Jakarta, CNN Indonesia -- Pelantang dari atas mobil komando terdengar nyaring hingga ke dalam Balai Kota Jakarta, Jumat (14/10). Sejumlah tuntutan dan keluhan disampaikan dari atas mobil komando milik Koliasi Perjuangan Warga Jakarta (KOPAJA).
Mereka menyampaikan sejumlah tuntutan dan keluhan atas janji-janji yang tak ditepati Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan selama lima tahun memimpin Ibu Kota. Mereka kecewa sejumlah janji politik tak dipenuhi Anies.
Suasana kontras terlihat dari balik pagar Balai Kota. Ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah berkerumun di halaman depan Pendopo Balai Kota sore itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka menantikan momen perpisahan dengan Anies dan Wakil Gubernur Ahmad Riza Patria. Panggung perpisahan telah disiapkan, alat-alat musik khas Jakarta juga sudah tertata rapi. Para pementas pun sudah bersiap ketika jam menunjukkan pukul 15.00 WIB.
Sempat menunggu lama, sekitar 15.45 WIB, orang yang mereka tunggu-tunggu keluar dari pendopo. Anies bersama Riza dengan didampingi sejumlah ajudan melangkah keluar.
Alih-alih menjumpai para ASN yang menunggu untuk perpisahan, rombongan Anies justru berjalan keluar Balai Kota, hendak menemui massa aksi.
"Ya, ini dia Kanda kita menemui kita," teriak salah satu peserta aksi.
Saat itu Anies tak langsung bicara, ia mempersilakan perwakilan massa aksi menyampaikan keluhannya langsung kepada dirinya.
Mereka langsung memberondong Anies dengan sejumlah masalah yang tak tertangani dengan baik di era kepemimpinan Anies. Selain itu, massa aksi janji Anies untuk mencabut Peraturan Gubernur Nomor 207 Tahun 2016 tentang Penerbitan/Penguasaan Tanah Tanpa Izin yang Berhak.
Pergub yang diteken di era Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok itu dianggap menjadi alat pemerintah untuk menggusur warga. Mereka pun sudah beberapa kali mediasi dengan Anies untuk mencabut aturan itu, namun tak kunjung terealisasi.
Setelah mendengar berbagai keluhan itu, Anies mengajak peserta aksi yang hadir untuk duduk lesehan membicarakan hal-hal yang mereka sampaikan.
Anies mengaku bahwa dirinya menginginkan agar aturan tersebut segera dicabut. Namun, menurutnya ada proses yang harus dilalui di Kementerian Dalam Negeri.
"Kami pun dari awal ingin pergub ini dihilangkan, karena itu membuat keputusan untuk dicabut. Namun, administrasinya yang mengharuskan ada proses di Kemendagri," kata Anies.
"Itu administrasinya, kalau kita tidak tertib administrasi akan dengan mudah menjadi masalah. Kita bisa berdebat soal hukum, bisa tidak akan selesai, secara substansi kami menginginkan dan sudah melakukan," imbuh dia.
Tak puas dengan jawaban tersebut, pendemo kembali mencecar dan meminta agar Anies menandatangani sebuah surat.
Isi surat itu intinya pernyataan agar Anies menjamin Pemprov DKI Jakarta akan bertanggung jawab terhadap permasalahan di Jakarta dan berjanji mentransisikan tanggung jawab itu kepada seluruh jajaran Pemprov untuk diselesaikan.
Anies menolak menandatangani surat tersebut itu langsung di lokasi. Menurutnya, surat ini harus dibaca dan dipelajari dulu sebelum diteken.
Massa yang tak puas terus menekan agar Anies membubuhkan tanda tangannya di surat itu. Nada bicara Anies lantas sempat meninggi bahwa dirinya tak bisa dipaksa menandatangani surat yang sebelumnya tak dipelajari terlebih dulu.
Setelah kurang lebih 45 menit menemui demonstran, Anies memutuskan untuk kembali ke dalam untuk melanjutkan agenda sore itu. Sementara, para massa aksi masih terus menyampaikan aspirasinya dari balik pagar Balai Kota.
Begitu tiba di lokasi acara perpisahan, Anies langsung disambut meriah para ASN yang telah menunggunya sedari tadi.
Selengkapnya di halaman berikutnya.
Pidato Terakhir Anies di Balai Kota DKI
Anies Baswedan di Balai Kota DKI. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Keluarga Anies, mulai dari ibundanya, Aliyah Rasyid; istrinya, Fery Farhati; mertuanya, Said Al Ganis; putri sulungnya, Mutiara Baswedan; hingga menantunya, Ali Saleh Alhuraiby turut hadir dalam acara tersebut.
Acara pun dimulai dengan tarian hingga penampilan Jakarta Choir yang menyanyikan sejumlah lagu khas Betawi. Di tengah lagu 'Kicir-kicir', Kepala Dinas Pertamanan Suzi Marsitawati tiba-tiba mengajak Anies hingga Riza berjoget.
Sontak sebagian ASN yang hadir ikut turun ke panggung memeriahkan suasana. Selepas acara hiburan, Anies menyampaikan pidato terakhirnya di Balai Kota kepada ASN DKI.
Dalam kesempatan itu, mantan Rektor Paramadina tersebut bicara soal Jakarta yang telah naik level menjadi kota global yang sudah setara dengan kota-kota maju lainnya.
Ia juga menyinggung soal sejumlah pencapaian yang telah dicapai selama lima tahun terakhir ini. Menurut Anies, seluruh pencapaian itu tak akan cukup waktu untuk dibeberkan.
"Saya bisa lanjutkan daftar ini sampai besok, bapak, ibu sekalian. Panjang sekali. Dan setiap kita ketemu pertanyaan tentang apa capaian di sebuah bidang, selalu ada slide capaian yang lengkap. Tidak ada pertanyaan capaian yang tidak bisa dijawab," ujar Anies.
Anies juga menitipkan pesan agar para ASN DKI Jakarta melanjutkan kinerja terbaiknya dalam melayani masyarakat. Menurut dia, perannya sebagai Gubernur telah rampung, namun ia yakin peran Pemprov DKI melayani warga tidak akan pernah berhenti.
"Perjuangan memajukan kota secara langsung, membantu warga, menjalankan amanat konstitusi untuk menghadirkan keadilan sosial akan terus berlanjut," kata Anies.
"Karena itu, saya berharap, apa yang telah kita pelajari, apa yang telah kita alami, apa yang telah kita tekatkan selama ini harus bisa terus bermanfaat dan harus bisa terus mewarnai kerja ibu bapak ke depan," tuturnya.
Momen perpisahan tersebut menjadi semakin sendu selepas Anies menyelesaikan pidato perpisahan, lagu 'Sampai Jumpa' dari Endang Soekamti dikumandangkan Jakarta Choir di Balai Kota.
Para kepala dinas turut mengerubungi Anies setelah ia bersimpuh di hadapan orang tuanya. Mereka juga menyalakan lampu flash gawai mengiringi lagu tersebut.
"Ibu-ibu, bapak-bapak, terima kasih. I love you almost full!" teriak Anies.