Ketahuan Ambil Uang untuk Kado Ibu, Siswi MTS Pontianak Gantung Diri
Siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri 1 Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) meninggal dunia usai gantung diri.
Kementerian Agama (Kemenag) Kota Pontianak menyebut siswi yang bersangkutan merasa bersalah usai mengambil uang di sekolah. Rupanya, siswi berusia 13 tahun itu ingin membelikan sesuatu untuk ibunya.
"Kalau boleh saya sampaikan, almarhumah ingin membelikan kado untuk ibunya. Sedih saya mendengarnya," jelas Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Kasi Penmad) pada Kantor Kemenag Kota Pontianak Aris Sujarwono seperti dikutip detikcom, Rabu (28/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aris menjelaskan siswi MTs ini ditemukan meninggal tergantung di rumahnya pada Kamis (22/1) subuh. Peristiwa terjadi sehari setelah ia dipanggil guru MTs karena dianggap melakukan kesalahan.
Kesalahan yang dimaksud terjadi ketika kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) berlangsung pada Sabtu (17/1). Seorang peserta ekskul kehilangan uang sebesar Rp200 ribu. Hilangnya uang ini baru terungkap pada Selasa (20/1) setelah pihak sekolah mengecek CCTV dan melihat korban dalam rekaman.
"Almarhumah pada saat waktu kosong tersebut, saya tidak mengatakan ini sebagai kesalahan, mungkin niatnya meminjam uang tanpa sempat memberitahu," jelas Aris.
Awalnya pihak sekolah pun melakukan pendekatan secara persuasif. Wali kelas tidak langsung memanggil korban, melainkan memanggil seluruh peserta PMR yang hadir pada hari Sabtu tersebut.
"Wali kelasnya, Pak Daeng Bustami bertanya ke almarhumah. Kenapa melakukan ini. Katanya ada keperluan sesuatu. Pada akhirnya, korban menyampaikan bahwa uang tersebut ada di rumah. Setelah itu, wali kelas menyampaikan bahwa kebutuhan tersebut akan dibantu," cerita Aris.
Setelah mendengar penjelasan langsung, permasalahan dianggap selesai. Korban juga sempat berkumpul dan berbincang dengan teman-temannya setelah pertemuan itu.
"Tidak ada kata-kata kasar atau tekanan, hanya bahasa sehari-hari anak-anak Gen Z di Pontianak. Seperti: ngape kau ambek, kan bise kau cicil pakai duit jajan. Terus, tidak ada bahasa: kau curi keh? Begitulah kira-kira," beber Aris.
Namun pada Rabu (21/6/2026) malam, korban bercerita kepada ibunya tentang kejadian di sekolah. Menurut sang ibu, saat itu korban mengaku malu dan tidak ingin masuk sekolah keesokan harinya.
"Pada malam hari, almarhumah mengakhiri hidupnya," jelas Aris.
Lihat Juga : |
Korban pertama kali ditemukan tergantung oleh abangnya, R, saat sudah memasuki hari Kamis (22/1) pukul 03.00 WIB. Ditemukan juga selembar kertas yang ditulis oleh korban.
Dalam lembaran kertas itu korban menyampaikan terima kasih kepada orang tuanya, meminta maaf, dan menyatakan tidak menyalahkan siapa pun, serta berharap kejadian ini tidak dilaporkan ke pihak kepolisian.
"Ma, maaf ye udah bikin mama kecewa, kite takut ma besok kesekolah karne name udah jelek. Kemarin dipanggil guru same kakak kelas. Makenye takut dan malu mau datang ke sekolah lagi. Kite tahu cara nyelesain masalah ini salah besar. Gak kuat ngadepinnya. Makasih ya ma karne udah jadi ibu yang baik. Makasih udah dengerin cerita ini tanpa emosi, mama gak perlu sedih karena ini dak perlu disedihkan. Kite cukan minta keluarga ini tetap bahagia ye. Tolong permasalahan ini jangan diramaikan, kite cuma pengen dikuburkan dengan layak. Jangan sampai melibatkan polisi," tulisnya.
Menurut Aris, surat tersebut dibuat dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan. Artinya tidak ada kejadian di luar dari surat itu. Dengan adanya surat tersebut, dugaan adanya tekanan atau bullying terbantahkan. Pihak keluarga juga mengakui tidak ada perundungan.
"Kalau ada misalnya tekanan, bullying, pasti mengadu ke ibunya. Jadi, ini karena almarhumah merasa malu saja. Hal ini telah dikonfirmasi oleh orang tua," tutupnya.
Lihat Juga : |
Baca berita lengkapnya di sini.
![]() |
[Gambas:Video CNN]



