4 Tokoh Nasional Kecam LSM LibForAll Buat Artikel Adu Domba

CNN Indonesia
Selasa, 30 Nov 2021 03:01 WIB
Ahmad Syafii Maarif, Azyumardi Azra, Amin Abdullah, dan Abdul Munir Mulkhan menolak dikaitkan dengan LSM LibforAll Foundation yang dipimpin C. Holland Taylor. Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra menolak dikaitkan dengan LSM LibforAll Foundation atau organisasi lain yang dipimpin atau didirikan oleh C. Holland Taylor. (Detikcom/Ari Saputra)
Jakarta, CNN Indonesia --

Anggota Dewan Pengarah BPIP Ahmad Syafii Maarif, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Amin Abdullah, dan Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surakarta Abdul Munir Mulkhan menolak dikaitkan dengan LSM LibforAll Foundation atau organisasi lain yang dipimpin atau didirikan oleh C. Holland Taylor.

Keempat tokoh tersebut mendesak nama mereka dihapus dari pelbagai publikasi maupun dari situs resmi yang diterbitkan LibforAll.

"Saya termasuk yang menolak diasosiasikan dengan LibforAll. Artikel, situsnya atau diklaim dipakai namanya untuk mendapat dana, dukungan pihak tertentu dan sebagainya," kata Azyumardi kepada CNNIndonesia.com, Senin (29/11).


Dalam keterangan resmi empat tokoh itu, penolakan bermula ketika situs web Bayt ar-Rahmah mempublikasi sebuah artikel diduga bernada tuduhan dan berpotensi mengarah kepada adu domba.

Artikel itu berjudul "Political Communiqué: 2021_10_28_Nahdlatul Ulama Circular Letter: Executive Summary". Tulisan tersebut didistribusikan secara luas melalui alamat email LibForAll Foundation dan turut ditayangkan di situs Bayt ar-Rahmah.

Dalam artikel itu terdapat pernyataan bernada tudingan yang menyebutkan "...sebuah surat edaran yang didistribusikan kepada mereka yang memimpin Nahdlatul Ulama, sebagai respons terhadap upaya oleh Institut Leimena, suatu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berbasis di Jakarta dan penyokong-penyokong asingnya - Institute for Global Engagement (IGE) dan American Jewish Committee (AJC) yang berbasis di Amerika Serikat - untuk memanfaatkan Nahdlatul Ulama dan Kementerian Agama Indonesia yang sangat kuat dalam menjalankan suatu agenda yang berpotensi memecah belah dengan didikte oleh aktor-aktor asing, yang hendak mengubah lanskap sosiokultural, agama, dan politik Indonesia yang kompleks."

Cendikiawan Muslim Syafii Maarif saat hadir di acara Diskusi KPK di Gedung Merah Putih, dengan tema “Menjaga KPK, Mengawal Pimpinan KPK. Jakarta, Rabu 28 Agustus 2019. CNN Indonesia/Andry NovelinoCendikiawan Muslim Syafii Maarif saat hadir di acara Diskusi KPK di Gedung Merah Putih, dengan tema “Menjaga KPK, Mengawal Pimpinan KPK. Jakarta, Rabu 28 Agustus 2019. CNN Indonesia/Andry Novelino

Keempat tokoh tersebut melalui kuasa hukumnya Maruarar Siahaan melayangkan surat penolakan tegas kepada LibForAll Foundation yang bermarkas di Amerika Serikat pada 19 November 2021. Surat tersebut ditujukan kepada CEO dan Chairman, LibforAll, C. Holland Taylor

"Kami mengungkapkan keterkejutan dan ketidakpercayaan kami ketika membaca artikel yang didistribusikan LibForAll dan ditayangkan di situs web Bayt ar-Rahmah tersebut," demikian siaran pers bersama keempat tokoh nasional yang dikirimkan oleh Kantor HukumMaruarar Siahaan & Partners, Senin (29/11).

Mereka berempat mendapati tiga persoalan serius dalam artikel tersebut. Pertama, pernyataan bernada tuduhan dalam artikel itu tidak ada dalam Surat Edaran PBNU tanggal 20 September 2021. SE PBNU itu intinya hanya bersifat koordinasi agar kerja sama dengan Institut Leimena, Institute for Global Engagement (IGE), dan American Jewish Committee (AJC) terlebih dahulu dikonsultasikan dengan dan mendapat persetujuan langsung dari PBNU.

Hal itu turut diperjelas dalam surat balasan PBNU nomor 4268/B.III.02/11/2021 tertanggal 22 November 2021 kepada AJC. PBNU, kata mereka, sama sekali tidak menuduh ada masalah apa pun di pihak AJC, IGE, dan Institut Leimena. Bahkan, PBNU menegaskan mendorong kerja sama dengan pihak manapun. Sepanjang berkomitmen untuk penegakan Hak Asasi Manusia, demokratisasi, perdamaian, dan kemanusiaan.

Kedua, empat tokoh itu menilai sumber yang tertulis dalam artikel Bayt ar-Rahmah/LibForAll itu tidak memberikan bukti untuk mendukung pernyataannya yang bernada tuduhan.

"Bagi kami pernyataan tersebut membingungkan, tidak pantas dan berlebihan, karena mengandung tuduhan tanpa dasar," demikian pernyataan mereka.

Terakhir, keempat tokoh itu menilai CEO LibForAll, C. Holland Taylor tak pernah mengajak berkomunikasi terlebih dulu terkait penyebaran artikel tersebut. Diketahui, keempat tokoh ini tercantum dalam Board of Advisors LibForAll Foundation di situs resmi LibforAll.

Bahkan, mereka tidak pernah diajak berkonsultasi untuk memperoleh nasihat terkait kebijakan atau kegiatan LibForAll selama bertahun-tahun.

"Kami tidak ikut bertanggung jawab seandainya terdapat akibat-akibat hukum yang timbul, jika pernyataan tersebut mengandung pelanggaran menurut hukum di Indonesia dan di manapun," kata keempat tokoh tersebut.

Di sisi lain, mereka menilai langkah untuk menjauhkan diri secara terbuka dari Holland Taylor dan seluruh organisasinya ini bukan untuk kepentingan pribadi. Melainkan bagi kepentingan bangsa dan negara.

"Ini perlu menjadi peringatan bagi kita semua agar tidak mudah terbawa hasutan dan senantiasa menjaga persatuan bangsa, termasuk dari lembaga asing seperti LibForAll dan Bayt arRahmah yang menyebar tuduhan tak berdasar dan bernada adu domba," ujarnya.

(rzr/fra)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER