Jakarta, CNN Indonesia -- Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden Joko Widodo, kini memegang predikat ketua umum partai politik termuda di Indonesia.
Laki-laki kelahiran 25 Desember 1994 itu berusia 28 tahun ketika ditunjuk menjadi Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) pada acara Kopi Darat Nasional (Kopdarnas) di Djakarta Theater, Senin (25/9).
Penunjukan Kaesang sebagai Ketua Umum PSI dalam proses yang serba kilat menuai pro dan kontra.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagian mengkritik karena penunjukannya diduga semata mempertimbangkan statusnya sebagai anak presiden. Kaesang dianggap tidak punya kompetensi politik menduduki posisi ketua partai. Namun tidak sedikit yang memuji keberanian Kaesang dan menghormati keputusan PSI.
Kaesang hanya satu dari sekian tokoh muda berusia di bawah 40 tahun yang pernah merasakan duduk di pucuk tertinggi partai politik. CNNIndonesia.com merangkum sejumlah nama-nama tersebut.
1. Ridho Rahmadi
Ridho Rahmadi atau Edo menjabat sebagai Ketua Umum Partai Ummat pada usia 36 tahun. Laki-laki yang lahir di Yogyakarta pada 13 April 1985 itu dideklarasikan langsung oleh Ketua Majelis Syuro Partai Ummat Amien Rais pada 29 April 2021.
Menantu Amien Rais tersebut sempat terkejut ditunjuk sebagai Ketum Partai Ummat karena latar belakangnya bukan berasal dari dunia politik, melainkan akademisi yang fokus pada bidang sains data dan AI.
Edo tercatat sebagai staf pengajar di Teknik Informatika Universitas Islam Indonesia (UII) sejak 2009. Ia juga sempat melakukan visiting research ke Carnegie Mellon University, Amerika Serikat, pada tahun 2017.
Tahun 2018, Edo membentuk Pusat Studi Sains Data di UII, hingga dipercayai sebagai Kepala Laboratorium Riset Teknik Informatika UII.
Sebelum menjabat sebagai Ketum Partai Ummat, Edo ditugaskan di tim IT untuk mengelola platform digital dan server Partai Ummat. Setelah itu, namanya diusulkan sebagai Ketum Partai dalam pembentukan kepengurusan Partai Ummat.
2. Grace Natalie
Sebelum Kaesang menjabat, posisi Ketum PSI termuda dipegang oleh Grace Natalie. Perempuan kelahiran Jakarta, 4 Juli 1982 itu berumur 32 tahun ketika menduduki bangku Ketua.
Sebelum berkarier di politik, Grace dikenal sebagai jurnalis di beberapa stasiun televisi. Ia juga sempat bergabung dan menjadi CEO di lembaga riset Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada pertengahan 2012.
Pengalaman tersebut yang membawa Grace menjejaki karier politik. Ia bersama rekannya mendirikan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di tahun 2014.
Setelah tidak menjabat sebagai Ketum PSI dan digantikan oleh Giring Ganesha, Grace beralih menjadi Wakil Ketua Dewan Pembina PSI di tahun 2021.
Pada pemilu 2019, Grace sempat mencalonkan diri sebagai anggota legislatif, tapi dirinya tidak memenuhi ambang batas parlemen sebesar 4 persen untuk duduk di Senayan.
3. Muhaimin Iskandar
Bakal cawapres dari Koalisi Perubahan Muhaimin Iskandar alias Cak Imin menjadi Ketum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di usia 39 tahun. Ia menjadi pemimpin PKB selama dua periode, yaitu 2005-2010 dan 2019-2024.
Cak Imin memiliki rekam jejak politik yang panjang. Ia mengawali kariernya sebagai salah satu pendiri PKB bersama tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang dideklarasikan tahun 1998.
Sebelumnya, ia ditunjuk sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP PKB periode 1992-2002 dan 2004-2005. Kemudian Cak Imin dipercaya sebagai Ketua Dewan Tanfidziah DPP PKB periode 2002-2007.
Kader NU ini merupakan politikus senior yang menjadi anggota DPR RI selama empat periode, yaitu dI Pemilu 1999, Pemilu 2004, Pemilu 2014, hingga Pemilu 2019.
Puncak karier politiknya adalah ketika ditunjuk sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabinet Indonesia Bersatu II periode 2009-2014 oleh Presiden SBY.
4. Budiman Sudjatmiko
Budiman punya karier politik mentereng jauh sebelum bergabung dengan PDIP. Pada dekade 90-an Budiman adalah salah satu aktivis prodemokrasi yang lantang menentang rezim Soeharto.
Dia dan kawan-kawannya mendirikan Partai Rakyat Demokratik (PRD) pada 1996 sebagai alat perjuangan melawan Orde Baru. Budiman tercatat sebagai ketua umum pertama PRD. Saat itu usianya baru 26 tahun.
PRD jadi partai yang diberangus oleh Orde Baru. Pemerintah Soeharto saat itu menuding PRD sebagai dalang dalam unjuk rasa besar kaum buruh dan peristiwa kerusuhan 27 Juli. Pimpinan partai yang mayoritas anak muda itu kemudian diburu dan ditangkap.
Halaman berikutnya Sukarno, D.N. Aidit hingga Sutan Sjahrir...
Sukarno hingga Sutan Sjahrir
Presiden Sukarno juga tercatat pernah menjadi ketua umum partai termuda di masanya. (Foto: AP/Leslie Priest)
5. Ir. Sukarno
Presiden pertama Ir. Sukarno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) di tahun 1928. Sukarno berusia 26 tahun ketika memimpin partai tertua itu.
Sukarno muda dikenal sebagai tokoh pergerakan yang aktif sejak pra kemerdekaan Indonesia. Jejak politiknya dimulai ketika ia mendirikan perkumpulan politiknya dengan nama Tri Koro Dharmo pada tahun 1915.
Kemudian, ia mendirikan organisasi Algemene Studie Club cikal bakal pergerakan Persatuan Nasional Indonesia di tahun 1927 yang berubah menjadi partai di tahun 1928.
PNI sempat dibubarkan karena dianggap mengancam Belanda, dan Sukarno ditangkap pada tahun 1929-1931. Setelah dibebaskan, ia bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo) yang merupakan pecahan dari PNI dan menjadi pemimpinnya.
Sukarno kembali ditangkap oleh Belanda dan diasingkan hingga kepemimpinan Jepang. Setelah dibebaskan, ia terlibat di sejumlah organisasi buatan Jepang, seperti Putera, BPUPKI, dan PPKI.
Tahun 1945, jejak politik Sukarno membawa namanya menjadi Presiden Pertama RI dan mengusulkan pembentukan kembali PNI dalam rapat bersama PPKI.
6. D.N. Aidit
Dipa Nusantara Aidit atau D.N Aidit merupakan salah satu tokoh muda yang pernah menjadi pemimpin partai. Ia menjadi Ketua Umum Comite Central Partai Komunis Indonesia (PKI) di usia 28 tahun.
Sebelum menjabat sebagai pemimpin partai, ia dikenal aktif dalam beberapa pergerakan. D.N. Aidit menjadi pemimpin Persatuan Timur Muda dan ketua cabang Jakarta Raya Angkatan Pemuda Indonesia (API) pada tahun 1945.
D.N Aidit bergabung PKI dengan menjadi penerjemah Manifesto Komunis dan menjadi anggota Politbiro PKI di tahun 1948. Lalu, diangkat menjadi Sekjen PKI pada Januari 1951.
Kariernya di PKI melejit di tahun 1952 menjadi pemimpin partai, hingga menjadikan PKI sebagai partai komunis terbesar ketiga di dunia pada tahun 1960-an.
Namun, di tahun 1965 PKI dituduh menjadi dalang dalam peristiwa G30S/PKI. Ini menjadi akhir dari salah satu partai terbesar di Indonesia.
7. Sutan Sjahrir
Sutan Sjahrir menjadi pemimpin Partai Sosialis Indonesia (PSI) di usia 39 tahun. Ia membentuk PSI pada tahun 1948 sebagai gerakan pemuda sosialis.
PSI merupakan gabungan dari Partai Sosialis Indonesia (PARSI) yang dipimpin oleh Amir Syarifuddin dan Partai Rakyat Sosialis (PARAS) yang dipimpin oleh Sjahrir di tahun 1945.
Sjahrir mengawali karier politiknya dengan menjadi bagian dari pendiri Pemuda Indonesia di tahun 1927. Himpunan ini merupakan mencetus Sumpah Pemuda di tahun 1928.
Kemudian, Sjahrir sempat bergabung dan menjadi ketua PNI Baru tahun 1932. Ia juga membangun jaringan gerakan radikal ideologi nasional untuk merebut kemerdekaan di tangan Jepang.
Setahun setelah kemerdekaan, Sjahrir diangkat menjadi Perdana Menteri pertama di Indonesia pada tahun 1946. Ia diculik oleh kelompok oposisi Persatuan Perjuangan.
Tahun 1955, PSI mencoba keberuntungan di pemilu pertama dan gagal mendapatkan perolehan suara untuk melenggang ke Senayan.
Akhir dari PSI adalah ketika Sjahrir ditangkap tanpa diadili karena diduga terlibat dalam pemberontakan PRRI di tahun 1958. PSI akhirnya dibubarkan pada tahun 1960.