PTM 10 Sekolah Palembang Disetop Imbas Covid, 6 Kasus Omicron di Sumut
CNN Indonesia
Selasa, 08 Feb 2022 02:15 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi. Ruang kelas disemprot disinfektan demi mencegah penularan Covid-19 di lingkungan sekolah. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Palembang, CNN Indonesia --
Pemerintah Kota Palembang, Sumatera Selatan menghentikan pembelajaran tatap muka (PTM) di 10 sekolah imbas siswa yang terkonfirmasi positif Covid-19.
Kepala Dinas Kesehatan Palembang Fenty Aprina mengatakan, 10 sekolah tersebut ditutup hingga 14 hari ke depan seraya melakukan tracing khusus setelah didapati beberapa siswa terkonfirmasi positif Covid-19. Tracing dilakukan terhadap kontak erat, baik siswa maupun tenaga pengajar yang ada di sekolah.
"Dalam 14 hari ke depan akan dilakukan tracing serta sterilisasi di lingkungan sekolah. Untuk teknisnya dilakukan oleh Dinas Pendidikan," ujar Fenty, Senin (7/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Dinas Pendidikan Palembang Ahmad Zulinto mengatakan, selain penutupan di sekolah yang siswanya terkonfirmasi Covid-19, pihaknya pun memberlakukan PTM terbatas dengan kapasitas 50 persen di seluruh sekolah. Hal tersebut juga tindak lanjut dari Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level dua di Palembang.
"Ini sedikit berbeda dari PTM terbatas tahun lalu. Di jeda sif satu dan dua, nantinya akan diberi jeda selama 15 menit untuk mencegah penumpukan atau kerumunan saat pergerakan siswa di waktu jeda tersebut," ujar Zulinto.
Kasus Covid-19 di Sumsel kembali meningkat sejak pekan akhir Januari lalu.
Hari belajar pun dikurangi menjadi dua hari dalam satu pekan dan setiap kelas maksimum 17 siswa yang hadir dalam PTM terbatas. Satu jam pelajaran dibatasi hanya 30 menit, dan satu hari maksimal empat mata pelajaran. Siswa lainnya yang tidak hadir di kelas tetap mengikuti kegiatan belajar-mengajar secara daring.
"Dengan ini kami harap penularan Covid-19 di lingkungan seklolah dapat diminimalisir," ungkap dia.
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Sumsel Lesty Nurainy berujar, peningkatan kasus Covid-19 kembali terjadi sejak pekan akhir Januari hingga awal Februari. Lonjakan kasus Covid-19 naik mencapai rata-rata 100 kasus per hari, tertinggi sebanyak 183 kasus pada Sabtu (5/2) lalu. Palembang menjadi daerah sebaran kasus Covid-19 tertinggi di Sumsel.
"Pada Oktober 2021 hingga Januari 2022, itu rata-rata penambahan kasus Covid-19 harian hanya satu-sepuluh orang. Bahkan pernah dalam satu hari tidak ada penambahan. Lonjakan ini akibat dari penerapan protokol kesehatan yang mulai kendor di tengah masyarakat," ujar Lesty.
Ia mengaku kenaikan kasus sepekan terakhir dianggap mengkhawatirkan. Meski begitu, dirinya meyakini sebaran varian Omicron yang saat ini diduga telah menjadi transmisi lokal di Sumsel tidak lebih ganas dari varian Delta seperti sebelumnya.
Sejauh ini, hingga berita ditulis pada Senin siang, Pemprov Sumsel belum membahas terkait langkah lanjutan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Pihaknya masih mengkaji opsi tersebut melihat perkembangan kasus dalam beberapa waktu ke depan.
Lesty mengimbau, setiap kegiatan di luar ruangan yang mengundang kerumunan harus dipantau menggunakan aplikasi PeduliLindungi.
"Bagi seluruh penyelenggaraan kegiatan juga harus menjamin prokes dilaksanakan dengan baik. Juga aplikasi PeduliLindungi yang sudah menjadi komitmen antara gubernur dan Forkopimda ini agar diterapkan seluruh area publik," kata dia.
Baca halaman selanjutnya, temuan kasus Omicron di Sumatera Utara.
Kasus Covid-19 varian Omicron di Sumatera Utara (Sumut) mulai mengalami peningkatan. Dari 329 orang yang probable Omicron, 6 di antaranya dinyatakan positif terpapar.
"Probable Omicron sebanyak 329 orang, 6 di antaranya konfirmasi positif omicron," kata Tim Satgas Covid-19 Sumut, Inke Nadia dalam rapat pembahasan kasus Covid-19 dan evaluasi PPKM di Rumah Dinas Gubernur Sumut, Medan, Senin (7/2).
Dalam kesempatan itu, Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi mengaku khawatir terjadi lonjakan Covid-19 di Sumut akibat varian Omicron ini.
"Ini memang harus benar-benar kita jaga, saya tak mau terulang kejadikan lonjakan Covid seperti pada Agustus 2021 lalu," ucap Edy
Edy meminta seluruh kepala daerah di Sumut untuk benar-benar melakukan sosialisasi ke masyarakat bahwa yang paling ampuh dalam memutus Covid-19 adalah protokol kesehatan.
"Karena yang saat ini paling ampuh adalah protokol kesehatan. Jadi ini semua benar-benar dicatat dibagikan dan ditaati," pesannya.
Selain itu, Edy menegaskan akan dilakukan kembali pembatasan pembatasan untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19.
"Pembatasan-pembatasan dilakukan kembali. Seperti yang lalu, pendidikan 50 persen, pekerjaan di dinas dinas 50 persen. Kita belum ada melakukan penyekatan. Kita masih melakukan agar rakyat kita lebih disiplin," bebernya.
Gubernur Edy Minta Diberlakukan Pembelajaran Campuran
Gubernur Sumut Edy Rahmayadi menginstruksikan agar seluruh kabupaten/kota agar memberlakukan sistem pembelajaran campuran (hybrid learning) yaitu 50 persen daring dan 50 persen luring (tatap muka).
"Untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan kasus Covid-19, terutama varian Omicron di Sumatera Utara (Sumut), pembelajaran secara hybrid, mulai 7 Februari sampai pemberitahuan lebih lanjut," kata Edy Rahmayadi, Senin (7/2).
Selain itu, Edy Rahmayadi juga meminta kabupaten/kota melakukan surveilans epidemiologi, apabila menemukan kasus aktif di satuan pendidikan. Selain itu, pembelajaran tatap muka terbatas akan dihentikan apabila positivity rate lebih dari 5 persen.
Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Sumut, Inke Nadia D Lubis mengatakan dalam seminggu terakhir ada 94 kasus baru penularan pada anak. Berbanding terbalik dengan minggu sebelumnya yang hanya tujuh kasus. Proporsi kasus anak menyumbang 20% dari seluruh total kasus penularan.
"Biasanya kasus anak hanya menyumbang 10%, tapi saat ini kontribusi anak lebih dari 20 persen, mungkin karena berjalannya PTM. Pada kasus varian delta anak umur 12-17 tahun menyumbang kasus terbanyaknya yakni 47 persen, 6-11 tahun sebanyak 32%, 1-5 tahun 18 persen, dan di bawah 1 tahun sebanyak 3 persen," urainya.
Sementara itu, Anggota Satgas Penanganan Covid- 19 Sumut Restuti Saragih meminta seluruh Satgas Penanganan Covid-19 kabupaten/kota untuk segera melaksanakan monitoring evaluasi PTM terbatas.
"Diharapkan satgas untuk meningkatkan kecepatan cakupan vaksinasi primer dan vaksinasi booster pada pendidik, tenaga kependidikan, siswa atau mahasiswa, orang tua dan keluarga serta seluruh civitas akademika," beber Restuti.
Pemerintah Kota Palembang, Sumatera Selatan menghentikan pembelajaran tatap muka (PTM) di 10 sekolah imbas siswa yang terkonfirmasi positif Covid-19.
Kepala Dinas Kesehatan Palembang Fenty Aprina mengatakan, 10 sekolah tersebut ditutup hingga 14 hari ke depan seraya melakukan tracing khusus setelah didapati beberapa siswa terkonfirmasi positif Covid-19. Tracing dilakukan terhadap kontak erat, baik siswa maupun tenaga pengajar yang ada di sekolah.
"Dalam 14 hari ke depan akan dilakukan tracing serta sterilisasi di lingkungan sekolah. Untuk teknisnya dilakukan oleh Dinas Pendidikan," ujar Fenty, Senin (7/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Dinas Pendidikan Palembang Ahmad Zulinto mengatakan, selain penutupan di sekolah yang siswanya terkonfirmasi Covid-19, pihaknya pun memberlakukan PTM terbatas dengan kapasitas 50 persen di seluruh sekolah. Hal tersebut juga tindak lanjut dari Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level dua di Palembang.
"Ini sedikit berbeda dari PTM terbatas tahun lalu. Di jeda sif satu dan dua, nantinya akan diberi jeda selama 15 menit untuk mencegah penumpukan atau kerumunan saat pergerakan siswa di waktu jeda tersebut," ujar Zulinto.
Kasus Covid-19 di Sumsel kembali meningkat sejak pekan akhir Januari lalu.
Hari belajar pun dikurangi menjadi dua hari dalam satu pekan dan setiap kelas maksimum 17 siswa yang hadir dalam PTM terbatas. Satu jam pelajaran dibatasi hanya 30 menit, dan satu hari maksimal empat mata pelajaran. Siswa lainnya yang tidak hadir di kelas tetap mengikuti kegiatan belajar-mengajar secara daring.
"Dengan ini kami harap penularan Covid-19 di lingkungan seklolah dapat diminimalisir," ungkap dia.
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Sumsel Lesty Nurainy berujar, peningkatan kasus Covid-19 kembali terjadi sejak pekan akhir Januari hingga awal Februari. Lonjakan kasus Covid-19 naik mencapai rata-rata 100 kasus per hari, tertinggi sebanyak 183 kasus pada Sabtu (5/2) lalu. Palembang menjadi daerah sebaran kasus Covid-19 tertinggi di Sumsel.
"Pada Oktober 2021 hingga Januari 2022, itu rata-rata penambahan kasus Covid-19 harian hanya satu-sepuluh orang. Bahkan pernah dalam satu hari tidak ada penambahan. Lonjakan ini akibat dari penerapan protokol kesehatan yang mulai kendor di tengah masyarakat," ujar Lesty.
Ia mengaku kenaikan kasus sepekan terakhir dianggap mengkhawatirkan. Meski begitu, dirinya meyakini sebaran varian Omicron yang saat ini diduga telah menjadi transmisi lokal di Sumsel tidak lebih ganas dari varian Delta seperti sebelumnya.
Sejauh ini, hingga berita ditulis pada Senin siang, Pemprov Sumsel belum membahas terkait langkah lanjutan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Pihaknya masih mengkaji opsi tersebut melihat perkembangan kasus dalam beberapa waktu ke depan.
Lesty mengimbau, setiap kegiatan di luar ruangan yang mengundang kerumunan harus dipantau menggunakan aplikasi PeduliLindungi.
"Bagi seluruh penyelenggaraan kegiatan juga harus menjamin prokes dilaksanakan dengan baik. Juga aplikasi PeduliLindungi yang sudah menjadi komitmen antara gubernur dan Forkopimda ini agar diterapkan seluruh area publik," kata dia.
Baca halaman selanjutnya, temuan kasus Omicron di Sumatera Utara.
6 Kasus Omicron Ditemukan di Sumut
Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi memberikan keterangan kepada wartawan. (CNNIndonesia/Farida)
Kasus Covid-19 varian Omicron di Sumatera Utara (Sumut) mulai mengalami peningkatan. Dari 329 orang yang probable Omicron, 6 di antaranya dinyatakan positif terpapar.
"Probable Omicron sebanyak 329 orang, 6 di antaranya konfirmasi positif omicron," kata Tim Satgas Covid-19 Sumut, Inke Nadia dalam rapat pembahasan kasus Covid-19 dan evaluasi PPKM di Rumah Dinas Gubernur Sumut, Medan, Senin (7/2).
Dalam kesempatan itu, Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi mengaku khawatir terjadi lonjakan Covid-19 di Sumut akibat varian Omicron ini.
"Ini memang harus benar-benar kita jaga, saya tak mau terulang kejadikan lonjakan Covid seperti pada Agustus 2021 lalu," ucap Edy
Edy meminta seluruh kepala daerah di Sumut untuk benar-benar melakukan sosialisasi ke masyarakat bahwa yang paling ampuh dalam memutus Covid-19 adalah protokol kesehatan.
"Karena yang saat ini paling ampuh adalah protokol kesehatan. Jadi ini semua benar-benar dicatat dibagikan dan ditaati," pesannya.
Selain itu, Edy menegaskan akan dilakukan kembali pembatasan pembatasan untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19.
"Pembatasan-pembatasan dilakukan kembali. Seperti yang lalu, pendidikan 50 persen, pekerjaan di dinas dinas 50 persen. Kita belum ada melakukan penyekatan. Kita masih melakukan agar rakyat kita lebih disiplin," bebernya.
Gubernur Edy Minta Diberlakukan Pembelajaran Campuran
Gubernur Sumut Edy Rahmayadi menginstruksikan agar seluruh kabupaten/kota agar memberlakukan sistem pembelajaran campuran (hybrid learning) yaitu 50 persen daring dan 50 persen luring (tatap muka).
"Untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan kasus Covid-19, terutama varian Omicron di Sumatera Utara (Sumut), pembelajaran secara hybrid, mulai 7 Februari sampai pemberitahuan lebih lanjut," kata Edy Rahmayadi, Senin (7/2).
Selain itu, Edy Rahmayadi juga meminta kabupaten/kota melakukan surveilans epidemiologi, apabila menemukan kasus aktif di satuan pendidikan. Selain itu, pembelajaran tatap muka terbatas akan dihentikan apabila positivity rate lebih dari 5 persen.
Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Sumut, Inke Nadia D Lubis mengatakan dalam seminggu terakhir ada 94 kasus baru penularan pada anak. Berbanding terbalik dengan minggu sebelumnya yang hanya tujuh kasus. Proporsi kasus anak menyumbang 20% dari seluruh total kasus penularan.
"Biasanya kasus anak hanya menyumbang 10%, tapi saat ini kontribusi anak lebih dari 20 persen, mungkin karena berjalannya PTM. Pada kasus varian delta anak umur 12-17 tahun menyumbang kasus terbanyaknya yakni 47 persen, 6-11 tahun sebanyak 32%, 1-5 tahun 18 persen, dan di bawah 1 tahun sebanyak 3 persen," urainya.
Sementara itu, Anggota Satgas Penanganan Covid- 19 Sumut Restuti Saragih meminta seluruh Satgas Penanganan Covid-19 kabupaten/kota untuk segera melaksanakan monitoring evaluasi PTM terbatas.
"Diharapkan satgas untuk meningkatkan kecepatan cakupan vaksinasi primer dan vaksinasi booster pada pendidik, tenaga kependidikan, siswa atau mahasiswa, orang tua dan keluarga serta seluruh civitas akademika," beber Restuti.