Masjid At-Taibin Senen, Memoar Perjuangan di Balik Arsitektur RI-Eropa
CNN Indonesia
Selasa, 02 Apr 2024 06:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Suasana di dalam Masjid At-Taibin, Senen, Jakpus. (CNN Indonesia/Arief Bimaputra)
Beberapa dekade setelah Indonesia merdeka, Jaka menuturkan masjid ini sempat 'dibongkar' untuk mengambil senjata-senjata pejuang yang terkubur di sana oleh pemerintah Indonsia.
Jaka mengaku mengetahui pembongkaran itu bukan berdasarkan dokumen atau buku sejarah, tapi dari cerita turun temurun yang dituturkan para orang tua yang tinggal di daerah sekitar masjid.
"Pernah masjid ini dibongkar itu ada kuburannya ada senjatanya. Itu 60-an, 70-an itu dibongkar ditarik dan kuburannya sempat dipindah," jelas dia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada awal 1990an, ketika kawasan Segitiga Senen mulai bersalin rupa dipenuhi gedung-gedung bertingkat, masjid ini pun sempat 'hampir' digusur pula. Kala itu masjid itu mau dibongkar demi pembangunan apartemen, tapi warga mempertahankannya.
"Tahun 1993 itu nih apartemen mau pembentukan apartemen, mau bikin apartemen mau bongkar ini mau dipindahin masjid ini. Warga senen itu mempertahankan," tutur Jaka.
Upaya penggusuran itu gagal. Perlawanan warga justru berhasil dan semakin membuat kemuliaan masjid ini tersiar ke penjuru negeri.
Pasalnya, usai batal digusur, masjid ini diresmikan sebagai cagar budaya yang termaktub dalam Keputusan Gubernur Nomor 475 Tahun 1993. Kepgub itu menjadi angin segar bagi masjid ini. Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta beberapa kali kerap melakukan pemugaran masjid. G
Pada 1996 pemugaran dilakukan dengan mengganti genteng yang menutupi tiga undakan. Pemugaran kembali dilakukan pada 1997, lantai marmer masjid turut diganti.
Pada 2002, pemugaran diganti dengan mengganti jendela yang berada di dalam masjid. Teranyar, pemugaran kembali dilakukan pada tahun 2020. Meski begitu, pemugaran tetap tidak merombak keaslian dari arsitektur yang dimiliki oleh masjid ini.
"Tapi hanya sebatas renovasi cagar budaya hanya dirapihkan tidak dibongkar tidak diganti, pelestarian. Betul-betul masih awet," ujar Jaka.
Meski kini Indonesia tetap merdeka, Masjid ini masih menebarkan manfaatnya kepada masyarakat Indonesia. Di hari-hari biasa, pengunjung masjid yang mayoritas berasal dari ojek online, supir angkot, pedagang pasar dapat beristirahat di sini.
Tak hanya beristirahat, mereka juga dapat menikmati teh hangat beserta camilan yang selalu disediakan pengurus masjid.
Pada bulan Ramadhan masjid ini tak hanya rutin melakukan kegiatan biasa seperti tarawih atau kajian menjelang buka puasa.
Masjid ini juga rutin melakukan ruqiah, pengobatan hingga buka puasa bersama.
"Tarhib ramadhan itu, kita kajian rutin. Biasanya kita dengan ruqiah massal, atau totok punggung atau bekam itu biasanya," jelas Jaka.
"Selanjutnya ini buka puasa bersama selama ramadhan dari mulai sampai akhir full gratis minimal 200 orang. Biasanya kita langsung makan besar," sambungnya.
Di salah satu sisi yang dahulu populer dengan julukan 'Segitiga Senen' di Jakarta Pusat, berdiri sebuah masjid yang telah berusia lebih dari dua abad.
Masjid Jami At-Taibin yang berada di Jalan Senen Raya IV-Jala Kali Lio itu telah eksis di titik tersebut sejak 1815 lalu, dan menjadi salah satu bangunan cagar budaya di Jakarta Pusat. Masjid ini terhimpit bangunan-bangunan bertingkat di wilayah 'Segitiga Senen' tersebut.
Wilayah itu dulu dijuluki Segitiga Senen, karena diapit tiga jalan hingga berbentuk segitiga bila dilihat dari langit atau peta. Daerah itu di masa lampau hingga era Orde Lama adalah sebuah permukiman yang mayoritas dihuni etnis Tionghoa, namun di masa Orde Baru daerah itu bersalin rupa jadi kawasan bisnis dengan gedung-gedung bertingkat.
Masjid At-Taibin pun seolah menjadi 'oase' di antara gedung-gedung bertingkat Segitiga Senen itu. Masjid itu memiliki tembok berkelir putih, yang sebagiannya dilapisi marmer. Atapnya ada tiga tingkat undakan dengan genteng merah. Arsitektur masjid itu pun bergaya campuran Indonesia dan Eropa.
Di dalam masjid terdapat tiang berjejer lurus sebagai penopang--biasa disebut soko guru--yang terbuat dari kayu jati hitam dengan hiasan kaligrafi bertinta emas.
Ada sebuah prasasti marmer yang bertuliskan masjid itu dibangun pada 1815 dengan sebutan Masjid Kampung Besar, tapi baru dicatat di peta Batavia dari 1918. Masjid itu dibangun atas kerja sama para pedagang sayur di Pasar Senen.
"Empat soko guru yang berjajar lurus dan menopang atap, terbuat dari kayu jati hitam dan nama orang yang menyumbangnya tertera di bagian atasnya," demikian petikan keterangan yang tertulis di prasasti dari Dinas Kebudayaan Jakarta Pusat tersebut.
"Semasa revolusi masjid ini digunakan sebagai tempat logistik untuk mendukung para pejuang," demikian kalimat penutup prasasti itu.
Prasasti marmer yang menjelaskan tahun dan kisah di balik pembangunan Masjid Attaibin, Senen Raya, Jakarta Pusat, pada 1815. (CNNIndonesia/Arief Bimaputra)
Betapa masjid dengan ukuran yang kecil ini ternyata memiliki kemuliaan yang begitu besar. Tak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi tempat untuk memperjuangkan kemerdekaan.
Beranjak masuk ke dalam, masjid ini seakan-akan hendak merendahkan diri atas jasanya untuk kemerdekaan Indonesia dengan kesederhanaan bangunannya.
Tak ada ornamen yang mewah, tak ada artefak-artefak tua yang dipamerkan. Hanya sebatas karpet saf berukuran panjang berwarna hijau, rak buku untuk kitab-kitab, dan mimbar untuk imam.
Sekretaris Pengurus Masjid At-Taibin Jaka Khaeruddin menjelaskan masjid ini didirikan oleh para pedagang Pasar Senen dengan berbagai latar belakang. Kemudian di masa perjuangan kemerdekaan, satu hal yang kemudian menambah tekad bersama mereka adalah: Indonesia harus merdeka. Itulah yang selanjutnya membuat masjid itu menjadi salah satu basis dan gudang senjata untuk perang kemerdekaan Indonesia kala itu.
"Jadi memang (Masjid) ini kan tempat persembunyian senjata, gudang senjata dulunya. Nah ini memang senjata-senjata disimpan untuk para pejuang untuk melawan Belanda seperti itu. Nah, ini gudang senjatanya di sini," jelas Jaka saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Senin (4/3).
Suasana di dalam Masjid At-Taibin, Senen, Jakpus. (CNN Indonesia/Arief Bimaputra)
Beberapa dekade setelah Indonesia merdeka, Jaka menuturkan masjid ini sempat 'dibongkar' untuk mengambil senjata-senjata pejuang yang terkubur di sana oleh pemerintah Indonsia.
Jaka mengaku mengetahui pembongkaran itu bukan berdasarkan dokumen atau buku sejarah, tapi dari cerita turun temurun yang dituturkan para orang tua yang tinggal di daerah sekitar masjid.
"Pernah masjid ini dibongkar itu ada kuburannya ada senjatanya. Itu 60-an, 70-an itu dibongkar ditarik dan kuburannya sempat dipindah," jelas dia.
Pada awal 1990an, ketika kawasan Segitiga Senen mulai bersalin rupa dipenuhi gedung-gedung bertingkat, masjid ini pun sempat 'hampir' digusur pula. Kala itu masjid itu mau dibongkar demi pembangunan apartemen, tapi warga mempertahankannya.
"Tahun 1993 itu nih apartemen mau pembentukan apartemen, mau bikin apartemen mau bongkar ini mau dipindahin masjid ini. Warga senen itu mempertahankan," tutur Jaka.
Upaya penggusuran itu gagal. Perlawanan warga justru berhasil dan semakin membuat kemuliaan masjid ini tersiar ke penjuru negeri.
Pasalnya, usai batal digusur, masjid ini diresmikan sebagai cagar budaya yang termaktub dalam Keputusan Gubernur Nomor 475 Tahun 1993. Kepgub itu menjadi angin segar bagi masjid ini. Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta beberapa kali kerap melakukan pemugaran masjid. G
Pada 1996 pemugaran dilakukan dengan mengganti genteng yang menutupi tiga undakan. Pemugaran kembali dilakukan pada 1997, lantai marmer masjid turut diganti.
Pada 2002, pemugaran diganti dengan mengganti jendela yang berada di dalam masjid. Teranyar, pemugaran kembali dilakukan pada tahun 2020. Meski begitu, pemugaran tetap tidak merombak keaslian dari arsitektur yang dimiliki oleh masjid ini.
"Tapi hanya sebatas renovasi cagar budaya hanya dirapihkan tidak dibongkar tidak diganti, pelestarian. Betul-betul masih awet," ujar Jaka.
Meski kini Indonesia tetap merdeka, Masjid ini masih menebarkan manfaatnya kepada masyarakat Indonesia. Di hari-hari biasa, pengunjung masjid yang mayoritas berasal dari ojek online, supir angkot, pedagang pasar dapat beristirahat di sini.
Tak hanya beristirahat, mereka juga dapat menikmati teh hangat beserta camilan yang selalu disediakan pengurus masjid.
Pada bulan Ramadhan masjid ini tak hanya rutin melakukan kegiatan biasa seperti tarawih atau kajian menjelang buka puasa.
Masjid ini juga rutin melakukan ruqiah, pengobatan hingga buka puasa bersama.
"Tarhib ramadhan itu, kita kajian rutin. Biasanya kita dengan ruqiah massal, atau totok punggung atau bekam itu biasanya," jelas Jaka.
"Selanjutnya ini buka puasa bersama selama ramadhan dari mulai sampai akhir full gratis minimal 200 orang. Biasanya kita langsung makan besar," sambungnya.