Makam Keramat Kyai Haji Jamiin di Masjid Tertua Pesisir Utara
CNN Indonesia
Rabu, 19 Apr 2023 13:25 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Makam Kyai Haji Jamiin bin Abdullah berada di Masjid Al Alam Marunda. (CNN Indonesia/Lina Itafiana)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sayup-sayup azan zuhur terdengar menyelinap ke telinga dari kejauhan. Sementara raungan laju sepeda motor membelah sudut demi sudut pesisir utara Jakarta menuju sumber suara.
Kendaraan itu melesat di atas aspal panas. Merayapi setiap jalanan sepi di mana di setiap sisinya hanya ada rawa-rawa.
Hutan bakau yang begitu rindang dan destinasi wisata Rumah Si Pitung memberikan isyarat bahwa Masjid Al-Alam Marunda semakin dekat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah menyusuri gang kecil, gapura Masjid Al-Alam Marunda menyambut kedatangan dengan gagahnya. Meski warna cat yang membalut sudah mulai memudar, namun tulisan Masjid Al Alam Marunda masih nampak jelas terbaca.
Di balik gapura itu, berdiri kokoh sebuah bangunan masjid tua di atas sebidang tanah yang cukup luas. Masjid tertua di Jakarta ini terletak di Jalan Marunda Kelapa No 1, Marunda, Cilincing, Jakarta Utara.
Komplek masjid itu terdiri dari beberapa bangunan seperti masjid, pendopo masjid dan area pemakaman. Di belakang masjid tepatnya di dekat mimbar masjid terdapat satu makam keramat dengan tirai warna hijau.
Tak seperti makam keramat kebanyakan, tirai yang menyelimuti makam itu terbuka pada salah satu sisi, sehingga jirat makam tersebut dapat dilihat oleh para peziarah.
Jirat makam keramat itu terbuat dari keramik putih berukuran kecil dengan bagian tengah terdapat tanah merah. Tingginya sekitar 10 sentimeter.
Pengurus Masjid Al Alam, Kusnadi mengatakan makam keramat tersebut merupakan makam Kyai Haji Jamiin bin Abdullah yang merupakan seorang ulama berasal dari Kebon Nanas, Jatinegara. Dia datang ke masjid itu dengan membawa satu misi yakni menyebarkan agama Islam di Marunda.
"Beliau datang ke Marunda untuk mengajarkan agama Allah yaitu agama Islam. Beliau tinggal di sini, mengurus masjid ini, dan mengajarkan agama di sini. Itu kehidupan beliau setiap harinya," kata Kusnadi saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Selasa (21/3).
Kusnadi kemudian menceritakan karamah Kyai Haji Jamiin bin Abdullah pada abad ke-18. Kala itu, terjadi tragedi meletusnya Gunung Krakatau yang menyebabkan ribuan manusia meninggal dunia.
Saat bencana maha dahsyat itu terjadi, Kyai Haji Jamiin bin Abdullah tengah berada di Masjid Al Alam. Seluruh masyarakat Marunda pun berbondong-bondong ke masjid itu untuk mencari perlindungan.
Mereka memanjatkan doa kepada Allah SWT agar terlindung dari bencana meletusnya Gunung Krakatau dengan dipimpin langsung oleh Kyai Haji Jamiin bin Abdullah.
Gulungan ombak tsunami akibat meletusnya Gunung Krakatau begitu liar berlari ke arah Masjid Al Alam. Namun, ketika amukan ombak hampir mengenai bagian bangunan masjid, ombak pun terbelah menjadi dua bagian.
"Saat terjadi tsunami, ombak hampir sampai ke Masjid Al Alam Marunda, itu ombak terpecah belah menjadi dua," ujar Kusnadi.
"Setelah itu masjid dan penduduk sekitar diselamatkan oleh Allah SWT melalui tadi doanya beliau wali Allah Kyai Haji Jamiin bin Abdullah," sambungnya.
Kusnadi menuturkan tak ada yang tahu kapan Kyai Haji Jamiin bin Abdullah tutup usia. Sebab, tak ada catatan yang menjelaskan mengenai hal itu.
"Meninggalnya beliau masih simpang siur karena tidak ada catatannya," tuturnya.
Selain makam keramat milik Kyai Haji Jamiin bin Abdullah, area belakang masjid juga terdapat pemakaman umum yang cukup luas.
Perbincangan antara Kusnadi dan CNNIndonesia.com kemudian mengarah kepada sejarah berdirinya Masjid Al Alam.
Pria yang sudah 14 tahun mengurus Masjid Al Alam itu menjelaskan kehadiran masjid tersebut tak terlepas dari perlawanan para aulia atau ulama terhadap penjajahan Portugis dan Belanda.
Kala itu, pasukan Mataram yang dipimpin oleh Adipati Bahurekso bersama Pangeran Fatahillah datang ke Marunda untuk melawan dan mengusir Portugis dari Sunda Kelapa.
Mereka bersinggah di Marunda dan menyusun strategi untuk memukul mundur Portugis. Seiring berjalannya waktu usai Portugis berhasil dibuat mundur dari Sunda Kelapa, Belanda datang dan menguasai Batavia.
Adipati Bahurekso bersama Pangeran Fatahillah kemudian menjadikan Masjid Al Alam sebagai basis perlawanan terhadap penjajahan Belanda.
"Masjid ini bukan hanya buat syiar agama aja, jadi untuk basis perlawanan juga. Untuk merancang strategi melawan penjajah. Masjid ini salah satu saksi sejarah pada saat perlawanan Portugis dan Belanda," kata Kusnadi.
Berlanjut ke halaman berikutnya...
Asal usul nama Marunda, kata Kusnadi, juga berangkat dari perjalanan Adipati Bahurekso bersama Pangeran Fatahillah melawan penjajah.
Dua sosok itu, memulihkan tenaga usai mendapatkan kekalahan dari penjajah. Usai menyusun strategi, penyerangan kembali dilakukan.
Menurut Kusnadi, nama Marunda berasal dari singkatan Markas Penundaan.
"Nama Marunda itu sebuah perjalanan yang menyangkut daripada perjalanan Raden Fatahillah bersama Adipati Baurekso. Beliau singgah di Marunda ini dan menunda pasukannya menjadi markas penundaan," ujarnya.
"Maka terjadilah Kampung Markas Penundaan Pasukan Fatahillah. Marunda, Markas Penundaan seperti itu," sambungnya.
Kusnadi mengatakan Masjid Al Alam merupakan masjid tertua di Jakarta yang dibangun dalam waktu semalam oleh para aulia atau wali Allah.
"Masjid tertua. Sebuah masjid yang dibikin oleh para aulia dalam waktu semalam. Itu Masjid Al Alam Marunda," ucapnya.
Ia menjelaskan mulanya Marunda masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Kemudian sekitar 1975 wilayah tersebut ditetapkan sebagai wilayah Jakarta Utara, DKI Jakarta hingga saat ini.
Bersamaan dengan itu, Dinas Kepurbakalaan DKI Jakarta menetapkan Masjid Al Alam sebagai bangunan cagar budaya.
Kusnadi menuturkan masjid tersebut mulanya bernama Masjid Agung Auliya. Nama itu disematkan lantaran masjid tersebut memiliki bangunan yang besar dan megah.
Namun, setelah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya, masjid tersebut berganti nama menjadi Masjid Al Alam.
"Dan sekarang penduduk, para peziarah sendiri menamakan Masjid Al Alam Marunda Si Pitung," katanya.
Menurutnya, hal itu lantaran lokasi masjid berdekatan dengan Rumah Si Pitung di Marunda.
Mengutip Dinas Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, masjid tertua di pesisir utara Jakarta itu dibangun oleh Fatahillah ketika mengusir bangsa Portugis di Sunda Kelapa.
Foto: CNN Indonesia/Lina Itafiana Makam keramat di Masjid Al-Alam Marunda
Pada 1527 silam, Fatahillah memfokuskan diri untuk menyerang bangsa Portugis di Sunda Kelapa. Ia kemudian membangun Masjid Al Alam Marunda.
Fatahillah tak hanya menjadikan masjid yang lokasinya berdekatan dengan laut utara Pulau Jawa tersebut untuk tempat ibadah, namun masjid itu juga dijadikan sebagai tempat musyawarah dan tempat persinggahan.
Jakarta, CNN Indonesia --
Sayup-sayup azan zuhur terdengar menyelinap ke telinga dari kejauhan. Sementara raungan laju sepeda motor membelah sudut demi sudut pesisir utara Jakarta menuju sumber suara.
Kendaraan itu melesat di atas aspal panas. Merayapi setiap jalanan sepi di mana di setiap sisinya hanya ada rawa-rawa.
Hutan bakau yang begitu rindang dan destinasi wisata Rumah Si Pitung memberikan isyarat bahwa Masjid Al-Alam Marunda semakin dekat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah menyusuri gang kecil, gapura Masjid Al-Alam Marunda menyambut kedatangan dengan gagahnya. Meski warna cat yang membalut sudah mulai memudar, namun tulisan Masjid Al Alam Marunda masih nampak jelas terbaca.
Di balik gapura itu, berdiri kokoh sebuah bangunan masjid tua di atas sebidang tanah yang cukup luas. Masjid tertua di Jakarta ini terletak di Jalan Marunda Kelapa No 1, Marunda, Cilincing, Jakarta Utara.
Komplek masjid itu terdiri dari beberapa bangunan seperti masjid, pendopo masjid dan area pemakaman. Di belakang masjid tepatnya di dekat mimbar masjid terdapat satu makam keramat dengan tirai warna hijau.
Tak seperti makam keramat kebanyakan, tirai yang menyelimuti makam itu terbuka pada salah satu sisi, sehingga jirat makam tersebut dapat dilihat oleh para peziarah.
Jirat makam keramat itu terbuat dari keramik putih berukuran kecil dengan bagian tengah terdapat tanah merah. Tingginya sekitar 10 sentimeter.
Pengurus Masjid Al Alam, Kusnadi mengatakan makam keramat tersebut merupakan makam Kyai Haji Jamiin bin Abdullah yang merupakan seorang ulama berasal dari Kebon Nanas, Jatinegara. Dia datang ke masjid itu dengan membawa satu misi yakni menyebarkan agama Islam di Marunda.
"Beliau datang ke Marunda untuk mengajarkan agama Allah yaitu agama Islam. Beliau tinggal di sini, mengurus masjid ini, dan mengajarkan agama di sini. Itu kehidupan beliau setiap harinya," kata Kusnadi saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Selasa (21/3).
Kusnadi kemudian menceritakan karamah Kyai Haji Jamiin bin Abdullah pada abad ke-18. Kala itu, terjadi tragedi meletusnya Gunung Krakatau yang menyebabkan ribuan manusia meninggal dunia.
Saat bencana maha dahsyat itu terjadi, Kyai Haji Jamiin bin Abdullah tengah berada di Masjid Al Alam. Seluruh masyarakat Marunda pun berbondong-bondong ke masjid itu untuk mencari perlindungan.
Mereka memanjatkan doa kepada Allah SWT agar terlindung dari bencana meletusnya Gunung Krakatau dengan dipimpin langsung oleh Kyai Haji Jamiin bin Abdullah.
Gulungan ombak tsunami akibat meletusnya Gunung Krakatau begitu liar berlari ke arah Masjid Al Alam. Namun, ketika amukan ombak hampir mengenai bagian bangunan masjid, ombak pun terbelah menjadi dua bagian.
"Saat terjadi tsunami, ombak hampir sampai ke Masjid Al Alam Marunda, itu ombak terpecah belah menjadi dua," ujar Kusnadi.
"Setelah itu masjid dan penduduk sekitar diselamatkan oleh Allah SWT melalui tadi doanya beliau wali Allah Kyai Haji Jamiin bin Abdullah," sambungnya.
Kusnadi menuturkan tak ada yang tahu kapan Kyai Haji Jamiin bin Abdullah tutup usia. Sebab, tak ada catatan yang menjelaskan mengenai hal itu.
"Meninggalnya beliau masih simpang siur karena tidak ada catatannya," tuturnya.
Selain makam keramat milik Kyai Haji Jamiin bin Abdullah, area belakang masjid juga terdapat pemakaman umum yang cukup luas.
Perbincangan antara Kusnadi dan CNNIndonesia.com kemudian mengarah kepada sejarah berdirinya Masjid Al Alam.
Pria yang sudah 14 tahun mengurus Masjid Al Alam itu menjelaskan kehadiran masjid tersebut tak terlepas dari perlawanan para aulia atau ulama terhadap penjajahan Portugis dan Belanda.
Kala itu, pasukan Mataram yang dipimpin oleh Adipati Bahurekso bersama Pangeran Fatahillah datang ke Marunda untuk melawan dan mengusir Portugis dari Sunda Kelapa.
Mereka bersinggah di Marunda dan menyusun strategi untuk memukul mundur Portugis. Seiring berjalannya waktu usai Portugis berhasil dibuat mundur dari Sunda Kelapa, Belanda datang dan menguasai Batavia.
Adipati Bahurekso bersama Pangeran Fatahillah kemudian menjadikan Masjid Al Alam sebagai basis perlawanan terhadap penjajahan Belanda.
"Masjid ini bukan hanya buat syiar agama aja, jadi untuk basis perlawanan juga. Untuk merancang strategi melawan penjajah. Masjid ini salah satu saksi sejarah pada saat perlawanan Portugis dan Belanda," kata Kusnadi.
Berlanjut ke halaman berikutnya...
Sejarah Masjid Al Alam dan Asal Usul Marunda
Makam Kyai Haji Jamiin bin Abdullah berada di Masjid Al Alam Marunda. (CNN Indonesia/Lina Itafiana)
Asal usul nama Marunda, kata Kusnadi, juga berangkat dari perjalanan Adipati Bahurekso bersama Pangeran Fatahillah melawan penjajah.
Dua sosok itu, memulihkan tenaga usai mendapatkan kekalahan dari penjajah. Usai menyusun strategi, penyerangan kembali dilakukan.
Menurut Kusnadi, nama Marunda berasal dari singkatan Markas Penundaan.
"Nama Marunda itu sebuah perjalanan yang menyangkut daripada perjalanan Raden Fatahillah bersama Adipati Baurekso. Beliau singgah di Marunda ini dan menunda pasukannya menjadi markas penundaan," ujarnya.
"Maka terjadilah Kampung Markas Penundaan Pasukan Fatahillah. Marunda, Markas Penundaan seperti itu," sambungnya.
Kusnadi mengatakan Masjid Al Alam merupakan masjid tertua di Jakarta yang dibangun dalam waktu semalam oleh para aulia atau wali Allah.
"Masjid tertua. Sebuah masjid yang dibikin oleh para aulia dalam waktu semalam. Itu Masjid Al Alam Marunda," ucapnya.
Ia menjelaskan mulanya Marunda masuk ke dalam wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Kemudian sekitar 1975 wilayah tersebut ditetapkan sebagai wilayah Jakarta Utara, DKI Jakarta hingga saat ini.
Bersamaan dengan itu, Dinas Kepurbakalaan DKI Jakarta menetapkan Masjid Al Alam sebagai bangunan cagar budaya.
Kusnadi menuturkan masjid tersebut mulanya bernama Masjid Agung Auliya. Nama itu disematkan lantaran masjid tersebut memiliki bangunan yang besar dan megah.
Namun, setelah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya, masjid tersebut berganti nama menjadi Masjid Al Alam.
"Dan sekarang penduduk, para peziarah sendiri menamakan Masjid Al Alam Marunda Si Pitung," katanya.
Menurutnya, hal itu lantaran lokasi masjid berdekatan dengan Rumah Si Pitung di Marunda.
Mengutip Dinas Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, masjid tertua di pesisir utara Jakarta itu dibangun oleh Fatahillah ketika mengusir bangsa Portugis di Sunda Kelapa.
Foto: CNN Indonesia/Lina Itafiana Makam keramat di Masjid Al-Alam Marunda
Pada 1527 silam, Fatahillah memfokuskan diri untuk menyerang bangsa Portugis di Sunda Kelapa. Ia kemudian membangun Masjid Al Alam Marunda.
Fatahillah tak hanya menjadikan masjid yang lokasinya berdekatan dengan laut utara Pulau Jawa tersebut untuk tempat ibadah, namun masjid itu juga dijadikan sebagai tempat musyawarah dan tempat persinggahan.