Hide Ads

Cerita Siswa SD Tanah Datar Sumbar 2 Bulan Belajar di Tenda Darurat

CNN Indonesia
Sabtu, 24 Jan 2026 04:30 WIB
Siswa SD Negeri 11 Bungo Tanjuang, Sumatra Barat belajar di tenda darurat akibat ancaman ambruknya dinding sekolah.
Ilustrasi. Tenda darurat untuk sekolah siswa di Sumbar. (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)
Jakarta, CNN Indonesia --

Siswa Sekolah Dasar (SD) Negeri 11 Bungo Tanjuang, Kecamatan Batipuah, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat (Sumbar) tetap bersemangat dan antusias mengikuti proses belajar mengajar di tenda darurat.

"Belajar di tenda darurat tetap asik dan seru," kata salah seorang murid SD Negeri 11 mengutip Antara, Jumat (23/1).

Para siswa di sekolah tersebut terpaksa belajar di tenda darurat sejak awal Januari 2026, setelah tebing dinding sekolah itu terancam ambruk. Pihak kepolisian telah memasang garis polisi agar anak didik dan guru tidak mendekati bagian kiri dan kanan lapangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Siswa kelas IV tersebut mengaku tetap bersemangat mengikuti proses pembelajaran meskipun pada siang hari cuaca mulai panas. Dukungan dan motivasi para guru menjadi alasannya anak didik untuk terus belajar seperti biasanya.

Meskipun demikian, ia berharap pemerintah secepatnya dapat memperbaiki sisi kiri dan kanan dinding sekolah mengingat beberapa ruangan tidak bisa digunakan karena terancam ambruk. Bahkan, tempat atau fasilitas berwudu sekolah sudah ambruk ketika saat hujan deras akhir November 2025.

"Kami sudah dua bulan belajar di tenda, tapi kami tetap semangat," ujarnya.

Sementara itu, salah seorang guru SD Negeri 11 Bungo Tanjuang, Herna Permata Sari mengatakan pihak sekolah terpaksa melaksanakan proses belajar mengajar di tenda darurat karena enam kelas terancam ambruk.

Dalam sehari terdapat dua kelas secara bergantian yang mengikuti proses belajar mengajar di tenda darurat tersebut. Pihak sekolah juga melakukan beberapa penyesuaian di antaranya durasi jam pelajaran.

"Proses belajar mengajar dimulai dari pukul 07.00 hingga 10.00 WIB. Setelah itu, pembelajaran kita sambung di kelas yang sudah kosong," kata dia.

Herna berharap pemerintah segera mencarikan solusi agar proses belajar mengajar jauh lebih aman. Sebab, jika tidak secepatnya ditangani dikhawatirkan terjadi dampak yang lebih buruk.

"Kalau sudah menjelang siang itu matahari mulai terik dan anak-anak kepanasan," ujar dia.

Ia mengatakan polisi sudah dua kali memasang garis polisi di sekeliling sekolah menyusul terbannya dinding tebing. Pemasangan pertama dilakukan di akhir 2024 dimana saat itu bangunan toilet dan tempat berwudu di bagian kiri sekolah ambruk usai hujan deras selama beberapa hari.

Kemudian, polisi kembali memasang garis polisi di bagian kanan sekolah setelah dinding tebing juga ambruk yang mengakibatkan beberapa bangunan sekolah retak.

(tim/dal)


[Gambas:Video CNN]