Pro Kontra Museum Holocaust oleh Komunitas Yahudi di Minahasa

CNN Indonesia
Kamis, 03 Feb 2022 06:39 WIB
Museum Holocaust yang dibangun komunitas Yahudi di Minahasa, Sulawesi Utara menuai polemik. Indonesia sebagai negara punya sikap politik mendukung Palestina. Museum Holocaust yang dibangun komunitas Yahudi di Minahasa, Sulawesi Utara menuai polemik. Indonesia sebagai negara punya sikap politik mendukung Palestina. Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono
Jakarta, CNN Indonesia --

Museum Holocaust yang dibangun oleh komunitas Yahudi di Minahasa, Sulawesi Utara menuai polemik dari berbagai kalangan. Museum itu diresmikan bertepatan dengan peringatan hari Holocaust internasional pada 27 Januari 2022 lalu.

Salah satu pihak yang menentang keras terhadap pembangunan Museum itu datang dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Ketua MUI bidang Hubungan Luar Negeri, Sudarnoto Abdul Hakim meminta agar pembangunan Museum Holocaust itu dihentikan. Ia menilai pembangunan museum itu melukai segenap masyarakat Palestina.


"Pembangunan museum itu harus dihentikan. Saya mohon Pemda bersama dengan masyarakat di sana, MUI dan ormas dan kekuatan civil society harus bangun sensitivitas juga. Karena ini melukai masyarakat Palestina," kata Sudarnoto kepada CNNIndonesia.com, Rabu (2/2).

Kendati menolak, Sudarnoto mengaku tak setuju dengan tindakan holocaust yang dilakukan Nazi. Baginya, tindakan genosida dipastikan dilarang oleh semua agama.

"Kemanusiaannya oke. Semua agama apapun kejahatan holocaust itu kejahatan luar biasa dan bertentangan dengan agama," kata Sudarnoto.

Namun, ia mengatakan bahwa Museum Holocaust tak pas bila dibangun di Indonesia. Sebab, Indonesia sudah memiliki sikap untuk membela bangsa Palestina sampai saat ini.

Ia menilai pembangunan museum ini kemungkinan akan jadi momentum bagi para pemain politik di tingkat global atau di Israel. Hal ini bertujuan untuk makin dekatkan keinginannya meyakinkan Indonesia buka hubungan diplomatik Israel.

Sudarnoto juga berpendapat Museum itu lebih tepat dibangun di negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Bukan di Indonesia.

"Tak cocok di Indonesia. Di Singapura cocok untuk peringatan itu. Kita tahu bahwa hubungan diplomatik Singapura kuat. Ini tak ada relevansinya dengan sejarah di Indonesia," kata dia.

Penolakan juga datang dari Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Muhyiddin Junaidi. Muhyiddin meminta agar Kementerian Luar Negeri RI memanggil Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ina Lapel terkait kehadirannya dalam peresmian museum dan pameran Holocaust di Sulawesi Utara.

Ina Lapel sempat menghadiri peresmian Museum Holocaust itu pada 27 Januari 2022 lalu. Lapel menegaskan bahwa Jerman akan selalu mendukung peringatan terhadap kejadian yang dapat menjadi pelajaran universal tersebut.

"Kemenlu seyogyanya memanggil dubes Jerman untuk Indonesia guna mendapatkan klarifikasi lengkap sehubungan kehadirannya pada pembukaan Museum tersebut," kata Muhyiddin, Rabu (2/2).

Merespons penolakan itu, Hadassah of Indonesia, organisasi yang bergerak terkait isu Yahudi dan Israel menyebut tidak ada Museum Holocaust di Minahasa. Barang-barang terkait Holocaust yang dipamerkan di Minahasa disebut hanya untuk kepentingan pameran yang berlangsung selama satu tahun.

"Setahu saya itu pameran Holocaust di Sinagoga di Minahasa. Itu pameran selama 1 tahun. Jadi bukan museum. Karena bangunannya utama fungsinya Sinagoga. Dan itu tak masalah sebetulnya," kata pendiri Hadassah of Indonesia, Monique Rijkers kepada CNNIndonesia.com, Rabu (2/2).

Monique berpendapat pameran Holocaust itu itu memiliki peran penting. Sebab, edukasi soal peristiwa Holocaust di Indonesia selama ini masih sangat minim.

Ia menyinggung sempat membuat film berjudul 'Nina Bobo untuk Bobby' untuk mengedukasi peristiwa kelam di masa lampau yang warga Yahudi di Eropa.

"Itu untuk edukasi bahwa Holocaust itu ada. Dan banyak juga orang baik. Seperti orang Indonesia yang nolong orang Yahudi. Lalu saya bikin video 6 orang Muslim menyelamatkan Yahudi saat Holocaust," kata dia.

Sementara itu, Center For Inter Religious Study and Traditions (CFIRST), sebuah forum kajian antar budaya dan agama menilai Museum Holocaust di Sulawesi Utara untuk mengingatkan adanya peristiwa kejahatan genosida yang dilakukan Nazi terhadap bangsa Yahudi.

Anggota CFIRST, Pendeta M Arif Mirdjaja sangat menyayangkan penolakan dari para pejabat MUI yang meminta untuk menghancurkan museum tersebut. Pasalnya, hal tersebut berpotensi sebagai pernyataan antisemit yang ingin menghapus memori kekejaman Nazi.

"Jadi orang-orang yang merasa terganggu dengan upaya pengungkapan kebenaran dari peristiwa kejahatan di masa lalu dapat ditafsirkan setuju dengan holocaust dan jelas-jelas menunjukkan perilaku antisemit dan mungkin saja pro Nazi Hitler," kata Arif dalam keterangan resminya, Rabu (2/2).

Pemerintah melalui Wakil Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Steven Kandouw turut mengapresiasi pembangunan Museum Holocaust. Steven mengatakan keberadaan Museum Holocaust menjadi catatan sejarah dunia.

Steven mengaku sebuah kehormatan besar Minahasa bisa menjadi lokasi pembangunan museum tersebut. Menurutnya, pembangunan museum itu sudah tepat, karena hidup antarumat beragama di Sulut sangat baik.

"Apresiasi yang tinggi atas dibangunnya gedung museum pertama di Asia Tenggara di Tondano Minahasa. Ini menjadi catatan sejarah, karena bukan hanya se-Indonesia, tapi se-Asia Tenggara," kata Steven di Kantor Gubernur Sulut, Jumat (28/1).

(rzr/gil)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER