Jalan Pengamen Naik Kelas, Merebut Ruang atau Berkarya
Hisyam Naufal | CNN Indonesia
Rabu, 31 Jan 2024 10:10 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Institut Musik Jalanan (IMJ) menggelar kelas dan penampilan di ruang publik. (Foto: Dok. IMJ)
Jakarta, CNN Indonesia --
"Ketika rumah sudah tidak bisa lagi menampung cerita, mereka turun ke jalan untuk menumpahkan air mata," kata Andi Malewa, pendiri Institut Musik Jalanan.
Pria asal Makassar itu merantau ke Jakarta. Demi bertahan hidup di ibu kota, Andi tak punya pilihan selain mengamen. Dia pun harus berhadapan dengan penguasa wilayah di sejumlah titik yang membatasi geraknya untuk mengais rezeki.
"Raja-raja kecil itu memang ada," kata Andi saat ditemui di kawasan Ancol, Jakarta Utara, 13 Desember 2023.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tantangan bukan hanya itu. Posisinya sebagai musisi jalanan itu kerap disetarakan dengan pengemis, gelandangan, bahkan orang dengan gangguan jiwa.
Bagi Andi, dikejar-kejar aparat bahkan sampai mengalami kekerasan seakan menjadi hal yang lumrah bagi pengamen.
"Saya cukup mau cari makan. Kok, saya dikejar-kejar seperti penjahat," kata Andi.
Menurutnya, para pengamen seharusnya mendapat perlindungan negara.
Pasal 34 UUD 1945 yang berbunyi "Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara," mengamanatkan pemerintah agar melindungi dan memberdayakan masyarakatnya, termasuk pengamen, agar berkehidupan yang lebih layak.
Pengalaman pahit itu tidak membuatnya terpuruk. Dia justru bangkit dan melawan dengan caranya.
Andi kemudian mendirikan Institut Musik Jalanan (IMJ) sebagai wadah untuk melawan situasi yang tak berpihak pada musisi jalanan.
"Saya harus melawan, tapi dengan cara yang terhormat. Saya akan lawan bukan sebagai Andi Malewa yang pengamen tadi. Saya akan melawan sebagai Andi Malewa dengan cara yang intelektual. IMJ harus didirikan," ujarnya.
Dia menggagas institut tersebut pada 7 Juni 2014 bersama dua temannya, Iksan Skuter dan Fristo Gurning. Sejak itu, IMJ berkembang dan menjangkau banyak tempat di Indonesia.
IMJ diklaim mempunyai anggota berlisensi sekitar 1.020 orang per Oktober 2023. Lembaga ini juga mengurasi pengamen untuk mendapatkan lisensi.
Kurasi yang dimaksud adalah proses pemilihan pengamen yang dianggap memiliki potensi untuk 'naik kelas' dan nantinya bisa mengisi ruang publik.
Proses kurasi dimulai dengan observasi terhadap musisi jalanan yang aktif berkegiatan di sebuah kota. Selanjutnya, mereka akan dikurasi satu per satu secara tertutup oleh Andi Malewa dan kurator lain.
Setelah itu, mereka akan dihadapkan pada uji pentas sebagai proses terakhir. Berbeda dengan proses kurasi tertutup, nantinya pada tahap uji pentas mereka akan diperkenalkan ke masyarakat.
Jika terpilih, para musisi ini akan mendapat rompi khusus sebagai simbol bahwa mereka telah lolos seleksi.
Setelahnya, tim IMJ kembali ke Jakarta untuk memproses penerbitan lisensi yang diterbitkan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Lisensi ini berlaku sebagai izin bagi para pengamen untuk bisa tampil di ruang publik.
"Setelah dinyatakan lulus kurasi dan berhak untuk mendapatkan akses (tampil di ruang publik) sehingga legal, berkat rekomendasi itu mereka membawa itu ke pemerintah daerah, berkoordinasi, saya boleh mengakses ruang ini," kata Andi.
Pengamen berlisensi di ruang publik
Jumat sore, suara instrumen terdengar sayup-sayup saat kaki mulai memasuki Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta Pusat.
Di lorong stasiun MRT tempat orang berlalu lalang, Lukman, Budi, Karel, dan Zabrik, sedang bersiap memainkan sebuah lagu. Mereka adalah musisi yang tergabung dalam IMJ.
Sebuah spanduk bertuliskan #PengamenNaikKelas berdiri di samping mereka. Jargon ini ditujukan bagi mereka yang bertransformasi dari pengamen jalanan di lampu merah.
Transformasi ini mengubah gaya mengamen mereka, dari meminta-minta di jalanan kini menempati ruang publik seperti stasiun MRT.
Sejumlah seniman dari Institut Musik Jalanan (IMJ) tampil di Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta Pusat. (CNN Indonesia/Hisyam Naufal)
Lukman mulai memainkan biola bersambut iringan piano dari Budi. Penampilan mereka berpadu dengan aksi Karel yang memainkan peran pantomim.
Instrumen yang dimainkan terasa memanjakan telinga. Penumpang MRT seperti diajak menyelami ungkapan hati para musisi lewat sebuah lagu.
Tidak jarang orang berhenti sejenak untuk menonton, berfoto, atau bahkan mengabadikan momen tersebut di akun media sosialnya.
Lukman berbagi cerita tentang masa lalunya. Si pemain biola ini dulunya adalah pengamen di lampu merah.
Turun ke jalan bukan pilihannya. Perekonomian keluarga yang buruk memaksanya putus sekolah di kelas 2 SMA lalu mengadu nasib di jalanan.
Lukman merasa kehidupan jalanan banyak memberi pengalaman dibandingkan uang.
Ia pernah ditangkap oleh Satpol PP dan dibawa ke panti sosial di Kedoya, Jakarta Barat. Lukman ditahan tiga bulan dan disatukan dengan ODGJ.
"Jadi saya itu dikasih tempat tidur bareng orang-orang ODGJ. Wah, itu ngerinya bukan main. Ada yang tiba-tiba malam-malam teriak marah-marah, ngerasain takutnya," ungkap Lukman.
Kadinsos DKI Jakarta Premi Lestari membenarkan bahwa pengamen termasuk kategori Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS). Mereka menjadi target untuk dibawa ke panti awal, di mana semua PPKS disatukan di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 1 dan 2.
"Ya, karena memang panti awal, panti penampungan awal itu semua. Semua karakter, semua jenis PPKS itu di panti awal," kata Premi kepada CNNIndonesia.com.
Hidup Lukman berubah ketika bergabung dengan IMJ pada 2019. Ia merasakan banyak perubahan drastis di sana.
Kini Lukman tidak lagi mengamen di lampu merah. Ia melakukan pertunjukan musik bersama musisi jalanan di ruang yang disediakan pemerintah, setelah diadvokasi oleh IMJ bersama Ditjen Kebudayaan Kemdikbud.
Baca halaman selanjutnya...
Salah satu pendiri Institut Musik Jalanan, Iksan Skuter mengkritik medan juang yang diambil oleh komunitas yang didirikannya itu. Dia kemudian keluar dari IMJ karena merasa telah berbeda arah perjuangan.
Iksan menjelaskan, pada awalnya IMJ didirikan sebagai komunitas yang dapat menjadi alternatif bagi industri musik yang ada. Ia ingin mendorong para musisi jalanan untuk dapat hidup dari karyanya sendiri.
Waktu berlalu, IMJ mulai bergerak dalam payung tujuan seperti yang diinginkan oleh Iksan, yakni mendorong para musisi jalanan untuk berkarya. Alhasil, IMJ dapat menghasilkan album kompilasi pertama saat IMJ diresmikan.
Setelah itu, Iksan perlahan mundur dari komunitas tersebut. Ia merasa tak lagi satu visi dengan Andi Malewa. Namun Iksan tetap menghargai rekannya itu.
"IMJ di bayangan saya, mimpi saya, IMJ itu dibangun untuk menjadi opsi dalam sistem industri musik," kata Iksan kepada CNNIndonesia.com.
Ia menganggap bahwa urgensi utama yang perlu diperhatikan oleh IMJ adalah melahirkan seniman berbasis karya. Menurutnya, ada kekosongan dalam komunitas seniman IMJ lantaran mereka hanya memainkan karya orang lain ketika tampil di ruang publik.
"Bahwa seniman jalanan butuh ruang publik yang bisa mereka akses tanpa ketar-ketir, tanpa khawatir digerebek oleh Satpol PP, itu hal yang penting juga. Tapi bagi saya itu second layer. Layer pertama bagi saya seniman melahirkan karya seni," ujar Iksan.
Ia lebih jauh menyebutkan bahwa muara yang seharusnya dituju oleh para musisi jalanan bukanlah tampil di ruang publik saja, melainkan berkembang dengan karyanya sendiri.
"Kalau hanya di titik itu, ya mereka muaranya hanya di sana aja, gitu. Mereka ending-nya di sana aja. Pertanyaannya, kalau sudah di sana harus ngapain? Apakah itu puncak karier? Bukan. Seniman, puncak karirnya adalah ketika karyanya sudah diakui. Dengan cara apa? Berproses," kata Iksan.
Dia tidak sepakat dengan apa yang diperjuangkan oleh IMJ bersama pemerintah melalui lisensi pengamen. Menurutnya, lisensi itu pada akhirnya hanya menjadi alat untuk mengotak-kotakkan seniman serta monopoli sebuah izin.
"Kalau ditanya lisensi, saya enggak punya lisensi. Tapi ketika saya punya karya dan saya bisa main ke tiap kota, karena apa? Karena karya saya," ujar Iksan.
MRT Jakarta bersama dengan Institut Musik Jalanan memberikan kesempatan bagi musisi jalanan untuk menunjukkan kemampuannya di Ruang Musik MARTI, dengan tujuan pengamen jalanan naik kelas. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Uyung dari padepokan musik Mahagenta, juga memiliki pandangan yang serupa dengan Iksan Skuter. Dia menilai lisensi bagi para pengamen justru mendiskriminasi musisi lain.
"Saya kira agak (diskriminatif) karena ada teman-teman yang tidak punya lisensi kemudian mereka layak tampil dan bisa bekerja sebagai musisi," kata Uyung saat ditemui di Warung Apresiasi (Wapress) Bulungan, Jakarta Selatan, Jumat (19/1).
Lebih jauh, Uyung berpendapat lisensi yang sebenarnya adalah kemampuan para musisi untuk bisa mengeksplorasi dan menginterpretasikan musik sebagai produk entertain ataupun sebuah ilmu pengetahuan.
Ia menanggapi lisensi yang dikerjakan IMJ bekerja sama dengan Kemendikbud. Seharusnya, kata Uyung, pemerintah bisa duduk bersama dengan para seniman terlebih dahulu sebelum membuat kebijakan.
"Duduk bareng sih harusnya. Jadi bukan produk-produk pemerintah yang kemudian kita laksanakan. Harusnya pemerintah itu mengajak duduk kita untuk membuat sebuah kebijakan yang mana kiranya dibutuhkan," kata Uyung.
Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan Ditjen Kebudayaan, Restu Gunawan mengungkapkan, apa yang dilakukan oleh IMJ selaras dengan misi Ditjen Kebudayaan Kemendikbud, yakni Kebudayaan inklusif yang berarti bahwa semua orang punya hak untuk mendapatkan layanan di bidang kebudayaan.
Menurutnya, pemerintah memilih bekerja sama dengan IMJ bukan tanpa alasan. Lembaga itu, kata Restu, termasuk yang pertama diketahui melakukan pembinaan terhadap pengamen jalanan.
"IMJ termasuk yang pertama, termasuk yang awal melakukan pembinaan lah," ujar Restu.
Ditjen Kebudayaan bergerak sebagai fasilitator bagi musisi-musisi yang telah dipilih dan dikurasi oleh IMJ untuk kemudian diberikan akses mengisi ruang publik.
Restu mendorong pihak lain di berbagai level pemerintahan untuk ikut serta mendukung program pengembangan kebudayaan.
Dia juga menyerukan kepada komunitas-komunitas kebudayaan lainnya untuk dapat turut serta melakukan langkah pengembangan kebudayaan seperti yang dilakukan oleh IMJ.
"Kalau misalnya ada komunitas lainnya bagus-bagus saja menurut saya. Kami tidak ada masalah kalau ada kompetisi. Bagi kami seluruh komunitas itu adalah bagian ekosistem dari pemajuan kebudayaan," kata Restu.
Infografis sejarah perkembangan musik Indonesia. (CNN Indonesia/fajrian)
Jakarta, CNN Indonesia --
"Ketika rumah sudah tidak bisa lagi menampung cerita, mereka turun ke jalan untuk menumpahkan air mata," kata Andi Malewa, pendiri Institut Musik Jalanan.
Pria asal Makassar itu merantau ke Jakarta. Demi bertahan hidup di ibu kota, Andi tak punya pilihan selain mengamen. Dia pun harus berhadapan dengan penguasa wilayah di sejumlah titik yang membatasi geraknya untuk mengais rezeki.
"Raja-raja kecil itu memang ada," kata Andi saat ditemui di kawasan Ancol, Jakarta Utara, 13 Desember 2023.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tantangan bukan hanya itu. Posisinya sebagai musisi jalanan itu kerap disetarakan dengan pengemis, gelandangan, bahkan orang dengan gangguan jiwa.
Bagi Andi, dikejar-kejar aparat bahkan sampai mengalami kekerasan seakan menjadi hal yang lumrah bagi pengamen.
"Saya cukup mau cari makan. Kok, saya dikejar-kejar seperti penjahat," kata Andi.
Menurutnya, para pengamen seharusnya mendapat perlindungan negara.
Pasal 34 UUD 1945 yang berbunyi "Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara," mengamanatkan pemerintah agar melindungi dan memberdayakan masyarakatnya, termasuk pengamen, agar berkehidupan yang lebih layak.
Pengalaman pahit itu tidak membuatnya terpuruk. Dia justru bangkit dan melawan dengan caranya.
Andi kemudian mendirikan Institut Musik Jalanan (IMJ) sebagai wadah untuk melawan situasi yang tak berpihak pada musisi jalanan.
"Saya harus melawan, tapi dengan cara yang terhormat. Saya akan lawan bukan sebagai Andi Malewa yang pengamen tadi. Saya akan melawan sebagai Andi Malewa dengan cara yang intelektual. IMJ harus didirikan," ujarnya.
Dia menggagas institut tersebut pada 7 Juni 2014 bersama dua temannya, Iksan Skuter dan Fristo Gurning. Sejak itu, IMJ berkembang dan menjangkau banyak tempat di Indonesia.
IMJ diklaim mempunyai anggota berlisensi sekitar 1.020 orang per Oktober 2023. Lembaga ini juga mengurasi pengamen untuk mendapatkan lisensi.
Kurasi yang dimaksud adalah proses pemilihan pengamen yang dianggap memiliki potensi untuk 'naik kelas' dan nantinya bisa mengisi ruang publik.
Proses kurasi dimulai dengan observasi terhadap musisi jalanan yang aktif berkegiatan di sebuah kota. Selanjutnya, mereka akan dikurasi satu per satu secara tertutup oleh Andi Malewa dan kurator lain.
Setelah itu, mereka akan dihadapkan pada uji pentas sebagai proses terakhir. Berbeda dengan proses kurasi tertutup, nantinya pada tahap uji pentas mereka akan diperkenalkan ke masyarakat.
Jika terpilih, para musisi ini akan mendapat rompi khusus sebagai simbol bahwa mereka telah lolos seleksi.
Setelahnya, tim IMJ kembali ke Jakarta untuk memproses penerbitan lisensi yang diterbitkan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Lisensi ini berlaku sebagai izin bagi para pengamen untuk bisa tampil di ruang publik.
"Setelah dinyatakan lulus kurasi dan berhak untuk mendapatkan akses (tampil di ruang publik) sehingga legal, berkat rekomendasi itu mereka membawa itu ke pemerintah daerah, berkoordinasi, saya boleh mengakses ruang ini," kata Andi.
Pengamen berlisensi di ruang publik
Jumat sore, suara instrumen terdengar sayup-sayup saat kaki mulai memasuki Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta Pusat.
Di lorong stasiun MRT tempat orang berlalu lalang, Lukman, Budi, Karel, dan Zabrik, sedang bersiap memainkan sebuah lagu. Mereka adalah musisi yang tergabung dalam IMJ.
Sebuah spanduk bertuliskan #PengamenNaikKelas berdiri di samping mereka. Jargon ini ditujukan bagi mereka yang bertransformasi dari pengamen jalanan di lampu merah.
Transformasi ini mengubah gaya mengamen mereka, dari meminta-minta di jalanan kini menempati ruang publik seperti stasiun MRT.
Sejumlah seniman dari Institut Musik Jalanan (IMJ) tampil di Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta Pusat. (CNN Indonesia/Hisyam Naufal)
Lukman mulai memainkan biola bersambut iringan piano dari Budi. Penampilan mereka berpadu dengan aksi Karel yang memainkan peran pantomim.
Instrumen yang dimainkan terasa memanjakan telinga. Penumpang MRT seperti diajak menyelami ungkapan hati para musisi lewat sebuah lagu.
Tidak jarang orang berhenti sejenak untuk menonton, berfoto, atau bahkan mengabadikan momen tersebut di akun media sosialnya.
Lukman berbagi cerita tentang masa lalunya. Si pemain biola ini dulunya adalah pengamen di lampu merah.
Turun ke jalan bukan pilihannya. Perekonomian keluarga yang buruk memaksanya putus sekolah di kelas 2 SMA lalu mengadu nasib di jalanan.
Lukman merasa kehidupan jalanan banyak memberi pengalaman dibandingkan uang.
Ia pernah ditangkap oleh Satpol PP dan dibawa ke panti sosial di Kedoya, Jakarta Barat. Lukman ditahan tiga bulan dan disatukan dengan ODGJ.
"Jadi saya itu dikasih tempat tidur bareng orang-orang ODGJ. Wah, itu ngerinya bukan main. Ada yang tiba-tiba malam-malam teriak marah-marah, ngerasain takutnya," ungkap Lukman.
Kadinsos DKI Jakarta Premi Lestari membenarkan bahwa pengamen termasuk kategori Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS). Mereka menjadi target untuk dibawa ke panti awal, di mana semua PPKS disatukan di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 1 dan 2.
"Ya, karena memang panti awal, panti penampungan awal itu semua. Semua karakter, semua jenis PPKS itu di panti awal," kata Premi kepada CNNIndonesia.com.
Hidup Lukman berubah ketika bergabung dengan IMJ pada 2019. Ia merasakan banyak perubahan drastis di sana.
Kini Lukman tidak lagi mengamen di lampu merah. Ia melakukan pertunjukan musik bersama musisi jalanan di ruang yang disediakan pemerintah, setelah diadvokasi oleh IMJ bersama Ditjen Kebudayaan Kemdikbud.
Baca halaman selanjutnya...
Kritik dari Pendiri IMJ dan Kelompok Musisi Lain
Grup musik tuna netra Coste Band tampil di Ruang Musik MARTI, Stasiun MRT Bundaran HI. Jakarta, Sabtu, 1 Februari 2020. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Salah satu pendiri Institut Musik Jalanan, Iksan Skuter mengkritik medan juang yang diambil oleh komunitas yang didirikannya itu. Dia kemudian keluar dari IMJ karena merasa telah berbeda arah perjuangan.
Iksan menjelaskan, pada awalnya IMJ didirikan sebagai komunitas yang dapat menjadi alternatif bagi industri musik yang ada. Ia ingin mendorong para musisi jalanan untuk dapat hidup dari karyanya sendiri.
Waktu berlalu, IMJ mulai bergerak dalam payung tujuan seperti yang diinginkan oleh Iksan, yakni mendorong para musisi jalanan untuk berkarya. Alhasil, IMJ dapat menghasilkan album kompilasi pertama saat IMJ diresmikan.
Setelah itu, Iksan perlahan mundur dari komunitas tersebut. Ia merasa tak lagi satu visi dengan Andi Malewa. Namun Iksan tetap menghargai rekannya itu.
"IMJ di bayangan saya, mimpi saya, IMJ itu dibangun untuk menjadi opsi dalam sistem industri musik," kata Iksan kepada CNNIndonesia.com.
Ia menganggap bahwa urgensi utama yang perlu diperhatikan oleh IMJ adalah melahirkan seniman berbasis karya. Menurutnya, ada kekosongan dalam komunitas seniman IMJ lantaran mereka hanya memainkan karya orang lain ketika tampil di ruang publik.
"Bahwa seniman jalanan butuh ruang publik yang bisa mereka akses tanpa ketar-ketir, tanpa khawatir digerebek oleh Satpol PP, itu hal yang penting juga. Tapi bagi saya itu second layer. Layer pertama bagi saya seniman melahirkan karya seni," ujar Iksan.
Ia lebih jauh menyebutkan bahwa muara yang seharusnya dituju oleh para musisi jalanan bukanlah tampil di ruang publik saja, melainkan berkembang dengan karyanya sendiri.
"Kalau hanya di titik itu, ya mereka muaranya hanya di sana aja, gitu. Mereka ending-nya di sana aja. Pertanyaannya, kalau sudah di sana harus ngapain? Apakah itu puncak karier? Bukan. Seniman, puncak karirnya adalah ketika karyanya sudah diakui. Dengan cara apa? Berproses," kata Iksan.
Dia tidak sepakat dengan apa yang diperjuangkan oleh IMJ bersama pemerintah melalui lisensi pengamen. Menurutnya, lisensi itu pada akhirnya hanya menjadi alat untuk mengotak-kotakkan seniman serta monopoli sebuah izin.
"Kalau ditanya lisensi, saya enggak punya lisensi. Tapi ketika saya punya karya dan saya bisa main ke tiap kota, karena apa? Karena karya saya," ujar Iksan.
MRT Jakarta bersama dengan Institut Musik Jalanan memberikan kesempatan bagi musisi jalanan untuk menunjukkan kemampuannya di Ruang Musik MARTI, dengan tujuan pengamen jalanan naik kelas. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Uyung dari padepokan musik Mahagenta, juga memiliki pandangan yang serupa dengan Iksan Skuter. Dia menilai lisensi bagi para pengamen justru mendiskriminasi musisi lain.
"Saya kira agak (diskriminatif) karena ada teman-teman yang tidak punya lisensi kemudian mereka layak tampil dan bisa bekerja sebagai musisi," kata Uyung saat ditemui di Warung Apresiasi (Wapress) Bulungan, Jakarta Selatan, Jumat (19/1).
Lebih jauh, Uyung berpendapat lisensi yang sebenarnya adalah kemampuan para musisi untuk bisa mengeksplorasi dan menginterpretasikan musik sebagai produk entertain ataupun sebuah ilmu pengetahuan.
Ia menanggapi lisensi yang dikerjakan IMJ bekerja sama dengan Kemendikbud. Seharusnya, kata Uyung, pemerintah bisa duduk bersama dengan para seniman terlebih dahulu sebelum membuat kebijakan.
"Duduk bareng sih harusnya. Jadi bukan produk-produk pemerintah yang kemudian kita laksanakan. Harusnya pemerintah itu mengajak duduk kita untuk membuat sebuah kebijakan yang mana kiranya dibutuhkan," kata Uyung.
Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan Ditjen Kebudayaan, Restu Gunawan mengungkapkan, apa yang dilakukan oleh IMJ selaras dengan misi Ditjen Kebudayaan Kemendikbud, yakni Kebudayaan inklusif yang berarti bahwa semua orang punya hak untuk mendapatkan layanan di bidang kebudayaan.
Menurutnya, pemerintah memilih bekerja sama dengan IMJ bukan tanpa alasan. Lembaga itu, kata Restu, termasuk yang pertama diketahui melakukan pembinaan terhadap pengamen jalanan.
"IMJ termasuk yang pertama, termasuk yang awal melakukan pembinaan lah," ujar Restu.
Ditjen Kebudayaan bergerak sebagai fasilitator bagi musisi-musisi yang telah dipilih dan dikurasi oleh IMJ untuk kemudian diberikan akses mengisi ruang publik.
Restu mendorong pihak lain di berbagai level pemerintahan untuk ikut serta mendukung program pengembangan kebudayaan.
Dia juga menyerukan kepada komunitas-komunitas kebudayaan lainnya untuk dapat turut serta melakukan langkah pengembangan kebudayaan seperti yang dilakukan oleh IMJ.
"Kalau misalnya ada komunitas lainnya bagus-bagus saja menurut saya. Kami tidak ada masalah kalau ada kompetisi. Bagi kami seluruh komunitas itu adalah bagian ekosistem dari pemajuan kebudayaan," kata Restu.
Infografis sejarah perkembangan musik Indonesia. (CNN Indonesia/fajrian)