Ajaran Kartosowiryo di Balik Penggerebekan Khilafatul Muslimin
CNN Indonesia
Jumat, 17 Jun 2022 11:23 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Barang bukti hasil penggerebekan markas Khilafatul Muslimin. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --
Polisimengamankan sejumlah buku ajar terkait ajaran Kartosoewiryo dalam sejumlah penggerebekan anggota Khilafalatul Muslimin di sejumlah daerah. Sejumlah barang bukti ajaran Darul Islam itu dimuat dalam buku saku yang menjadi tuntunan sehari-hari para anggota Khilafatul Muslimin.
Kartosoewiryo merupakan momok pada masa kepemimpinan Presiden Sukarno. Laki-laki kelahiran 7 Januari 1907 di Cepu itu menyulut pemberontakan pertama pascakemerdekaan dengan organisasi yang ia dirikan, Darul Islam atau Negara Islam, sebuah organisasi yang bercita-cita mengubah Indonesia menjadi negara Islam.
Solahudin dalam bukunya NII Sampai JI, Salafy Jihadisme di Indonesia menyebut meskipun paham yang dibangun Kartosoewiryo mirip Salafy Jihadi, riwayat pembelajaran Kartosoewiryo justru tak bisa terlepas dari kelompok tradisional yang bermadzhab Syafii.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akar Pemahaman DI Kartosoewiryo
Kartosoewiryo mulanya merupakan mahasiswa kedokteran Nederlandsch-Indische Artsen School (NIAS). Namun ia dikeluarkan karena kedapatan memiliki buku-buku sosialis dan komunis.
Kartosoewiryo kemudian direkrut pimpinan Partai Sarekat Islam (PSI) HOS. Tjokroaminoto. Di partai inilah ia mulai aktif mendalami Islam.
Pada satu waktu, Kartosoewiryo mengikuti Tjokroaminoto ke Garut. Di sana ia belajar kepada sejumlah ulama tradisionalis dan diduga menganut salah satu ajaran thoriqoh yang kelak karena itu, Kartosoewiryo dicap sesat oleh kelompok Salafy.
Sementara itu, Kartosoewiryo meresapi ajaran-ajaran PSI yang saat itu memiliki ambisi mewujudkan negara Islam.
"PSI memang sebuah partai yang menuntut berlakunya syariat Islam, di dalam arti kata yang seluas-luas dan sesempurna-sempurnanya, menurut contoh dan teladan yang nyata di dalam sunnah Rasulullah (Solahudin, 2011: 58).
Lebih lanjut, Solahudin menyebut PSI tak hanya bercita-cita menjadikan Indonesia negara Islam melainkan pan Islamisme: sebuah gagasan yang ingin menyatukan Islam di dunia di bawah panji kekhilafahan.
Dua hal ini, gagasan PSI dan ajaran Islam yang diperolehnya, membentuk keyakinan Kartosoewiryo bahwa penting bagi umat Islam mendirikan negara Islam.
Di dalam negara Islam, menurut Kartosoewiryo masyarakat bisa menjalankan syariat Islam. Ia juga yakin dengan mendirikan negara Islam atau Darul Islam harkat dan martabat bangsa Indonesia bisa ditingkatkan.
Kartosoewiryo kemudian menjadi orang pertama yang mencetuskan istilah begara Islam atau Darul Islam. Selain itu, Kartosoewiryo juga terpengaruh PSI yang bersikap non kompromi terhadap Belanda.
Hijrah
Untuk mewujudkan Darul Islam, Kartosoewiryo menyusun beberapa cara. Ia mempelajari kunci kemenangan dalam sejarah Nabi Muhammad yakni, hijrah dan jihad.
Menurut Solahudin, Kartosoewiryo tidak hanya mendudukkan sejarah Nabi Muhammad sebagai pengetahuan, melainkan contoh yang harus ditiru.
Ia mengkontekstualisasikan hijrah dan jihad Nabi Muhammad. Menurutnya, dalam konteks Indonesia saat itu hijrah berarti hijrah dari Mekkah Indonesia menuju Madinah Indonesia.
Pernyataan ini berarti bahwa Makkah Indonesia merupakan Indonesia yang tidak menganut hukum Islam. Sementara, Madinah Indonesia merupakan Indonesia yang menganut hukum Islam (Solahudin, 2011: 60).
Klik untuk selanjutnya
Kartosoewiryo mulanya tidak menganut paham jihad bi ma'na qital atau jihad dengan perang. Namun, pemahamannya berbalik 180 derajat pascakemerdekaan.
Solahudin mengatakan Kartosoewiryo memimpin pasukan Hizbullah di Garut dan melakukan perang sabil melawan Belanda pada 1947.
Setahun sebelumnya, berkembang pemahaman bahwa jihad merupakan fardhu 'ain atau kewajiban individual. Paham ini mendudukkan orang Belanda sebagai kafir harbi atau kafir yang mesti diperangi. Paham ini persis dengan paham Salafy Jihadi.
Pemahaman semacam itu tumbuh subur di masa kemerdekaan dalam perang melawan Belanda dan menjadi semacam euforia jihad. Setelah Belanda terusir banyak kelompok Islam kembali menempuh jalur politik. Namun berbeda dengan Kartosoewiryo.
Ia memandang jihad sebagai kewajiban umat Islam dan menggunakan cara 'jihad teror' kepada orang yang dianggap musuh.
"Pada 1948 ia memerintahkan anak buahnya melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap semua pengkhianat agama, negara, dan bangsa," tulis Solahudin.
Paham ini kemudian dilaksanakan oleh pengikutnya di banyak tempat di Jawa Barat.
Sikap pemerintah Soekarno yang mau berunding dengan Belanda membuat Kartosoewiryo kecewa. Terlebih perjanjian Renville pada 17 Januari 1948 dianggap merugikan Indonesia.
Kartosoewiryo kemudian memproklamasikan sebagai pemimpin atau imam negara baru bernama Darul Islam pada Mei 1948 dengan wilayah Jawa Barat. Ia memandang perjanjian Renville telah membuat Indonesia bubar.
"Dia merasa punya hak untuk mendirikan negara baru yang sudah menjadi cita-citanya sejak lama, yaitu negara Islam," tulis Solahudin.
Pada akhirnya, meski pernah memerangi pasukan Belanda, pasukan Kartosoewiryo juga memerangi tentara Indonesia hingga warga sipil. Perang yang dikobarkan Kartosoewiryo berlangsung selama 13 tahun. Gerakan Kartosoewiryo kemudian berhasil ditumpas pada akhir 1962.
Setelah kekuatan pasukannya terus melemah, Kartosoewiryo terpojok. Ia kemudian berpamitan pada keluarganya pada pagi buta 5 September 1962.
"Kartosoewiryo dibawa regu penembak ke sebuah pulau di Kepulauan Seribu. Pukul 05.50 tepat, regu tembak melakukan eksekusi mati," tulis Solahudin.
Meski gerakannya ditumpas, paham yang pernah dianut dan diajarkan Kartosoewiryo tetap hidup. Sejumlah mantan anggota DI kemudian berkosolidasi pada 1970 an dan menghidupkan kembali ajaran 'jihad berarti perang' Kartosoewiryo. Solahudin menyebut perjalanan DI tahun 1970-1981 ini kemudian dikenal sebagai periode Komando Jihad.
Jakarta, CNN Indonesia --
Polisimengamankan sejumlah buku ajar terkait ajaran Kartosoewiryo dalam sejumlah penggerebekan anggota Khilafalatul Muslimin di sejumlah daerah. Sejumlah barang bukti ajaran Darul Islam itu dimuat dalam buku saku yang menjadi tuntunan sehari-hari para anggota Khilafatul Muslimin.
Kartosoewiryo merupakan momok pada masa kepemimpinan Presiden Sukarno. Laki-laki kelahiran 7 Januari 1907 di Cepu itu menyulut pemberontakan pertama pascakemerdekaan dengan organisasi yang ia dirikan, Darul Islam atau Negara Islam, sebuah organisasi yang bercita-cita mengubah Indonesia menjadi negara Islam.
Solahudin dalam bukunya NII Sampai JI, Salafy Jihadisme di Indonesia menyebut meskipun paham yang dibangun Kartosoewiryo mirip Salafy Jihadi, riwayat pembelajaran Kartosoewiryo justru tak bisa terlepas dari kelompok tradisional yang bermadzhab Syafii.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akar Pemahaman DI Kartosoewiryo
Kartosoewiryo mulanya merupakan mahasiswa kedokteran Nederlandsch-Indische Artsen School (NIAS). Namun ia dikeluarkan karena kedapatan memiliki buku-buku sosialis dan komunis.
Kartosoewiryo kemudian direkrut pimpinan Partai Sarekat Islam (PSI) HOS. Tjokroaminoto. Di partai inilah ia mulai aktif mendalami Islam.
Pada satu waktu, Kartosoewiryo mengikuti Tjokroaminoto ke Garut. Di sana ia belajar kepada sejumlah ulama tradisionalis dan diduga menganut salah satu ajaran thoriqoh yang kelak karena itu, Kartosoewiryo dicap sesat oleh kelompok Salafy.
Sementara itu, Kartosoewiryo meresapi ajaran-ajaran PSI yang saat itu memiliki ambisi mewujudkan negara Islam.
"PSI memang sebuah partai yang menuntut berlakunya syariat Islam, di dalam arti kata yang seluas-luas dan sesempurna-sempurnanya, menurut contoh dan teladan yang nyata di dalam sunnah Rasulullah (Solahudin, 2011: 58).
Lebih lanjut, Solahudin menyebut PSI tak hanya bercita-cita menjadikan Indonesia negara Islam melainkan pan Islamisme: sebuah gagasan yang ingin menyatukan Islam di dunia di bawah panji kekhilafahan.
Dua hal ini, gagasan PSI dan ajaran Islam yang diperolehnya, membentuk keyakinan Kartosoewiryo bahwa penting bagi umat Islam mendirikan negara Islam.
Di dalam negara Islam, menurut Kartosoewiryo masyarakat bisa menjalankan syariat Islam. Ia juga yakin dengan mendirikan negara Islam atau Darul Islam harkat dan martabat bangsa Indonesia bisa ditingkatkan.
Kartosoewiryo kemudian menjadi orang pertama yang mencetuskan istilah begara Islam atau Darul Islam. Selain itu, Kartosoewiryo juga terpengaruh PSI yang bersikap non kompromi terhadap Belanda.
Hijrah
Untuk mewujudkan Darul Islam, Kartosoewiryo menyusun beberapa cara. Ia mempelajari kunci kemenangan dalam sejarah Nabi Muhammad yakni, hijrah dan jihad.
Menurut Solahudin, Kartosoewiryo tidak hanya mendudukkan sejarah Nabi Muhammad sebagai pengetahuan, melainkan contoh yang harus ditiru.
Ia mengkontekstualisasikan hijrah dan jihad Nabi Muhammad. Menurutnya, dalam konteks Indonesia saat itu hijrah berarti hijrah dari Mekkah Indonesia menuju Madinah Indonesia.
Pernyataan ini berarti bahwa Makkah Indonesia merupakan Indonesia yang tidak menganut hukum Islam. Sementara, Madinah Indonesia merupakan Indonesia yang menganut hukum Islam (Solahudin, 2011: 60).
Klik untuk selanjutnya
Paham Jihad Kartosoewiryo
Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono
Kartosoewiryo mulanya tidak menganut paham jihad bi ma'na qital atau jihad dengan perang. Namun, pemahamannya berbalik 180 derajat pascakemerdekaan.
Solahudin mengatakan Kartosoewiryo memimpin pasukan Hizbullah di Garut dan melakukan perang sabil melawan Belanda pada 1947.
Setahun sebelumnya, berkembang pemahaman bahwa jihad merupakan fardhu 'ain atau kewajiban individual. Paham ini mendudukkan orang Belanda sebagai kafir harbi atau kafir yang mesti diperangi. Paham ini persis dengan paham Salafy Jihadi.
Pemahaman semacam itu tumbuh subur di masa kemerdekaan dalam perang melawan Belanda dan menjadi semacam euforia jihad. Setelah Belanda terusir banyak kelompok Islam kembali menempuh jalur politik. Namun berbeda dengan Kartosoewiryo.
Ia memandang jihad sebagai kewajiban umat Islam dan menggunakan cara 'jihad teror' kepada orang yang dianggap musuh.
"Pada 1948 ia memerintahkan anak buahnya melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap semua pengkhianat agama, negara, dan bangsa," tulis Solahudin.
Paham ini kemudian dilaksanakan oleh pengikutnya di banyak tempat di Jawa Barat.
Sikap pemerintah Soekarno yang mau berunding dengan Belanda membuat Kartosoewiryo kecewa. Terlebih perjanjian Renville pada 17 Januari 1948 dianggap merugikan Indonesia.
Kartosoewiryo kemudian memproklamasikan sebagai pemimpin atau imam negara baru bernama Darul Islam pada Mei 1948 dengan wilayah Jawa Barat. Ia memandang perjanjian Renville telah membuat Indonesia bubar.
"Dia merasa punya hak untuk mendirikan negara baru yang sudah menjadi cita-citanya sejak lama, yaitu negara Islam," tulis Solahudin.
Pada akhirnya, meski pernah memerangi pasukan Belanda, pasukan Kartosoewiryo juga memerangi tentara Indonesia hingga warga sipil. Perang yang dikobarkan Kartosoewiryo berlangsung selama 13 tahun. Gerakan Kartosoewiryo kemudian berhasil ditumpas pada akhir 1962.
Setelah kekuatan pasukannya terus melemah, Kartosoewiryo terpojok. Ia kemudian berpamitan pada keluarganya pada pagi buta 5 September 1962.
"Kartosoewiryo dibawa regu penembak ke sebuah pulau di Kepulauan Seribu. Pukul 05.50 tepat, regu tembak melakukan eksekusi mati," tulis Solahudin.
Meski gerakannya ditumpas, paham yang pernah dianut dan diajarkan Kartosoewiryo tetap hidup. Sejumlah mantan anggota DI kemudian berkosolidasi pada 1970 an dan menghidupkan kembali ajaran 'jihad berarti perang' Kartosoewiryo. Solahudin menyebut perjalanan DI tahun 1970-1981 ini kemudian dikenal sebagai periode Komando Jihad.