Rawan Bencana saat Pandemi, BMKG Minta Masyarakat Siaga

KPCPEN | CNN Indonesia
Sabtu, 27 Nov 2021 18:03 WIB
Bencana alam saat pandemi membutuhkan kewaspadaan khusus karena lokasi pengungsian dan tindakan penyelamatan dapat berpotensi menjadi titik penularan Covid-19. Ilustrasi pengungsian akibat bencana alam. (Foto: ANTARA FOTO/Abraham Mudito)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bencana alam yang datang saat pandemi ditegaskan membutuhkan kewaspadaan khusus. Hal ini dikarenakan lokasi pengungsian dan tindakan penyelamatan yang dapat berpotensi menjadi titik penularan Covid-19 apabila tidak disertai protokol kesehatan.

Bupati Bojonegoro, Anna Mu'awanah menyatakan bahwa kerja sama semua pihak, juga kesadaran kolektif masyarakat turut diperlukan, agar dampak bencana alam dapat ditekan. Selain bencana alam saat cuaca ekstrim, Bojonegoro sebagai kawasan penghasil migas juga memiliki risiko bencana industri.

Anna menjelaskan, terkait bencana alam, angka kejadian terus berkurang hingga tahun ini. Namun demikian, upaya mitigasi juga sosialisasi tetap digencarkan. Langkah mitigasi yang dimaksud dilakukan melalui koordinasi erat dengan pihak-pihak terkait, sedangkan sosialisasi dipastikan menjadi keharusan agar masyarakat selalu sadar dan peduli dengan perubahan di lingkungannya. Sosialisasi juga dapat dijalankan melalui media digital dan media sosial.


"Dengan kita siaga, selalu melakukan pengecekan, sosialisasi, simulasi, maka masyarakat akan tenang (tidak panik) dan ikut bersiaga," ujar Anna.

Regulasi tentang santunan bencana pun ikut dipersiapkan sebagai salah satu solusi pemulihan bagi masyarakat terdampak.

"Kebencanaan pasti ada, karena berbagai perubahan iklim dan kendala di lapangan. Tinggal bagaimana kita mempersiapkan diri sebaik mungkin dengan kesiapsiagaan, mitigasi dini untuk dapat mencegah korban, terutama korban jiwa," kata Anna.

Selain Bojonegoro, Sumatera Selatan (Sumsel) juga merupakan salah satu wilayah yang rawan bencana alam. Hal ini disebutkan oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Sumsel, Achmad Rizwan pada kesempatan yang sama. Bencana alam tersebut berupa kebakaran lahan dan hutan, juga banjir dan tanah longsor yang terjadi hampir setiap tahun.

Achmad menyatakan, upaya mitigasi sudah selalu dipersiapkan, seperti pemanfaatan teknologi aplikasi guna mengatasi bencana secara dini, pembuatan tanggul penahan air, juga keberadaan posko-posko, alat berat, dan jembatan darurat di titik rawan bencana.

Dia mengakui, bencana alam dalam situasi pandemi memunculkan tantangan tersendiri. Karena itu, selain kesiapsiagaan bencana, pihaknya selalu melakukan sosialisasi terkait Covid-19 dan penerapan protokol kesehatan, meskipun saat ini situasi pandemi di wilayahnya sangat landai.

"Kesiapsiagaan bencana sudah dilakukan baik secara personel maupun peralatan. Seluruh masyarakat, stakeholder, pemerintah, dan swasta dilibatkan dalam satu sistem sehingga bencana dapat dihadapi saat terjadi. Kemudian juga edukasi perilaku masyarakat agar mereka sadar dan mengetahui bagaimana tindakan saat bencana terjadi," papar Achmad.

Sementara, Kepala Pusat Meteorologi Publik, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Fachri Radjab menggarisbawahi bahwa kesiapsiagaan bencana harus selalu dijalankan, karena potensi bencana alam selalu ada sepanjang tahun di Indonesia. Adapun bencana yang paling sering terjadi adalah bencana hidrometeorologi, mencapai 98 persen.

Pada musim penghujan, terdapat potensi bencana banjir, banjir bandang, dan tanah longsor. Pada peralihan musim, terjadi hujan lebat serta puting beliung. Sedangkan pada musim kemarau dapat terjadi kebakaran lahan.

Untuk saat ini, sebagian besar wilayah Indonesia memasuki periode musim penghujan, dengan puncaknya diperkirakan pada Januari-Februari tahun depan. Fachri menyebutkan, sebagai dampak La Nina pada akhir tahun, diperkirakan intensitas curah hujan juga akan meningkat di beberapa wilayah, di antaranya sebagian Sumatera, Jawa, Bali, NTB, dan Indonesia Timur seperti Sulawesi.

"Tahun ini dan tahun lalu tantangannya makin besar karena berada di masa pandemi. tentu langkah-langkah harus lebih cermat," tegas Fachri.

Dia menjelaskan, langkah itu termasuk pengkondisian area pengungsian dengan penerapan protokol kesehatan, juga dalam kegiatan evakuasi dan penyelamatan warga terdampak. Menurut Fachri, peran BMKG dalam kesiapsiagaan bencana adalah pada sisi hulu, sebagai pemberi informasi dan peringatan dini.

"Informasi dari kami digunakan untuk menyusun kesiapsiagaan lebih lanjut," tuturnya.

Tak berhenti di sana, Fachri juga menyebutkan bahwa BMKG turut meningkatkan kemanfaatan informasi yang ada. Misalnya, dengan sosialisasi langsung kepada masyarakat tentang bagaimana memahami informasi tersebut dan tindakan apa yang harus dilakukan, serta penyediaan layanan informasi cuaca berbasis dampak yang dapat diakses melalui https://signature.bmkg.go.id/.

Melalui pemantauan aktif dan media sosial resmi, BMKG terus berupaya menangkal hoaks agar tidak meresahkan masyarakat. Fachri menegaskan, pada intinya seluruh upaya dilakukan guna mengurangi risiko saat bencana terjadi.

Lebih lanjut, kepada masyarakat, dia menyatakan diperlukan kesadaran kolektif bahwa Indonesia adalah wilayah rawan bencana. Kesadaran tersebut juga harus diimplementasikan dalam sikap dan perilaku keseharian, misalnya melalui sikap ramah lingkungan. Dia menekankan, BMKG mendukung dari sisi informasi potensi kesiapsiagaan.

"Namun butuh upaya dari sisi hilir untuk menggunakan informasi tersebut sebagai rujukan, sehingga dapat bermanfaat lebih baik," katanya.

(rea/rea)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER