Separuh Jalan Dewi Sartika Ciputat Tangsel Tertimbun Gunung Sampah

CNN Indonesia
Senin, 05 Jan 2026 14:20 WIB
Warga terganggu akibat bau busuk yang menyengat dari gunungan sampah yang menutupi separuh badan jalan di depan Pasar Cimanggis, Ciputat, Tangsel.
Gunungan sampah di Jalan Dewi Sartika, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten kembali muncul tepatnya di depan Pasar Cimanggis. CNN Indonesia/Fahrurozi
Tangerang Selatan, CNN Indonesia --

Gunungan sampah di Jalan Dewi Sartika, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten kembali muncul tepatnya di depan Pasar Cimanggis.

Gunungan sampah itu bahkan terpantau sudah menumpuk hingga ke separuh badan jalan.

Banyak pengendara motor yang melintas sambil menutup hidung. Warga pengguna jalan pun sudah merasa sangat terganggu akibat aroma bau busuk menyengat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pertama dari segi kesehatan sangat mengganggu," kata Soleh, salah satu pengendara motor di dekat lokasi, Senin (5/1).

Pengemudi ojek online asal Cimanggis, Kecamatan Ciputat pun mengamini aktivitas pengguna jalan terganggu akibat gunungan sampah tersebut. Apalagi dirinya setiap melintasi ruas jalan tersebut.

Soleh berharap pemerintah Kota Tangsel segera mengangkuti gunungan sampah di depan Pasar Cimanggis. "Merasa terganggu aja, bau menyengat," harapnya.

Pantauan di lokasi, laju kendaraan yang melintas dari arah Pamulang dan Kota Depok atau Kabupaten Bogor menuju arah Ciputat serta Pasar Jumat, Jakarta Selatan terpaksa harus melambat.

Sampah sudah beberapa pekan tak diambil sehingga menimbulkan bau busuk. Tampak belatung bermunculan dari tumpukan sampah itu.

Sejak gunungan sampah di depan Pasar Cimanggis ini menuai polemik di Kota Tangsel, petugas sudah dua kali melakukan pengangkutan sampah. Pengangkutan pertama pada Selasa, 16 Desember 2025 tengah malam hingga Rabu dinihari.

Kedua pada Senin, 29 Desember 2025 tengah malah hingga Selasa dinihari. Namun kini gunungan sampah itu kembali muncul lagi.

Inisiatif warga Ciputat bikin komposter

Di tengah kondisi darurat sampah di Tangsel, warga di Perumahan Bukit Nusa Indah, Serua, Ciputat menyulap tong penampung air jadi komposter.

Komposter ini nantinya akan digunakan sebagai wadah penguraian sampah organik.

Warga Perumahan Bukit Nusa Indah Serua, Ciputat secara mandiri melakukan pengelolaan sampah di lingkungan mereka, mulai dari membuat lubang biopori, hingga membuat komposter.

Harapannya tidak banyak, pengelolaan sampah secara mandiri ini diharapkan bisa membantu pemerintah dalam mengatasi persoalan sampah.

Apalagi, pengelolaan sampah bagi mereka merupakan tanggungjawab bersama untuk menjaga lingkungan yang lebih sehat dan bersih. Pengelolaan sampah di lokasi ini difokuskan dapat menampung sampah organik di 3 RW dengan naungan 26 RT.

Pembuat wadah komposter ini dilakukan oleh bapak-bapak dengan usia yang tidak lagi muda. Mereka kebanyakan berusia 50 tahun ke atas. Namun kepiawaian tangan mereka tidak diragukan.

Menggunakan alat pemotong yang sudah disiapkan, mereka bergotong royong menciptakan alat yang memiliki fungsi penguraian sampah organik dari sisa makanan, daun dan lainnya.

Ditengah darurat sampah di Kota Tangerang Selatan, warga di Perumahan Bukit Nusa Indah, Serua, Ciputat menyulap tong penampung air jadi komposter. Komposter inu nantinya akan digunakan sebagai wadah penguraian sampah organik.Di tengah darurat sampah di Kota Tangerang Selatan, warga di Perumahan Bukit Nusa Indah, Serua, Ciputat menyulap tong penampung air jadi komposter. Komposter inu nantinya akan digunakan sebagai wadah penguraian sampah organik. CNN Indonesia/Fahrurozi

Komposter ini juga nantinya akan dapat digunakan menjadi pupuk kompos yang kaya nutrisi untuk menyuburkan tanaman. Tentunya, selain menjadi pengurai sampah organik juga dapat membantu pemerintah dalam penanganan sampah yang masuk ke TPA Cipeucang.

Sedangkan, untuk pengelolaan sampah non organik warga juga berencana akan membentuk bank sampah. Hal itu menjadi solusi bagi warga agar dapat mandiri dalam pengelolaan sampah dan membangun pola hidup sehat dari lingkungan tempat tinggal mereka.

Pengelolaan sampah yang dilakukan ini dilalukan secara mandiri atau dengan biaya swadaya dari masyarakat sekitar.

"Kami membuat ini untuk mengatasi permasalahan sampah di 3 RW. Ini kita lakukan juga sebagai upaya untuk membantu pemerintah melakukan pengelolaan sampah," kata Hohan Barazing pria usia 60 tahun saat dijumpai di lokasi.

Kata Hohan, pengelolaan sampah secara mandiri ini juga bakal membentuk budaya masyarakat akan sadar kebersihan. Masyarakat diminta tidak bergantung pada pemerintah dalam persoalan sampah.

"Ini berkonsep dari warga untuk warga. Jadi harus bisa mandiri, nanti kami akan sosialisasikan dan membuat aturan bersama pak RT dan pak RW," ujarnya.

Dia mengatakan komposter untuk pertama akan dibuat sebanyak 40 untuk kebutuhan 3 RW. Untuk pembuatan satu komposter ini memerlukan biaya kurang lebih 450 ribu.

"Kami berharap pemerintah juga bisa hadir dan memfasilitasi kami, karena ini untuk kepentingan bersama juga jadi ada simbiosis mutualismenya," kata dia.

Konsep pengelolaan sampah ini diharapkan bisa menyadarkan masyarakat akan sampah atau limbah yang juga bisa dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomis.

"Jadi masyarakat juga harus sadar bahwa sampah dan limbah ini juga memiliki nilai ekonomi dan bisa membuat lingkungan sehat. Untuk komposter sendiri nanti bisa menjadi pupuk cair dan pupuk kompos," ujarnya.

(arl/gil)


[Gambas:Video CNN]