Polemik Pegawai Diberhentikan Picu Protes Keras ke Mendikti Satryo
CNN Indonesia
Selasa, 21 Jan 2025 06:56 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Pegawai di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melakukan aksi di depan kantor kementerian tersebut, Senin (20/1). (ANTARA FOTO/SEAN FILO MUHAMAD)
Jakarta, CNN Indonesia --
Pegawai di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melakukan aksi di depan kantor kementerian tersebut, Senin (20/1).
Pegawai memprotes Mendiktisaintek Satryo Soemantri Brodjonegoro yang disebut memberhentikan salah seorang pegawai secara sepihak dan mendadak.
Mereka membawa sejumlah spanduk dan papan bunga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu papan bunga bertuliskan 'turut berdukacita atas matinya nurani dan welas asih menteri kami' #lawan #paguyubanpegawaidikti #menteridzalim
Spanduk lain bertuliskan 'Pak Presiden, Selamatkan Kami dari Menteri Pemarah, Suka Main Tampar, dan Main Pecat'.
Pranata Humas Ahli Muda & Pj. Rumah Tangga Kemendiktisaintek, Neni Herlina mengungkap kesaksiannya terkait tindakan Satryo.
Neni bercerita apa yang dialaminya berawal dari pergantian meja kerja menteri. Menurutnya, Satryo tidak terima dengan meja kerja yang ada.
"Sebenarnya itu kan gini, ruangan beliau itu kan sedang kita buat di lantai 10. Itu ruang sementara, sementara itu bekas ruang dirjen. Nah itu peralatannya itu bekas dirjen dulu. Sebenarnya enggak substansi masalah pendidikan tinggi," kata Neni.
Ia mengatakan setelah peristiwa itu, sudah ada ancaman dari Satryo untuk memecatnya. Neni mengatakan atasannya pun meminta agar dirinya untuk tidak muncul.
Namun, karena pekerjaan di bidang rumah tangga banyak, ia terlibat untuk pemasangan internet di rumah dinas menteri. Menurutnya, saat itu sang menteri meminta pemasangan segera dilakukan.
"Karena Pak Menteri maunya segera. Kita meminta mereka untuk menyegerakan. Jadi akhirnya sampai malam, tapi jadi marah. Marah dia langsung dia nelepon ketua tim saya. kebetulan Mas Angga waktu itu lagi sakit. Jadi enggak angkat telpon, itu udah malam-malam gitu," ujar Neni.
Ia mengatakan saat itu Satryo lalu mengirim pesan WhatsApp yang memecat dirinya dan ketua tim tersebut.
Neni menyebut karena tidak ada dasar hukum, ia tetap berkantor seperti biasa. Hingga Jumat (17/1) lalu, Satryo masuk ke ruangan dan mengusirnya.
"Bapak Menteri langsung ke lantai 8. Langsung, ya gitu lah kejadiannya. Dengan tidak, ya tidak etis ya seperti itu, membentak saya menyuruh saya keluar di hadapan anak-anak magang, di depan staff saya, jadi memang sudah di luar logika lah," ujarnya.
Ia mengatakan sejumlah pegawai yang bekerja untuk melayani menteri, merasa khawatir dengan kejadian yang menimpa dirinya.
Lebih lanjut, melalui aksi pegawai di Kantor Kementerian ini, para mempertanyakan soal status Neni. Neni mengaku juga akan mengadukan masalah tersebut ke DPR.
Penjelasan Kemendiktisaintek
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Khairul Munadi Kemendiktisaintek mengatakan upaya rotasi hingga mutasi terhadap Aparatur Sipil Negara (ASN) di kementeriannya dalam rangka memberikan pengalaman kerja (tour of duty).
"Rotasi, promosi, dan mutasi ASN pada masa transisi Kementerian ini merupakan hal yang lumrah sebagai upaya penyegaran organisasi dan tour of duty," kata Khairul dalam siaran pers.
Ia mengatakan upaya rotasi hingga mutasi ASN saat masa transisi juga lumrah dilakukan oleh institusi lain dengan segala dinamika yang dialami.
Kendati demikian, Khairul mengklaim Kemendiktisaintek tetap membuka pintu komunikasi atas segala dinamika yang terjadi.
Kemdiktisaintek juga menegaskan bahwa Kementerian sangat terbuka akan berbagai masukan dan aspirasi terutama dari publik dan internal," jelas dia.
Satryo mengklaim demo yang terjadi di kantornya buntut mutasi besar-besaran karena dari lembaga yang semula satu kementerian di pemerintahan sebelumnya, kini dipecah di bawah tiga menteri.
Kemendikbudristek di pemerintahan sebelumnya, pada pemerintahan Prabowo ini dipecah jadi dipimpin tiga menteri yakni Kemendikdasmen, Kemendiktisaintek, dan Kementerian Kebudyaan.
"Demo itu terkait kami sedang melakukan upaya mutasi besar-besaran karena pecahnya jadi tiga menteri, kita perlu banyak orang, kita ingin benahi sesuai amanat presiden harus hemat dengan anggaran pemerintah," kata Satryo usai menghadiri pelantikan Rektor ITB di Bandung, Senin sore, seperti dikutip dari detikJabar.
Dia lantas menuding ada pihak-pihak yang tak ingin dimutasi sehingga memantik terjadinya demonstrasi.
"Kita melakukan mutasi yang cukup besar, karena memang ada pihak yang berkenan," ujarnya.
Pranata Humas Ahli Muda & Pj. Rumah Tangga Kemendiktisaintek, Neni Herlina mengungkap kesaksiannya terkait tindakan Satryo.
Neni bercerita apa yang dialaminya berawal dari pergantian meja kerja menteri. Menurutnya, Satryo tidak terima dengan meja kerja yang ada.
"Sebenarnya itu kan gini, ruangan beliau itu kan sedang kita buat di lantai 10. Itu ruang sementara, sementara itu bekas ruang dirjen. Nah itu peralatannya itu bekas dirjen dulu. Sebenarnya enggak substansi masalah pendidikan tinggi," kata Neni.
Ia mengatakan setelah peristiwa itu, sudah ada ancaman dari Satryo untuk memecatnya. Neni mengatakan atasannya pun meminta agar dirinya untuk tidak muncul.
Namun, karena pekerjaan di bidang rumah tangga banyak, ia terlibat untuk pemasangan internet di rumah dinas menteri. Menurutnya, saat itu sang menteri meminta pemasangan segera dilakukan.
"Karena Pak Menteri maunya segera. Kita meminta mereka untuk menyegerakan. Jadi akhirnya sampai malam, tapi jadi marah. Marah dia langsung dia nelepon ketua tim saya. kebetulan Mas Angga waktu itu lagi sakit. Jadi enggak angkat telpon, itu udah malam-malam gitu," ujar Neni.
Ia mengatakan saat itu Satryo lalu mengirim pesan WhatsApp yang memecat dirinya dan ketua tim tersebut.
Neni menyebut karena tidak ada dasar hukum, ia tetap berkantor seperti biasa. Hingga Jumat (17/1) lalu, Satryo masuk ke ruangan dan mengusirnya.
"Bapak Menteri langsung ke lantai 8. Langsung, ya gitu lah kejadiannya. Dengan tidak, ya tidak etis ya seperti itu, membentak saya menyuruh saya keluar di hadapan anak-anak magang, di depan staff saya, jadi memang sudah di luar logika lah," ujarnya.
Ia mengatakan sejumlah pegawai yang bekerja untuk melayani menteri, merasa khawatir dengan kejadian yang menimpa dirinya.
Lebih lanjut, melalui aksi pegawai di Kantor Kementerian ini, para mempertanyakan soal status Neni. Neni mengaku juga akan mengadukan masalah tersebut ke DPR.
Mendikti Satryo Tepis Tudingan Arogan
Mendiktisaintek Satryo Soemantri Brodjonegoro membantah dirinya yang disebut sebagai menteri pemarah dan suka menampar. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Penjelasan Kemendiktisaintek
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Khairul Munadi Kemendiktisaintek mengatakan upaya rotasi hingga mutasi terhadap Aparatur Sipil Negara (ASN) di kementeriannya dalam rangka memberikan pengalaman kerja (tour of duty).
"Rotasi, promosi, dan mutasi ASN pada masa transisi Kementerian ini merupakan hal yang lumrah sebagai upaya penyegaran organisasi dan tour of duty," kata Khairul dalam siaran pers.
Ia mengatakan upaya rotasi hingga mutasi ASN saat masa transisi juga lumrah dilakukan oleh institusi lain dengan segala dinamika yang dialami.
Kendati demikian, Khairul mengklaim Kemendiktisaintek tetap membuka pintu komunikasi atas segala dinamika yang terjadi.
Kemdiktisaintek juga menegaskan bahwa Kementerian sangat terbuka akan berbagai masukan dan aspirasi terutama dari publik dan internal," jelas dia.
Satryo mengklaim demo yang terjadi di kantornya buntut mutasi besar-besaran karena dari lembaga yang semula satu kementerian di pemerintahan sebelumnya, kini dipecah di bawah tiga menteri.
Kemendikbudristek di pemerintahan sebelumnya, pada pemerintahan Prabowo ini dipecah jadi dipimpin tiga menteri yakni Kemendikdasmen, Kemendiktisaintek, dan Kementerian Kebudyaan.
"Demo itu terkait kami sedang melakukan upaya mutasi besar-besaran karena pecahnya jadi tiga menteri, kita perlu banyak orang, kita ingin benahi sesuai amanat presiden harus hemat dengan anggaran pemerintah," kata Satryo usai menghadiri pelantikan Rektor ITB di Bandung, Senin sore, seperti dikutip dari detikJabar.
Dia lantas menuding ada pihak-pihak yang tak ingin dimutasi sehingga memantik terjadinya demonstrasi.
"Kita melakukan mutasi yang cukup besar, karena memang ada pihak yang berkenan," ujarnya.