Masjid As-Syuhada, Jejak Peradaban Islam di Pulau Serangan Bali
CNN Indonesia
Jumat, 29 Mar 2024 06:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Foto: (CNNIndonesia/Kadafi)
Zulkifli menceritakan kisah kampung Islam di Pulau Serangan ini berawal dari orang-orang Bugis yang berada di Makassar, Sulawesi Selatan, melakukan perlawanan kepada VOC. Sebab tak ingin tunduk dengan penjajah mereka pergi dan berlayar menggunakan Kapal Pinisi atau kapal tradisional khas Bugis hingga berlabuh di Pulau Serangan.
"Orang-orang Bugis memang keluar dari Sulawesi karena tidak ingin tunduk dan patuh kepada kebijakan VOC pada saat zaman dulu," ujarnya.
Saat kedatangan para orang-orang Bugis ini, situasi di Pulau Bali bertepatan dengan masa-masa sulit ketika berlangsung peperangan di antara raja-raja di Bali. Saat itu antarkerajaan di Pulau Dewata sedang berseteru untuk memperluas wilayah masing-masing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kala itu, kedatangan para perantau Bugis ini diketahui prajurit laut Kerajaan Pemecutan, Badung. Dari berbagai sumber didapat, saat itu yang memimpin Kerajaan Pemecutan adalah Raja Cokorda Pemecutan III dari Kerajaan Badung.
"Sejarahnya sebelum berdiri masjid ini, ketika orang Bugis itu pergi dari Makassar lalu berlabuh di laut Serangan. Saat itu, situasi di Pulau Bali pada khususnya Kerajaan-kerajaan yang ada itu tidak bagus," ujarnya.
"Artinya, dari satu kerajaan ke kerajaan lain ingin memperluas suatu daerah kekuasaannya. Maka, leluhur kami itu yang lari dari Makassar terdampar di sini ditangkaplah pada saat itu (oleh prajurit), kalau sekarang bahasanya polisi laut atau petugas kerajaan," imbuh Zulkifli.
Kedatangan para orang Bugis ini awalnya sekitar 42 orang yang dipimpin oleh Puak Matoa.
"Berdasarkan yang disampaikan oleh orang-orang tua kita dan berdasarkan kajian ilmiah itu, yang kita tahu adalah Puak Matoah itu adalah orang yang dituakan. Kalau orang Hindu Serangan bilang Wak Gede, artinya orang yang dituakan juga, itu arti dalam Bahasa Bali," ujarnya.
Tertangkapnya para orang Bugis dan menjadi tawanan sampai ke telinga Raja Pemecutan Badung. Awalnya, dikira sebagai mata-mata musuh dari Kerajaan Pemecutan, Badung, lalu dihadapkanlah kepada Raja Badung di Puri Pemecutan.
"Singkat cerita didengarlah para tawanan ini, dan didatangi oleh Raja Pemecutan dan diajak bicara dari hati ke hati. Ditangkapnya leluhur kita pada saat itu, karena kecurigaannya adalah mata-mata dari musuh-musuhnya, sehingga tercapai satu kesimpulan bahwasanya leluhur kami bukan mata-mata," ujarnya.
Alquran tua peninggalan leluhur yang masih dijaga di Masjid As Syuhada, Kampung Bugis, Pulau Serangan, Denpasar. (CNNINdonesia/Kadafi)
Lalu, Raja Badung meminta para orang-orang Bugis di bawah koordinasi Puak Matoa itu untuk membatu peperangan melawan Kerajaan Mengwi agar memperluas wilayah kekuasaannya. Dan, akhirnya Raja Badung berhasil menaklukkan Kerajaan Mengwi.
Setelah berhasil menaklukan Kerajaan Mengwi, Raja Badung berterimakasih kepada orang-orang Bugis lalu ereka diberi tempat di kawasan Telagi Gendong atau saat ini di sekitar Terminal Tegal, Kota Denpasar. Tetapi, karena jiwa orang-orang Bugis adalah pelaut mereka meminta untuk diberi tempat awal mereka berlabuh yaitu di Pulau Serangan dan akhirnya Raja Badung merestui permintaan mereka.
"Raja berterimakasih atas bantuan orang-orang Bugis dan ditempatkan leluhur kami di Denpasar tempatnya di Telagi Gendong, sekarang di Terminal Tegal. Tetapi, prinsip orang Bugis itu jiwanya adalah pelaut, leluhur kami meminta untuk dikembalikan ke tempat pada saat ditangkap, yaitu di Pulau Serangan," ujarnya.
"Dulu Kampung Bugis ini hutan rimba, banyak dedemit segala macam pemahaman orang-orang dulu. Dikatakan (orang-orang) Puri bahwa itu daerah tidak bagus dan banyak hawa negatif di sana. [Dijawa] 'Tidak apa-apa, nanti kami yang bersihkan', bahasa orang Bugis ini. Yang jelas (leluhur) kami di sana bisa melaut, karena jiwa kami pesisir maka dipindahkanlah ke sini," ujarnya.
Setelah menempati Pulau Serangan, maka mulai tercipta peradaban Kampung Bugis dan dibangunlah rumah adat Bugis, lalu berlanjut membuat tempat ibadah yaitu Masjid As-Syuhada.
"Setelah membuat tempat tinggal, lalu berpikirnya (membuat ) masjid ini. Dan laporlah para sesepuh kami ke Puri Pemecutan, Raja Badung, bahwa kami perlu tempat ibadah sesuai dengan keyakinan kami, maka disetujui dan diberi izin. Dan dibantu materialnya, kayu dan tukangnya, sehingga singkat cerita terbangunlah masjid yang sekarang ini," ujarnya.
Masjid As Syuhada di Kampung Islam Bugis, Pulau Serangan, Bali. (CNNIndonesia/Khadafi)
Seiring perkembangan zaman dan strata pendidikan cukup tinggi sebagian generasi warga Kampung Bugis ada yang memilih untuk tinggal di luar Pulau Serangan.
Kemudian, saat Bulan Ramadan warga di Kampung Bugis banyak menggelar kegiatan di Masjid As-Syuhada, yaitu buka puasa bersama dan shalat tarawih serta tadarus atau mengkhatamkan Al-Qur'an yang juga dilakukan oleh warga sampai anak-anak di tingkat TPQ.
Warga Kampung Bugis di Serangan juga melakukan tradisi pengarakan Al Qur'an tua dengan keliling kampung dan dilakukan pada Bulan 1 Muharam.
Tradisi itu, mereka namakan megelicikan atau mengelilingi kampung Bugis dengan membawa Al Qur'an dan tujuannya untuk tolak bala dan meminta keselamatan.
"Seluruh wilayah administrasi kampung Bugis dengan pembacaan salawat dengan membawa Al Qur'an tua itu, tiga kali berturut-turut keliling kampung selama satu hari itu. Istilahnya, tolak bala, tradisi ini turun menurun kita jalani sampai saya generasi kelima saat ini. Setiap sudut (kampung) kita mengumandangkan azan dan iqomah, kita minta keselamatan agar dijauhkan dari segala bala dan marabahaya," ujar Zulkifli.
Sebuah gang yang tak begitu lebar dan terlihat plang bertuliskan Masjid As-Syuhadayang terhalang dedaunan di samping tiang listrik, menandai keberadaan Kampung Bugis di Pulau Serangan, Bali.
Plang penunjuk keberadaan Masjid As-Syuhada berjarak 100 meter dari pintu masuk gang di Pulau Serangan. Ketika baru memasuki gang, terlihat ada satu rumah panggung adat Bugis yang cukup terawat.
Dan saat menelusuri sepanjang jalan menuju salah satu masjid yang diyakini tertua di Pulau Bali ini, terlihat perkampungan warga Suku Bugis yang berderet cukup rapi dan tak sedikit warga yang berjualan dengan membuka warung kelontong di halaman rumah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak jauh kemudian terlihat Masjid As-Syuhada yang lokasinya di tengah perkampungan warga Suku Bugis. Wakil Ketua Takmir Masjid As-Syuhada, Muhammad Zulkifli mengatakan masjid As-Syuhada adalah salah satu jejak peradaban Islam di Bali selama berabad-abad.
"Keberadaan Masjid As-Syuhada di lingkungan Kampung Bugis ini berdiri berdasarkan hipotesis pada abad ke-17," kata Zulkifli saat ditemui usai salat asar berjemaah di sana.
Lokasi pulau ini ada di sebelah selatan Denpasar. Dulu Pulau Serengan terpisah dengan Pulau Bali, setelah adanya reklamasi pulau tersebut menyatu. Secara administrasi, Pulau Serangan atau Kelurahan Serangan ini masuk ke dalam Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar.
Saat CNNIndonesia.com berkunjung ke sana, keberadaan Masjid As-Syuhada ini sangat terawat dan di dinding masjid terpasang plang marmer peresmian peninggalan sejarah yang bertuliskan diresmikan pada 2014 lalu oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) waktu itu, Mari Elka Pangestu.
Kemudian, di dinding luar masjid dipasangi keramik hingga mencapai langit-langit.
Masjid ini memiliki sejumlah pintu untuk masuk ke ruang utama tempat beribadah. Di dalam Masjid As-Syuhada terdapat empat tiang utama atau saka guru sebagai penyangga masjid dan sebuah mimbar masjid berwarna hijau.
Zulkifli yang juga Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Adat Serangan menceritakan empat tiang utama itu filosofinya ialah Khulafaur Rasyidin yang terdiri dari empat sahabat dekat Nabi Muhammad SAW, yakni Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
"Tiang empat ini, dia punya filosofi Khulafaur Rasyidin dan tiang ini dari kayu jati. Sebagian dari kayu yang dipakai di sini adalah pemberian dari Raja Badung dan sisanya memang dibawa dari Sulawesi dengan Kapal Pinisi--kapal khas Suku Bugis," katanya.
Rumah panggung khas Bugis di Kampung Islam Bugis, Pulau Serangan, Denpasar. (CNNIndonesia/Kadafi)
Zulkifli mengatakan, saat Masjid As-Syuhada berdiri hanya memiliki luas lebar 10x15 meter persegi, berlalunya waktu dilakukan perluasan dan pemugaran hingga menambah aula terbuka di samping kanan masjid dengan total luas sekitar 2 are atau 200 meter persegi.
Dia menerangkan secara fisik bentuk bangunan masjid ini tak banyak berubah sejak awal berdiri, hanya menambah aula terbuka di samping kanan masjid untuk tempat Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) serta tempat wudu di samping kiri.
Untuk bangunan utama masjid masih dipertahankan sampai sekarang dan hanya menambahkan keramik pada dinding masjid dan atapnya dan kini menggunakan genteng.
"Fisiknya sebenarnya tidak ada berubah, seperti ini yang ada di dalam ini bentuk aslinya masjid. Bahwa, ada pelebaran aula itu sebenarnya baru, karena kebutuhan kita harus sesuaikan dengan banyaknya warga dan jamaah yang shalat maka memang harus ada pemugaran dan pelebaran," ujarnya.
Ia menerangkan, bentuk pintu jendela dan lantai marmer di depan masuk masjid adalah bentuk asli dari masjid ini.
"Pintu jendela semua asli bahkan lantai marmer di depan itu masih asli. Dindingnya memang seperti ini, hanya saja karena tidak pakai semen dia keropos, maka kita lapisi keramik," ujarnya.
Selain itu, untuk peninggalan di Masjid As-Syuhada adalah mimbar masjid dengan akulturasi budaya ukiran Bugis dan Bali.
Zulkifli menyatakan, sebenarnya bahan dari Masjid As-Syuhada pemberian dari Raja Puri Pemecutan, Badung yang berkuasa kala itu agar orang-orang Bugis memiliki tempat beribadah.
"Kalau mimbar itu peninggalan dulu, ukirannya akulturasi budaya Bali dan Bugis. Kenapa itu dikatakan abad 17, berdasarkan kajian hipotesis itu ornamen-ornamen itu menunjukkan abad 17. Karena di Bali, bahannya juga dikasi Puri Pemecutan kemudian didesain perpaduan budaya itu," ujarnya.
Mimbar khatib yang merupakan akulturasi budaya Bali dan Makasssar merupakan salah satu peninggalan Masjid As-Syuhada yang masih dijaga di Kampung Islam Bugis, di Pulau Serangan, Kota Denpasar, Bali. (CNNIndonesia/Kadafi)
Dari cerita terdahulu, semua warga kampung Bugis Serangan masih memiliki rumah panggung bercorak khas Bugis. Tapi rumah panggung tersebut tersisa satu saja yang masih berdiri kokoh dan dipertahankan sebagai cagar budaya.
"Jadi selain masjid ini sebenarnya satu paket dengan mimbar dan rumah kuno khas Bugis," jelasnya.
Pemberian nama As-Syuhada diambil dari kisah para leluhur di Kampung Bugis yang kisahnya melakukan perlawanan pada persekutuan dagang Belanda (VOC) di Sulawesi Selatan. Akhirnya, mereka hijrah ke suatu tempat dari Bugis sana sampai terdampar di Pulau Serangan.
"Karena identik dengan pejuang, pemilihan kata ini adalah orang-orang yang datang ke sini awalnya adalah para pejuang penegak agama Allah dan tidak ingin tunduk pada kezaliman. Artinya, semacam filosofi agar ke depan itu, anak-anak di sini memahami bahwa saya hidup itu memang harus berjuang," ungkap Zukifli.
Prasasti dari Menparekraf ditempel di dinding Masjid Asy Syuhada di Kampung Islam Bugis, Pulau Serangan, Bali. (CNNIndonesia/Khadafi)
Warga di Kampung Islam Bugis tercatat ada sebanyak 100 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah 380 orang jiwa. Selain keberadaan Masjid As-Syuhada sebagai peninggalan sejarah, di Kampung Bugis juga menyimpan sebuah Al-Quran tua yang ada sejak abad 17. Al-Quran kuno itu masih utuh tersimpan di rumah tokoh masyarakat Kampung Bugis agar terjaga dengan baik dan rumahnya cukup dekat dengan Masjid As-Syuhada.
Terlihat Al-Quran tersebut, tersimpan dalam sebuah kotak kayu berkaca yang dibalut dengan kain putih. Al-Quran tua itu, kovernya dari kulit unta dan untuk panjangnya sekitar 40 cm lebarnya sekitar 20 cm. Al-Quran itu sudah tidak dikeluarkan lagi dari kotak kaca karena kondisinya yang sudah mulai rusak, dan beberapa bagian kertas dari Al-Quran tampak robek.
Di Kampung Bugis juga ada kompleks makam tua yang lokasinya tak jauh dari pintu masuk gang Kampung Bugis. Saat memasuki makam kuno itu terlihat sebuah batu nisan yang bertuliskan, 'Puak Matoa'. Di sanalah makam seorang tokoh yang dikenal sebagai penggerak warga Bugis dahulu kala.
"Kompleks makam kuno, di sanalah orang-orang tua pendiri Kampung Bugis dan yang membuka pendirian masjid, dimakamkan di sana semua," ujar Zulkifli.
Zulkifli menceritakan kisah kampung Islam di Pulau Serangan ini berawal dari orang-orang Bugis yang berada di Makassar, Sulawesi Selatan, melakukan perlawanan kepada VOC. Sebab tak ingin tunduk dengan penjajah mereka pergi dan berlayar menggunakan Kapal Pinisi atau kapal tradisional khas Bugis hingga berlabuh di Pulau Serangan.
"Orang-orang Bugis memang keluar dari Sulawesi karena tidak ingin tunduk dan patuh kepada kebijakan VOC pada saat zaman dulu," ujarnya.
Saat kedatangan para orang-orang Bugis ini, situasi di Pulau Bali bertepatan dengan masa-masa sulit ketika berlangsung peperangan di antara raja-raja di Bali. Saat itu antarkerajaan di Pulau Dewata sedang berseteru untuk memperluas wilayah masing-masing.
Kala itu, kedatangan para perantau Bugis ini diketahui prajurit laut Kerajaan Pemecutan, Badung. Dari berbagai sumber didapat, saat itu yang memimpin Kerajaan Pemecutan adalah Raja Cokorda Pemecutan III dari Kerajaan Badung.
"Sejarahnya sebelum berdiri masjid ini, ketika orang Bugis itu pergi dari Makassar lalu berlabuh di laut Serangan. Saat itu, situasi di Pulau Bali pada khususnya Kerajaan-kerajaan yang ada itu tidak bagus," ujarnya.
"Artinya, dari satu kerajaan ke kerajaan lain ingin memperluas suatu daerah kekuasaannya. Maka, leluhur kami itu yang lari dari Makassar terdampar di sini ditangkaplah pada saat itu (oleh prajurit), kalau sekarang bahasanya polisi laut atau petugas kerajaan," imbuh Zulkifli.
Kedatangan para orang Bugis ini awalnya sekitar 42 orang yang dipimpin oleh Puak Matoa.
"Berdasarkan yang disampaikan oleh orang-orang tua kita dan berdasarkan kajian ilmiah itu, yang kita tahu adalah Puak Matoah itu adalah orang yang dituakan. Kalau orang Hindu Serangan bilang Wak Gede, artinya orang yang dituakan juga, itu arti dalam Bahasa Bali," ujarnya.
Tertangkapnya para orang Bugis dan menjadi tawanan sampai ke telinga Raja Pemecutan Badung. Awalnya, dikira sebagai mata-mata musuh dari Kerajaan Pemecutan, Badung, lalu dihadapkanlah kepada Raja Badung di Puri Pemecutan.
"Singkat cerita didengarlah para tawanan ini, dan didatangi oleh Raja Pemecutan dan diajak bicara dari hati ke hati. Ditangkapnya leluhur kita pada saat itu, karena kecurigaannya adalah mata-mata dari musuh-musuhnya, sehingga tercapai satu kesimpulan bahwasanya leluhur kami bukan mata-mata," ujarnya.
Alquran tua peninggalan leluhur yang masih dijaga di Masjid As Syuhada, Kampung Bugis, Pulau Serangan, Denpasar. (CNNINdonesia/Kadafi)
Lalu, Raja Badung meminta para orang-orang Bugis di bawah koordinasi Puak Matoa itu untuk membatu peperangan melawan Kerajaan Mengwi agar memperluas wilayah kekuasaannya. Dan, akhirnya Raja Badung berhasil menaklukkan Kerajaan Mengwi.
Setelah berhasil menaklukan Kerajaan Mengwi, Raja Badung berterimakasih kepada orang-orang Bugis lalu ereka diberi tempat di kawasan Telagi Gendong atau saat ini di sekitar Terminal Tegal, Kota Denpasar. Tetapi, karena jiwa orang-orang Bugis adalah pelaut mereka meminta untuk diberi tempat awal mereka berlabuh yaitu di Pulau Serangan dan akhirnya Raja Badung merestui permintaan mereka.
"Raja berterimakasih atas bantuan orang-orang Bugis dan ditempatkan leluhur kami di Denpasar tempatnya di Telagi Gendong, sekarang di Terminal Tegal. Tetapi, prinsip orang Bugis itu jiwanya adalah pelaut, leluhur kami meminta untuk dikembalikan ke tempat pada saat ditangkap, yaitu di Pulau Serangan," ujarnya.
"Dulu Kampung Bugis ini hutan rimba, banyak dedemit segala macam pemahaman orang-orang dulu. Dikatakan (orang-orang) Puri bahwa itu daerah tidak bagus dan banyak hawa negatif di sana. [Dijawa] 'Tidak apa-apa, nanti kami yang bersihkan', bahasa orang Bugis ini. Yang jelas (leluhur) kami di sana bisa melaut, karena jiwa kami pesisir maka dipindahkanlah ke sini," ujarnya.
Setelah menempati Pulau Serangan, maka mulai tercipta peradaban Kampung Bugis dan dibangunlah rumah adat Bugis, lalu berlanjut membuat tempat ibadah yaitu Masjid As-Syuhada.
"Setelah membuat tempat tinggal, lalu berpikirnya (membuat ) masjid ini. Dan laporlah para sesepuh kami ke Puri Pemecutan, Raja Badung, bahwa kami perlu tempat ibadah sesuai dengan keyakinan kami, maka disetujui dan diberi izin. Dan dibantu materialnya, kayu dan tukangnya, sehingga singkat cerita terbangunlah masjid yang sekarang ini," ujarnya.
Masjid As Syuhada di Kampung Islam Bugis, Pulau Serangan, Bali. (CNNIndonesia/Khadafi)
Seiring perkembangan zaman dan strata pendidikan cukup tinggi sebagian generasi warga Kampung Bugis ada yang memilih untuk tinggal di luar Pulau Serangan.
Kemudian, saat Bulan Ramadan warga di Kampung Bugis banyak menggelar kegiatan di Masjid As-Syuhada, yaitu buka puasa bersama dan shalat tarawih serta tadarus atau mengkhatamkan Al-Qur'an yang juga dilakukan oleh warga sampai anak-anak di tingkat TPQ.
Warga Kampung Bugis di Serangan juga melakukan tradisi pengarakan Al Qur'an tua dengan keliling kampung dan dilakukan pada Bulan 1 Muharam.
Tradisi itu, mereka namakan megelicikan atau mengelilingi kampung Bugis dengan membawa Al Qur'an dan tujuannya untuk tolak bala dan meminta keselamatan.
"Seluruh wilayah administrasi kampung Bugis dengan pembacaan salawat dengan membawa Al Qur'an tua itu, tiga kali berturut-turut keliling kampung selama satu hari itu. Istilahnya, tolak bala, tradisi ini turun menurun kita jalani sampai saya generasi kelima saat ini. Setiap sudut (kampung) kita mengumandangkan azan dan iqomah, kita minta keselamatan agar dijauhkan dari segala bala dan marabahaya," ujar Zulkifli.