Sekolah Tertimbun Lumpur, Siswa SMA di Pidie Jaya Belajar di Tenda
Siswa SMA Negeri 2 Pidie Jaya, Aceh, terpaksa harus belajar di tenda karena sekolah mereka hingga kini masih tertimbun lumpur banjir bandang akhir November 2025.
Kepala SMA Negeri 2 Meureudu M Diah mengatakan kondisi sekolah hingga kini belum dapat digunakan karena ketinggian lumpur hingga dua meter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mulai hari ini anak-anak bersekolah. Proses belajar mengajar berlangsung di tenda, termasuk aktivitas administrasi sekolah, juga di tenda dengan kondisi seadanya," kata M Diah di Pidie Jaya, Senin (5/1), dikutip dari Antara.
Para siswa berdatangan dengan pakaian biasa ke sekolah. Hanya beberapa dari mereka mengenakan seragam putih abu-abu. Hampir semua datang tanpa membawa peralatan dan perlengkapan belajar.
Sebelum memulai proses belajar mengajar, para siswa mengikuti upacara dengan pembina Wakapolres Pidie Jaya Kompol Iswahyudi. Upacara juga ikuti para guru dan tenaga pendidik lainnya.
SMA Negeri 2 Meureudu memiliki 271 siswa dan tenaga pendidik sebanyak 55 orang. Hampir semua peserta didik dan tenaga pendidik terdampak langsung banjir bandang.
Diah mengatakan pihaknya tidak memaksakan anak-anak bersekolah karena mereka juga menjadi korban bencana banjir bandang yang melanda Aceh pada akhir November 2025.
"Kami juga sudah menyampaikan kepada pelajar bahwa proses belajar mengajar mulai 5 Januari 2026. Mungkin, tidak semua anak-anak mengetahuinya karena alat komunikasi mereka juga rusak akibat banjir," katanya.
Menurut Diah, pihak sekolah juga membebaskan mereka mengenakan pakaian selain seragam sekolah. Apalagi sebagian besar dari mereka rumahnya terdampak banjir seperti ada yang hilang dan tertimbun lumpur.
"Hampir sebagian besar anak-anak kami tidak ada lagi seragam serta peralatan dan perlengkapan belajar. Semua hilang dan tidak dapat digunakan karena banjir," katanya.
Sementara itu, Nasyila Fonna, siswa Kelas 10A SMA Negeri 2 Meureudu, mengatakan dirinya bersekolah setelah menerima pemberitahuan dari guru.
Nasyila berangkat ke sekolah dengan pakaian biasa tanpa membawa peralatan dan perlengkapan belajar.
"Seragam maupun alat belajar semuanya tidak bisa digunakan lagi akibat banjir. Saya berharap aktivitas di sekolah bisa segera kembali berjalan normal seperti biasa karena tidak ingin tertinggal dalam mengikuti pembelajaran," kata Nasyila.
(fra/antara/fra)[Gambas:Video CNN]

