Gundah Adria di Posko Longsor Cisarua, Menanti 10 Keluarga yang Hilang
Suara ambulance dan tangis warga yang menunggu nasib korban tertimbun material longsor lereng Gunung Burangrang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat di Pos DVI Polda Jawa Barat terdengar saling bersahutan. Di posko tersebut, waktu terasa berjalan lebih lambat bagi Adria (30).
Sejak Sabtu (24/1) siang, beberapa jam setelah longsor melanda, ia belum benar-benar meninggalkan posko. Hingga, Senin (26/1) ia memilih tidur seadanya, menunggu kabar yang tak pernah benar-benar pasti.
Di balik timbunan tanah dan lumpur dari longsor itu, ada 13 anggota keluarga intinya yang menjadi korban. Hingga kini, baru tiga orang yang berhasil ditemukan. Sepuluh lainnya masih belum jelas kabarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang hilang itu dari keluarga besar. Ada uwak saya, ada suami istri, kakak sepupu, kebanyakan sepupu," tuturnya pelan, saat ditemui di lokasi posko.
Tiga kabar duka sudah lebih dulu datang. Uwak Adria menjadi korban pertama yang ditemukan, disusul satu anggota keluarga lain, lalu kakaknya.
Hari-hari setelahnya kembali diisi penantian. Pada hari kedua pencarian, seorang adik sepupu berhasil diidentifikasi. Adria mengingat momen itu datang tiba-tiba-keluarga dipanggil, dicek, lalu dipastikan. Tak ada persiapan, hanya keharusan untuk menerima.
Pemukiman tempat Adria dan keluarganya tinggal berada di posisi yang paling rentan. Rumah-rumah mereka terletak di bagian paling ujung, wilayah pertama yang tersapu ketika longsor datang.
Di kawasan itu, sekitar 18 rumah terdampak, dengan jumlah korban mencapai puluhan orang. Di lingkungan tempat Adria tinggal saja, ia memperkirakan ada sekitar 60 warga yang menjadi korban.
Malam kejadian masih jelas terpatri di ingatannya. Tak ada tanda-tanda sebelumnya. Tiba-tiba saja terdengar suara gemuruh-keras, berat, disertai getaran yang tak bisa ia gambarkan dengan kata-kata.
Teriakan pertama datang dari kakaknya yang berada di depan rumah. Ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana rumah-rumah terseret arus tanah dan air. Adria berlari keluar. Saat ia tiba di depan rumah, yang terlihat hanyalah tanah. Rumah-rumah itu sudah tak ada.
Sejak itu, hari-hari Adria dihabiskan di posko. Jika lelah, ia beristirahat sebentar di sana. Jika malam, ia tetap memilih bertahan. Keluarga-keluarga korban telah menjalani tes DNA, mengikuti prosedur yang disampaikan petugas agar proses identifikasi bisa berjalan lebih cepat dan akurat.
Tiga jenazah dari keluarganya sudah dimakamkan dua di hari pertama, satu menyusul keesokan harinya. Sisanya masih menjadi doa yang terus ia ulang setiap hari.
Harapan Adria sederhana, namun berat. Ia ingin mereka yang belum ditemukan segera dipulangkan, apa pun keadaannya. Ia juga berharap keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan untuk menerima.
Dan kepada para petugas tim SAR, polisi, TNI, relawan ia menyelipkan doa yang sama tulusnya.
"Semoga semuanya disehatkan, supaya proses evakuasi lancar," katanya.
Terkini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban meninggal dunia akibat bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Bandung, Jawa Barat sebanyak 17 orang hingga Minggu (25/1). Dari 17 korban itu, 11 di antaranya telah berhasil diidentifikasi.
[Gambas:Video CNN]


