Menelusuri Masjid Tuha Ulee Kareng, Cagar Budaya di Serambi Mekkah
CNN Indonesia
Kamis, 28 Mar 2024 06:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
di Desa Ie Masen, Kecamatan Ulee Kareng, Kota Banda Aceh, Aceh. (CNN Indonesia/Dani Randi)
Kini setelah lebih dari dua abad, Masjid Tuha Ulee Kareng tidak lagi difungsikan sebagai tempat salat berjemaah.
Apalagi di wilayah itu sudah ada masjid baru yang lebih besar dalam menampung kapasitas jemaah, Masjid Jami' Baitussalihin Ulee Kareng. Masjid jami itu jaraknya sekitar 100 meter dari Masjid Tuha Ulee Kareng.
Meski demikian, bukan berarti Masjid Tuha kehilangan fungsinya sebagai rumah ibadah dan tempat syiar Islam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masjid ini sehari-hari kini digunakan untuk Taman Pendidikan Alquran (TPA) bagi anak-anak dari sore hingga malam hari dan pengajian bagi ibu-ibu yang ada di kawasan itu setiap hari Jumat hingga kajian keagamaan mingguan dan bulanan.
Alasan lain, karena padatnya penduduk yang tidak memungkinkan masjid tersebut menampung jemaah yang kini jumlah pemukim sekitar sudah banyak. Adapun salat berjemaah kini umumnya sudah dilakukan di Masjid Jami' Baitussalihin Ulee Kareng.
Namun, tidak sedikit pula warga yang yang melintas di depan masjid itu untuk singgah dan beribadah. Apalagi di dalamnya juga disediakan sejadah dan mukena hingga Alquran yang memang dikhususkan bagi warga yang ingin salat di Masjid Tuha tersebut.
"Kegiatan sehari-harinya ya jadi balai pengajian anak-anak, kadang juga pengajian bagi ibu-ibu di sini. Dan, yang pasti berhubungan dengan kegiatan keagamaan," ujar Saifuddin.
Suasana di dalam Masjid Tuha Ulee Kareng. (CNN Indonesia/Dani Randi)
Sementara, kata dia, untuk di bulan Ramadan masjid ini tetap dibuka untuk umum dan tidak ada kegiatan khusus. Dia mengakan hanya kegiatan keagamaan seperti hari-hari biasanya yang dilakukan di Masjid Tuha selama Ramadan.
Dia mengatakan sebetulnya pemerintah setempat juga sempat ingin melakukan renovasi dalam skala besar masjid tersebut. Namun, warga Ulee Kareng menolaknya. Alasannya, kata dia, demi menjaga keaslian sejarah berdirinya masjid pertama di daerah mereka.
"Warga ingin masjid ini biarlah seperti bentuk awalnya," ucapnya.
JIka Anda sedang di Banda Aceh dan ingin berkunjung ke Ulee Kareng, Akses untuk menuju ke Masjid Tuha ini cukup mudah.
Jaraknya dari pusat Kota Banda Aceh sekitar 6 kilometer atau 20 menit perjalanan ke arah Simpang Tujuh Ulee Kareng.
Setelah di persimpangan itu, lalu masuk ke jalan Masjid Tuha sekitar 100 meter sebelah kiri pengunjung akan menemukan Masjid Tuha Ulee Kareng yang letaknya persis di belakang SD MIN Ulee Kareng.
Masjid Tuha Ulee Kareng yang sudah berusia ratusan tahun berdiri kokoh di tengah pemukiman padat penduduk di Desa Ie Masen, Kecamatan Ulee Kareng, Kota Banda Aceh, Aceh.
Masjid Tuha atau masjid tua ini menjadi salah satu saksi bisu perkembangan Islam di Serambi Mekkah tersebut, dan sudah ditetapkan sebagai situs cagar budaya oleh pemerintah melalui Kemendikbud--kini Kemendikbudristek.
Keberadaan masjid ini diyakini sudah ada sejak akhir abad ke-19 Masehi atau pada masa penjajahan Belanda di Tanah Rencong. Bentuknya secara keseluruhan hampir sama dengan masjid tua lainnya di Nusantara yang beratap tumpang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pantauan CNNIndonesia.com pada Rabu (6/3) lalu, desain masjid ini terbilang unik bentuknya persegi empat dan pekarangannya tidak begitu luas, jaraknya dengan pinggir jalan sekitar 1,2 meter. Jika pengunjung ingin memarkirkan kendaraan, harus di sisi kanan masjid yang ada sedikit ruang untuk kendaraan.
Masjid ini tidak memiliki jendela, dindingnya semi permanen lalu di atasnya diberi penutup dari bilah-bilah kayu kecil untuk sirkulasi udara.
Atapnya juga sederhana, berbentuk limas bertingkat dua. Atap dengan tingkat dua ini tidak seperti masjid tua lainnya di Aceh yang bertingkat tiga seperti Masjid Tuha Indrapuri dan Tgk Di Anjong.
Beranjak ke dalam, masjid ini ditopang 16 tiang penyangga kayu berbentuk bulat persegi delapan dengan galangan berbahan kayu yang berukir kaligrafi. Tiang dan galangan ini masih asli. Sementara atapnya sudah direnovasi dari sebelumnya anyaman rumbia ke seng.
Pada tiang penyangga ditemukan pahatan kaligrafi yang terdiri dari bacaan doa iktikaf dan qunut selain itu ada juga ornamen yang bertuliskan dua kalimat syahadat.
Namun beberapa bagian kayu galangan yang melintang di atas tiang penyangga ini sudah mulai rapuh termakan usia. Luas ruangan masjid ini agak sedikit lebih lebar dari lapangan sepak takraw.
Masjid Tuha Ulee Kareng terlihat masih mempertahankan sejumlah bentuk asli, termasuk kisi-kisi yang ada di sepanjang temboknya sehingga membuat angin bisa hilir mudik mengisi ruang. (CNN Indonesia/Dani Randi)
Lalu di komplek masjid ini terdapat makam kesultanan dan para ulama seperti Teuku Meurah Lamgapang dan anak-anaknya hingga Ulee Balang lainnya. Teuku Meurah ialah pejabat Ulee Balang III Mukim Ulee Kareng pada masa itu.
Di situ pulalah tempat makam Habib Kuala Bak U yang diyakini sebagai pembangun masjid ini.
Tidak ada referensi tahun pasti kapan Masjid Tuha Ulee Kareng ini pertama kali dibangun. Namun dalam sejumlah catatan sejarah, masjid ini berdiri setelah kedatangan Habib Abdurrahman bin Habib Husein Al-Mahdali atau Habib Kuala Bak U pada 1826 silam. Dia merupakan seorang ulama dari Hadramaut, Yaman.
Syahdan diceritakan Habib Abdurrahman bersama saudaranya Habib Abu Bakar Bilfaqih, yang dikenal dengan nama Teungku Dianjong, tiba di Aceh pada tahun 1826 dengan membawa misi dakwah
Pengurus Masjid yang juga sebagai Imam Masjid Tuha Ulee Kareng, Teungku Saifuddin, mengatakan kedatangan Habib Kuala Bak U tidak terlepas dari peran Teuku Meurah Lamgapang yang menginginkan memperkuat syiar agama islam di Ulee Kareng. Oleh karena itu, Teuku Merah Lamgapang pun mewakafkan tanahnya untuk dibangun jadi tempat ibadah sekaligus untuk pusat pendidikan islam.
"Mesjid ini berdiri dari abad ke 18 setelah kedatangan ulama tersebut," kata Saifuddin kepada CNNIndonesia.com, Rabu (6/3).
Ukiran kaligrafi yang masih dijaga keasliannya di pilar-pilar dan tiang penyangga Masjid Tuha Ulee Kreng(CNN Indonesia/Dani Randi)
Saifuddin menerangkan bangunan dalam masjid ini masih mempertahankan ciri khas seperti pertama kali dibangun meskipun ada beberapa yang harus diperbaiki atau ditambah. Seperti renovasi lantai yang sudah dikeramik, bangunan tempat wudu, ventilasi, dan atapnya.
"Tiang penyangga dan ukiran-ukirannya itu masih asli," katanya.
Baca halaman selanjutnya
Beralih Fungsi jadi TPA
di Desa Ie Masen, Kecamatan Ulee Kareng, Kota Banda Aceh, Aceh. (CNN Indonesia/Dani Randi)
Kini setelah lebih dari dua abad, Masjid Tuha Ulee Kareng tidak lagi difungsikan sebagai tempat salat berjemaah.
Apalagi di wilayah itu sudah ada masjid baru yang lebih besar dalam menampung kapasitas jemaah, Masjid Jami' Baitussalihin Ulee Kareng. Masjid jami itu jaraknya sekitar 100 meter dari Masjid Tuha Ulee Kareng.
Meski demikian, bukan berarti Masjid Tuha kehilangan fungsinya sebagai rumah ibadah dan tempat syiar Islam.
Masjid ini sehari-hari kini digunakan untuk Taman Pendidikan Alquran (TPA) bagi anak-anak dari sore hingga malam hari dan pengajian bagi ibu-ibu yang ada di kawasan itu setiap hari Jumat hingga kajian keagamaan mingguan dan bulanan.
Alasan lain, karena padatnya penduduk yang tidak memungkinkan masjid tersebut menampung jemaah yang kini jumlah pemukim sekitar sudah banyak. Adapun salat berjemaah kini umumnya sudah dilakukan di Masjid Jami' Baitussalihin Ulee Kareng.
Namun, tidak sedikit pula warga yang yang melintas di depan masjid itu untuk singgah dan beribadah. Apalagi di dalamnya juga disediakan sejadah dan mukena hingga Alquran yang memang dikhususkan bagi warga yang ingin salat di Masjid Tuha tersebut.
"Kegiatan sehari-harinya ya jadi balai pengajian anak-anak, kadang juga pengajian bagi ibu-ibu di sini. Dan, yang pasti berhubungan dengan kegiatan keagamaan," ujar Saifuddin.
Suasana di dalam Masjid Tuha Ulee Kareng. (CNN Indonesia/Dani Randi)
Sementara, kata dia, untuk di bulan Ramadan masjid ini tetap dibuka untuk umum dan tidak ada kegiatan khusus. Dia mengakan hanya kegiatan keagamaan seperti hari-hari biasanya yang dilakukan di Masjid Tuha selama Ramadan.
Dia mengatakan sebetulnya pemerintah setempat juga sempat ingin melakukan renovasi dalam skala besar masjid tersebut. Namun, warga Ulee Kareng menolaknya. Alasannya, kata dia, demi menjaga keaslian sejarah berdirinya masjid pertama di daerah mereka.
"Warga ingin masjid ini biarlah seperti bentuk awalnya," ucapnya.
JIka Anda sedang di Banda Aceh dan ingin berkunjung ke Ulee Kareng, Akses untuk menuju ke Masjid Tuha ini cukup mudah.
Jaraknya dari pusat Kota Banda Aceh sekitar 6 kilometer atau 20 menit perjalanan ke arah Simpang Tujuh Ulee Kareng.
Setelah di persimpangan itu, lalu masuk ke jalan Masjid Tuha sekitar 100 meter sebelah kiri pengunjung akan menemukan Masjid Tuha Ulee Kareng yang letaknya persis di belakang SD MIN Ulee Kareng.