Nasib Jemaah Umrah Indonesia Imbas Perang AS-Israel vs Iran
Situasi di kawasan Timur Tengah yang tengah memanas imbas perang Amerika Serikat (AS) yang berkolaborasi dengan Israel melawan Iran berdampak pada nasib calon jemaah umrah asal Indonesia.
Kementerian Haji dan Umrah RI mengimbau calon jemaah umrah yang dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci dalam waktu dekat, untuk menunda keberangkatannya.
Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan imbauan tersebut merupakan bentuk kehati-hatian pemerintah dalam memastikan keamanan warga negara.
"Mempertimbangkan kondisi Timur Tengah yang tidak menentu dan eskalasinya semakin tinggi, kami mengimbau jemaah umrah yang akan berangkat dalam waktu dekat untuk menunda keberangkatannya," ujar Dahnil di Jakarta, Minggu (1/3).
Perang itu bukan hanya berdampak pada calon jemaah yang akan berangkat. Namun juga berdampak pada jemaah yang berada di Arab Saudi.
Berdasar data Sistem Komputerisasi Pengelolaan Umrah dan Haji Khusus (SISKOPATUH), saat ini tercatat sebanyak 58.873 jemaah umrah Indonesia masih berada di Arab Saudi.
Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI, Puji Raharjo, mengatakan pemerintah terus melakukan monitor secara intensif terkait dinamika situasi regional tersebut.
"Kami mengimbau kepada seluruh jemaah umrah agar tidak panik. Tetap tenang dan terus berkoordinasi dengan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) masing-masing untuk memperoleh informasi resmi dan terkini," kata Puji.
Sementara itu, Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (Himpuh) mengungkap ratusan jemaah Indonesia masih tertahan di sejumlah negara transit usai penutupan jalur udara akibat perang.
Ketua Umum Himpuh Firman Taufik mengatakan kondisi jemaah yang berada di negara transit tersebut harus lebih menjadi perhatian. Firman tak mengungkap jumlah pastinya, namun mencapai ratusan.
Ia menjelaskan posisi jemaah di negara transit terbagi dua kategori, yakni mereka yang dalam proses keberangkatan ke Arab Saudi; dan mereka yang transit sepulang dari Arab Saudi menuju Indonesia.
Menurut Firman, data Himpuh mengungkap mereka yang tertahan dalam perjalanan transit saat ini tersebar di tiga bandara, yakni Doha, Dubai, dan Abu Dhabi.
"Data yang kami terima ada jemaah kami yang berada di Qatar saat ini, namun alhamdulillah sudah difasilitasi pihak penerbangan untuk mendapat hotel," kata Firman.
Firman mengatakan yang juga perlu mendapat perhatian adalah jemaah yang akan diberangkatkan ke Arab Saudi sebab pihak penyelenggara telah mempersiapkan semua fasilitas dan akomodasi para jemaah di negara tujuan.
Namun, akibat eskalasi yang meningkat, mereka terpaksa harus menunda keberangkatan. Firman meminta pemerintah mengambil langkah solutif untuk semua pihak.
"Harapan ke pemerintah Indonesia, setelah menghimbau menunda keberangkatan Umrah, dibarengi dengan langkah konklusif mengamankan juga resiko biaya yang akan timbul kepada calon jemaah," ujar Firman.
(yoa/kid)