada dirinya.
"Kan yang kena juga banyak. Sebenarnya kami benar membutuh kan uluran bantuan," ujarnya.
Ina, warga Sintang, menceritakan salah satu tetangga di pemukimannya ada yang tewas karena tersengat listrik saat banjir. (Dok. Arsip Pribadi)
Warga Sintang lainnya, Novita juga merasakan hal serupa. Namun, ia merasa tertolong karena dapat mengungsi di rumah saudaranya.
"Alhamdulillah, karena sekarang ngungsinya di rumah saudara juga. Jadi masih aman untuk segala fasilitas atau konsumsinya," kata Novita kepada CNNIndonesia.com, Kamis (18/11).
Meski begitu, Novita tetap saja merasa malu jika harus mengungsi di rumah saudaranya terus. Ia berharap banjir segera surut agar ia bisa kembali mencari nafkah.
Jika tak banjir, mungkin Novita masih bisa menggelar dagangannya di pinggiran jalan dan bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Namun, banjir tak kunjung surut.
"Macam saya kan jualan di kaki lama. Kan jualan makanan. Ya sekarang enggak ada penghasilan sama sekali, enggak ada pemasukannya. Cuman mengharap dari orang saja," kata Novita.
"Kalau bantuan [pemerintah], saya terus terang enggak dapat. Cuma dari kawan kawan dekat saja yang datang ke sini nganterin. Enggak semuanya sih yang kena musibah dapat," imbuhnya.
Banjir Sintang selama hampir sebulan terakhir berpengaruh pada pendapatan keluarga Novitayang sehari-hari sebelumnya berjualan makanan. (Dok. Arsip Pribadi)
Novita pun berharap, banjir panjang seperti sekarang tak berulang di masa mendatang. Pasalnya, ia dan juga warga lainnya tak ingin mengulang kesedihan yang sama.
"Harapannya jangan sampai ada banjir kayak gini lagi. Udah ampun lah minta ampun jangan sampe terulang lagi kayak gini. Bagaimana caranya jangan sampai [banjir] terulang. Sedih saya benar benar sedih kayak gini," tuturnya.
Buka halaman selanjutnya untuk tahu pendapat warga Sintang terhadap perhatian pemerintah.
Banjir Terparah di Dalam Ingatan
Seorang anak mengamati ibunya yang menengok rumah mereka yang terendam banjir di Baning Kota, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Senin (15/11/2021). (ANTARA FOTO/Abraham Mudito)
Warga Sintang yang lain, Antonius merasa mati gaya meskipun dia sudah terbiasa dengan banjir. Tapi, kali ini berbeda. Ia merasa, banjir saat ini adalah terlama selama dia tinggal di Sintang.
"Setiap tahun di musim penghujan memang di Sintang banjir, terutama di pemukiman sekitar sungai Melawi dan sungai Kapuas. Itu pun banjirnya hanya sebentar sekitar 2 - 3 hari air sudah surut dan kembali normal," kata Antonius kepada CNNIndonesia.com, Kamis (18/11).
"Banjir saat ini merupakan banjir terparah menurut saya karena lama sekali surutnya. Ini sudah memasuki pekan ke-4, dan hampir 1 bulan," tambahnya.
Ia setuju dengan pendapat para akademisi yang menyebut banjir di Sintang disebabkan deforestasi yang berdampak pada wilayah di daerah aliran sungai (DAS) Kapuas itu. Sebab, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa perusahaan sawit ada di sekitar rumahnya.
"Sebelum saya menetap di Sintang, saya pernah di Serawai dan di Menukung (kecamatan di Hulu sungai Melawi). Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri proses alih fungsi lahan banyak terjadi di sana yang dilakukan oleh perusahaan kelapa sawit," jelasnya.
Warga Sintang, Antonius, mengaku tanpa perbaikan dari pemerintah maka penderitaan akan dirasakan rakyat seandainya banjir terus melanda wilayah Sintang saban tahunnya. (Dok. Arsip Pribadi)
Pria yang berprofesi sebagai dosen itu menilai, pemerintah harus segera ambil tindakan. Ia merasa tak kuat jika banjir seperti sekarang terus melanda Sintang setiap tahun.
"Kerusakan lingkungan adalah masalah yang harus dipikirkan segera oleh pemerintah daerah dan semua pihak yang peduli. Siapa pun pemimpin kami yang memegang kebijakan publik, saya mohon dengan sangat untuk 'prolingkungan' artinya jangan mudah memberikan ijin perusahaan beroperasi," tutupnya.
Sehari sebelumnya, Rabu (17/11), kepada CNNIndonesia.com Direktur Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalbar, Nicodemus Ale mengatakan banjir yang terjadi di Kabupaten Sintang saat ini merupakan yang terbesar selama 40 tahun terakhir.
"Di Sintang itu adalah banjir terbesar dalam 30 hingga 40 tahun terakhir," kata Nico.
Nico mengungkapkan, ada dua indikator sehingga pihaknya menyebut banjir saat ini terbesar dalam kurun waktu 40 tahun terakhir. Beberapa indikatornya yaitu cakupan wilayah yang terdampak dan lama bencana hidrometeorologi berlangsung.
Ia menyebut, banjir di Sintang telah merendam 12 kecamatan di Sintang yaitu, Kecamatan Kayan Hulu, Kayan Hilir, Binjai Hulu, Kecamatan Sintang, Kecamatan Sepauk, Tempunak, Ketungau Hilir, Dedai, Serawai, Ambalau, Kecamatan Sei Tebelian dan Kecamatan Kelam Permai.
Selain itu, secara durasi, banjir di Sintang berlangsung selama hampir satu bulan terhitung sejak Kamis pagi (21/10).
Menurut pihaknya banjir berkepanjangan di Sintang ini dipicu oleh dua faktor yaitu cuaca dan berkurangnya resapan air imbas deforestasi. Ia tak memungkiri, bahwa saat ini Indonesia sedang memasuki masa La Nina. Curah hujan di Sintang sendiri cukup tinggi, belum masuk kategori ekstrem namun intens.
Meski begitu, kata Nico, intensitas hujan yang tinggi tidak akan menyebabkan banjir parah seperti sekarang ini jika resapan airnya berfungsi.
Nico berkata, dari 14,7 juta hektare lahan daratan Kalbar, sekitar 12 juta hektare lahan digunakan untuk industri. Padahal, jika mengacu pada ketentuan yang telah ditetapkan, dari jumlah lahan daratan itu, lahan yang boleh digunakan untuk industri sebesar 6,4 juta hektar.
"Nah 6,4 yang aktivitas produksi investasi itu sekarang sudah overload dengan total investasi itu sekitar 12 juta hektar itu sudah diplotkan menjadi industri," kata dia.
"Artinya 100 persen lebih terjadi kesalahan, oke perencanannya benar, tapi dalam implementasi perencanaan itu enggak benar. Itu udah melenceng jauh, udah 100 persen lebih," imbuhnya.