Menimbang Ulang Keberadaan Menwa di Kampus Indonesia
mts | CNN Indonesia
Jumat, 03 Des 2021 08:08 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Pengamat pendidikan menilai memang sudah waktunya timbang ulang konsep keanggotaan Menwa sebagai sebuah organisasi kemahasiswa di kampus pada masa kini. (CNN Indonesia/Rosyid)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kegiatan Resimen Mahasiswa (Menwa) di sejumlah kampus berujung maut. Tiga mahasiswa dari tiga kampus berbeda meninggal dunia usai mengikuti kegiatan Menwa beberapa waktu belakangan.
Seiring kematian para mahasiswa itu, desakan dari elemen kampus agar Menwa dibubarkan pun mencuat bahkan ke tingkat nasional.
Tiga kasus kematian anggota Menwa di tiga kampus berbeda itu adalah:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Nailah Khalisah, meninggal dunia usai mengikuti kegiatan pendidikan dasar (diksar) pada 1 sampai 4 April 2021.
Berikutnya, mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Gilang Endi Saputra. Ia meninggal dunia usai mengikuti pendidikan dan latihan (diklat) di Karangpandang, Kabupaten Karanganyar pada 24 Oktober 2021.
Ketiga, mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) Fauziyah Nabilah, meninggal dunia setelah mengikuti kegiatan pembaretan Menwa pada 25 September 2021.
Merespons rangkaian peristiwa itu, Ketua Komisi X DPR, Syaiful Huda meminta Kementerian Pendidikan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) membekukan kegiatan diksar Menwa di semua kampus.
"Kemendikbudristek, baiknya melakukan moratorium sementara kegiatan Diksar Menwa di seluruh kampus di Indonesia. Sembari dilakukan evaluasi baik terkait materi, kualifikasi trainer, hingga supporting system pelaksanaan diksar Menwa yang memang menguras fisik," kata Huda.
Evaluasi dari Kementerian
Pengamat pendidikan, Indra Charismiadji mengatakan kementerian terkait harus merespons kematian sejumlah mahasiswa setelah mengikuti kegiatan Menwa dengan melakukan evaluasi ihwal keberadaan Menwa di lingkungan kampus.
Bila tidak dibutuhkan, menurutnya, Menwa di lingkungan kampus seharusnya ditiadakan.
"Harus mulai dari Kemhan, apakah kita butuh tentara cadangan. Sekarang kalau enggak ada kebutuhan, buat apa ada Menwa?" kata Indra kepada CNNIndonesia.com, Kamis (2/12).
Dia mengatakan ketiadaan kebutuhan akan keberadaan Menwa membuat lembaga tersebut tidak dikelola sosok yang profesional. Menurutnya, situasi itu kemudian membuat Menwa menjadi arena perpeloncoan atau bullying yang dilakukan oleh senior ke junior.
"Jadi arah ke bullying, ngerjain saja, rusak semua, tujuannya enggak jelas, sesuatu yang tujuan enggak jelas ya akan berantakan," ucapnya.
Indra berkata, kementerian terkait seharusnya mengelola Menwa di semua perguruan tinggi secara profesional. Menurutnya, kemeterian tidak boleh membiarkan mahasiswa yang mengikuti Menwa hanya sekadar mengenakan seragam ala militer tanpa mendapatkan pelatihan yang profesional.
"Bukan cuma pakai seragam doang terus yang melatih kakak kelas, itu akhirnya cuma ajang perpeloncoan saja yang zaman sekarang enggak ada manfaatnya," katanya.
"Kalau dikelola jadi bagian sumber daya manusia militer kita enggak mungkin akan seperti ini," imbuh Indra.
Terpisah pengamat pendidikan, Mohammad Abduzen, mendukung agar Kemendikbudristek membekukan sementara kegiatan Menwa di seluruh perguruan tinggi. Ia pun mendesak Kemendikbudristek mengonsep ulang Menwa dengan mempertimbangkan aspek pendidikan karakter.
Menurutnya, pola pengajaran di Menwa saat ini harus mengalami perubahan paradigma, termasuk dalam perekrutan anggota.
"Perlu direkonseptualisasi dengan mempertimbangkan aspek pendidikan karakter yang dikembangkan juga oleh pemerintah. Harus ada perubahan paradigma, misalnya yang jadi Menwa itu yang top ten dari sisi akademik di kampus itu, bukan hanya mengatakan, 'siap pak, siap pak', saja," katanya.
Menurut Abduzen inspirasi militeristik di tubuh menwa harus diwaspadai. Ia menilai insipirasi militeristik di tubuh Menwa berbahaya dan kerap membuatnya menjadi organisasi yang liar serta tidak terkendali.
Abduzen juga berkata inspirasi militeristik di tubuh Menwa yang sudah ada sejak era Orde Baru harus lebih diarahkan kepada kegiatan-kegiatan yang lebih membangun ke persahabatan. Menurutnya, anggota menwa tak boleh lagi menunjukkan sifat-sifat garang dan perkasa dalam kegiatannya.
"Memang perlu diwaspadai itu adalah insiprasi militeristik yang biasanya menginfiltrasi dalam pelatihan displin, itu berbahaya karena dia akan jadi semacam organisasi yang tampak liar dan tak terkendali," katanya.
Setelah peristiwa kematian mahasiswa di UNS, kala itu Mendagri Jenderal Pol (Purn) Tito Karnavian mengatakan kebijakan untuk membubarkan Menwa perlu kajian secara menyeluruh termasuk salah satunya dengan melihat kasus terkait.
"Kalau ada masalah sistem, kekerasan yang dilakukan secara sistematis dan masif misalnya, maka kita harus perbaiki sistemnya. Dengan rapat dengan Kemendikbud dan perwakilan Menwa agar mereka memperbaiki sistemnya," imbuh Mantan Kapolri itu di Yogyakarta, Senin (1/11).
Dalam prosesnya, kata Tito, tentu kajian juga tak akan serta merta mengenyampingkan kontribusi positif Menwa selama ini. Termasuk peran, organisasi yang lahir di masa Orde Lama itu dalam kerja sosial kemasyarakatan.
Sementara itu, Komandan Komando Nasional Menwa Indonesia, Ahmad Riza Patria, mengaku tak menampik desakan pembubaran organisasi itu menguat buntut kematian mahasiswa anggotanya di alam kegiatan. Namun menurutnya, desakan itu adalah hal yang biasa.
"Kegiatan-kegiatan sekolah, pendidikan, sejak lama ada yang seperti itu, tapi sejauh ini semakin kesini semakin berkurang dan semakin hilang. Kita minta semua bentuk proses pendidikan dan latihan lebih mengedepankan kegiatan-kegiatan yang persuasif, kegiatan-kegiatan yang lebih baik, tidak boleh ada unsur unsur kekerasan atau menonjolkan kegiatan fisik. Fisik dibutuhkan tetapi tidak boleh dominan," kata dia yang juga Wakil Gubernur DKI Jakarta saat dimintai pendapat terkait peristiwa di UPNVJ.
Jakarta, CNN Indonesia --
Kegiatan Resimen Mahasiswa (Menwa) di sejumlah kampus berujung maut. Tiga mahasiswa dari tiga kampus berbeda meninggal dunia usai mengikuti kegiatan Menwa beberapa waktu belakangan.
Seiring kematian para mahasiswa itu, desakan dari elemen kampus agar Menwa dibubarkan pun mencuat bahkan ke tingkat nasional.
Tiga kasus kematian anggota Menwa di tiga kampus berbeda itu adalah:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Nailah Khalisah, meninggal dunia usai mengikuti kegiatan pendidikan dasar (diksar) pada 1 sampai 4 April 2021.
Berikutnya, mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Gilang Endi Saputra. Ia meninggal dunia usai mengikuti pendidikan dan latihan (diklat) di Karangpandang, Kabupaten Karanganyar pada 24 Oktober 2021.
Ketiga, mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) Fauziyah Nabilah, meninggal dunia setelah mengikuti kegiatan pembaretan Menwa pada 25 September 2021.
Merespons rangkaian peristiwa itu, Ketua Komisi X DPR, Syaiful Huda meminta Kementerian Pendidikan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) membekukan kegiatan diksar Menwa di semua kampus.
"Kemendikbudristek, baiknya melakukan moratorium sementara kegiatan Diksar Menwa di seluruh kampus di Indonesia. Sembari dilakukan evaluasi baik terkait materi, kualifikasi trainer, hingga supporting system pelaksanaan diksar Menwa yang memang menguras fisik," kata Huda.
Evaluasi dari Kementerian
Pengamat pendidikan, Indra Charismiadji mengatakan kementerian terkait harus merespons kematian sejumlah mahasiswa setelah mengikuti kegiatan Menwa dengan melakukan evaluasi ihwal keberadaan Menwa di lingkungan kampus.
Bila tidak dibutuhkan, menurutnya, Menwa di lingkungan kampus seharusnya ditiadakan.
"Harus mulai dari Kemhan, apakah kita butuh tentara cadangan. Sekarang kalau enggak ada kebutuhan, buat apa ada Menwa?" kata Indra kepada CNNIndonesia.com, Kamis (2/12).
Dia mengatakan ketiadaan kebutuhan akan keberadaan Menwa membuat lembaga tersebut tidak dikelola sosok yang profesional. Menurutnya, situasi itu kemudian membuat Menwa menjadi arena perpeloncoan atau bullying yang dilakukan oleh senior ke junior.
"Jadi arah ke bullying, ngerjain saja, rusak semua, tujuannya enggak jelas, sesuatu yang tujuan enggak jelas ya akan berantakan," ucapnya.
Indra berkata, kementerian terkait seharusnya mengelola Menwa di semua perguruan tinggi secara profesional. Menurutnya, kemeterian tidak boleh membiarkan mahasiswa yang mengikuti Menwa hanya sekadar mengenakan seragam ala militer tanpa mendapatkan pelatihan yang profesional.
"Bukan cuma pakai seragam doang terus yang melatih kakak kelas, itu akhirnya cuma ajang perpeloncoan saja yang zaman sekarang enggak ada manfaatnya," katanya.
"Kalau dikelola jadi bagian sumber daya manusia militer kita enggak mungkin akan seperti ini," imbuh Indra.
Pengamat pendidikan menilai memang sudah waktunya timbang ulang konsep keanggotaan Menwa sebagai sebuah organisasi kemahasiswa di kampus pada masa kini. (CNN Indonesia/Rosyid)
Terpisah pengamat pendidikan, Mohammad Abduzen, mendukung agar Kemendikbudristek membekukan sementara kegiatan Menwa di seluruh perguruan tinggi. Ia pun mendesak Kemendikbudristek mengonsep ulang Menwa dengan mempertimbangkan aspek pendidikan karakter.
Menurutnya, pola pengajaran di Menwa saat ini harus mengalami perubahan paradigma, termasuk dalam perekrutan anggota.
"Perlu direkonseptualisasi dengan mempertimbangkan aspek pendidikan karakter yang dikembangkan juga oleh pemerintah. Harus ada perubahan paradigma, misalnya yang jadi Menwa itu yang top ten dari sisi akademik di kampus itu, bukan hanya mengatakan, 'siap pak, siap pak', saja," katanya.
Menurut Abduzen inspirasi militeristik di tubuh menwa harus diwaspadai. Ia menilai insipirasi militeristik di tubuh Menwa berbahaya dan kerap membuatnya menjadi organisasi yang liar serta tidak terkendali.
Abduzen juga berkata inspirasi militeristik di tubuh Menwa yang sudah ada sejak era Orde Baru harus lebih diarahkan kepada kegiatan-kegiatan yang lebih membangun ke persahabatan. Menurutnya, anggota menwa tak boleh lagi menunjukkan sifat-sifat garang dan perkasa dalam kegiatannya.
"Memang perlu diwaspadai itu adalah insiprasi militeristik yang biasanya menginfiltrasi dalam pelatihan displin, itu berbahaya karena dia akan jadi semacam organisasi yang tampak liar dan tak terkendali," katanya.
Setelah peristiwa kematian mahasiswa di UNS, kala itu Mendagri Jenderal Pol (Purn) Tito Karnavian mengatakan kebijakan untuk membubarkan Menwa perlu kajian secara menyeluruh termasuk salah satunya dengan melihat kasus terkait.
"Kalau ada masalah sistem, kekerasan yang dilakukan secara sistematis dan masif misalnya, maka kita harus perbaiki sistemnya. Dengan rapat dengan Kemendikbud dan perwakilan Menwa agar mereka memperbaiki sistemnya," imbuh Mantan Kapolri itu di Yogyakarta, Senin (1/11).
Dalam prosesnya, kata Tito, tentu kajian juga tak akan serta merta mengenyampingkan kontribusi positif Menwa selama ini. Termasuk peran, organisasi yang lahir di masa Orde Lama itu dalam kerja sosial kemasyarakatan.
Sementara itu, Komandan Komando Nasional Menwa Indonesia, Ahmad Riza Patria, mengaku tak menampik desakan pembubaran organisasi itu menguat buntut kematian mahasiswa anggotanya di alam kegiatan. Namun menurutnya, desakan itu adalah hal yang biasa.
"Kegiatan-kegiatan sekolah, pendidikan, sejak lama ada yang seperti itu, tapi sejauh ini semakin kesini semakin berkurang dan semakin hilang. Kita minta semua bentuk proses pendidikan dan latihan lebih mengedepankan kegiatan-kegiatan yang persuasif, kegiatan-kegiatan yang lebih baik, tidak boleh ada unsur unsur kekerasan atau menonjolkan kegiatan fisik. Fisik dibutuhkan tetapi tidak boleh dominan," kata dia yang juga Wakil Gubernur DKI Jakarta saat dimintai pendapat terkait peristiwa di UPNVJ.