Mengapa Gerindra Ngebet Gaet Gibran jadi Cawapres Prabowo?
CNN Indonesia
Kamis, 12 Okt 2023 11:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Sejumlah pengurus cabang hingga organisasi sayap Partai Gerindra mendorong Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden pendamping Prabowo Subianto di Pilpres 2024. (Arsip Gerindra)
Para pengamat politik menilai manuver itu sebagai upaya Gerindra memastikan dukungan ayah Gibran, Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Usul nama Gibran sebagai cawapres Prabowo bermula dari kalangan relawan. Projo Jawa Timur sepakat mengusulkan Prabowo sebagai calon presiden dan Gibran sebagai calon wakil presiden.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usulan itu merembet ke sejumlah pengurus daerah Gerindra. Rapat Koordinasi Cabang (Rakorcab) DPC Partai Gerindra Tangerang Selatan, Minggu (8/10), mengusulkan Gibran sebagai cawapres Prabowo.
DPC Partai Gerindra Jakarta Timur juga menyampaikan usulan serupa pada Rabu (11/10). Keputusan yang sama juga diambil pengurus Gerindra di Cianjur dan Malang.
Organisasi sayap Gerindra, seperti Satuan Relawan Indonesia Raya (Satri) hingga Tunas Indonesia Raya (Tidar) turut mendorong Gibran jadi cawapres Prabowo.
Sementara itu, elite Gerindra membuka pintu terhadap usulan-usulan tersebut. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menyebut Gibran sebagai "opsi yang paling penting" dalam bursa cawapres Prabowo.
Prabowo juga terbuka dengan usulan Gibran sebagai cawapres. Ia berkata kursi cawapres akan dibahas bersama rekan koalisi, tetapi aspirasi rakyat menjadi patokan utama.
"Ya gimana kalau kehendak rakyat begitu, ya ini kita tidak bicara kehendak elite, tetapi ini karena ada dukungan dari rakyat," kata Prabowo usai menemui perwakilan dari Aktivis 98 di depan kediaman Prabowo, di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Rabu (11/10).
Pada saat yang sama, antusiasme partai-partai Koalisi Indonesia Maju terhadap Gibran tak begitu tinggi. Partai Golkar masih mendorong nama Airlangga Hartarto. Mereka juga masih menunggu putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal penurunan syarat usia cawapres menjadi 35 tahun.
PAN justru lebih tegas menolak usulan Gibran sebagai cawapres Prabowo. Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan menyebut partainya masih mendukung Erick Thohir untuk mendampingi Prabowo.
"Loh Gibran kan keren, wali kota sukses, apa-apa sukses, tetapi saya usulkan Pak Erick (sebagai cawapres Prabowo) kan," ujar Zulhas setelah bertemu Jokowi di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (10/10).
Analis politik sekaligus CEO Voxpol Center Research Pangi Syarwi Chaniago melihat ada tujuan khusus di balik langkah Gerindra memasangkan Prabowo dengan Gibran.
Menurut Pangi, Gerindra berusaha memastikan dukungan Jokowi dengan menggandeng Gibran. Ia percaya Jokowi akan total mendukung Prabowo bila anaknya menjadi cawapres.
"Anaknya sudah jadi cawapres, bagaimana Jokowi mendua? Karena kan siapa yang enggak sayang sama anaknya. Jangankan cawapres, gubernur atau wali kota saja Jokowi sudah turun gunung. Apalagi posisi cawapres?" kata Pangi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (12/10).
Pangi berpendapat Gerindra kurang percaya diri jika Gibran tak jadi cawapres Prabowo. Hal itu karena Jokowi yang masih tampak bermain dua kaki.
Ia menyebut Jokowi masih terlihat berpijak satu kaki di Prabowo dan satu kaki lagi di Ganjar Pranowo. Gerindra, kata Pangi, ingin memastikan pijakan dua kaki Jokowi di Prabowo dengan merangkul Gibran.
Berlanjut ke halaman berikutnya...
Dihubungi terpisah, peneliti politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Wasisto Jati berpendapat Gerindra butuh simbol kuat untuk meraup suara pendukung Jokowi.
Setelah menamakan koalisi seperti kabinet Jokowi, Gerindra ingin mengklaim dukungan trah Jokowi. Jalan itu ditempuh dengan mencoba menjadikan Gibran sebagai cawapres.
"Dalam hal ini Gibran ya yang dianggap representasi dari suksesor Jokowi. Jadi inilah yang membuat kenapa elite Gerindra ngebet sekali," ucap Wasisto saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (12/10).
Wasis berkata faktor simbol Jokowi itu mengalahkan pertimbangan-pertimbangan rasional. Secara rasional, ia menilai Gibran belum cukup pengalaman di politik untuk mendapat tiket sebagai RI 2.
"Dalam politik serba memungkinkan. Jadi hal-hal seperti itu (minim pengalaman) bisa dikesampingkan sebenarnya," ujarnya.
Pangi juga menyampaikan hal senada. Ia menilai Gibran memang baru di dunia politik, tetapi cukup menjanjikan untuk mendongkrak suara.
Survei Voxpol Center Research & Consulting pada 24 Juli-2 Agustus 2023 menyertakan tujuh simulasi pilpres. Voxpol memasangkan Prabowo, Ganjar, dan Anies Baswedan dengan sejumlah cawapres.
Ada dua dari tujuh simulasi yang memasangkan Prabowo dengan Gibran. Pasangan itu selalu menang dengan elektabilitas di atas 34 persen.
"Siapa pun cawapres Ganjar atau Anies, elektabilitas Prabowo dan Gibran lebih tinggi," ungkapnya.
Sementara pada survei Poltracking Indonesia, Prabowo lebih unggul jika dipasangkan dengan Erick Thohir ketimbang dengan Gibran. Prabowo-Erick memimpin 32,1 persen; sementara Prabowo-Gibran hanya meraih 30,9 persen suara.
Survei Poltracking Indonesia dilakukan pada 3-9 September 2023, dengan melibatkan 1.220 responden.
"Kuncinya adalah jika kita membaca peta simulasi capres-cawapres siapa yang akan dipilih oleh Prabowo? Apakah Erick atau Gibran? Itu yang kemudian per survei awal September bisa jadi menentukan, menjelang pendaftaran nanti 12 hari," kata Direktur Riset Poltracking Indonesia Arya Budi.
Para pengamat politik menilai manuver itu sebagai upaya Gerindra memastikan dukungan ayah Gibran, Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Usul nama Gibran sebagai cawapres Prabowo bermula dari kalangan relawan. Projo Jawa Timur sepakat mengusulkan Prabowo sebagai calon presiden dan Gibran sebagai calon wakil presiden.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usulan itu merembet ke sejumlah pengurus daerah Gerindra. Rapat Koordinasi Cabang (Rakorcab) DPC Partai Gerindra Tangerang Selatan, Minggu (8/10), mengusulkan Gibran sebagai cawapres Prabowo.
DPC Partai Gerindra Jakarta Timur juga menyampaikan usulan serupa pada Rabu (11/10). Keputusan yang sama juga diambil pengurus Gerindra di Cianjur dan Malang.
Organisasi sayap Gerindra, seperti Satuan Relawan Indonesia Raya (Satri) hingga Tunas Indonesia Raya (Tidar) turut mendorong Gibran jadi cawapres Prabowo.
Sementara itu, elite Gerindra membuka pintu terhadap usulan-usulan tersebut. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menyebut Gibran sebagai "opsi yang paling penting" dalam bursa cawapres Prabowo.
Prabowo juga terbuka dengan usulan Gibran sebagai cawapres. Ia berkata kursi cawapres akan dibahas bersama rekan koalisi, tetapi aspirasi rakyat menjadi patokan utama.
"Ya gimana kalau kehendak rakyat begitu, ya ini kita tidak bicara kehendak elite, tetapi ini karena ada dukungan dari rakyat," kata Prabowo usai menemui perwakilan dari Aktivis 98 di depan kediaman Prabowo, di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Rabu (11/10).
Pada saat yang sama, antusiasme partai-partai Koalisi Indonesia Maju terhadap Gibran tak begitu tinggi. Partai Golkar masih mendorong nama Airlangga Hartarto. Mereka juga masih menunggu putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal penurunan syarat usia cawapres menjadi 35 tahun.
PAN justru lebih tegas menolak usulan Gibran sebagai cawapres Prabowo. Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan menyebut partainya masih mendukung Erick Thohir untuk mendampingi Prabowo.
"Loh Gibran kan keren, wali kota sukses, apa-apa sukses, tetapi saya usulkan Pak Erick (sebagai cawapres Prabowo) kan," ujar Zulhas setelah bertemu Jokowi di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (10/10).
Analis politik sekaligus CEO Voxpol Center Research Pangi Syarwi Chaniago melihat ada tujuan khusus di balik langkah Gerindra memasangkan Prabowo dengan Gibran.
Menurut Pangi, Gerindra berusaha memastikan dukungan Jokowi dengan menggandeng Gibran. Ia percaya Jokowi akan total mendukung Prabowo bila anaknya menjadi cawapres.
"Anaknya sudah jadi cawapres, bagaimana Jokowi mendua? Karena kan siapa yang enggak sayang sama anaknya. Jangankan cawapres, gubernur atau wali kota saja Jokowi sudah turun gunung. Apalagi posisi cawapres?" kata Pangi saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (12/10).
Pangi berpendapat Gerindra kurang percaya diri jika Gibran tak jadi cawapres Prabowo. Hal itu karena Jokowi yang masih tampak bermain dua kaki.
Ia menyebut Jokowi masih terlihat berpijak satu kaki di Prabowo dan satu kaki lagi di Ganjar Pranowo. Gerindra, kata Pangi, ingin memastikan pijakan dua kaki Jokowi di Prabowo dengan merangkul Gibran.
Berlanjut ke halaman berikutnya...
Gibran Penerus Jokowi
Para pengamat politik menilai manuver itu sebagai upaya Gerindra memastikan dukungan ayah Gibran, Presiden Joko Widodo (Jokowi). (Tim Media Prabowo Subianto)
Dihubungi terpisah, peneliti politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Wasisto Jati berpendapat Gerindra butuh simbol kuat untuk meraup suara pendukung Jokowi.
Setelah menamakan koalisi seperti kabinet Jokowi, Gerindra ingin mengklaim dukungan trah Jokowi. Jalan itu ditempuh dengan mencoba menjadikan Gibran sebagai cawapres.
"Dalam hal ini Gibran ya yang dianggap representasi dari suksesor Jokowi. Jadi inilah yang membuat kenapa elite Gerindra ngebet sekali," ucap Wasisto saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (12/10).
Wasis berkata faktor simbol Jokowi itu mengalahkan pertimbangan-pertimbangan rasional. Secara rasional, ia menilai Gibran belum cukup pengalaman di politik untuk mendapat tiket sebagai RI 2.
"Dalam politik serba memungkinkan. Jadi hal-hal seperti itu (minim pengalaman) bisa dikesampingkan sebenarnya," ujarnya.
Pangi juga menyampaikan hal senada. Ia menilai Gibran memang baru di dunia politik, tetapi cukup menjanjikan untuk mendongkrak suara.
Survei Voxpol Center Research & Consulting pada 24 Juli-2 Agustus 2023 menyertakan tujuh simulasi pilpres. Voxpol memasangkan Prabowo, Ganjar, dan Anies Baswedan dengan sejumlah cawapres.
Ada dua dari tujuh simulasi yang memasangkan Prabowo dengan Gibran. Pasangan itu selalu menang dengan elektabilitas di atas 34 persen.
"Siapa pun cawapres Ganjar atau Anies, elektabilitas Prabowo dan Gibran lebih tinggi," ungkapnya.
Sementara pada survei Poltracking Indonesia, Prabowo lebih unggul jika dipasangkan dengan Erick Thohir ketimbang dengan Gibran. Prabowo-Erick memimpin 32,1 persen; sementara Prabowo-Gibran hanya meraih 30,9 persen suara.
Survei Poltracking Indonesia dilakukan pada 3-9 September 2023, dengan melibatkan 1.220 responden.
"Kuncinya adalah jika kita membaca peta simulasi capres-cawapres siapa yang akan dipilih oleh Prabowo? Apakah Erick atau Gibran? Itu yang kemudian per survei awal September bisa jadi menentukan, menjelang pendaftaran nanti 12 hari," kata Direktur Riset Poltracking Indonesia Arya Budi.