Sejumlah orang menggunakan pakaian adat Minang dan Melayu di Arung Pamalayu, 24 Agustus 2022. (CNN Indonesia/Sonya Andomo)
Jakarta, CNN Indonesia --
Maswin masih ingat betul peristiwa 12 tahun lalu. Pada 2010, dia dan beberapa rekannya menjadi pekerja di proyek pemugaran komplek Percandian Pulau Sawah, Kanagarian Siguntur, Dharmasraya, Sumatera Barat.
Salah satu kawannya sekarat, kemudian meninggal tak lama setelah mengambil bongkahan emas berbentuk botol saat penggalian.
"Ketika menggali tanah, kawan ambo menemukan emas serupa botol. Kira-kira ukurannya sebesar telapak tangan. Dia memperlihatkan ke semua pekerja, lalu membawanya pulang. Dua hari setelah itu, ia tiba-tiba jatuh sakit dan pernah bermimpi bahwa benda serupa botol itu dijaga oleh naga besar dan memintanya mengembalikan. Namun, ia enggan, sehingga seminggu kemudian ia meninggal dunia," kenangnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cerita itu Maswin ungkapkan dari sebuah warung kopi di antara pohon-pohon rindang di Sungai Batanghari. Tak jauh dari sana, sebuah tenda sudah dipenuhi oleh para pejabat yang sedang makan bajamba (makan bersama) dengan lahapnya. Keramaian ini bagian dari semaraknya puncak Festival Pamalayu, pada 23 Agustus lalu.
"Di siko (di sini) kami dulu menemukan ameh tu..." katanya dengan menunjuk-nunjuk tanah di bawah kakinya, tempat lapau kopi itu berada.
Kawasan Candi Pulau Sawah yang berada di Kenagarian Siguntur, Kecamatan Sitiung itu terletak di hulu aliran Sungai Batanghari. Saat ini di sekitar situs peninggalan Hindu-Buddha tersebut merupakan area perkebunan seperti kebun karet, jeruk nipis, dan jerus manis milik masyarakat. Selain sebagai perkebunan, kawasan Pulau Sawah saat ini juga menjadi tempat ternak sapi warga.
Bukan soal banyak artefak yang Maswin ceritakan. Tapi bagaimana Hulu pernah begitu terasa jernih. Maswin bersama dua temannya, Ridon dan Irfan menyebut Sungai Batanghari, saking jernihnya, membuat ikan yang berenang di dasar sungai terlihat hingga ke permukaan.
"Kira-kira air sungai mulai keruh sejak tahun 2000-an, warna air berangsur-angsur berubah menjadi kehitaman," ujar mereka bersepakat.
Ridon sehari-harinya bekerja sebagai supir perahu. Warga setempat menyebut perahu itu ketek. Kata dia, dulu air sungai pernah menjadi sumber air minum utama bagi warga kampung. Airnya juga bisa untuk mandi dan mencuci.
"Ikan Gayiang, Kulaghi, Patin, Ngongai dulu di sungai ini jumlahnya berlimpah, bahkan ada Ikan Ngongai yang berukuran sebesar kapal dengan berat 100 kilogram dan ikan hias tilam yang siripnya berwarna-warni pernah saya pancing bersama bapak dulu," kata pria berusia 36 tahun itu.
"Saya rindu Sungai Batanghari kembali jernih," tambah Irfan.
Sungai Batanghari kini serupa lautan susu coklat bercampur minyak. Kawanan buih bergerombol di sepanjang alirannya. Debit air yang tinggi membuat aroma serupa besi berkarat tercium hingga ke pinggir sungai. Sesekali, air sungai berubah menjadi warna hitam dan tercampur dengan air berwarna coklat dan mengalir ke hilir.
Rerupa ekskavator berukuran besar sibuk mengeruk pasir dan batu keluar dari sungai. Di daerah paling hulu sungai yaitu Solok Selatan, bahkan galian tambang emas tipe c berjamuran di sekitar ekosistem sungai.
CNNIndonesia.com melakukan beberapa tahapan pengujian sampel air Sungai Batanghari. Sampel air tersebut diambil pada tanggal 22 Agustus 2022 di lokasi Kawasan Candi Pulau Sawah, Siguntur, Dharmasraya, sebanyak sekitar 180 mililiter di tiga titik berbeda. Sampel tersebut diuji kadar logam berat dan kandungan mikroba E Coli di Laboratorium Biologi dan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNP.
(Foto: Arsip Istimewa)
(Foto: Arsip Istimewa)
Hasil pengujian sampel menjelaskan bahwa 14 logam berat yang ditemukan tersebut memiliki kadar yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan nilai batas ambang maksimum. Di mana nilai batas ambang maksimum tersebut merupakan toleransi jumlah logam berat yang diperbolehkan terkandung dalam air minum atau sumber air mineral.
Logam Timbal (Pb) yang dapat berasal dari limbah industri pertanian, seperti sawit, Merkuri (Hg) yang berasal dari air raksa, dan zat beracun lainnya ditemukan di Sungai Batanghari. Sedangkan Klorin berasal dari limbah rumah tangga berupa deterjen, dan lain sebagainya.
Temuan itu juga dibenarkan oleh data WWF yang menjelaskan bahwa terdapat kandungan timbal dan merkuri di hilirnya sungai Batanghari dengan kandungan yang lebih besar.
Sungai Batanghari itu, kata Freshwater Stakeholder Engangement Specialist Program WWF, Ratna Dewi mengalami degradasi penurunan kualitas air dan ekosistem akibat aktivitas manusia dan akibat lainnya, seperti perubahan secara alami, baik itu yang disebabkan oleh siklus alami sungai maupun perubahan dari climate change.
"Memang persoalan yang paling besar Batanghari tercemar itu oleh limbah, yang terdiri dari limbah domestik berupa rumah tangga, perkebunan dan industri, kedua limbah berupa logam berat, tingkat merusaknya sangat tinggi atau berbahaya akibat tambang timah, peti dan industry," jelasnya.
Menurut Ratna, pihaknya sudah menemukan kandungan Merkuri (Hg) yang kami temukan yaitu sebanyak 5,198 ppm, sedangkan Timbal (Pb) yaitu sebanyak 1,259 ppm di Hilir Sungai Batanghari.
Fakta kandungan merkuri tersebut juga diperkuat dengan adanya penangkapan tambang emas ilegal di bagian Hulu Sungai Batanghari yaitu di Kabupaten Solok Selatan dan Dharmasraya.
Kasat Reskrim Polres Dharmasraya, AKP Dwi Angga mengatakan sejak tahun 2020 hingga 2022, sebanyak 11 kasus pengungkapan tambang emas illegal di Dharmasraya.
"Tidak sampai ukuran besar yang diamankan karena masih menggunakan cara yang konvensional. Jadi hanya berukuran dua hingga tiga gram saja," jelasnya.
Adapun daerah penangkapan tambang emas ilegal tersebut, menurutnya berada di daerah tepian sungai, yaitu di Asam Jujuhan, Silayo, dan Sitiung.
Kasat Reskrim Polres Solok Selatan, Dwi Poerwanto sudah ditemukan dan diamankan sebanyak 13 kasus tambang emas illegal di Solok Selatan sejak tahun 2020.
Kepala Laboratorium Biologi, UNP, Dezi Handayani mengatakan bahwa kandungan logam Merkuri dan Timbal tersebut dapat menyebabkan kanker dan sebagainya dalam jangka waktu yang lama.
"Memang penyebab dari Merkuri dan Timbal itu tidak langsung dirasakan, namun jika masyarakat akan dapat merasakan dampaknya sekitar 30-50 tahun mendatang berupa kanker hingga kematian," jelasnya.
Klik untuk selanjutnya..
Pada zaman itu di Swarnabhumi atau yang kini disebut Pulau Sumatera, jalan raya adalah sungai-sungai dan lautan yang menjadi gelanggangnya. Masa-masa ketika sungai tidak sekadar transportasi, melainkan fungsi profan atau ekosistem kehidupan seluruh manusia sekaligus fungsi religius.
Sejarawan dari Universitas Andalas, Gusti Asnan menyebut Sungai Batanghari termasuk ke dalam Rantau nan Tujuah Jurai atau daerah rantau orang Minangkabau sebagai jalur transportasi dan perdagangan.
"Selain Sungai Batanghari, ada beberapa sungai penting lainnya dalam perkembangan politik, sosial dan budaya, seperti Sungai Rokan, Indragiri atau Kuantan, Kampar dan Batanghari. Namun Batanghari menjadi istimewa karena temuan-temuan sejarah klasik tentang Sumatera lebih banyak ditemukan di sana sejak dari hulu hingga ke hilir," katanya.
Penulis Buku Sungai & Sejarah Sumatra itu mengatakan penemuan benda bersejarah itu seperti Candi Muara Jambi, Candi Roco dan Candi Pulau Sawah. Kemudian, di sepanjang aliran sungai Batanghari juga melalui sebuah Kawasan dengan penduduk banyak dengan penghasil komoditas terbaik dunia, seperti emas, perak, dan jenis logam berharga lainnya.
Guna membawa hasil bumi tersebut, jalur sungai merupakan jalur paling memungkinkan dan lazim ketika itu untuk ditempuh. Bahkan hal itu, menurutnya sudah tercatat sejak abad ke-6.
Alasan inilah yang menjadi penguat bahwa Kawasan Sungai Batanghari sebagai hal vital pusat peradaban tempo dulu. Sebuah peradaban yang mengarah ke sebuah tempat yang dikenal dengan Dharmasraya.
Festival Pamalayu
Edisi kedua Festival Pamalayu Kenduri Swarnabhumi pada 18-24 September mengangkat tema Keselarasan Alam Raya yang didukung oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) dan berkolaborasi dengan pemerintah daerah.
Hilmar Farid menyebut pemerintah sudah sepakat dengan adanya pemulihan revitalisasi sungai dengan jalan budaya di sepanjang aliran Sungai Batangahari.
"Untuk kali ini, kita bekerja pakai hati, tidak hanya sekadar proyek-proyekan, dan angka-angka," kata Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid saat menghadiri penutupan Festival Pamalayu di Dharmasraya pada 23 Agustus 2022.
Bupati Dharmasraya, Sutan Riska Tuanku Kerajaan menyebut Festival Pamalayu bertujuan untuk dapat merawat sejarah kebudayaan masa lalu dan memulihkan kembali fungsi sungai Batanghari seperti sediakala.
Menurutnya cagar budaya yang berada di sepanjang sungai masih menyimpan ribuan misteri tentang kejayaan masa silam. Oleh karena itu, terdapat beberapa tahapan yang perlu dilakukan, salah satunya yaitu mengobati atau memulihkan Sungai Batanghari.
"Belajar kepada peradaban,mengenal sejarah dan asal usul kebudayaan, sehingga dapat membangun daerah yang lebih baik untuk anak cucu," jelasnya.
Sebanyak sembilan daerah di sehiliran sungai Batanghari yang termasuk ke dalam Provinsi Sumbar dan Jambi ikut merayakan Kenduri Swarnabhumi.
"Festival Pamalayu, Festival Negeri Pamuncak, Festival Bumi, Festival Tapa Malenggang, Festival Tudung Lingkup, Festival Batanghari, Festival Lek Anak Negeri, Festival Lapik Semendo, dan Festival Renjana Swarnadwipa, dan Kenduri Lawang Suwarnabhumi," merupakan nama-nama festival yang digelar di sepanjang aliran sungai Batanghari.
Warga desa Siguntur mengakui bahwa festival Pamalayu mendatangkan banyak manfaat, salah satunya yaitu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Lalu, orang-orang menjadi mengetahui sejarah desanya secara baik.
"Namun, jika Festival Pamalayu berfokus kepada proses penjernihan Kembali Sungai Batanghari, tentu hasil itu belum ada," jelas warga yang tidak ingin disebutkan namanya itu.
Ia menyebut meskipun festival sudah dua kali diadakan, namun warna sungai tidak berubah, masih tetap berwarna coklat dan keruh.
"Sebagaimana kita tau, penyebab utama keruhnya air sungai yaitu adanya tambang emas secara besar-besaran yang dilakukan disepanjang daerah aliran sungai," katanya.
Kemungkinan paling besar warna air sungai berubah menjadi agak lebih jernih, katanya pada saat hari raya Idul Fitri. Sebab, semua orang berhenti untuk melakukan penambangan dan pengerukan sungai.
"Sehari dua hari itu jernih, karena semua orang berhenti bekerja," katanya.
Sehingga, meskipun festival sudah dua kali dilakukan, namun air sungai masih saja tidak jernih.
"Mungkin tahapannya dalam jangka panjang baru terlihat," tegasnya.
Pengamat Daerah Aliran Sungai Universitas Andalas, Isril Bert mengatakan sungai Batanghari yang berhulu di Solok Selatan itu tercemar oleh aktivitas tambang emas yang jelas merusak lingkungan.
"Penggalian tanah, pencucian emas dengan air raksa karena dilakukan secara manual yang menghasilkan residu dan mengalir ke sungai yang dapat merusak biota dan ekosistem sungai," katanya.
Menurutnya, langkah tepat yang dapat dilakukan oleh pemerintah yaitu harus menghentikan segala praktek yang dapat berdampak buruk kepada biota sungai.
"Penghentian itu dapat dilaksanakan dengan menggunakan Perda yang jelas," sebutnya.
Selain aktivitas tambang emas, alih fungsi lahan, ilegal logging dan dan alih fungsi hutan juga menjadi penyebab adanya bencana di sekitaran Sungai Batanghari.
"Debit air Batanghari fluktuatif, sehingga pada saat musim kemarau Sungai Batanghari airnya bisa down sedangkan pada musim hujan , volumenya bisa tidak terbatas. Sehingga, solusinya harus dilakukan reboisasi untuk menjaga volume sungai dan tidak menyebabkan bencana alam," jelasnya.
Isril mengatakan Festival itu tidak serta merta dapat membuat sungai kembali jernih, apalagi tidak ada peraturan yang tegas akan semua penyebab keruhnya air sungai.
"Masyarakat kan sudah cerdas, jadi tidak perlu lagi (festival) itu. Cukup jangan ada tambang, jangan ada alih fungsi lahan, illegal logging, dan kemudian ada Perda yang jelas, dan kemudian masyarakat diberikan edukasi yang baik itu merupakan solusi yang tepat," jelasnya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Maswin masih ingat betul peristiwa 12 tahun lalu. Pada 2010, dia dan beberapa rekannya menjadi pekerja di proyek pemugaran komplek Percandian Pulau Sawah, Kanagarian Siguntur, Dharmasraya, Sumatera Barat.
Salah satu kawannya sekarat, kemudian meninggal tak lama setelah mengambil bongkahan emas berbentuk botol saat penggalian.
"Ketika menggali tanah, kawan ambo menemukan emas serupa botol. Kira-kira ukurannya sebesar telapak tangan. Dia memperlihatkan ke semua pekerja, lalu membawanya pulang. Dua hari setelah itu, ia tiba-tiba jatuh sakit dan pernah bermimpi bahwa benda serupa botol itu dijaga oleh naga besar dan memintanya mengembalikan. Namun, ia enggan, sehingga seminggu kemudian ia meninggal dunia," kenangnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cerita itu Maswin ungkapkan dari sebuah warung kopi di antara pohon-pohon rindang di Sungai Batanghari. Tak jauh dari sana, sebuah tenda sudah dipenuhi oleh para pejabat yang sedang makan bajamba (makan bersama) dengan lahapnya. Keramaian ini bagian dari semaraknya puncak Festival Pamalayu, pada 23 Agustus lalu.
"Di siko (di sini) kami dulu menemukan ameh tu..." katanya dengan menunjuk-nunjuk tanah di bawah kakinya, tempat lapau kopi itu berada.
Kawasan Candi Pulau Sawah yang berada di Kenagarian Siguntur, Kecamatan Sitiung itu terletak di hulu aliran Sungai Batanghari. Saat ini di sekitar situs peninggalan Hindu-Buddha tersebut merupakan area perkebunan seperti kebun karet, jeruk nipis, dan jerus manis milik masyarakat. Selain sebagai perkebunan, kawasan Pulau Sawah saat ini juga menjadi tempat ternak sapi warga.
Bukan soal banyak artefak yang Maswin ceritakan. Tapi bagaimana Hulu pernah begitu terasa jernih. Maswin bersama dua temannya, Ridon dan Irfan menyebut Sungai Batanghari, saking jernihnya, membuat ikan yang berenang di dasar sungai terlihat hingga ke permukaan.
"Kira-kira air sungai mulai keruh sejak tahun 2000-an, warna air berangsur-angsur berubah menjadi kehitaman," ujar mereka bersepakat.
Ridon sehari-harinya bekerja sebagai supir perahu. Warga setempat menyebut perahu itu ketek. Kata dia, dulu air sungai pernah menjadi sumber air minum utama bagi warga kampung. Airnya juga bisa untuk mandi dan mencuci.
"Ikan Gayiang, Kulaghi, Patin, Ngongai dulu di sungai ini jumlahnya berlimpah, bahkan ada Ikan Ngongai yang berukuran sebesar kapal dengan berat 100 kilogram dan ikan hias tilam yang siripnya berwarna-warni pernah saya pancing bersama bapak dulu," kata pria berusia 36 tahun itu.
"Saya rindu Sungai Batanghari kembali jernih," tambah Irfan.
Sungai Batanghari kini serupa lautan susu coklat bercampur minyak. Kawanan buih bergerombol di sepanjang alirannya. Debit air yang tinggi membuat aroma serupa besi berkarat tercium hingga ke pinggir sungai. Sesekali, air sungai berubah menjadi warna hitam dan tercampur dengan air berwarna coklat dan mengalir ke hilir.
Rerupa ekskavator berukuran besar sibuk mengeruk pasir dan batu keluar dari sungai. Di daerah paling hulu sungai yaitu Solok Selatan, bahkan galian tambang emas tipe c berjamuran di sekitar ekosistem sungai.
CNNIndonesia.com melakukan beberapa tahapan pengujian sampel air Sungai Batanghari. Sampel air tersebut diambil pada tanggal 22 Agustus 2022 di lokasi Kawasan Candi Pulau Sawah, Siguntur, Dharmasraya, sebanyak sekitar 180 mililiter di tiga titik berbeda. Sampel tersebut diuji kadar logam berat dan kandungan mikroba E Coli di Laboratorium Biologi dan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNP.
(Foto: Arsip Istimewa)
(Foto: Arsip Istimewa)
Hasil pengujian sampel menjelaskan bahwa 14 logam berat yang ditemukan tersebut memiliki kadar yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan nilai batas ambang maksimum. Di mana nilai batas ambang maksimum tersebut merupakan toleransi jumlah logam berat yang diperbolehkan terkandung dalam air minum atau sumber air mineral.
Logam Timbal (Pb) yang dapat berasal dari limbah industri pertanian, seperti sawit, Merkuri (Hg) yang berasal dari air raksa, dan zat beracun lainnya ditemukan di Sungai Batanghari. Sedangkan Klorin berasal dari limbah rumah tangga berupa deterjen, dan lain sebagainya.
Temuan itu juga dibenarkan oleh data WWF yang menjelaskan bahwa terdapat kandungan timbal dan merkuri di hilirnya sungai Batanghari dengan kandungan yang lebih besar.
Sungai Batanghari itu, kata Freshwater Stakeholder Engangement Specialist Program WWF, Ratna Dewi mengalami degradasi penurunan kualitas air dan ekosistem akibat aktivitas manusia dan akibat lainnya, seperti perubahan secara alami, baik itu yang disebabkan oleh siklus alami sungai maupun perubahan dari climate change.
"Memang persoalan yang paling besar Batanghari tercemar itu oleh limbah, yang terdiri dari limbah domestik berupa rumah tangga, perkebunan dan industri, kedua limbah berupa logam berat, tingkat merusaknya sangat tinggi atau berbahaya akibat tambang timah, peti dan industry," jelasnya.
Menurut Ratna, pihaknya sudah menemukan kandungan Merkuri (Hg) yang kami temukan yaitu sebanyak 5,198 ppm, sedangkan Timbal (Pb) yaitu sebanyak 1,259 ppm di Hilir Sungai Batanghari.
Fakta kandungan merkuri tersebut juga diperkuat dengan adanya penangkapan tambang emas ilegal di bagian Hulu Sungai Batanghari yaitu di Kabupaten Solok Selatan dan Dharmasraya.
Kasat Reskrim Polres Dharmasraya, AKP Dwi Angga mengatakan sejak tahun 2020 hingga 2022, sebanyak 11 kasus pengungkapan tambang emas illegal di Dharmasraya.
"Tidak sampai ukuran besar yang diamankan karena masih menggunakan cara yang konvensional. Jadi hanya berukuran dua hingga tiga gram saja," jelasnya.
Adapun daerah penangkapan tambang emas ilegal tersebut, menurutnya berada di daerah tepian sungai, yaitu di Asam Jujuhan, Silayo, dan Sitiung.
Kasat Reskrim Polres Solok Selatan, Dwi Poerwanto sudah ditemukan dan diamankan sebanyak 13 kasus tambang emas illegal di Solok Selatan sejak tahun 2020.
Kepala Laboratorium Biologi, UNP, Dezi Handayani mengatakan bahwa kandungan logam Merkuri dan Timbal tersebut dapat menyebabkan kanker dan sebagainya dalam jangka waktu yang lama.
"Memang penyebab dari Merkuri dan Timbal itu tidak langsung dirasakan, namun jika masyarakat akan dapat merasakan dampaknya sekitar 30-50 tahun mendatang berupa kanker hingga kematian," jelasnya.
Klik untuk selanjutnya..
Romantisme Sungai Batanghari
Sejumlah orang menggunakan pakaian adat Minang dan Melayu di Arung Pamalayu, 24 Agustus 2022. (CNN Indonesia/Sonya Andomo)
Pada zaman itu di Swarnabhumi atau yang kini disebut Pulau Sumatera, jalan raya adalah sungai-sungai dan lautan yang menjadi gelanggangnya. Masa-masa ketika sungai tidak sekadar transportasi, melainkan fungsi profan atau ekosistem kehidupan seluruh manusia sekaligus fungsi religius.
Sejarawan dari Universitas Andalas, Gusti Asnan menyebut Sungai Batanghari termasuk ke dalam Rantau nan Tujuah Jurai atau daerah rantau orang Minangkabau sebagai jalur transportasi dan perdagangan.
"Selain Sungai Batanghari, ada beberapa sungai penting lainnya dalam perkembangan politik, sosial dan budaya, seperti Sungai Rokan, Indragiri atau Kuantan, Kampar dan Batanghari. Namun Batanghari menjadi istimewa karena temuan-temuan sejarah klasik tentang Sumatera lebih banyak ditemukan di sana sejak dari hulu hingga ke hilir," katanya.
Penulis Buku Sungai & Sejarah Sumatra itu mengatakan penemuan benda bersejarah itu seperti Candi Muara Jambi, Candi Roco dan Candi Pulau Sawah. Kemudian, di sepanjang aliran sungai Batanghari juga melalui sebuah Kawasan dengan penduduk banyak dengan penghasil komoditas terbaik dunia, seperti emas, perak, dan jenis logam berharga lainnya.
Guna membawa hasil bumi tersebut, jalur sungai merupakan jalur paling memungkinkan dan lazim ketika itu untuk ditempuh. Bahkan hal itu, menurutnya sudah tercatat sejak abad ke-6.
Alasan inilah yang menjadi penguat bahwa Kawasan Sungai Batanghari sebagai hal vital pusat peradaban tempo dulu. Sebuah peradaban yang mengarah ke sebuah tempat yang dikenal dengan Dharmasraya.
Festival Pamalayu
Edisi kedua Festival Pamalayu Kenduri Swarnabhumi pada 18-24 September mengangkat tema Keselarasan Alam Raya yang didukung oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) dan berkolaborasi dengan pemerintah daerah.
Hilmar Farid menyebut pemerintah sudah sepakat dengan adanya pemulihan revitalisasi sungai dengan jalan budaya di sepanjang aliran Sungai Batangahari.
"Untuk kali ini, kita bekerja pakai hati, tidak hanya sekadar proyek-proyekan, dan angka-angka," kata Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid saat menghadiri penutupan Festival Pamalayu di Dharmasraya pada 23 Agustus 2022.
Bupati Dharmasraya, Sutan Riska Tuanku Kerajaan menyebut Festival Pamalayu bertujuan untuk dapat merawat sejarah kebudayaan masa lalu dan memulihkan kembali fungsi sungai Batanghari seperti sediakala.
Menurutnya cagar budaya yang berada di sepanjang sungai masih menyimpan ribuan misteri tentang kejayaan masa silam. Oleh karena itu, terdapat beberapa tahapan yang perlu dilakukan, salah satunya yaitu mengobati atau memulihkan Sungai Batanghari.
"Belajar kepada peradaban,mengenal sejarah dan asal usul kebudayaan, sehingga dapat membangun daerah yang lebih baik untuk anak cucu," jelasnya.
Sebanyak sembilan daerah di sehiliran sungai Batanghari yang termasuk ke dalam Provinsi Sumbar dan Jambi ikut merayakan Kenduri Swarnabhumi.
"Festival Pamalayu, Festival Negeri Pamuncak, Festival Bumi, Festival Tapa Malenggang, Festival Tudung Lingkup, Festival Batanghari, Festival Lek Anak Negeri, Festival Lapik Semendo, dan Festival Renjana Swarnadwipa, dan Kenduri Lawang Suwarnabhumi," merupakan nama-nama festival yang digelar di sepanjang aliran sungai Batanghari.
Warga desa Siguntur mengakui bahwa festival Pamalayu mendatangkan banyak manfaat, salah satunya yaitu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Lalu, orang-orang menjadi mengetahui sejarah desanya secara baik.
"Namun, jika Festival Pamalayu berfokus kepada proses penjernihan Kembali Sungai Batanghari, tentu hasil itu belum ada," jelas warga yang tidak ingin disebutkan namanya itu.
Ia menyebut meskipun festival sudah dua kali diadakan, namun warna sungai tidak berubah, masih tetap berwarna coklat dan keruh.
"Sebagaimana kita tau, penyebab utama keruhnya air sungai yaitu adanya tambang emas secara besar-besaran yang dilakukan disepanjang daerah aliran sungai," katanya.
Kemungkinan paling besar warna air sungai berubah menjadi agak lebih jernih, katanya pada saat hari raya Idul Fitri. Sebab, semua orang berhenti untuk melakukan penambangan dan pengerukan sungai.
"Sehari dua hari itu jernih, karena semua orang berhenti bekerja," katanya.
Sehingga, meskipun festival sudah dua kali dilakukan, namun air sungai masih saja tidak jernih.
"Mungkin tahapannya dalam jangka panjang baru terlihat," tegasnya.
Pengamat Daerah Aliran Sungai Universitas Andalas, Isril Bert mengatakan sungai Batanghari yang berhulu di Solok Selatan itu tercemar oleh aktivitas tambang emas yang jelas merusak lingkungan.
"Penggalian tanah, pencucian emas dengan air raksa karena dilakukan secara manual yang menghasilkan residu dan mengalir ke sungai yang dapat merusak biota dan ekosistem sungai," katanya.
Menurutnya, langkah tepat yang dapat dilakukan oleh pemerintah yaitu harus menghentikan segala praktek yang dapat berdampak buruk kepada biota sungai.
"Penghentian itu dapat dilaksanakan dengan menggunakan Perda yang jelas," sebutnya.
Selain aktivitas tambang emas, alih fungsi lahan, ilegal logging dan dan alih fungsi hutan juga menjadi penyebab adanya bencana di sekitaran Sungai Batanghari.
"Debit air Batanghari fluktuatif, sehingga pada saat musim kemarau Sungai Batanghari airnya bisa down sedangkan pada musim hujan , volumenya bisa tidak terbatas. Sehingga, solusinya harus dilakukan reboisasi untuk menjaga volume sungai dan tidak menyebabkan bencana alam," jelasnya.
Isril mengatakan Festival itu tidak serta merta dapat membuat sungai kembali jernih, apalagi tidak ada peraturan yang tegas akan semua penyebab keruhnya air sungai.
"Masyarakat kan sudah cerdas, jadi tidak perlu lagi (festival) itu. Cukup jangan ada tambang, jangan ada alih fungsi lahan, illegal logging, dan kemudian ada Perda yang jelas, dan kemudian masyarakat diberikan edukasi yang baik itu merupakan solusi yang tepat," jelasnya.