Wajah Muram Berdebu Tebet Dikepung Distro, Kafe hingga Eco Park

CNN Indonesia
Rabu, 22 Jun 2022 12:53 WIB
Tebet tak lagi tenang dan asri. Distro dan kafe yang menjamur telah memicu kemacetan dan polusi. Ditambah lagi oleh Tebet Eco Park. Orang-orang rela antre dan berdesakan demi menjajal jembatan viral di kawasan Tebet Eco Park. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kopi hitam dingin yang sudah tercampur debu dan asap kendaraan tergeletak di kursi plastik bersama sebungkus rokok. Pemiliknya, Asep, sedang duduk termangu di lapak kecil ukuran 1x2 meter tanpa pintu.

Asep telah lama menggelar lapak rokok dan aneka minuman di kawasan Tebet Utara. Kira-kira sudah belasan tahun menurut pengakuannya. Berada tepat di pinggir jalan raya, Asep menjadi saksi perkembangan Tebet dari awal 2000-an hingga sekarang. 

Tebet hari ini semakin sesak dan padat. Dari lapak kecilnya Asep seakan berkawan akrab dengan asap knalpot dan jerit klakson kendaraan yang berlalu lalang.

Kawasan yang ditinggali Asep memang salah satu pusat keramaian di Tebet.

Tak jauh dari Tebet Utara, tepatnya di Tebet Utara Dalam, deretan distro (distribution store) pakaian dan kafe tempat anak muda bergaul terhampar. Jalan sepanjang kurang lebih satu kilometer itu awalnya merupakan kawasan permukiman. Asep mengatakan transformasi terjadi pada awal 2000-an dan semakin masif pada 2004 dan seterusnya. 

Banyak permukiman kini berubah menjadi distro dan kafe yang tak pernah sepi pengunjung. Ironisnya, lahan parkir yang mereka sediakan tak seberapa. Dengan keterbatasan itu, mobil atau motor para pengunjung kerap diparkir di bahu jalan yang hanya muat untuk dua mobil.

Pada weekend, ketika anak muda keluyuran di Tebet, jalan pendek itu berubah menjadi biang kemacetan. Pengunjung distro, mobil yang meluber ke bahu jalan hingga lapak kaki lima di trotoar membuat situasi jadi kacau. 

"Udah kayak tempat wisata. Jalanan macet karena parkir, terus juga orang pada lihat-lihat. Parkirannya memang susah kalau di sini. Orang bikin kafe tapi gak bikin lahan parkir cuma ngandelin badan jalan sama trotoar," kata Asep saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Selasa (21/6).

Kala Warga Tebet Bertahan dari Sengatan KekacauanPeringatan larang parkir di salah satu rumah di kawasan Tebet. Kemacetan dan kepadatan membuat warga Tebet mulai jengah. (Foto: CNN Indonesia/ Lina Itafiana)

Kendaraan yang terparkir memanjang menjadi pemandangan yang ia nikmati sehari-hari. Bising klakson yang memekakan telinga juga Asep telan bulat-bulat. 

Asep memang harus membiasakan diri karena tak punya banyak pilihan. Tapi beberapa warga yang bermukim di kawasan Tebet Utara Dalam rela menjual rumahnya lantaran tak lagi bisa merasakan kenyamanan di kawasan itu.

"Orang asli sini karena macet jadi pada 'ogah, ah mending gue jual aja rumah'. Karena dari sini (jalan Tebet Utara Dalam) ke sono (jalan Tebet Timur Dalam) sejam gitu macetnya. Rumahnya pada dijual-jualin," ucap Asep.

"Mereka [distro dan kafe] ini gak mikirin lahan parkir, taunya costumer banyak aja. Terserah lu mau parkir dimana ibaratnya gitu. Kesalahannya mereka di situ," imbuh Asep menggebu-gebu.

Jika disuruh memilih, Asep dengan tegas akan memilih kehidupan Tebet awal 2000-an, sebelum beton-beton menggantikan pepohonan.

Menurut Asep, Tebet menjelang 2000-an adalah kawasan yang relatif asri.

Kala Warga Tebet Bertahan dari Sengatan KekacauanSuasana di kawasan Tebet Utara Dalam. Kini banyak distro dan kafe menjamur, memicu kepadatan dan polusi. (CNN Indonesia/Lina Itafiana)

Ada banyak pohon-pohon besar di pinggir jalan. Rumah-rumah berjejer tanpa hiruk pikuk para pemburu pakaian atau kuliner. Gesekan daun yang tertiup angin sore masih bisa dia dengar. 

Kini semua itu tak lagi dirasakan Asep. Gesekan daun tertiup angin sore sudah berganti jerit klakson dan polusi knalpot kendaraan.

"Sekarang udah pada ditebang-tebangin. Ade 90 persen pohon ditebang karena pembangunan. Jadi gersang. Enakan dulu pas masih perumahan, adem. Kalau distro sekarang mah, kita kena imbasnya doang macet," ungkap Asep.

Asep mengajak CNNIndonesia.com menyusuri lekuk jalan Tebet Utara Dalam. Sepanjang jalan lurus menuju pertigaan hanya tersisa satu pohon beringin besar yang tumbuh di antara distro dan kafe yang menjamur. Selebihnya adalah pekat udara dan warna-warna kusam yang ada di kawasan itu.

"Padahal bahaya melihat polusi kayak gini, kan. Debunya aduh," keluhnya.

Faiz, sekitar 50 tahun, adalah 'bos parkir'. Tugasnya sehari-hari adalah memastikan keamanan kendaraan yang parkir di kawasan Tebet Timur Dalam.

Sebagai anak asli Tebet, Faiz mengaku lelah dengan situasi Tebet saat ini. Jalanan macet, bising, dan polusi membuatnya enggan untuk berlama-lama di jalan raya.

"Crowded, dah bisingnya bising bener. Tin tin tinnnnn. Pusing bener denger klakson," tutur Faiz.

Sejak distro dan kafe berjamuran di kawasan itu, Faiz bilamng akses untuk jalan kaki semakin sulit. Trotoar yang sempit malah diambil lapak pedagang.

"Kita kalau jalan di trotoar jadi minggir-minggir," ujarnya.

Tebet semakin macet dan tercemar. Ini juga mempengaruhi sensitivitas para pengendara yang melintas. Senggolan sedikit, tak jarang memicu keributan.

Faiz mengaku kerap menjadi penengah antara para pengendara yang berkelahi di jalan lantaran tidak sabar dengan kemacetan.

Tebet Eco Park

Pepatah 'sudah jatuh tertimpa tangga' tampak pas disematkan untuk warga Tebet. Belum selesai kemacetan akibat  distro dan kafe, kini hadir tempat rekreasi baru bernama Taman Tebet Eco Park.

Sejak diresmikan pada 23 April 2022, taman ini langsung dibanjiri pengunjung. Tak tanggung-tanggung, pengunjung yang datang berasal dari hampir daerah di seluruh Jakarta.

Angka kunjungannya pun jauh melampaui kapasitas taman. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan Tebet Eco Park didesain untuk menampung 8-10 ribu orang.

Namun, pengunjung kerap kali melebih daya tampung. Bahkan pernah mencapai 60 ribu orang mendatangi Tebet Eco Park dalam sehari.

"Taman yang dirancang berkapasitas 8-10 ribu, pernah kedatangan 60 ribu warga dalam satu hari di akhir pekan. Kesempatan menikmati taman menjadi sangat berkurang karena kepadatan yang ekstrem," ujar Anies di akun Instagram @aniesbaswedan, Kamis (16/6).

Tenang Sebelum Tebet Eco Park

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER