Kronologi Temuan Kasus Gagal Ginjal Akut Baru di Indonesia pada 2023
CNN Indonesia
Sabtu, 11 Feb 2023 06:35 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ilustrasi pasien anak kasus gagal ginjal akut. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Memasuki 2023, pemerintah kembali mengidentifikasi kasus Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal (GGAPA) pada anak di DKI Jakarta.
Dugaan pasien GGAPA kembali ditemukan pada akhir Januari 2023 usai nihil kasus sejak akhir November 2022. Kemudian ada pula laporan temuan dugaan kasus GGAPA di Solo, Jawa Tengah.
Kekinian, Kemenkes memastikan satu suspek GGAPA di DKI Jakarta dan satu suspek di Kota Surakarta, Jawa Tengah dinyatakan negatif setelah melalui pemeriksaan leih lanjut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Keduanya bukan pasien terkonfirmasi GGAPA," kata Juru Bicara Kemenkes Mohammad Syahril dalam keterangan tertulis kepada CNNIndonesia.com, Jumat (10/2).
Syahril menjelaskan satu kasus suspek di DKI yang dinyatakan negatif GGAPA itu sebelumnya merupakan pasien berusia 10 tahun yang dilaporkan mengalami demam pada 26 Januari lalu. Pasien tersebut juga memiliki keluhan tidak bisa buang air kecil alias anuria.
Sementara satu pasien lainnya yang dirawat di RSUD Dr Moewardo Surakarta tidak termasuk ke dalam kategori GGAPA karena mengalami gagal ginjal yang disebabkan oleh penyakit bawaan.
Syahril menambahkan saat ini hanya ada satu kasus yang kemudian dikonfirmasi GGAPA. Kasus itu datang dari anak berusia satu tahun yang kemudian dinyatakan meninggal dunia pada 1 Februari lalu. Anak tersebut memiliki riwayat konsumsi obat sirup penurun demam yang dibeli di apotek dengan merek Praxion.
Berikut rangkuman kronologi awal temuan kembali dugaan kasus gagal ginjal akut anak di Indonesia pada 2023 ini:
Juru Bicara Kemenkes Mohammad Syahril mengatakan satu kasus konfirmasi GGAPA merupakan anak berusia satu tahun dan mengalami demam pada tanggal 25 Januari lalu. Anak tersebut kemudian diberikan obat sirup penurun demam yang dibeli di apotek dengan merek Praxion.
Selanjutnya pada 28 Januari, pasien tersebut mengalami batuk, demam, pilek, dan tidak bisa buang air kecil alias anuria. Balita tersebut kemudian dibawa ke Puskesmas Pasar Rebo, Jakarta, untuk mendapatkan pemeriksaan, dan pada 31 Januari mendapatkan rujukan ke Rumah Sakit Adhyaksa.
Lantaran balita tersebut mengalami gejala seperti GGAPA, ia direncanakan dirujuk ke RSCM. Namun keluarga menolak dan memilih untuk pulang paksa.
Kemudian pada 1 Februari, orang tua balita itu membawa pasien ke RS Polri dan mendapatkan perawatan di ruang IGD, dan saat itu pasien dilaporkan sudah mulai buang air kecil.
"Pada tanggal 1 Februari, pasien kemudian dirujuk ke RSCM untuk mendapatkan perawatan intensif sekaligus terapi fomepizole, namun 3 jam setelah di RSCM pada pukul 23.00 WIB pasien dinyatakan meninggal dunia," jelas Syahril dalam keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Senin (6/2).
Sementara satu kasus lainnya masih merupakan suspek yakni anak berusia 10 tahun yang mengalami demam pada tanggal 26 Januari. Anak tersebut kemudian mengkonsumsi obat penurun panas sirop yang dibeli secara mandiri.
Syahril merinci, pada 30 Januari lalu pasien tersebut mendapatkan pengobatan penurun demam tablet dari Puskesmas. Kemudian pada 1 Februari, pasien berobat ke klinik dan diberikan obat racikan. Sehari setelahnya, pasien tersebut dirawat di RSUD Kembangan, kemudian dirujuk ke RSCM Jakarta.
Kemudian pada 10 Februari, Kemenkes melalui Syahril memastikan satu kasus suspek GGAPA di DKI Jakarta itu dinyatakan negatif melalui hasil pemeriksaan lebih lanjut.
Selain suspek di DKI Jakarta, Syahril juga memastikan suspek yang sempat dirawat di RSUD Dr Moewardo Surakarta tidak termasuk ke dalam kategori GGAPA karena mengalami gagal ginjal yang disebabkan penyakit bawaan.
Hal itu menyusul Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka yang sebelumnya mengungkapkan ada pasien anak gagal ginjal yang tengah dirawat di RSUD Moewardi, Solo, Jawa Tengah. Pasien tersebut merupakan anak usia 10 tahun.
Dengan demikian, saat ini hanya ada satu kasus baru yang kemudian dikonfirmasi GGAPA di Indonesia. Adapun dengan dengan dilaporkannya tambahan kasus baru GGAPA, maka hingga Minggu (5/2) tercatat 326 kasus GGAPA yang tersebar di 27 provinsi di Indonesia.
Baca halaman selanjutnya.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan mereka telah melakukan langkah-langkah responsif dengan melakukan investigasi, penelusuran, pengambilan dan pengujian sampel, termasuk pemeriksaan ke sarana produksi atas laporan kasus konfirmasi GGAPA di DKI Jakarta yang memiliki riwayat konsumsi obat sirop merek Praxion.
BPOM selanjutnya membeberkan pengujian terhadap sampel yang dilakukan selama periode 2-3 Februari. BPOM memeriksa sampel sirop sisa obat pasien, sampel sirop obat dari peredaran dengan nomor bets yang sama dengan sampel yang dikonsumsi pasien.
Kemudian sampel sirop obat dari tempat produksi (retained sample) dengan nomor bets yang sama dengan sampel yang dikonsumsi pasien. Sampel sirop obat dengan bets yang berdekatan, sampel bahan baku sorbitol yang digunakan dalam proses produksi.
Pun pada sampel sirop obat lain yang menggunakan bahan baku dengan nomor bets yang sama, atau dua produk sirop yang berbeda. Seluruh sampel sirop dan bahan baku tersebut di atas telah dikirim dan diuji di laboratorium Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN) BPOM.
"Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh sampel yang diuji memenuhi syarat (MS), artinya sirup obat memenuhi persyaratan ambang batas asupan harian, sehingga aman digunakan sepanjang sesuai aturan pakai," kata BPOM dikutip dari situs resmi, Kamis (9/2).
Sebagai bagian dari proses investigasi, BPOM juga telah melakukan pemeriksaan pada tanggal 3 Februari 2023 ke sarana produksi terkait Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang meliputi aspek penting penjaminan mutu.
Di antaranya pengujian mutu bahan baku dan sirop obat, proses produksi, kualifikasi pemasok termasuk pemastian rantai pasok. Dari hasil pemeriksaan tersebut, disimpulkan bahwa sarana produksi masih memenuhi persyaratan CPOB.
Penjelasan Menkes
Sebelumnya, pada Rabu (8/2), Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan hasil pemeriksaan laboratorium sampel pasien balita GGAPA di DKI Jakarta menunjukkan pasien tersebut mengkonsumsi obat dengan cemaran EG maupun DEG yang melebihi ambang batas aman.
Budi mengatakan hasil pemeriksaan itu dilakukan di Labkesda DKI Jakarta. Adapun pasien berusia setahun itu merupakan pasien yang meninggal dunia dengan riwayat konsumsi obat sirop Praxion.
"Kemenkes sudah mengambil sampelnya, sebenarnya RSCM ya mengambil sampelnya, karena di sana banyak dokter anak itu bekerja sama dengan IDAI, kemudian mengirimkan sampelnya ke Labkesda DKI," kata Budi di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu.
"Hasilnya, baik di si anaknya, darahnya ada EG dan DEG, dan di sampelnya juga ada dengan kadar yang di atas batas," imbuhnya.
Dengan demikian, lanjutnya, Kemenkes telah melakukan pemeriksaan pembanding dengan metode yang sama di laboratorium independen. Budi mengatakan hasil pemeriksaan akan diumumkan saat telah rampung sepenuhnya.
Koordinasi lebih lanjut juga telah dilakukan bersama berbagai pihak, seperti Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi DKI Jakarta, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ahli epidemiologi, dan ahli farmakologi dalam melakukan penelusuran epidemiologi.
Memasuki 2023, pemerintah kembali mengidentifikasi kasus Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal (GGAPA) pada anak di DKI Jakarta.
Dugaan pasien GGAPA kembali ditemukan pada akhir Januari 2023 usai nihil kasus sejak akhir November 2022. Kemudian ada pula laporan temuan dugaan kasus GGAPA di Solo, Jawa Tengah.
Kekinian, Kemenkes memastikan satu suspek GGAPA di DKI Jakarta dan satu suspek di Kota Surakarta, Jawa Tengah dinyatakan negatif setelah melalui pemeriksaan leih lanjut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Keduanya bukan pasien terkonfirmasi GGAPA," kata Juru Bicara Kemenkes Mohammad Syahril dalam keterangan tertulis kepada CNNIndonesia.com, Jumat (10/2).
Syahril menjelaskan satu kasus suspek di DKI yang dinyatakan negatif GGAPA itu sebelumnya merupakan pasien berusia 10 tahun yang dilaporkan mengalami demam pada 26 Januari lalu. Pasien tersebut juga memiliki keluhan tidak bisa buang air kecil alias anuria.
Sementara satu pasien lainnya yang dirawat di RSUD Dr Moewardo Surakarta tidak termasuk ke dalam kategori GGAPA karena mengalami gagal ginjal yang disebabkan oleh penyakit bawaan.
Syahril menambahkan saat ini hanya ada satu kasus yang kemudian dikonfirmasi GGAPA. Kasus itu datang dari anak berusia satu tahun yang kemudian dinyatakan meninggal dunia pada 1 Februari lalu. Anak tersebut memiliki riwayat konsumsi obat sirup penurun demam yang dibeli di apotek dengan merek Praxion.
Berikut rangkuman kronologi awal temuan kembali dugaan kasus gagal ginjal akut anak di Indonesia pada 2023 ini:
Juru Bicara Kemenkes Mohammad Syahril mengatakan satu kasus konfirmasi GGAPA merupakan anak berusia satu tahun dan mengalami demam pada tanggal 25 Januari lalu. Anak tersebut kemudian diberikan obat sirup penurun demam yang dibeli di apotek dengan merek Praxion.
Selanjutnya pada 28 Januari, pasien tersebut mengalami batuk, demam, pilek, dan tidak bisa buang air kecil alias anuria. Balita tersebut kemudian dibawa ke Puskesmas Pasar Rebo, Jakarta, untuk mendapatkan pemeriksaan, dan pada 31 Januari mendapatkan rujukan ke Rumah Sakit Adhyaksa.
Lantaran balita tersebut mengalami gejala seperti GGAPA, ia direncanakan dirujuk ke RSCM. Namun keluarga menolak dan memilih untuk pulang paksa.
Kemudian pada 1 Februari, orang tua balita itu membawa pasien ke RS Polri dan mendapatkan perawatan di ruang IGD, dan saat itu pasien dilaporkan sudah mulai buang air kecil.
"Pada tanggal 1 Februari, pasien kemudian dirujuk ke RSCM untuk mendapatkan perawatan intensif sekaligus terapi fomepizole, namun 3 jam setelah di RSCM pada pukul 23.00 WIB pasien dinyatakan meninggal dunia," jelas Syahril dalam keterangan tertulis yang diterima CNNIndonesia.com, Senin (6/2).
Sementara satu kasus lainnya masih merupakan suspek yakni anak berusia 10 tahun yang mengalami demam pada tanggal 26 Januari. Anak tersebut kemudian mengkonsumsi obat penurun panas sirop yang dibeli secara mandiri.
Syahril merinci, pada 30 Januari lalu pasien tersebut mendapatkan pengobatan penurun demam tablet dari Puskesmas. Kemudian pada 1 Februari, pasien berobat ke klinik dan diberikan obat racikan. Sehari setelahnya, pasien tersebut dirawat di RSUD Kembangan, kemudian dirujuk ke RSCM Jakarta.
Kemudian pada 10 Februari, Kemenkes melalui Syahril memastikan satu kasus suspek GGAPA di DKI Jakarta itu dinyatakan negatif melalui hasil pemeriksaan lebih lanjut.
Selain suspek di DKI Jakarta, Syahril juga memastikan suspek yang sempat dirawat di RSUD Dr Moewardo Surakarta tidak termasuk ke dalam kategori GGAPA karena mengalami gagal ginjal yang disebabkan penyakit bawaan.
Hal itu menyusul Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka yang sebelumnya mengungkapkan ada pasien anak gagal ginjal yang tengah dirawat di RSUD Moewardi, Solo, Jawa Tengah. Pasien tersebut merupakan anak usia 10 tahun.
Dengan demikian, saat ini hanya ada satu kasus baru yang kemudian dikonfirmasi GGAPA di Indonesia. Adapun dengan dengan dilaporkannya tambahan kasus baru GGAPA, maka hingga Minggu (5/2) tercatat 326 kasus GGAPA yang tersebar di 27 provinsi di Indonesia.
Baca halaman selanjutnya.
Beda Hasil Pemeriksaan Labkesda DKI dan BPOM Soal Praxion
Ilustrasi obat sirop diduga sebagai penyebab kasus gagal ginjal akut pada anak. (iStockphoto/megaflopp)
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan mereka telah melakukan langkah-langkah responsif dengan melakukan investigasi, penelusuran, pengambilan dan pengujian sampel, termasuk pemeriksaan ke sarana produksi atas laporan kasus konfirmasi GGAPA di DKI Jakarta yang memiliki riwayat konsumsi obat sirop merek Praxion.
BPOM selanjutnya membeberkan pengujian terhadap sampel yang dilakukan selama periode 2-3 Februari. BPOM memeriksa sampel sirop sisa obat pasien, sampel sirop obat dari peredaran dengan nomor bets yang sama dengan sampel yang dikonsumsi pasien.
Kemudian sampel sirop obat dari tempat produksi (retained sample) dengan nomor bets yang sama dengan sampel yang dikonsumsi pasien. Sampel sirop obat dengan bets yang berdekatan, sampel bahan baku sorbitol yang digunakan dalam proses produksi.
Pun pada sampel sirop obat lain yang menggunakan bahan baku dengan nomor bets yang sama, atau dua produk sirop yang berbeda. Seluruh sampel sirop dan bahan baku tersebut di atas telah dikirim dan diuji di laboratorium Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN) BPOM.
"Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh sampel yang diuji memenuhi syarat (MS), artinya sirup obat memenuhi persyaratan ambang batas asupan harian, sehingga aman digunakan sepanjang sesuai aturan pakai," kata BPOM dikutip dari situs resmi, Kamis (9/2).
Sebagai bagian dari proses investigasi, BPOM juga telah melakukan pemeriksaan pada tanggal 3 Februari 2023 ke sarana produksi terkait Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang meliputi aspek penting penjaminan mutu.
Di antaranya pengujian mutu bahan baku dan sirop obat, proses produksi, kualifikasi pemasok termasuk pemastian rantai pasok. Dari hasil pemeriksaan tersebut, disimpulkan bahwa sarana produksi masih memenuhi persyaratan CPOB.
Penjelasan Menkes
Sebelumnya, pada Rabu (8/2), Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan hasil pemeriksaan laboratorium sampel pasien balita GGAPA di DKI Jakarta menunjukkan pasien tersebut mengkonsumsi obat dengan cemaran EG maupun DEG yang melebihi ambang batas aman.
Budi mengatakan hasil pemeriksaan itu dilakukan di Labkesda DKI Jakarta. Adapun pasien berusia setahun itu merupakan pasien yang meninggal dunia dengan riwayat konsumsi obat sirop Praxion.
"Kemenkes sudah mengambil sampelnya, sebenarnya RSCM ya mengambil sampelnya, karena di sana banyak dokter anak itu bekerja sama dengan IDAI, kemudian mengirimkan sampelnya ke Labkesda DKI," kata Budi di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu.
"Hasilnya, baik di si anaknya, darahnya ada EG dan DEG, dan di sampelnya juga ada dengan kadar yang di atas batas," imbuhnya.
Dengan demikian, lanjutnya, Kemenkes telah melakukan pemeriksaan pembanding dengan metode yang sama di laboratorium independen. Budi mengatakan hasil pemeriksaan akan diumumkan saat telah rampung sepenuhnya.
Koordinasi lebih lanjut juga telah dilakukan bersama berbagai pihak, seperti Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Provinsi DKI Jakarta, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ahli epidemiologi, dan ahli farmakologi dalam melakukan penelusuran epidemiologi.