Epidemiolog: Virus Cepat Menular Lebih Berbahaya Dibanding Mematikan

CNN Indonesia
Sabtu, 04 Dec 2021 05:09 WIB
Varian virus Corona yang lebih menular mengakibatkan jumlah orang yang terpapar lebih banyak yang membuat potensi kematian juga tinggi. Ilustrasi pandemi covid-19 di Indonesia. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengatakan pandangan bahwa varian virus Corona yang lebih mematikan dianggap paling berbahaya tidak tepat.

Menurut Dicky, dalam konteks kesehatan masyarakat varian virus Corona dengan kemampuan menularnya 50 persen lebih tinggi lebih berbahaya daripada yang varian yang 50 persen lebih mematikan.

"Varian yang 50 persen lebih menular secara umum itu akan menyebabkan masalah yang lebih besar pada kesehatan masyarakat terutama dari pada varian yang 50 persen lebih mematikan," kata dia saat dihubungi CNNIndonesia.com, melalui aplikasi pesan pendek, Jumat (3/12).


Menurut Dicky, varian virus Corona yang lebih menular mengakibatkan jumlah orang yang terpapar lebih banyak. Ia tidak sependapat dengan pandangan yang menganggap remeh bahwa orang terpapar Covid-19 dan mengalami keadaan parah yang dirawat hanya 20 persen.

Sebab, persentase tersebut berbanding dengan jumlah masyarakat yang banyak. Hal ini membuat jumlah orang yang dirawat lebih banyak dan mengakibatkan tingkat kematian tinggi.

"Misalnya tadi dikatakan yang dirawat cuma 20 persen yang parah ya 20 persen dari 100 ribu, 20 persen dari 500 ribu kan besar dibanding 20 persen dari 1000 orang. Ya ini yang akhirnya ya yang dirawat lebih banyak, yang meninggal lebih banyak," kata Dicky.

Di sisi lain, ketika tingkat penularan virus tinggi juga membuka peluang orang yang tewas akibat terpapar virus lebih besar. Kata Dicky, persentase tingkat kematian memang tidak banyak berubah namun tetap bertambah banyak, mengikuti jumlah penduduk suatu negara yang terpapar virus.

"Kalau kematian Covid-19 kan 1 persen rata-rata, anggap saja 1 persen. Kemudian hunian ICU 5 persen, nah 1 persen dari 5 persen ini angkanya tetap persentasenya tetap tapi jumlahnya riilnya itu kan tergantung pada jumlah orang yang sakit di daerah atau negara itu," tuturnya.

"Jadi kurang tepat bahasa halusnya untuk mengatakan kalau kematian yang dianggap paling berbahaya," imbuh Dicky.

Karena itu, Dicky menekankan pentingnya pengurutan genom keseluruhan atau whole genome sequencing (WGS) guna mendeteksi keberadaan varian baru virus Corona.

Menurut Dicky, peningkatan jumlah pemeriksaan menggunakan metode WGS merupakan kabar yang menggembirakan. Sebab, metode tersebut berfungsi untuk memantau varian baru virus Corona.

"Yang namanya sequencing harus semakin besar, setidaknya di 1 persen 2 persen sudah cukup menggembirakan peningkatannya," tutur Dicky.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengklaim pihaknya akan berupaya mempercepat hasil tes pencarian strain virus corona (Covid-19) menggunakan metode pengurutan genom keseluruhan (Whole Genome Sequencing/WGS) guna mengantisipasi penyebaran varian SARS-CoV-2 B.1.1.529 atau yang dikenal dengan Covid-19 varian Omicron di Indonesia.

Budi menerangkan saat ini Indonesia hanya memiliki 12 laboratorium pemeriksaan WGS. Keterbatasan itu menurutnya, karena akses pemeriksaan WGS yang mahal dan sumber daya peneliti yang terbatas. Apalagi, sambungnya, perlu penggunaan teknologi ilumina atau dengan mesin Oxford Nanopore Teknologi.

"Sekarang yang kita lakukan adalah kita pastikan bahwa WGS dari 12 laboratorium ini kita percepat round time-nya, yang jadinya 2 minggu kita tekan ke 5 hari kalau bisa 3 hari," kata Budi dalam acara daring yang disiarkan melalui kanal YouTube Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung, dikutip Kamis (2/12).

(iam/ain)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER