Yahya Staquf Pimpin PBNU, Kemesraan dengan Jokowi Tak Terganggu
CNN Indonesia
Jumat, 24 Des 2021 16:22 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ketum PBNU terpilih Yahya Cholil Staquf. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Sementara dalam aspek keagamaan, Endang menilai Yahya akan terus melanjutkan penyebarluasan gagasan Islam Nusantara. Menurut dia, keduanya memiliki kesamaan untuk menentang ideologi Islam transnasional yang identik dengan kekerasan dan ekstemisme.
Endang menyebut Yahya akan melanjutkan proyek Islam toleran dan adaptif terhadap kebudayaan Nusantara.
"Kalau Pak Said kemarin memunculkan Islam Nusantara, Gus Yahya akan memperkuat kenusantaraan Islam itu," kata dia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, pengamat politik BRIN, Wasisto Jati memberi nilai tambah pada Yahya yang selama ini dikenal memiliki jaringan luas di lingkungan Islam internasional.
Menurut dia, latar belakang Yahya yang aktif di berbagai forum dunia akan memberi keuntungan bagi NU menyebarluaskan gagasan Islam Nusantara.
Wasis menilai, wacana Islam Nusantara selama ini belum keluar dan banyak diterima di negara-negara Islam lain, terutama di dunia non-Arab. Oleh karena itu dia meyakini Yahya akan mampu membawa gagasan tersebut dalam forum dialog umat beragama di dunia.
"Saya pikir Gus Yahya bisa melakukan internasionalisasi Islam Nusantara itu sebagai wacana Islam global dan mungkin panduan utama dialog antar iman," katanya.
Di samping itu, Wasis turut menyoroti arah politik NU jelang proses tahapan Pemilu serentak 2024 mendatang. Dia menyarankan NU mestinya mulai memikirkan upaya preventif untuk meredam ekspresi politik warga Nahdliyyin.
Menurut Wasis, langkah itu penting agar warga Nahdliyyin tak membawa simbol organisasi dalam kerja-kerja politik praktis. Karena hal itu pula, menurut dia, NU selama ini kerap dipandang miring karena dianggap terlalu dekat pemerintah.
"Pengurus baru perlu menyiapkan aksi preventif agar manuver dan ekspresi politik per individu warga Nahdlyyin agar jangan membawa nama dan menggunakan simbol NU secara organisasi," katanya.
Wasis mengkritik hubungan NU yang dilihat terlalu harmonis dengan pemerintah. Akibatnya, NU dalam posisi itu kehilangan citra populis di masyarakat. Wacana keislaman NU hanya dipandang sebelah mata, dan tak banyak mendapat simpati.
Dampaknya, banyak masyarakat akhirnya beralih simpati pada gerakan-gerakan Islam populis, yang keras dan korektif terhadap pemerintah. Di sisi lain, kondisi itu kata Wasis, juga menunjukkan bahwa NU tak banyak hadir di tengah masyarakat untuk mengatasi berbagai persoalan.
"Ini menunjukkan bahwa terjadi kekosongan wacana religius maupun juga minimnya interaksi para pengurus NU sebelumnya dengan umat muslim Indonesia sehingga banyak yang kemudian bersimpati pada gerakan populisme Islam," kata dia.
Muktamar NU ke-34 di Lampung telah menunjuk Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum PBNU periode 2021-2026. Yahya akan menggantikan Said Aqil Siradj yang telah memimpin NU selama dua periode sejak 2010 lewat Muktamar ke-32 di Makassar.
Yahya akan resmi menggantikan Said setelah unggul dalam proses pemilihan melalui voting oleh pengurus NU di tingkat cabang dan wilayah.
Dalam proses pemilihan yang digelar sejak Jumat (24/12) dini hari itu, eks Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) tersebut unggul dengan memperoleh 337 suara. Unggul 127 suara dari petahana yang mendapat 210 suara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yahya meraup lebih dari 61 persen suara dari total 550 pemilih yang merupakan peserta Muktamar dari pengurus NU tingkat cabang dan wilayah.
Yahya bahkan unggul dalam dua putaran pemilihan. Dalam proses penjaringan bakal calon ketua umum, sebelumnya, kakak Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas itu unggul dari empat pesaingnya dengan mengantongi 337 suara.
Sedangkan, Said Aqil Siraj ada di tempat kedua dengan 203 Suara. Lalu nama As'ad Said Ali dengan 17 suara, Marzuki Mustamar dengan 2 suara dan Ramadhan dengan 1 suara.
Arah Politik 2024
Muktamar NU ke-34 sekaligus akan mengantarkan NU di bawah kepemimpinan Yahya Staquf ke usia 100 tahun pada 2026, sejak didirikan pada 31 Januari 1926 silam. Lalu, bagaimana nasib organisasi Islam terbesar di Indonesia itu di tangan Staquf 5 tahun ke depan?
Guru Besar bidang Sosiologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Endang Turmudzi meyakini, Yahya tak akan membawa perubahan signifikan pada NU, terutama dalam arah politik maupun keagamaan.
Menurut dia, Yahya akan melanjutkan sebagian besar peninggalan Said Aqil selama dua periode kepemimpinan.
Endang terutama menyoroti keterlibatan NU dalam politik praktis selama satu dasawarsa terakhir di bawah Said Aqil. Menurut dia, kondisi itu tak akan berubah banyak di bawah Yahya hingga 2024, terlebih dia juga pernah dekat dengan Istana selama menjadi Wantimpres.
"Ini langkah yang dilakukan Pak Said kemarin seperti terlibat dalam politik praktis. Saya kira yang begini, saya menduga, ini akan dilanjutkan Gus Yahya. Lebih-lebih dia terlibat di pemerintahan sebagai Wantimpres," kata Endang kepada CNNIndonesia.com, Jumat (24/12).
Ke depan, dia memperkirakan NU tak akan banyak berkonfrontasi langsung dengan Pemerintahan Presiden Joko Widodo. NU kata dia akan tetap mesra dan dekat dengan penguasa, mengingat organisasi itu memiliki wakil di pemerintah, yang diduduki Ma'ruf Amin selaku Wakil Presiden.
Meski begitu, Endang juga meyakini bahwa NU akan tetap menjadi organisasi yang korektif.
"NU itu tidak akan memberontak kepada pemerintah yang sah. Tetapi bukan berarti NU akan mendukung sepenuhnya kalau pemerintah salah. Tetapi NU melakukan koreksi," katanya.
Jaringan Internasional dan Jaga NU dari Politik Praktis
Ketum PBNU terpilih Yahya Cholil Staquf. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Sementara dalam aspek keagamaan, Endang menilai Yahya akan terus melanjutkan penyebarluasan gagasan Islam Nusantara. Menurut dia, keduanya memiliki kesamaan untuk menentang ideologi Islam transnasional yang identik dengan kekerasan dan ekstemisme.
Endang menyebut Yahya akan melanjutkan proyek Islam toleran dan adaptif terhadap kebudayaan Nusantara.
"Kalau Pak Said kemarin memunculkan Islam Nusantara, Gus Yahya akan memperkuat kenusantaraan Islam itu," kata dia.
Sementara itu, pengamat politik BRIN, Wasisto Jati memberi nilai tambah pada Yahya yang selama ini dikenal memiliki jaringan luas di lingkungan Islam internasional.
Menurut dia, latar belakang Yahya yang aktif di berbagai forum dunia akan memberi keuntungan bagi NU menyebarluaskan gagasan Islam Nusantara.
Wasis menilai, wacana Islam Nusantara selama ini belum keluar dan banyak diterima di negara-negara Islam lain, terutama di dunia non-Arab. Oleh karena itu dia meyakini Yahya akan mampu membawa gagasan tersebut dalam forum dialog umat beragama di dunia.
"Saya pikir Gus Yahya bisa melakukan internasionalisasi Islam Nusantara itu sebagai wacana Islam global dan mungkin panduan utama dialog antar iman," katanya.
Di samping itu, Wasis turut menyoroti arah politik NU jelang proses tahapan Pemilu serentak 2024 mendatang. Dia menyarankan NU mestinya mulai memikirkan upaya preventif untuk meredam ekspresi politik warga Nahdliyyin.
Menurut Wasis, langkah itu penting agar warga Nahdliyyin tak membawa simbol organisasi dalam kerja-kerja politik praktis. Karena hal itu pula, menurut dia, NU selama ini kerap dipandang miring karena dianggap terlalu dekat pemerintah.
"Pengurus baru perlu menyiapkan aksi preventif agar manuver dan ekspresi politik per individu warga Nahdlyyin agar jangan membawa nama dan menggunakan simbol NU secara organisasi," katanya.
Wasis mengkritik hubungan NU yang dilihat terlalu harmonis dengan pemerintah. Akibatnya, NU dalam posisi itu kehilangan citra populis di masyarakat. Wacana keislaman NU hanya dipandang sebelah mata, dan tak banyak mendapat simpati.
Dampaknya, banyak masyarakat akhirnya beralih simpati pada gerakan-gerakan Islam populis, yang keras dan korektif terhadap pemerintah. Di sisi lain, kondisi itu kata Wasis, juga menunjukkan bahwa NU tak banyak hadir di tengah masyarakat untuk mengatasi berbagai persoalan.
"Ini menunjukkan bahwa terjadi kekosongan wacana religius maupun juga minimnya interaksi para pengurus NU sebelumnya dengan umat muslim Indonesia sehingga banyak yang kemudian bersimpati pada gerakan populisme Islam," kata dia.