Penggagas Geruduk MK Mengaku Diintimidasi Aparat untuk Batalkan Aksi
CNN Indonesia
Sabtu, 03 Feb 2024 02:03 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Gedung Mahkamah Konstitusi (MK). (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --
Forum Anomali yang menggagas Aksi Jumat Melawan Geruduk Mahkamah Konstitusi (MK) pada Jumat (2/2) mengaku diintimidasi oleh aparat yang ingin aksi tersebut batal terselenggara.
Hal itu disampaikan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Padjadjaran 2023, Mohamad Haikal Febriansyah saat dijumpai di kawasan Patung Kuda, Monas, Jakarta, Jumat (2/2).
Aksi Geruduk MK itu mulanya dijadwalkan digelar di depan Gedung MK. Namun, puluhan orang massa yang hadir akhirnya tertahan oleh tembok beton yang dilengkapi kawat berduri yang dipasang di kawasan Patung Kuda. Akhirnya, aksi mimbar bebas digelar di depan tembok beton dengan kawat berduri itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mulanya, Haikal bercerita bahwa sebelum berjalannya mimbar bebas ini, Forum Anomali telah mengalami banyak sekali intimidasi, represi, dan serangan-serangan.
Haikal mengatakan akun Whatsapp para pengagags Forum Anomali, yakni dirinya, Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM) Gielbran M Noor hingga Sekretaris Jenderal Serikat Mahasiswa (Sekjen Sema) Universitas Paramadina Afiq Naufal, dan Ketua BEM nonaktif Universitas Indonesia (UI) Melki Sedek Huang diretas secara bergantian selama dua hari berturut-turut. Peretasan juga dialami Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid yang turut diundang dalam aksi ini.
"Peretasan terjadi Rabu dini hari, 31/1/2024. Akun whatsapp kami berada di luar kontrol kami sehingga sulit bagi kami untuk berkomunikasi dan menyebarkan informasi mimbar bebas ini," ujar Haikal.
Haikal juga mengklaim pihaknya merasa diintimidasi oleh aparat yang ingin aksi Geruduk MK ini dibatalkan.
"Kami merasakan adanya intimidasi aparat keamanan yang berlebihan. Mulai dari telepon-telepon untuk membatalkan mimbar bebas hingga penutupan akses jalan dan blokade berupa pembatas beton dan kawat duri sehingga kami tidak bisa menyelenggarakan mimbar bebas di tempat seharusnya, yaitu di depan ke Mahkamah Konstitusi," jelas Haikal.
Selain itu, Haikal mengatakan pihaknya menyelenggarakan aksi dan diskusi di sejumlah kota antara lain Malang, Madura, Makassar, Solo, Parepare beberapa pekan sebelum mimbar bebas di Jakarta pada Jumat ini.
"Di setiap titik tersebut kami merasakan ada intimidasi yang tersistematis, mulai dari upaya pembubaran, upaya penekanan, peretasan hingga upaya-upaya lain yang tiada habisnya," kata Haikal.
Ia menambahkan, Forum Anomali menyerukan kepada semua komponen gerakan mahasiswa di seluruh tanah air untuk bergerak dan berperan sebagai kontrol sosial atas kekuasaan yang merusak demokrasi.
Haikal menyebut Forum Anomali bakal mewadahi suara-suara perlawanan kaum muda dan mahasiswa. Tak hanya itu, forum ini juga akan menyuarakan kritik sosial dan menyalakan api perjuangan reformasi terus menerus. Adapun Haikal mengklaim Forum Anomali tak akan gentar atas pembungkaman politik.
Perwakilan Forum Anomali yang hadir, yakni Haikal, Gielbran, dan Afiq. Melki tidak hadir karena sedang berdiskusi dengan beberapa pihak untuk mengajukan pemeriksaan ulang pada kasus kekerasan seksual yang kini tengah dia hadapi.
Aksi ini turut dihadiri sejumlah tokoh, yakni Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid; Penggagas Aksi Kamisan sekaligus Orangtua Wawan, Korban Tragedi Semanggi I, Maria Sumarsih; aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Haris Azhar.
Dalam mimbar bebas itu, Haikal mengatakan tindakan penyelewengan dari pemerintah kini kian marak terjadi. Ia turut menyinggung pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait presiden boleh ikut kampanye.
Haikal menilai pernyataan Jokowi itu sudah membuat malu negara ini. Adapun aksi kali ini digelar sebagai ajang cek ombak apakah warga masih bisa mengakses MK yang disebut lahir dari rahim reformasi.
"Kita mau melihat bagaimana reaksi negara ketika kami datang ke Mahkamah Konstitusi. Ketika dalam 2 x 24 jam kami meng-upload seruan gebrak geruduk Mahkamah Konstitusi, dan ternyata kami sudah dihalangi oleh beton dan kawat berduri," tutur dia.
"Ini merupakan sebuah bukti bahwa demokrasi hari ini sudah semakin dipermainkan dan menjadi bukti bahwa hari ini rakyat tidak bisa lagi menghadap kepada tuannya. Padahal harusnya tuannya adalah rakyat, bukan para pejabat," sambungnya.
Senada, Gielbran turut menyampaikan keprihatinannya bahwa dengan hadirnya tembok beton itu diambil kesimpulan bahwa rakyat jelata tak lagi mampu mengakses MK.
Jakarta, CNN Indonesia --
Forum Anomali yang menggagas Aksi Jumat Melawan Geruduk Mahkamah Konstitusi (MK) pada Jumat (2/2) mengaku diintimidasi oleh aparat yang ingin aksi tersebut batal terselenggara.
Hal itu disampaikan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Padjadjaran 2023, Mohamad Haikal Febriansyah saat dijumpai di kawasan Patung Kuda, Monas, Jakarta, Jumat (2/2).
Aksi Geruduk MK itu mulanya dijadwalkan digelar di depan Gedung MK. Namun, puluhan orang massa yang hadir akhirnya tertahan oleh tembok beton yang dilengkapi kawat berduri yang dipasang di kawasan Patung Kuda. Akhirnya, aksi mimbar bebas digelar di depan tembok beton dengan kawat berduri itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mulanya, Haikal bercerita bahwa sebelum berjalannya mimbar bebas ini, Forum Anomali telah mengalami banyak sekali intimidasi, represi, dan serangan-serangan.
Haikal mengatakan akun Whatsapp para pengagags Forum Anomali, yakni dirinya, Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM) Gielbran M Noor hingga Sekretaris Jenderal Serikat Mahasiswa (Sekjen Sema) Universitas Paramadina Afiq Naufal, dan Ketua BEM nonaktif Universitas Indonesia (UI) Melki Sedek Huang diretas secara bergantian selama dua hari berturut-turut. Peretasan juga dialami Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid yang turut diundang dalam aksi ini.
"Peretasan terjadi Rabu dini hari, 31/1/2024. Akun whatsapp kami berada di luar kontrol kami sehingga sulit bagi kami untuk berkomunikasi dan menyebarkan informasi mimbar bebas ini," ujar Haikal.
Haikal juga mengklaim pihaknya merasa diintimidasi oleh aparat yang ingin aksi Geruduk MK ini dibatalkan.
"Kami merasakan adanya intimidasi aparat keamanan yang berlebihan. Mulai dari telepon-telepon untuk membatalkan mimbar bebas hingga penutupan akses jalan dan blokade berupa pembatas beton dan kawat duri sehingga kami tidak bisa menyelenggarakan mimbar bebas di tempat seharusnya, yaitu di depan ke Mahkamah Konstitusi," jelas Haikal.
Selain itu, Haikal mengatakan pihaknya menyelenggarakan aksi dan diskusi di sejumlah kota antara lain Malang, Madura, Makassar, Solo, Parepare beberapa pekan sebelum mimbar bebas di Jakarta pada Jumat ini.
"Di setiap titik tersebut kami merasakan ada intimidasi yang tersistematis, mulai dari upaya pembubaran, upaya penekanan, peretasan hingga upaya-upaya lain yang tiada habisnya," kata Haikal.
Ia menambahkan, Forum Anomali menyerukan kepada semua komponen gerakan mahasiswa di seluruh tanah air untuk bergerak dan berperan sebagai kontrol sosial atas kekuasaan yang merusak demokrasi.
Forum Anomali Singgung Pernyataan Jokowi soal Presiden Boleh Kampanye
Mahkamah Konstitusi. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Haikal menyebut Forum Anomali bakal mewadahi suara-suara perlawanan kaum muda dan mahasiswa. Tak hanya itu, forum ini juga akan menyuarakan kritik sosial dan menyalakan api perjuangan reformasi terus menerus. Adapun Haikal mengklaim Forum Anomali tak akan gentar atas pembungkaman politik.
Perwakilan Forum Anomali yang hadir, yakni Haikal, Gielbran, dan Afiq. Melki tidak hadir karena sedang berdiskusi dengan beberapa pihak untuk mengajukan pemeriksaan ulang pada kasus kekerasan seksual yang kini tengah dia hadapi.
Aksi ini turut dihadiri sejumlah tokoh, yakni Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid; Penggagas Aksi Kamisan sekaligus Orangtua Wawan, Korban Tragedi Semanggi I, Maria Sumarsih; aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Haris Azhar.
Dalam mimbar bebas itu, Haikal mengatakan tindakan penyelewengan dari pemerintah kini kian marak terjadi. Ia turut menyinggung pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait presiden boleh ikut kampanye.
Haikal menilai pernyataan Jokowi itu sudah membuat malu negara ini. Adapun aksi kali ini digelar sebagai ajang cek ombak apakah warga masih bisa mengakses MK yang disebut lahir dari rahim reformasi.
"Kita mau melihat bagaimana reaksi negara ketika kami datang ke Mahkamah Konstitusi. Ketika dalam 2 x 24 jam kami meng-upload seruan gebrak geruduk Mahkamah Konstitusi, dan ternyata kami sudah dihalangi oleh beton dan kawat berduri," tutur dia.
"Ini merupakan sebuah bukti bahwa demokrasi hari ini sudah semakin dipermainkan dan menjadi bukti bahwa hari ini rakyat tidak bisa lagi menghadap kepada tuannya. Padahal harusnya tuannya adalah rakyat, bukan para pejabat," sambungnya.
Senada, Gielbran turut menyampaikan keprihatinannya bahwa dengan hadirnya tembok beton itu diambil kesimpulan bahwa rakyat jelata tak lagi mampu mengakses MK.
Forum Anomali Singgung Pernyataan Jokowi soal Presiden Boleh Kampanye BACA HALAMAN BERIKUTNYA